
Di sebuah restoran mewah tampak Luna, Mark dan lainnya sedang berbincang hangat sambil menikmati hidangan. Semuanya di sana, kedua orangtua Luna, Nindy, Hanny, Zhaon bahkan Rangga juga bergabung.
“ Mark, kau terlihat bersemangat ya untuk keberangkatan besok.” Rangga besucap sambil tertawa. Sangat jelas dia ingin menggoda sahabatnya yang akan berlibur untuk honeymoon.
Mark tidak menjawab. Dia menoleh pada Rangga dengan senyum lembut, tapi dapat di rasakan auranya, bahwa senyum itu adalah peringatan untuk tidak menggodanya saat ini. Karena ini bukan waktu yang tepat untuk menggodanya di depan kedua mertuanya.
“ Haha..” Rangga langsung cengingisan, sadar akan peringatan itu. Dia mengambil minumannya dan mendeguknya.
“ Key kenapa kau sangat sibuk? apa kau tidak mau menggoda bayimu saat ini? aku terlalu canggung untuk melakukannya, hingga menggodanya di moment yang salah.”
Melihat tingkah Rangga yang tadinya bersemangat lalu tiba-tiba kicut membuat orang-orang yang belum mengetahui pembahasan itu, terlihat bingung. Terutama Nindy, dia menyenggol siku Hanny untuk bertanya. Tapi Hanny sama dengannya, dia tidak mengetahui apa-apa dan hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Nindy.
Sementara Zhaon tampak memanggut-manggutkan bibirnya. Merasa kecewa, padahal dia berharap perbincangan itu berlanjut dan dia akan mendapatkan informasi.
“ Tentu saja. Setiap pasangan pasti akan senang untuk menghabiskan waktu bersama.” tiba-tiba tuan Aliester menimpali dengan tawanya yang bersahabat.
“ Kemana kalian akan menikmati liburan Honeymoon ini ?” tanya tuan Aliester terlihat senyum bahagia.
“ Yah, ini yang aku tunggu.”
Zhaon langsung bersorak dalam hatinya. Matanya berbinar. Dia melihat ke arah tuan Alister dan Mark dengan senyum semangat, tidak sabar untuk mendengar jawaban dari tuan mudanya.
Semantara Nindy membulatkan matanya.
“ Honeymoon?” matanya berkedip beberapa kali. Mencoba untuk berfikir dewasa.
“ Ah, mereka memang belum sempat untuk honeymoon. Nindy singkirkan fikiran anehmu. Lagian Honeymoon bukanlah awal dari hubungan suami istri.”
Nindy mengangguk-anggukkan kepalanya untuk membenarkan apa yang di fikirkannya. Praduganya tentang Luna hamil masih ingin dia pastikan sendiri.
“Kroasia pa. Kami akan banyak menghabiskan waktu di sana.” jawab Mark lembut, lalu dia menoleh pada Luna yang langsung menatapnya saat dia menyebutkan tujuan liburan mereka.
“Kroasia? Pantai?”
Hal pertama yang dipikirkan oleh Luna. Karena Kroasia dikenal dengan pantainya yang eksotis. Dia sudah membayangkan keindahan pantai di sana. Menyerahkan pada Mark memang adalah hal yang tepat, Mark sepertinya lebih mengetahui tentang keinginannya dari pada dirinya sendiri.
“ Pilihan bagus.” Tuan Aliester menganggukkankepalanya, menatap istrinya, lalu kembali menatap Luna dan Mark.
“ Jangan asyik bermain di sana. Ingat kewajiban kalian untuk memberi kamu cucu secepatnya.”
“ Huk huk..” Nindy yang sedang minum langsung terbatuk mendengar kalimat tuan Aliester.
“ Nindy kamu kenapa?” Hanny yang berada di sampingnya langsung mengusap punggungnya. Dan semua mata juga tertuju padanya, menatapnya bingung.
“ Aku tidak apa-apa." Nindy menjawab dengan senyum cengingisan. Sementaranya hatinya ribut karena praduganya langsung terbantahkan seketika.
Di sisi lain tampak Zhaon yang malah senyum-senyum. Dia tampak puas dengan informasi yang dia dapatkan. Entah apa yang dia rencanakan dibalik ini.
***
Keesokan harinya semua orang berkumpul di bandara London Heathrow. Mereka akan berpisah di sini. Dimana Mark, Luna dan juga Rangga akan menuju Kroasia. Sementara tuan Aliester dan yang lainnya akan kembali ke China dan Zhaon di jadwalkan kembali ke Hongkong.
Dan tentu saja rombongan yang akan kembali ke China, mengantarkan kepergian pasangan yang akan berbulan madu terlebih dahulu.
“ Nikmatilah liburanmu sayang.” peluk dan cium dari nyonya Aliester.
“ Pasti ma.” Luna juga mencium pipi mamanya. Lalu beralih untuk memeluk papanya.
“ Pa..” ucap Luna pelan. Dia memeluk erat papa yang selalu menjahilinya itu. Sangat sayang pada pria jahil nan licik ini.
__ADS_1
“ Humm..kenapa?” Tuan Aliester mengusap lembut kepala putrinya. Luna menggelengkan kepalanya, lalu mendongakkan wajahnya menatap papanya. Dan dengan lembut tuan Aliester mencium kening putrinya yang manja dan eras kepala ini.
“ Sayang berliburlah dengan tenang. Otakmu perlu angin dan susana nyaman untuk bisa menyegarkannya kembali.” Tuan Aliester menekankan telunjuknya di kening putrinya dan berucap dengan penuh kehangatan.
Luna mendengus senyum, lalu menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Luna berpamitan dengan Hanny, Nindy dan Zhaon. Sementara Mark berpamitan pada kedua mertuanya.
“ Jaga putriku baik-baik.” tepuk-tepuk bahu menantunya. “ Jangan lupa, beri kami kabar gembira secepatnya.” Ucap tuan Aliester sambil tertawa.
“ Papa, semuananya juga butuh proses. Papa jangan membebani mereka dengan ini.” nyonya Aliester mncubit kesal suaminya. Tapi tuan Aliester hanya tertawa, lalu dia maju kedepan menoleh pada Mark yang di sampingya.
“ Buktikan padaku jika kamu memang pria sejati.” Bisiknya denagn seringai senyum yang menyebalkan.
Mark hanya bisa tersenyum menangggapinya. Dalam hatinya menggerutu kesal, karena papa mertuanya selalu meremehkannya. Sabar, sabar, itu mertua harus tetap hormat.
Sudah berpamitan denga semuanya, sekarang saatnya Mark, Luna dan Rangga memasuki pesawat.
“ Selamat berlibur, bersenang-senanglah.” ucap Nindy pada Luna yang sudah menaiki tangga pesawat.
“ Nona, semoga liburan anda menyenangnkan.” Teriak Zhaon dengan senyum cerahnya.
Mark dan Luna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu mereka memasuki pesawat pribadi tersebut.
***
“ Welcome to paradise!!!” seru Luna ketika menginjakkan kakinya di pantai Kroasia. Senyumnya cerah, dan segara ingin berbaur dengan air laut dengan debur ombak yang seolah memanggilnya.
“ Mau kemana?” Mark menahan tangan Luna yang hendak berlari menuju pantai yang sedari tadi menggodanya.
“ Aku ingin bermain.” jawab Luna dengan berusaha melepaskan tangannya dari sang suami.
“ Kenapa? cuacanya bagus. Tidak terlalu panas. Aku ingin bermain ombak.” pinta Luna dengan ekpresi polosnya dan sesekali mengalih pandangnya pada debur ombak yang memangi-manggilnya.
“ Sayang, kita baru sampai dan baru melewati berjam-jam perjalanan. Lebih baik kita beristirahat dulu.” Mark menarik Luna lebih dekat padanya. Tapi Luna masih merengek ingin segera bermain.
“ Sayang aku tidak lelah sama sekali.” matanya masih tertuju pada pantai.
“ Tidak, tidak. Kita istirahat dulu.” Mark menggendong Luna dengan paksa. Tidak peduli dengan Luna yang meronta, dia tetap berjalan dengan tegap menuju resort yang tidak jauh dari sana.
Luna berhenti meronta. Pada akhirnya sadar, bahwa tidak akan ada gunanya. Toh, sekarang dia sudah dalam kendali suaminya.
“ Huh, lelah? Lelah apanya? Sepenjang perjalanan kau hanya menyuruhku tidur dan sekarang ingin istirahat lagi? dasar suami. Jika hanya ingin tidur, kenapa jauh-jauh pergi ke sini.”
Luna mengerucutkan bibirnya, memandang kesal wajah Mark yang tampak santai menggendongnya menuju resort. Tapi tidak lama setelahnya Luna tersenyum, dia kagum pada wajah tampan suaminya.
Entah kesadaran ke berapa kalinya? Padahal dia bisa menikmati siluet wajah pahat itu setiap saat. Luna tersenyum, lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya dan terus memandangi wajah tampan itu.
“ Kenapa suamiku sangat tampan?”
Cengingisan sendiri, lalu membenamkan wajah di dada bidang yang hangat itu.
Sesampainya di kamar, Mark langsung membaringkan Luna di ranjang. Luna melirik keluar, lalu dengan cepat Luna bangkit dan segera menuju balkon resort. Dia kagum dengan pemandangan yang di suguhkan.
Hamparan laut biru yang membentang membuat perasaan nyaman. Resort yang sangat indah, suasananya sangat nyaman dan menenangkan.
“ Indah.” ucapnya pelan.
‘grab’ Luna sedkit terkejut ketika menyadari sepasang lengan hangat memeluknya dari belakang. Tangan hangat yang tak asing baginya, tangan yang selalu membelainya dengan lembut.
__ADS_1
“ Sayang bukankah ini sangat indah?” sekali lagi dia mengungkapkan kekagumamnya pada pemandangan di hadapannya.
Tetapi Luna bisa merasakan Mark menggeleng tidak setuju di bahunya. Luna mengerutkan keningnya, menoleh ke kiri untuk menatap wajah Mark.
“ Kenapa?” tanyanya bingung.
Mark mendengus senyum, lalu menatap dalam sang istri yang menatapnya bingung dan penasaran.
“ Mana mungkin aku mengatakan pemandangan itu indah jika ada istriku di sini sebagai pembandingnya.” ujar Mark dengan penuh cinta.
Luna mengedipkan matanya, nafasnya tertahan. Lalu langsung mengalihkan pandangannya.
“ Ayolah, dia mulai bermain kata lagi denganku. Jika dia seperti terus setiap saat mungkin aku bisa mati berdiri.”
Atur-atur emosisonal namun dan berharap Mark tidak melihat pipinya yang mungkin sudah memerah saat ini.
“ Sayang bukankah kamu bilang kita akan beristirahat, Ayo!!!” melepaskan dirinya dari pelukan Mark dan berjalan cepat kembali ke ranjang. Kabur, lebih tepatnya begitu. dari pada Mark melihat pipinya memerah hanya karena kalimat tadi.
“ Baiklah.” Mark berjalan mengikuti. “ Kita akan istirahat 2 jam dan setelah itu aku akan pergi ke suatu tempat.” sambil melepaskan kancing kemejanya.
“ Kemana?” tanya Luna sambil menoleh pada Mark. Seketika dia langsung terkejut melihat Mark yang sudah hampir selesai membuka kancing bajunya.
“Sayang kenapa kamu buka baju?” otaknya langsung berfikiran kemana-mana.
“Aku mau tidur.” sambil melempar kemejanya ke sofa.
“Apa hubungannya tidur dengan membuka baju?” tanyanya lagi.
“Kenapa? aku mau buka baju, ya buka baju.” sudah selonjoran di ranjang. “ Sini.” panggilnya pada Luna sambil menepuk tempat di sampingnya.
“Tidak. Aku mau tidur dengan tenang.” Luna merebahkan diri dengan memberi jarak yang kentara.
“Memangnya kau yakin jika itu hanya akan tidur? Dasar, ini masih siang.”
Gerutu Luna dengan suara pelannya.
Mark menahan tawanya melihat tingkah sang istri. Dia tahu apa yang di pikirkan istrinya. Dia beringsut mendekat, lalu memeluk dari belakang.
“Ayo, apa yang sedang kau fikirkan sekarang? hum?” bisik Mark menggoda sang istri yang sedari tadi berubah beberapa emosi dalam waktu singkat olehnya.
“Tidak ada. Jangan ganggu aku!!! 2 jam waktu yang singkat untuk beristirahat sayang.” jawabnya ketus.
“Haha.. istriku pemarah sekali.” Mark membalik badan Luna agar menghadap padanya. Semantara Luna dengan wajah kesal tidak mau menatapnya. Cemberut dan terlihat sangat kesal.
“Sayang, jangan cemberut. Ayo istiarahat. Kita benar-benar hanya akan istiharah. Humm..” membelai lembut wjah sang istri, menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah cantik instrinya.
Menerima perlakuan lembut dan hangat itu, Luna segara menoleh. Hatinya luluh. mereka saling tatap lembut, tersenyum lalu memejamkan mata.
Mark kembali mendengus senyum saat matanya terpejam, lalu menarik sang istri lebih dekat dalam pelukannya, dan Luna pun hanya diam, senyum terukir di bibirnya.
“Istirahatlah dengan tenang. Ini hanya 2 jam.” tepuk-tepuk lembut di punggung sang istri.
Bersambung...
.
.
Jangan lupa like, koment dan votenya readers.
__ADS_1