
Konferensi sudah berakhir, sekarang semua orang kembali ke ruangan sebelumnya.
Di dalam ruangan tersebut Luna di goda habis-habisan oleh Nindy dan yang lainnya. Luna terpaksa merespon godaan itu dengan senyuman.
“ Aku benar-benar sudah tidak tahan. Rasanya aku ingin berteriak sekarang. Hufftt… aku harus mencari cara untuk keluar dari sini supaya bisa menghindari godaan yang berkepanjangan ini.” Pikir Luna sambil mencari ide.
“ Oh iya. Aku bisa keluar dengan alasan pergi ke toilet.” bisik hati Luna senang.
“ Aku permisi ke toilet dulu ya.” ucap Luna dengan senyum dan sambil berdiri.
“ Haha.. baiklah. Aku tau kau pasti ingin menghindari kamikan? Itu terlihat sangat jelas.” ucap Nindy dengan nada ejekannya.
Luna tersenyum canggung dan langsung pergi keluar dengan cepat.
Menyadari Luna akn pergi ke toilet, Camelia juga berencana untuk menyusul Luna.
“ Aku ingin berbicara dengan jal*ng ini sebelum pulang .“ bisik hatinya.
Saat tiba di toilet, Luna langsung membasahi wajahnya.
“ Huftt.. akhirnya aku keluar juga.” ucap Luna lega sambil memandangi dirinya di cermin.
“ Sepertinya hubunganmu dengan Mark benar-benar baik.”
Luna sedikit terkejut dan langsung menoleh pada sumber suara.
Di pintu Camelia dengan melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh dan sombongnya.
“ Ternyata kakak sepupuku.” ucap Luna dengan santai. Lalu dia langsung mengalihkan pandangannya dan mencuci tangannya.
Camelia mendekati Luna dan berdiri di sampingnya.
“ Luna aku peringatkan kamu untuk tidak merasa senang dulu di tahap ini.” dengan sombong dan mengancam.
“ Kakak sepupu, wajah malaikatmu saat di depan semua orang sangat menakjubkan. Kenapa tidak kau gunakan juga saat bersamaku?” dengan masih mencuci tangannya.
“ Hehe, memangnya aku perlu berpura-pura di depanmu?”
“ Heh,” ucap Luna dengan senyum Smirknya.
“ Memangnya ada yang lucu?” ucap Camelia kesal.
Luna tersenyum, lalu dia menatap Camelia.
“ Ternyata kau tau persis akan iblisnya dirimu, aku sangat salut padamu kakak sepupu.”
“ Dasar jal*ng beraninya kau mengataiku iblis.” dengan suara yang mulai meninggi.
Luna memegangi keningya dan menggelengkan kepalanya.
“ Kakak sepupu, sepertinya kau belum siap mental menghadapiku. Begini saja kau sudah emosi. Lebih baik kau berlatih lebih giat dan baru kembali untuk melawanku.”
“ Luna kau..arrgghhh,” ucap Camelia dengan merasa sangat geram pada Luna, dia ingin sekali menjambak rambut Luna saat itu. Tapi dia tetap berusaha untuk menahannya, karena orang-orang juga masih berada di sini.
“ Luna, kamu dengar baik baik. Aku adalah Camelia Aliester, tidak peduli dengan cara apapun. Aku pasti mendapatkan apapun yang aku inginkan.” dengan nada mengancam. Lalu dia juga mencuci tangannya.
Luna terdiam,lalu dia langsung melangkah keluar dengan sedikit murung.
Tapi ketika sudah berada di depan pintu, Luna menghela nafasnya lalu dia langsung merubah raut wajahnya dengan senyum.
‘ crak ‘ Luna membuka pintu.
“ Eh?” Luna terkejut, di ruangan itu hanya tinggal Mark dan Rangga saja.
“ Kemana perginya semua orang?” tanya Luna sengan ekspresi wajahnya yang terlihat bingung.
Mark berdiri dan mendekatinya.
__ADS_1
“ Aku menyuruh mereka pulang. Kesuksesan konferensi pers ini memang patut dirayakan. Tapi mengingat besok kita mempunyai jadwal yang padat, jadi hal itu tidak bisa dilakukan. Kau harus istirahat yang banyak, ingat besok adalah harimu.” dengan lembut.
Luna menatap Mark dengan cemberut.
“ Tapi bukankah terlalu tidak sopan dengan kau menyuruh mereka pulang?”
“ Mereka juga tidak keberatan. Mereka paham dengan situasi kita.” dengan senyum.
Camelia datang dari belakang Luna.
“ Eh, apa semuanya sudah pulang?” tanyanya dengan lembut.
Mendengar suara Camelia yang menggelikan itu, Luna menundukkan kepalanya lalu tersenyum.
“ Iya nona. Sekarang sebaiknya kita semua juga harus pulang. Saya sudah mengatur pengawal untuk mengantarkan nona pulang.’’ Ucap Rangga menanggapi perkataan Camelia.
“ Hah, pria ini selalu menghalangiku saat ingin berbicara dengan Mark.” bisik hati Camelia kesal.
Camelia tersenyum menatap Mark.
“ Mark kau tidak perlu menyuruh pengawalmu untuk mengantarkan aku pulang. Aku bisa meminta supirku untuk menjemputku ke sini.” dengan lemah lembut.
“ Tidak apap-apa. Kakak ipar sudah membantuku, jadi sudah sepatutnya ini ku lakukan.” Jawab Mark.
“ Haha..Baiklah jika kau memaksa.”
Meskipun sebenarnya Camelia merasa kesal, tapi dia harus tetap menahannya dan tetap bersikap lemah lembut pada Mark.
***
Mark dan Luna pulang dengan diantarkan oleh pengawal, karena Rangga tiba-tiba ada hal yang mendadak yang harus di urus.
Di dalam perjalan pulang itu, suasana sangat hening. Luna hanya diam dan pandangannya tertuju keluar jendela.
“ Luna bolehkah aku bertanya?” ucap Mark memulai pembicaraan.
“ Mark kau masih berutang penjelasan padaku. Jadi sekarang tidak berhak bertanya apapun padaku.”
Mark tersenyum, “ Humm..baiklah. Aku akan menjelaskannya padamu. Saat di Amerika aku memang bertemu dengan Camelia di sebuah restoran. Tapi itu bukanlah pertemuan yang di sengaja. Hari itu aku hanya bertemu dengan rekan bisnisku, tapi siapa sangka bahwa dia bersama Camelia sebagai partnernya." melirik Luna
"Ketika itu aku tidak berfikir yang aneh-aneh dan berfikir jika itu memang hanya kebetulan saja. Namun ternyata, ini semua sudah dia atur sedemikaian rupa." lirik lagi, Luna masih tidak memberikan respon apa-apa.
"Di tengah perbicangan, rekan bisnisku permisi sebentar ke toilet sehingga hanya aku dan Camelia berada di meja itu. Jadi di saat itulah orangnya mengambil kesempatan untuk memotret kami, sehingga menghasilkan gambar yang seolah-olah aku dan Camelia sedang berkencan. Aku tidak menyangka bahwa aku akan masuk ke perangkapnya.”
“ Hah, kau memang bodoh. Lalu kenapa dia sendiri memberikan klarifikasi? Apa yang telah kalian transaksikan?. Dulu kau bersikap seolah-olah ingin membunuhnya, sekarang kau malah terlihat akrab dengannya.” ucap Luna dengan nada tidak senang.
“ Maafkan atas kepayahanku Luna. Aku sudah mencoba cara lain, tapi itu akan memakan waktu sedikit lebih lama.”
“ Siapa suruh kamu menyelesaikannya hanya dalam 3 jam” umpat Luna dalam hatinya.
“ Jadi aku terpaksa menerima tawarannya.” lanjut Mark.
“ Hah tawaran? Tawaran apa maksudmu?” Luna semakin kesal mendengar penjelasan Mark.
“ Dia bilang akan membantuku meluruskan semuanya. Dengan syarat agar aku melupakan kejadian memalukan saat makan malam kelauarga waktu itu.”
“ Hanya itu?”
“ Seharusnya iya. Tapi sekarang dia malah bersikap aneh padaku. Atau mungkin dia tertarik padaku?” ucap Mark polos.
“ Hmm… hanya dengan syarat ini?. Sepertinya dia benar-benar ingin menarik perhatian Mark, dia melakukan ini bukan hanya untuk sekedar membuatku kesal." bisik hati Luna.
“ Huh, Mark kenapa kau bicara seolah ragu begitu? kemana perginya rasa percaya dirimu yang lewat batas itu? atau kau merasa Camelia memang wanita yang sangat berkelas hingga kau merasa sedikit rendah?” celoteh Luna.
Mark tersenyum dan menatap Luna, begitupun Luna juga menatap Mark.
“Itu karena hatiku sudah di penuhi olehmu. Hingga aku tidak peduli lagi dengan orang sekitar yang tertarik dengank.” ucap Mark dengan senyum yang lembut.
__ADS_1
Luna langsung memalingkan wajahnya.
“Aaaa…Kau tidak perlu berkata manis padaku. itu tidak berpengaruh sama sekali” teriak Luna kesal tak karuan.
“ Haha.. benarkah? tapi aku mendenagr debar jantungmu yang seperti ingin meledak itu.” goda Mark.
“ Mark..kau jangan asal menuduh.” sangat sangat kesal.
“ Haha..Aku sudah menjelaskannya padamu, sekarang apa aku sudah bisa menanyaimu?”.
“ Tidak…. Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu. Aku masih sangat kesal.”
“Hey..Kenapa kau bisa sekesal ini? Jika memang aku salah menebak seharusnya kau santai saja.” ucap Mark secara menohok.
Luna terdiam, dia juga merasa bahwa perkataan Mark benar. Tapi dia juga tidak mau kalah.
“ Itu karena kau menyebalkan. Sekarang kau lebih baik diam. Kau jangan berbicara lagi setelah aku berhenti bicara.”
Dan benar saja setelah Luna selesai bicara, Mark tidak lagi mengucapakan sepatah katapun. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Sementara Luna tetap mengarahkan pandangannya keluar.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah. Dengan cepet Luna membuka pintu dan keluar dari mobil.
Dia berjalan cepat dengan sedikit menundukkan wajahnya memasuki rumah. Sehingga para pelayan yang sudah menantinya dengan senyuman tidak di perdulikannya sama sekali. Dia terus berjalan cepat menaiki tangga.
Kemudian di susul oleh Mark yang mengikuti Luna dari belakang. Dia juga tidak memperdulikan pelayan yang menyapanya.
“ Eh, kenapa bisa begini. Tapi di TV tuan dan nona terlihat sangat hangat dan saling mendukung. Tapi sekarang mereka malah seperti sedang saling merajuk.” ucap pelayan bingung.
Saat Luna sampai di pintu kamarnya, Mark juga sudah sampai di depan pintu kamarnya.
“ Ehemm..” Mark berdehem, agar Luna menatapnya. Tapi ternyata usahanya gagal, Luna sma sekali tak meresponnya dan langsung masuk ke kamarnya.
' Bamm..' Luna menutup pintu dengan keras.
Mark terkejut dan dan mengerutkan dahinya karena merasa bingung dengan tingkah Luna.
Kemudian dia mendekati pintu kamar Luna, dia ingin mengetuk pintu itu.
“ Apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya?” ucap Luna yang ternyata masih berdiri dan bersandar di balik pintu.
Mark mendengar dengan jelas kalimat yang di ucapkan Luna. Sehingga dia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar Luna.
Mark tersenyum lalu dia duduk bersandar di depan pintu kamar Luna.
Sementara Luna yang berada dibalik pintu masih berdiri dengan menundukkan kepala. Dia menjatuhkan tas ditangannya, lalu dia mengangkat kepalanya.
Ternyata pipinya sudah begitu merona, dan debar jantungnya yang tak beraturan.
‘ deg deg ‘
Luna meletakkan kedua tangannya di dadanya, lalu dengan perlahan duduk.
Sekarang posisinya, meraka saling bersandar di balik pintu.
“ Apa hatiku benar-benar sudah lepas kendali?” ucap Luna.
Kemudian Luna menghela nafas berat.
“ Mark, jika aku menyerahkan hatiku, apakah aku bisa mempercayaimu untuk menjaganya?”
“ Aku pasti menjaganya.” jawab Mark.
Luna terkejut hingga pupil matanya membesar dan dia menutup mulutnya ketika mendengar jawaban Mark dari Luar.
“ Aku tidak akan mengecewakanmu. Kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu, sampai kapanpun tak ada yang mengubahnya. Mari kita berkomitmen seperti itu, maka hal apapun selain kematian tidak akan ada yang memisahkan kita.” lanjut Mark.
__ADS_1
Debar jantung Luna semakin terpacu tak beraturan.
‘ deg deg ‘