TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TMABK


__ADS_3

“Pa, Ma..” Mark menghampiri kedua mertuanya itu. Riak wajahnya sudah sangat cemas karena tiba-tiba di suruh kembali ke rumah sakit. Terlebih melihat Mama mertuanya menangis, dia semakin risau. Apakah yang terjadi? 


Mark melirik ruangan istrinya di rawat, tiba-tiba keluar saja seorang dokter dan dua orang nurse dari sana.


“Ada apa ini? apa yang terjadi? Tanya Mark. Kedua mertuanya itu di tatap bergantian, namun begitu lambat respon bagi Mark, sehingga dia meluru masuk ke dalam ruangan, namun tangannys di tahan oleh Tuan Aliester.


“Jantung Luna tadi tiba-tiba berhenti.” Tutur Tuan Aliester dengan tegar.


Mark tergamam. Kepalanya digelengkan. Tidak! tidak mungkin. Air matanya langsung saja menetes. Apa ini? Luna jangan tinggalkan aku.


Mark menarik tangannya dari Papa mertuanya itu. Tidak peduli lagi, dia langsung meluru masuk ke dalam ruangan istrinya itu. Dia ingin memastikan keadaan istrinya sekarang.


“Sayang..” Mark berlari menghampiri Luna yang berbaring di sana. Terasa sangat lemah kakinya berjalan pada 5 langkah terakhir.


Perlahan Mark duduk di kursi di samping ranjang Luna. Dia seakan terpaku melihat semua alat medis telah di lepaskan dari tubuh istrinya itu. Tidak, tidak! Mark langsung menangis. Tidak sampai satu jam dia meninggalakn istrinya itu, kenapa sudah begini saja?


“Sayang jangan begini. Jangan tinggalkan aku dan Allard…” Mark menangis terisak-isak. Dia merasa tubuhnya bagai ditimpa batu besar. Begitu sakit dan hancur. Mark hanya menunduk menekur lantai. Tidak sanggup melihat wajah istrinya itu. Kedua tangang yang saling menggengggam juga bergetar hebat. 


“Mark.” Nyonya dan Tuan Aliester juga masuk ke dalam, juga diikuti oleh Camelia.


“Pa kenapa begini? Kenapa dokter mencabut alat-alat itu dari tubuh Luna?” tanya Mark. Dia masih menunduk menekur lantai.


“Mark, tenang sayang. Luna sudah sadar dari komanya, tapi belum sepenuhya sadarkan diri. Kata dokter, sebentar lagi Luna akan sadar sepenuhnya.” Jelas Nyonya Aliester sambil mengusap bahu menantunya itu.


Mark langsung mengangkat wajah. Mama mertuanya itu ditatap, “Serius Ma? Aku tidak salah dengar kan?”


“Tidak, kamu tidak salah dengar.”


“Syukurlah.” Mark meraup wajahnya. Perlahan dia menatap Luna. Tangannya juga naik meraih tangan istrinya itu. Hangat. Ya tangan istrinya hangat dan masih terasa denyutan nadi. Mark bersyukr tiada henti. 


“Terima kasih Luna.” tangan Luna di bawa ke bibir, diciumnya dengan penuh sayang.


Akhirnya keadaan istrinya membaik dan sebentar lagi akan sadarkan diri. Tiada kata yang bisa menggambarkan betapa senangnya dia sekarang ini.  Sangat tidak sabar menunggu istrinya itu membuka mata. Rindu, sangat rindu.


***


Ramai rungan VVIP itu sekarang. Orang tua, mertua serta para sahabat datang untuk menunggu kesadaran Luna. Namun ketenangan tetap di jaga. Mereka hanya duduk manis di sofa yang tersedia di ruang rawatan VVIP itu. Hanya Mark seorang yang duduk di samping Luna.


Ini sudah setengah jam, tapi Luna masih juga sadarkan diri. Camelia di sana sudah tidak tenang duduk. 


“Lama sekali. Mereka semua terlalu berlebihan. Apakah perlu menunggu seperti ini? membosankan.” Getus Camelia dalam hati. Orang-orang di sana di tatapnya jengah. Ah, menyebalkan. Dia perlu mencari udara segar sekarang. Entah kenapa dia merasa sesak berada di tengah-tengah orang ini. 


“Tante, aku ke toilet dulu ya.” ini adalah alasan lumrah yang paling laris digunakan untuk melarikan diri.


“Oke.” Jawab Nyonya Aliester. Camelia tersenyum segaris, lalu keluar dari ruangan itu. 


Dalam masa yang sama Misya tampak memperhatikan Camelia yang berjalan menuju pintu. Lalu dia berbisik pada Zia.


“Tante, aku keluar sebentar ya.”


Zia sekedar mengangguk. Tanpa menunggu lama. Misya juga beranjak dari situ. Orang-orang di dalam masih tenang dan berdebar menunggu Luna sadar.

__ADS_1


Perlahan-lahan Luna membuka matanya. Mata berkedip dan menyipit menerima cahaya yang baru masuk ke retinanya itu. Matanya juga meliar memperhatikan sekitar. Rumah sakit?


“Sayang,” haru dan bahagia suara Mark. Dalam masa yang sama orang-orang di sofa juga langsung menoleh pada mereka berdua.


Luna menoleh pada pemilik suara yang sangat dia kenali itu.


“Sayang sudah bangun. Terima kasih sayang.” tubuh istrinya itu langsung di peluk. 


“Mark, kenapa aku ada di sini? kamu juga kenapa menangis?” tanya Luna merasa bingung. Dia sempat melirik oarang-orang yang mulai mendekat ke arah mereka berdua. Tapi tidak Luna pedulikan. Karena dia merasa ada sesuatu yang salah. Tubuh Mark dicoba di dorong. Perlahan perutnya juga di usap.


Oh gosh! Kenapa rata? Kemana pergi bayinya itu? 


“Mark kenapa perutku rata? Anak kita? apa yang terjadi?” tanyanya penuh khawatir. Luna juga berusaha bangkit namun ditahan oleh Mark.


“Calm down sayang. Semuanya baik-baik saja. Seminggu yang lalu sayang jatuh dari tangga, bayi harus segera dikeluarkan karena benturan saat sayang jatuh mengakibatkan bayi lemas di dalam. Dokter melakukan emergency ceasar, oleh karena itu sayang koma.”


Luna diam. Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Seminggu dia koma? Oh gosh. Luna kembali menatap Mark ketika ingatan itu sudah kembali.


“Lalu bagaimana dengan putra kita?” tanya Luna. Wajah suaminya itu ditatap pelik. Berharap tidak ada yang buruk terjadi.


Mark mengembang senyum, “Allard kita selamat.”


Langsung saja air mata Luna menetes. Tangan suaminya di capai dan di ciumnya.


“I love you. Maaf karena telah membuat kamu khawatir. Seminggu ini kamu pasti tidak bisa tidur dan makan dengan teratur.”


Mark menggeleng, “Bukan salahmu.”


“Jangan sakit lagi. Aku tidak sanggup melewati hari tanpa senyumanmu.” Tepi bibir Luna di usap dengan ibu jarinya. Lalu kening istinya itu juga di kecup dengan penuh hangat.


Luna kembali mengangguk pelan seirama dengan kedipan matanya. Ketika itu orang-orang juga telah sudah berdiri di belakang Mark.


“Luna,” ujar mereka haru.


Sekali lagi Luna merasa beruntung. Orang-orang tersayang ada di sini.


***


Mark mendorong pintu ruang rawatan Allard, lalu wheel chair Luna juga di dorong ke dalam.


Luna memandang penuh haru pada bayi mungil di dalam incubator itu. Jiwa menjerit ingin segera memeluk anaknya itu. Mark senantiasa mengusap bahu Luna, sebagai transfer kekuatan dan kesabaran pada sang istri.


“Luna.” tegur Ranie Su yang sedari tadi memang ada di sana.


Luna mengusap air mata sebelum menoleh pada sumber suara.


“Iya Ranie.” 


“Apa kamu mau menggendong bayimu?”


“Bolehkah?” tanya Luna antara bahagia dan khawatir. Bagaimana bisa bayi mungil dan masih sangat lemah itu di sentuhnya. Luna takut akan melukai bayinya, karena dia benar-benar belum ada pengalaman.

__ADS_1


“Tentu saja boleh. Bayi premature bahkan lebih sangat membutuhkan sentuhan dari orang tuanya. Itu akan membuat dia merasa nyaman.” Jelas Ranie Su.


Ingin! Sangat ingin. Tapi Luna masih ragu. Dia mendongak menatap Mark seolah meminta pendapat. 


“Lakukanlah. Allard pasti sangat senang. Dokter akan mengajarimu.”


Luna tersenyum haru, dia kembali menoleh pada Ranie Su. 


“Bawa Allard padaku.” tuturnya setuju.


“Baiklah. Tuan Mark, anda boleh membaringkan Luna di sana.”Arah Ranie Su sambil menunjuk ranjang yang ada di ruangan itu.


 Mark langsung menggendong Luna dan membaringkan istrinya di sana dengan sangat hati-hati. Sementara mata Luna tidak lepas memandang bayi mungilnya yang tengah di keluarkan oleh Ranie Su dari kotak incubator. Dia semakin bahagia ketika Ranie Su sudah berjalan ke arahnya.


“Allard…” jerit hatinya.


“Tuan, anda bisa membantu Luna membuka kancing baju di dadanya.”


Wait! Mata Luna membulat. Eh, apa tadi dia bilang? Membuka kancing baju di bagian dada?


“Ke ke kenapa dibuka?” tanya Luna terbata. Dia sempat melirik Mark yang hanya tersengih nakal, “Apa aku sudah boleh menyusuinya? Tapi aku belum tahu apakah ASI ku sudah ada atau belum.” 


Ranie Su tersenyum, “Bukan. Allard, belum mampu menyusu secara langsung. Ini hanya untuk sentuhan sesama kulit. Hal itu akan menciptakan kenyamanan baginya, serta dia akan dapat mengenali orang tuanya.” 


Luna tersengih. Begitu ternyata. Perlahan tangannya naik membuka kancing bajunya itu.


“Mau aku bantu?” goda Mark sengaja mengusik.


“Nope.” Jawab Luna singkat. Wajahnya juga sudah memerah ketika itu. Meskipun meraka suami istri, tapi dalam situasi ada orang lain diantara mereka, rasa malu Luna berlipat-lipat sekarang. Namun demi sang buah hati, dia singgkirkan sejenak rasa malu itu.


Baju Luna sadah terbuka menampakkan gundukan putih dan mulus itu. Kedua pipinya sudah merah padam sekarang, Ranie Su sendiri menyimpan tawa melihatnya.


“Ok, Allard.. mari berkenalan dengan Mama ya.” 


Rani Su meletakkan Allard di atas dada Luna yang terbuka itu, sehingga terjadinya kontak kulit antara anak dan ibu itu. Selanjutnya Ranie Su menyelimuti Allard, agar tetap menjaga kehangatan suhu tubuh. Gendongan ala kangguru memang paling cocok untuk menjalin komunikasi antara orang tua dan anak.


Allard memberi respon yang cepat, dia bergerak sedikit meringis kemudian tersenyum. Sontak air mata Luna menetes. Ternyata begini rasanya menjadi seorang ibu.


“Allard anak Mama.”  


Mark ikut bergabung dengan istri dan anaknya. Dia ikut mengusap lembut sang buah hati. Bahagianya mereka, tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata. 


***


Seseorang menikam foto di dinding itu berulang kali. Diruangan yang gelap tidak dapat terlihat jelas siapa pemilik tubuh itu. Pun foto yang sudah hancur ditikam sudah tidak dapat di kenali. Hancur. Kemudian pisau ditangan di lemparnya  dengan penuh luapan emosi. 


“Darn it! Kau pantas mati. Aku tidak akan membiarkan kau hidup tenang-tenang saja.” jerit suara wanita itu. Habis barang-barang yang ada di sana diamuknya.


Tubuhnya melorot ke bawah, sehingga dia terduduk di lantai. Sesekali dia tertawa, sesekali dia menangis.


“Kamu tidak layak di tempat itu sekarang. Kau harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini.” Dia tertawa keras setelahnya. Ngeri!

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2