TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TMABK


__ADS_3

“Luna,” Mark langsung berlari mendekati istrinya itu. Dalam waktu yang sama lampu-lampu di ruangan itu menyala. Para pelayan dan penjaga berdatangan. Alangkah terkejutnya mereka melihat apa yang telah terjadi.


“Ya ampun kenapa ini sayang.” istrinya itu langsung di pangku. Mata Mark menangkap darah yang mengalir di betis istrinya itu. Tidak! Mark menggeleng pedih.


“Mobil, siapkan mobil. Cepat!” pekik Mark menggila. Tubuh Luna langsung diangkatnya.


Pengawal di sana langsung bergerak akan perintah Tuannya itu.


“Ada apa ini? kenapa ribut-ribut?” muncul juga Zia dan Misya di sana. 


Zia menekup mulut melihat darah pekat yang mengalir di kaki menantunya itu.


Mark hanya melihat sekilas ibunya, dia langsung berlari menggendong istrinya itu menuju mobil.


“Bertahanlah sayang. Please..” Air mata Mark mengalir perlahan.


Sementara di dalam Zia seolah mematung. Masih  terkejut dengan apa yang dilihatnya tadi. Shock.


“Tante.” Misya mengusap bahu Zia untuk menenangkan.


“Cucuku.” Ucap Zia sambil membawa tangan ke dada. Tersedu. 


***


Semua orang duduk termenung di depan ruangan Luna sedang di periksa. Mark tidak dapat duduk dengan tenang. Dia berdiri di depan pintu dan mondar-mandir di sana. Sungguh dia sangat risau dengan keadaan istrinya sekarang. 


Di tengah keserabutan pikirannya, Mark menatap tajam pada Misya. Mata mereka beradu, cepat-cepat Misya melarikan anak matanya. Takut.


Terndengar suara pintu dibuka. Cepat Mark menghampiri dokter Ranie Su yang keluar dari ruangan.


“Bagaimana dokter?”


“Tuan mari kita berbincang di ruangan saya.” Pinta dokter Ranie Su dengan wajah serius.


Mark tercekat, “Ok.” Jawabnya perlahan sambil mengikuti dokter Ranie Su dari belakang. Hatinya sungguh sangat risau sekarang.


Zia menatap punggung Mark dan dokter Ranie Su yang menjauh. Air mata yang sedari tadi ditahan, akhirnya jatuh juga.


***


Mark meraup kasar wajahnya. Air matanya kembali menetes. Sudah lama dia tidak menangis seperti ini. Hatinya benar-benar hancur mendengar penjelasan dokter Ranie Su tadi.


Luna harus segera melakukan emergency ceasar, dengan kemungkinan 80% bayi dapat di selamatkan. Namun, keselamatan sang ibu mungkin hanya 50/50.


“Tidak ada jalan lain dokter? Tidak apa kehilangan bayi asalkan Luna dijamin selamat.” Bergetar suara Mark akan kalimat kejamnya itu. Semesta saja yang tahu perasaanya sekarang.


“Tidak Tuan. Luna tidak mampu melahirkan secara normal, keadaannya sangat lemah. Tuan, kita tidak punya banyak waktu. Silahkan ditanda tangani.” Ujar Ranie Su sambil menyodorkan kertas berserta pena pada Mark.


Bergetar tangan Mark meraih pena di meja, “Maafkan aku…”


***


Sebaiknya Mark muncul, Zia langsung menghampiri putranya itu. 


“Bagaimana Mark? cucu ibu baik-baik sajakan?” 


Berkerut kening Mark akan kalimat ibunya. Entah kenapa dia kurang berkenan dengan kalimat ibu yang seolah hanya mengkhawatirkan cucu saja. Dimasa yang sama keluar empat orang perawat untuk membawa Luna ke ruang operasi.

__ADS_1


Bangsal tersebut berhenti saat berpapasan dengan Mark. Mark menunduk dan mencium sayang kening istrinya itu. 


“Tetaplah hidup. Aku mohon.” Bisik hati Mark dengan Air mata yang mengalir.


“Tuan, kita tidak banyak waktu.” Ujar salah satu perawat.


Mark bangkit dan hanya memandang kosong perawat dan istrinya yang menjauh itu. 


Zia yang sudah mengerti akan apa yang terjadi hanya menggeleng lemah.


***


Mark memejamkan mata untuk melepaskan air mata tergantung di sudut matanya. Wajah yang senantiasa ceria itu terlihat muram dan kehilangan cahaya. Bibirnya juga pucat. 


Tubuh kecil di dalam incubator itu kembali ditatapnya. Anakku, kamu harus kuat!


Sudah dua hari bayi itu di dalam incubator. Keadaannya masih sangat lemah. Perawatan terbaik diberikan. Bayi yang lahir premature dan keadaan nadi sangat lemah karena hampir lemas di dalam kandungan.


Lalu bagaimana dengan Luna? sekali lagi air mata Mark menetes. 


“Papa tinggal sebentar ya sayang. Nanti Papa kembali untuk melihat sayang,” kaca incubator di usap. Lalu dia berbalik badan menghadap dokter Ranie Su.


“Selalu kabari saya apapun perkembangannya.”


“Baik Tuan.”


Mark membawa langkah keluar. Rangga sudah menunggunya di luar.


“Mark..”


“Bagaimana?” 


Mark tidak menunjukkan sembarangan reaksi. Datar.


“Baiklah, kau kembalilah. Nanti aku akan mengurusnya.”


“Baik.”


Mark menggenggam tangan dengan bergetar, lalu meninggalkan Rangga begitu saja.


Mark melangkah pelan menuju satu pintu. Air mata diusap lalu pintu tersebut dibuka. Mark mengembangkan senyum. Langkah kaki di bawa ke dalam.


Tit Tit Tit Tit!


Hanya suara itu yang terdengar di ruang rawatan VVIP itu. Luna terbaring lemah di sana. Beberapa alat medis melekat di tubuhnya.


“Sayang.” Mark duduk dan menggapai tangan istrinya itu. Dibawa ke bibir dan cium sambil memejamkan mata. Lama. Tidak terasa air mata kembali menetes tanpa seizin tuannya.


Ini sudah hari berlalu, sejauh ini Luna masih belum membuka mata. Namun, apapun itu Mark sangat bersyukur. Dia bangga pada istrinya yang sangat berjuang melewati masa kritis. Dan sekarang semoga saja istrinya itu cepat sadar.


“Luna, terima kasih sudah bertahan. Terima kasih, terima kasih untuk semuanya. Aku dan anak kita akan selalu menunggumu. Cepat bangun ya, kami sangat membutuhkanmu.”


***


Plak, Plak, Plak! Suara tamparan dan tumbukan terdengar kejam di ruangan itu. Wajah lelaki dengan pakaian serba hitam itu sudah membiru dan bengkak tidak berbentuk lagi. Jangan salahkan Mark yang kejam, orang ini yang membangkitkan jiwa iblis yang sudah bantu diredam oleh sang istri selama ini.


“Kurung dia!” Arah Mark. 

__ADS_1


“Baik Tuan.”


Mark melepaskan sarung tangan yang sudah penuh darah itu. Lalu dia keluar dan memasuki mobil. Dia perlu mengakhiri semua ini. 


Kencang saja mobil yang dipandu Mark melaju. Airpods dipasang di telinga. Matanya sedikit melirik layar ponsel yang menunjukkan sebuah lokasi.


“Kalian mundur, biar aku yang mengatasinya.”


Setelah memberikan perintah Mark langsung memacu mobil lebih kencang.


***


Jalanan cukup ramai. Hyena menambah volume music di mobilnya itu. Jari yang memegang setir sedikit di gerak-gerakkan mengukuti irama music. 


“Cih,” dia berdecis ketika melihat jemarinya yang tidak lengkap itu. Terdapat  cerita panjang nan pilu dibaliknya.


Hyena kembali fokus ke depan ketika mobilnya memasuki area jembatan. Gadis itu terkejut ketika melihat jalanan tiba-tiba sepi. lampu-lampu jalan juga padam. Gelap! Hanya lampu mobil sebagai penerang sekarang. Seolah tahu apa yang akan terjadi gadis itu menambah kecepatan mobilnya.


“Aaaa….” 


Ban mobil berdecit keras karena tiba-tiba  di-rem mendadak seperti itu. Kepala Hyena menunduk di setir. Perlahan dia mengangkat wajah. Keningnya sudah berdarah akibat benturan. Gadis itu melihat mobil yang menghambat jalannya.


“Hah, this time.” Gadis itu menyeringai ketika melihat sosok tubuh yang keluar di sana.  


Mobil kembali mau di lajukan, namun pria di hadapannya itu dapat mengira pergerakannya. Ban mobilnya di tembak secara beruntun. Dia belum melihat jelas wajah pria di hadapannya itu, tapi dia dapat mengira itu siapa.


“Darn it!” Hyena juga meraih senjatanya. Lalu keluar, “Mark Rendra.” ujarnya sambil menodongkan senjata.


Pria di hadapannya itu menyeringai di balik topi cowboy yang ia kenakan. Perlahan topi di turunkan. 


Bukan Mark Rendra, tapi James Lu!


“Ka ka.. kamu.” gadis itu tercekat.


*Sementara itu di tempat lain.*


Sesosok tubuh berdiri tegab di rooftop bangunan tua itu. Dimalam gelap, angin berembus sedikit kencang. Suara pohon-pohon dan rumput tertiup angin seolah menghasilkan sensasi mendebarkan. Ditambah bangunan tua yang tidak terurus ini, ada juga kala terdengar bunyi-bunyian binatang malam cukup menegakkan bulu roma.


Terdengar saja suara helicopter di udara. 


“Mereka datang.  Aku akan mengirim uangnya padamu, setelah itu kau bertanggung jawab atas nyawamu sendiri.” ujarnya melalui alat komunikasi yang melekat di telinga. 


Wanita! Pakaiannya serba hitam, dengan longcoat kulit serta lengkap dengan sarung tangan. Wajahnya juga di tutupi dengan masker dan kaca mata hitam. 


“Baik.” jawab suara melalui earpods itu.


Pemilik tubuh itu melambaikan tangan pada helicopter yang di atasnya. Heliopter itu mendarat. Sembringah saja wajahnya dan berlari mendekati helicopter yang sudah sempurna mendarat di rooftop.


Namun..


DOR, DOR! Dua peluru menghujam bahu kanannya.


“Aakh..” dia berundur sambil memegangi bahunya itu, “Kenapa?” ujarnya pelik.


Tubuhnya ambruk dan terduduk. Napas terengah dan berusaha menegakkan wajah. Matanya membulat ketika melihat sosok yang yang keluar dari dalam helicopter tersebut.


“Tidak mungkin!”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2