
“ Kakak berhati-hatilah.” Nindy tampak menahan tawa. Dia mengambil tisu dan memberikannya pada Jiang He. Setelah Jiang He menerima tisu darinya, dia juga mengambil tisu untuk dirinya.
“ Apa kalimatku terlalu mengejutkan kakak?’ tanyanya masih saja terlihat santai sambil mengusap sudut matanya yang masih basah dengan tisu.
“ Kau terlalu berfikir jauh Nindy.” Nada suara Jiang He terdengar datar. Dia kembali mengambil sumpitnya dan makan kembali dengan tenang.
“ Benarkah?” Nindy menarik dirinya dari meja, duduk tegap sambil melipat tangannya di dada. Dia menatap Jiang He dengan menyipitkan matanya.
“ Oh iya, jika aku boleh tau kenapa kakak ada di tempat tadi dan kenapa bisa tahu jika di tengah hujan itu aku?”
“ Hanya kebetulan. Aku menemui teman lama di café. Saat selesai, aku malah melihat gadis bodoh menangis di tengah hujan.” Jelas Jiang He tanpa menatap Nindy. Dia fokus pada makananya.
“ Apa? gadis bodoh? Bukankah tadi kakak bilang menangis itu adalah hal yang biasa.”
“ Aku memang berkata menangis adalah hal yang biasa. Tapi aku tidak ada berkata jika kau itu tidak bodoh.”
“ Yak.. Jiang He.” Teriak Nindy sangat kesal hingga melupakqn panggilan kakakny. Nindy berdiri dan menepuk kedua tangannya di meja.
“ Hei hei, lihatlah. Sekarang kau memperlihatkan kebodohanmu lagi. Terlalu mudah terpancing adalah kebodohan.” Jiang He tampak tersemyum tipis di akhir kalimatnya.
Nindy menyulutkan kekesalannya, bibirnya terlihat bergumam kesal.
“ Kak Jiang He, kakak pikir mudah mempermainkanku dengan cara itu? Baiklah. Aku ingin lihat seberapa jauh kakak bisa bermain denganku.”
“ Hem..” Nindy berdehem dan duduk kembali.
“ Kak Jiang He, apakah kakak percaya dengan namanya takdir?” tanya Nindy. Dia mengambil sumpitnya dan makan dengan tenang.
“ Aku percaya.”
“ Jika kakak percaya dengan namanya takdir. Maka pertemuan kita hari ini bukanlah sebuah kebetulan.” Nindy berucap dengan senyum, lalu dia menaruh wonton di mangkuk Jiang He. Hal itu membuat Jiang meliriknya sejenak.
“ Jika di lihat lebih jauh lagi, aku tidak percaya dengan kebetulan. Aku percaya bahwa pertemuan kita telah di rancang diam-diam. Masing-masing kita mempunyai garis kehidupan yang telah di gambarkan jauh sebelumnya. Dan karena di izinkan, makanya ada sesuatu yang menarik kita untuk bertemu hari ini. Tidak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena sebuah kebetulan.”
Mendengar kalimat itu membuat Jiang He yang fokus makan berhenti dan menoleh pada Nindy. Menatap cukup lama, lalu dia mendengus senyum.
“ Kau benar. Aku adalah takdir yang telah di tentukan untuk membantu wanita bodoh sepertimu, agar tidak memperlihatkan bodohnya kepada lebih banyak orang lagi.”
“ Benar. Tapi takdir itu tidak hanya akan terputus sampai di situ. Karena ada pintu takdir lain yang telah terbuka.”
Jiang He mengerutkan keningnya. Sedikit tidak percaya, jika wanita seperti Nindy ternyata bisa juga bermain kata.
“ Kak Jiang He, pikirkan baik-baik ucapanku tadi. Kakak jauh lebih dewasa dariku, aku rasa kakak tidak bodoh.” Nindy langsung mengubah nada bicara yang tadinya terdengar serius, sekarang menjadi ocehan seperti biasa yang dia lakukan.
“ Orang dewasa tidak suka dengan hal yang bertele-tele.”
“ Mulai sekarang aku akan mengejarmu.” Jawab Nindy cepat tanpa ragu dan menatap mata Jiang He. “ Aku tidak akan meminta izinmu. Karena takdir telah mengzinkannya.” Nindy berucap penuh dengan percaya diri.
“ Lakukan semampumu, jika kau benar-benar memaknai takdir pertemuan kita seperti itu.”
“ Deal.” Nindy mengulurka tangannya untuk meminta kesepakatan.
__ADS_1
“ Deal” mereka berdua bersalaman untuk mengikat kesepakatan meraka. Lalu saling bertatapan dengan khas masing-masing.
“ Patah hati memang membuat orang menjadi semakin bodoh. Huh, sudahlah. Aku hanya perlu menyenangkan hatinya saat ini.” bisik hati Jiang He.
***
Luna keluar dari gedung kampusnya bersama 3 orang teman perempuannya. Mereka saling berbincang dengan ceria.
Membicarakan tentang betapa akan menyenangkannya acara pameran besok. Karena akan di hadiri oleh para sponsor besar dan juga ada beberapa sponsor rahasia membuat mereka langsung berspekulasi dengan bayangan masing-masing.
Tentunya yang mereka pikirkan adalah para presdir-presdir tampan yang menyilaukan mata.
“ Royal Collage sungguh tidak main-main dengan pameran amal ini. Aaa.. merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian dari kampus ini.”
“ Aku juga. Acara pameran ini, kita harus tampil dengan sempurna.”
‘’ Karena kita akan melihat pria-pria tampan. Hahaha..” ucap ketiga teman Luna secara bersmaan. Meraka tampak begitu bahagia.
“ Pria tampan?” pikir Luna seperti ada yang mendelik dihatinya.
Namun Luna tetap tersenyum lepas melihat antusias teman-temannya. Karena memang untuk acara selevel royal Collage tidak akan pernah mengecewakan. Ini adalah kesempatan untuk bisa melihat para petinggi-petinggi dari berbagai kalangan.
“ Kalian pergilah. Hari ini aku tidak membawa mobil.” ucap Luna saat arah teman-teman mereka menuju ke gedung parkis.
“ Apa mobilmu rusak? Kemaren masih baik-baik saja.”
“ Bukan. Aku akan di jemput.”
“ Wah.. apa kekasihmu datang?” goda salah satu temannya.
“ Humm.. apa kau tidak berniat memperkenalkannya pada kami?”
“ Bukannya tidak mau. Tapi ini belum saatnya saja.” Luna menjawab dengan senyum malu-malu.
“ Baiklah. Jika begitu kami duluan ya.”
“ Iya. Bye-beye.”
Luna berpisah dengan temannya. Sejenak memandangi punggung temannya yang menjauh, lalu dia langsung pergi ke tempat Mark menunggunya.
Saat Luna sudah sampai di mobil, dia masuk dengan wajah cemberut dan menutup pintu mobil dengan cukup keras. Hal itu membuat Mark dan Rangga terkejut.
“ Ayolah, ada apalagi ini? jangan bilang akan ada pertengkaran. Aku lebih baik mendengar kemesraaan yang kadang merontakan hatiku, dari pada perdebatan mereka.”
Rangga melirik ke kaca spion, lalu melajukan mobilnya dengan kata hati yang terus berharap tidak akan terjadi perang di mobil ini.
“ Ada apa? hal apa yang membuat istri Mark Rendra kesal? Hum?” Mark membelai rambut Luna . Namun Luna menepis tangan Mark, sehingga membuat Mark bingung dan mengerutkan keningnya.
“ Cih, suamiku memang tampan. Jadi besok wajahnya akan di nikmati oleh banyak wanita.”
Teriak hati Luna. Ternyata dia cemburu, apalagi mendengar keantusiasan temannya tadi, belum lagi yang lainnya. Pasti akan lebih menggila. Memikirkan para wanita yang menikmati wajah suaminya membuat hatinya tidak rela.
__ADS_1
“ Ada apa?” tanya Mark lagi, dengan lembut. Tidak mau menanggapi dengan serius tepisan tangannya dari Luna.
Luna menatap Mark dengan memanyunkan bibirnya, lalu dia memeluk Mark dengan membenamkan wajahya di dada sang suami.
Rangga selalu memantau, melihat Luna memeluk Mark, dia merasa lega. Seolah telah menahan dahaga melihat sikap Luna saat masuk tadi, sekarang dia meraih botol minumannya untuk melepas dahaganya. Sementara Mark langsung tersenyum dan mengusap lembut kepala Luna.
“ Sayang, bisa tidak kamu datang ke pameran besok tidak menggunakan wajah ini?”
‘ byuuurr..’ Rangga langsung menyemburkan air yang ada di mulutnya. Sontak saja hal itu membuat Luna dan Mark kaget.
“ Kau kenapa Rangga?” tanya Luna.
“ Tidak apa-apa.” Rangga menjawab cepat. Menutup kembali botolnya dan membersihkan dengan tisu.
“ Apa maksudnya kalimat Luna? apa dia menyuruh Mark operasi plastic?”
Bisik hati Rangga. Imanjinasinya terlalu jauh.
“ Memangnya kenapa dengan wajah tampanku ini?” Mark berucap dengan dengan sedikit tawa.
“ Kenapa kamu narsis dan tidak tahu malu begini?.”
“ Ini bukan narsis, tapi percaya diri.”
“ Aaaa.. dasar suami narsis.”
“ Sayang ingat ya. Mata, hidung, bibir , tubuh dan apapun yang melekat padamu adalah milikku.” Luna berucap sambil menyentuh setiap bagian yang dia katakan.
“ Memang milikmu. Tidak akan ada yang bisa memilikinya selalin istriku yang cantik ini.” sebuah kecupan di bibir Luna.
“ Memang seperti itu. Tapi kamu tau tidak sayang, mereka para wanita itu manatapmu dengan memantulkan tanda hanti di kedua matanya.” Luna membentuk tanda love dengan kedua tangannya.
“ Istriku imut sekali.” bisik Mark dalam hatinya. Sangat menggemaskan melihat kecemburuan Luna yang tak terelakkan, bahkan sebelum acara pameran masih esok hari.
“ Istriku cemburu?”
Luna menganggukkan kepalanya dengan polos. Sungguh kecemburuan benar-benar telah menguasainya. Sangat tidak rela berbagi keindahan pesona suaminya pada wanita lain.
“ Apakah aku perlu mencongkel setiap mata wanita yang menatapku dengan pantulan hati itu?” meniru gerak tangan Luna membentuk hati tadi, lalu meletakkannya di kening Luna yang sedari tadi sedikit mendongak menatapnya.
“ Sayang aku serius.” Rengek Luna, mendengar jawaban Mark yang penuh gurauan itu.
“Pokoknya kamu tidak boleh melakukan eye contact dengan para wanita lebih dari dari 3 detik. Awas saja kita aku menangkapmu eye contact lebih dari itu. Aku akan menghukummu.”
“ Siap istriku.” Mark mencubit hidung Luna, lalu mencium lembut bibir pink sang istri yang ranum.
“ Ya.. mereka memang tidak pernah berniat mejaga perasaanku.“ Rangga mengalihkan pandangannya. Langsung mentap fokus jalan setelah sempat melirik apa yang terjadi di belakangnya lewat kaca spion.
.
.
__ADS_1
**Bersambung…
Jangan lupa like & komentnya kakak**.