
Luna, Alexa dan Camelia sudah menghabiskan waktu 3 jam 36 menit untuk berdiskusi. Di ujung diskusi mereka saling berjabat tangan sebagai tanda serah terima tugas masing-masing dan mereka akan bekerjasama secara professional.
“ Terimakasih Luna, Camelia, kalian memang luar biasa. Aku yakin proyek kita pasti akan sukses besar.” Ucap Alexa usai berjabat tangan dengan keduanya.
“ Tentu saja” jawab Camelia. Sementara Luna hanya senyum sambil mengemasi dokumen dan tasnya.
“ Baiklah. Alexa, Camelia aku tidak bisa lebih lama di sini. Ada sesuatu yang harus aku urus di kantor.” sambil berdiri.
Camelia juga berdiri mengikuti Luna, “ Aku juga harus pergi.”
“ Baiklah, Kalian hati-hati di jalan. Maaf aku tidak bisa mengantar kalian keluar.”
“ Tidak apa-apa” jawab Luna dengan senyum.
Alexa memeluk Luna dan Camelia secara bergantian sebagai salam perpisahan. Setelah itu Luna dan Camelia jalan beriringan keluar.
“ Luna apa kau sudah memikirkan siapa akan mendesain resort itu?” sambil melirik Luna yang berada di sampingnya.
“ Aku belum memikirkannya.” Jawabnya dengan singkat.
“ Aku punya seorang kenalan yang ahli dalam desain interior. Apa kau ingin aku kenalkan?” Entah kenapa Camelia tiba-tiba bersikap baik, tidak seperti biasanya. Nada bicaranya juga lebih sopan dan juga bersahabat.
“ Camelia siasat apa lagi yang kau rencanakan?” dengan terus berjalan dan tatapannya ke depan.
“ Hahah..Luna, kau memang penuh rasa mawas diri. Tapi kali ini aku memang tidak ada maksud apa-apa padamu. Ini aku lakukan juga karena kerja sama kita. Papa memberiku kepercayaan untuk mengurus proyek ini, dia sudah melakukan banyak hal agar bisa bergabung dalam proyek ini. Jadi aku tidak boleh menyia-nyiakan kepercayaan papa, lagian ini..” kalimat Cemelia tertahan, dia seperti ragu-ragu untuk mengatakannya.
“ Lagian apa?” sambil memiringkan sedikit kepalanya dan menatap Camelia. Dia penasaran kelanjutan dari kalimat Camelia.
Camelia melihat ke sekeliling, lalu dia menarik tangan Luna untuk segera keluar.
“ Eh apa-apaan ini?” Luna semakin heran dengan tingkah Camelia yang aneh itu.
“ Aku tidak bisa mengatakannya di sini. Jadi kita harus mencari tempat. Bagaimana di dalam mobilmu saja!" usulnya dengan semangat.
Saat itu mereka sudah sampai di luar restoran dan petugas valet juga sudah membawa mobil Luna keluar.
“ Hentikan Camelia, kau jangan berakting lagi di depanku” sambil melepaskan tangan Camelia.
“ Luna..aku benar-benar tidak ada maksud lain. Kali ini aku juga butuh bantuanmu, aku mohon dengarkan dulu penjelasanku.” dengan nada sedih dan ekspresi Camelia juga tidak seperti biasanya. Di wajahnya memang terlukis kesedihan.
“ Aaargh.. baiklah. “ dengan kesal tapi dia juga tidak tega melihat Camelia yang seperti itu.
“ Terimakasih Luna” dengan semangat, lalu dia langsung memasuki mobil Luna, tanpa aba-aba.
“ Eeh.. kau?” Luna semakin bingung. Hingga dia diam sejenak untuk berfikir. Tapi dia tidak ingin juga terlalu lama beridiri di sana, karena dia tidak ingin menarik perhatian orang-orang. Diapun langsung masuk ke dalam mobilnya.
“ Camelia, kau kenapa masuk ke mobilku?” Sambil menutup pintu mobilnya.
“ Aku tidak membawa mobil, tadi aku di antar oleh sekretaris papa ke sini. Aku sedang dalam hukuman papa..hiks hiks ” terang Camelia dengan tangisnya yang mulai pecah.
Hal itu membuat Luna tertegun, dia tidak percaya jika pamannya besikap keras juga pada Camelia. Dia melirik Camelia dengan kasihan tapi rada jijik, lalu dia langsung melajukan mobilnya. Sementara itu Camelia terus saja menagis.
“ Sudah jangan menangis lagi.” sambil mengulurkan tisu pada Camelia.
“ Kenapa paman menghukummu? Keslahan apa lagi yang kamu buat?”
“ Kau sendiri tahu, diantara 3 orang kami bersaudara hanya aku orang yang selalu membuat masalah. Kedua kakakku semuanya sukses dan mereka sangat penurut sehingga papa menyukai mereka. Meskipun mereka sudah berkeluarga, tapi papa masih saja memperhatikan mereka dalam segala hal. Tapi berbeda denganku, papa selalu menganggapku anak yang tidak berguna.
Semua pujian yang dia ucapkan tentangku di depan publick hanyalah untuk melindungi citra dirinya. Papa tidak pernah benar-benar tulus menyanyangiku. Apalagi sejak kejadian makan malam yang memalukan itu, papa semakin membenciku karena telah mempermalukannya di depan kau dan Mark.
Dia memarahiku sejadi-jadinya, dia menyita semua fasilitasku, mobil, kartu kredit, hingga aku tidak bisa apa-apa lagi. Samahalnya juga dengan sekarang, papa juga menyita semuanya dariku hiks hik.”
“ Camelia tenanglah” sambil mengusap lengan Camelia. Namun Camelia benar-benar lepas kendali, tangisnya semakin terdengar mendalam dan menyedihkan.
“ Aissh..Anak ini.” Luna di buat tidak tenang juga dengan sikap dan kesedihan Camelia, hingga dia memutuskan untuk menepi terlebih dahulu.
“ Camelia kamu jangan begini, ceritakan baik-baik. jangan menangis seperti ini” sambil mengusap air mata Camelia.
Sontak Camelia menghambur dalam pelukan Luna.“ Luna maafkan aku, selama ini aku selalu jahat padamu. Tapi kamu masih saja mau peduli padaku hiks hiks.”
Tindakan Camelia yang tiba-tiba itu membuat Luna terkejut, kedua tangannya terangkat. Tapi ketika melihat Camelia yang rapuh, membuat dia tidak tega. Akhirnya menepuk-nepuk lembut punggung Camelia.
Camelia kemudian bangkit dari pelukan Luna, dia mengusap air matanya.
__ADS_1
“ Luna aku benar-benar minta maaf atas semuanya. Mengenai skandal Aku dan Mark aku benar-benar minta maaf” sambil memegangi tangan Luna, dia terlihat sangat memohon pada Luna.
“ Maksudmu?”
“ Skandal itu aku rencanakan karena terpaksa. Papa selalu memarahiku, karena kejadian memalukan malam itu membuat dia kehilangan muka untuk bertemu dengan Mark. Sementara dia sangat terobsesi dengan proyek luar negeri Lixing. Hingga aku berbuat nekat agar membuat Mark bisa melupakan kejadian dalam masalah makan malam itu, dan membuka jalan untuk papa bisa bergabung.
Kamu sendiri tahu bahwa papa sangat kejam, termasuk padaku dia tidak pandang bulu sama sekali meskipun aku anak kandungnya. Selama ini aku berlaku buruk padamu karena pangaruh papa. Dia selalu membanding-bandingkan aku denganmu, oleh karena itu aku menjadi benci padamu. Tapi sekarang aku sadar, aku tidak seharusnya begitu, papa terlalu menekanku. Sekarang dia memberiku kesempatan terakhir, yaitu proyek resort ini. jika aku gagal, dia tidak akan memberiku sedikitpun saham dari NR.”
Penjelasan Camelia itu tidak membuat Luna tersentuh. Ekspresinya tadi menatap simpati, sekarang malah terlihat tidak senang. Dia menarik tangannya dari genggeman Camelia.
“ Lalu apa maksudmu untuk meminta maaf padaku. Karena kau terdesak dan butuh bantuan, makanya kau tiba-tiba baik padaku?”
“ Bu bukan begitu.” jawab Camelia terbata-bata.
“ Lalu?” sambil menghembus nafasnya dengan kesal.
“ Luna..mungkin ini memang terdengar memalukan. Tapi aku benar-benar butuh bantuanmu” sambil melipat kedua tangannya, dia memohon. Camelia benar-benar telihat berbeda.
Luna terkejut hingga mengedipkan matanya bebarapa kali.
“ Haha..kakak sepupu apa kau kurang sehat? Apa perlu ku antar ke rumah sakit untuk periksa” sambil menempelkan punggung tangannya di kening dan leher Camelia.
“ Luna baik-baik saja. Aku serius, kau jangan mengejekku!. Aku tahu proyek ini akan berhasil dengan keuntungan yang besar, karena kau dan Alexa yang sudah berpengalaman dalam hal ini. Tapi beda denganku, selama ini aku hanya main-main. Aku baru bergabung dengan perusahaan baru-baru ini dan tidak ada hal yang berarti yang telah ku lakukan. Kali ini papa memberiku kesempatan, jadi...” kalimatnya tertahan sambil menatap Luna. begitupun Luna menatap Camelia dengan wajah polosnya.
“ Jadi kau harus membantuku untuk menonjol” sambil mendekatkan lipatan kedia tangannya pada Luna dan menundukkan kepalanya.
Luna terdiam hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan matanya kembali berkedip beberapa kali.
“ Ya Tuhan..benarkah ini Camelia sepupuku si rubah licik itu?” bisik hati Luna sangat tak menyangka.
Camelia yang sedari dari dengan posisi itu melai merasa lelah.
“ Luna apa kau bena-benar berhati batu, tak simapatikah?” gumam Camelia sambil menahan lehernya yang sudah keram.
“ Hem hem.. baiklah…”
Luna belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Camelia langsung menyela.
“ Terimakasih Luna, aku sayang padamu. Aku janji tidak akan jahat lagi” memeluk Luna dengan spontan dan menyandarkan lehernya di bahu Luna, untuk menenangkan lehernya yang keram.
“ Apa maksdumu? Bukankah kamu menyetujuinya?”
“ Aku tidak bilang begitu. Tapi..aku akan mempertimbangkannya” dengan wajah tak acuhnya.
“ Tidak apa-apa, kau mempertimbangkannya saja sudah membuatku bahagia. Terimakasih Luna” terlihat sangat jelas kekecewaan di wajah Camleia. Dia memalingkan wajahnya ke jendela. Dia tak lagi bersuara.
“ Luna ternyata sulit juga untuk membujukmu” bisik hati Camelia dengan menggigit bibirnya.
“ Apa dia sekecewa itu? apa ini tidak brakting?” Hati Luna terus menerka-nerka.
“ Kau mau kemana? Biar ku antar.”
“ Aku ikut ke kantormu boleh tidak?” masih menoleh ke jalan.
“ Hemm..baiklah.”
Luna kembali menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
***
Mobil Luna berhenti di depan Lixing Group, dia melirik Camelia yang sepanjang perjalan hanya diam dan tatapannya tetap keluar mobil.
“ Hem..kita sudah sampai” berusaha menyadarkan Camelia dari lamunannya.
Camelia sedikit terperanjak, dia melihat ke sekitar. Dia baru sadar dan langsung keluar dari mobil tanpa sepatah katapun.
“ Aish..kenapa dia bersikap seolah-olah aku manusia tak punya hati dan kejam?” gumam Luna dengan menggerak-gerakkan bibirnya kesal.
Pengawal membukakan pintu mobil Luna, lalu Luna keluar dan menyerahkan kunci mobilnya pada pengawal. lalu dia masuk bersama dengan Camelia.
Saat mereka sampai di ruangan, Luna langsung mempersilahkan Camelia untuk duduk di sofa.
“ Kau mau minum apa?“
__ADS_1
“ Kau tidak perlu melayaniku” sambil merebahkan dirinya di sofa.
“ Aish..” Luna menggelengkan kepalanya dengan kesal, lalu dia pergi ke paintry.
Dia menghidupkan mesin pembuat kopi. Tangannya beraktifitas, hati dan pikirannya juga terus menganalisa sikap Camelia yang tiba-tiba aneh ini. Jelas-jelas saat pagi itu di restoran dia masih terlihat seperti Camelia yang menyebalkan.
“ Ah sudahlah. Lebih baik aku cerita sama Mark.” Luna langsung mencari kontak Mark di ponselnya. Ketika dia hendak melakukan panggilan, keraguan menghampirinya. Dia sadar akan perbedaan waktu mereka, di sana malam hari dan Mark pasti sedang bekerja. Ya..pria itu memang selalu bekerja, mengurus berbagai hal walau sudah larut malam.
Dia kembali meletakkan ponselnya di meja, lalu melangkah ke kulkas untuk mengambil batu es, dia ingin membuat kopi dingin untuk Camelia.
“ Zhrrtt..” ponsel Luna bergetar.
“ Hah?” Luna melirik ponselnya. Panjang umur, ternyata itu panggilan dari Mark. Hal kecil itu membuat Luna tersenyum dia tidak menyangka Mark akan menelvonnya, ketika dia berfikiran untuk menelvon tapi tidak jadi karena segan.
Ya..meskipun biasanya Mark memang sering menelvon dia ketika berada di luar negeri, tapi biasanya Mark menelvon kisaran jam 13.00-14.00
“ Mark..apa kau sedang mengawasiku sekarang?” tanya Luna ketika menjawab telvon.
“ Apa maksudmu?” saat itu Mark sedang berada di meja kerjanya.
“ Aku baru saja hendak menelvomu, tapi tidak jadi karena takut akan mengganggumu yang sedang mengurus ini dan itu. Kan sangat sibuk sekali Mark Rendra.”
“ Haha..sekarang aku tidak tahu apakah senang atau marah menerima telvon dariku.”
“ Itu tidak penting.“
“ Haha..kau pemarah sekali. Tapi kenapa kau ingin menelvonku?”
“ Aku ingin memberitahumu sesuatu.” Sambil mematikan mesin pembuat kopi.
Mark mengangkat alisnya, dia penasaran dan juga senang. Luna benar-benar mulai terbuka padanya.
“ Mamberitahuku sesuatu? Apakah itu?”
“ Begini….” Luna mulai menceritakan.
Sementara itu Camelia yang berada di sofa sudah merubah posisi. Dia merebahkan seluruh tubuhnya di sofa panjang itu. Dia tidur dengan bebas, matanya memandangi langit-langit ruangan, ekspresi jahatnya seakan lenyap sejak dia mulai membujuk Luna.
“ Aku akan buktikan pada papa bahwa aku bukan anak yang tidak berguna. Aku akan menampar mulut kasar papa itu dengan keberhasilanku.” gumamnya.
“ Luna memang sangat beruntung, tapi bukan berarti aku juga tidak punya keberuntungan. Hanya jalan dan langkanya saja yang berbeda. Kali ini aku aku akan bersungguh-sungguh” ucapnya dengan nada pelan. Lalu dia memejamkan matanya untuk menikmati saat santainya itu.
“ Bagaimana menurutmu? Bukankah itu sedikit aneh?” tanya Luna, setelah dia selesai menceritakan dengan sikap aneh Camelia hari ini pada Mark.
“ Ini memang aneh. Tapi coba kau ikuti saja alurnya dulu, ikuti bagaimana permainannya. Aku akan memantaunya. Coba kita lihat apa yang ingin dia rencanakan.”
“ Aku juga berfikiran begitu.”
“ Luna tetaplah terbuka seperti ini padaku. Agara aku bisa untuk selalu melindungimu. Siapapun yang ingin membuatmu menderita, maka akan ku buat dia merasakan hal yang sama dengan puluhan bahkan ratusan kali lipat.”
“ Mark tapi aku akan meyelesaikannya sendiri.”
“ Apa kamu merasa aku adalah pria yang akan membiarkan wanitaku sendirian melawan orang jahat seperti itu? aku berdiam diri seperti tidak ada hubungannya denganku? Luna..aku tidak rela!” dengan serius dan nada suara yang begitu berkharisma.
Luna terdiam, dia tidak bisa menyanggah perkataan Mark. Baginya kata-kata ini lebih romantis dari pada kata-kata cinta.
“ Jangan salahkan aku untuk ikut campur dalam urusanmu. Aku hanya ingin melindungi wanitaku, aku ingin kamu merasa di lindungi olehku. Aku salut dengan keberaniamu dalam menghadapi semua masalah dan musuhmu, tapi aku lebih berharap bisa maju bersamamu, dan menanggung semua bersamamu.” Dengan lembut.
Luna semakin tidak tahan, matanya berkedip beberapa kali dan jangtung berdebar lebih kencang.
“ Aaaaaa…bagaimana ini, Mulutnya semakin manis dan mempesona. Membuatku semakin cinta saja. Aku tidak boleh di kendalikan olehnya” teriak hati Luna.
Dia mengatur nafasnya, lalu memberanikan diri untuk bicara setelah menerima serangan yang bertubi-tubi dari Mark.
“ Haha..baiklah. Mark sekarang aku harus menutup telvonnya. Aku ada tamu penting.”
‘ tuut’ Luna langsung memutuskan panggilan.
Setelah itu dia langsung mengambil nafas dalam dan memegangi dadanya dimana jantungnya masih berdebar hebat.
sementara Mark yang berada di sebarang sana hanya bisa mehan sedikit kekesalannya. Karena Luna memutuskan telvon begitu saja.
"Awas saja jika aku pulang nanti." penuh siasat tersembunyi dan senyum nakalnya.
__ADS_1
Luna menepuk-nepuk pipinya, “ Aku benar-benar gila. Bicara di telvon saja bisa membuat rohku jungkir balik dan jantungku berpacu degan hebat. Hufftt..”
Luna kembali mengerjakan tujuan awalnya ke paintry yaitu membuat minuman untuk Camelia.