TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TMABK


__ADS_3

Mark Rendra duduk dengan ekspresi datar. Dia hanya sebagai pemerhati ketika Luna menyambut hangat akan kedatangan Zia dan Misya di villa ini. Dia tidak habis pikir kenapa Luna bersungguh-sungguh untuk meminta izinnya agar ibu dan Misya tinggal di sini. 


Mark sudah berkata lebih baik ibunya tinggal di villa yang telah dia siapkan untuk ibu jika memang ibu ingin menetap di Beijing. Namun Luna tetap memaksa untuk tinggal bersama mereka. Sampai-sampai Luna mendiamkannya selama sehari semalam karena perihal ini, hingga akhirnya Mark mengalah dan setuju.


“Mari, siilakan duduk Ibu, Misya.” Ujar Luna ramah. Dia mengambil duduk di sebelah Mark yang sedari tadi tidak bersuara.


Zia dan Misya duduk. Sementara koper mereka sedang di bawa oleh pelayan ke kamar yang telah di sediakan. Zia sadar akan tatapan Mark yang tajam kepadanya sekarang. Namun dia buat seolah-olah tidak tahu. Pun Misya meleretkan senyum canggung.


“Sayang,” Luna menyenggol lengan Mark. Dia mengerti akan situasi ini, “Sayang please. Ibu sudah di sini. Kenapa tidak menyapa?” 


Mark menghela napas perlahan, “Okey selamat datang di villa kami. Tinggallah dengan nyaman, namun jangan melewati batas. Bersikaplah sebagaimana seharusnya. Pun tamu, maka bersikaplah sebagaimana tamu.”


“Sayang.” tegur Luna pada suaminya itu. 


Mark malas berdebat dengan Luna sekarang, Dia bangkit dari duduknya.


“Jika lelah beristirahatlah dahulu. Aku masih ada pekerjaan yang perlu di selesaikan.” Mark beranjak dari situ. Dia membawa langkah menuju ruang kerjanya yang berada di lantai atas.


Luna mengusap wajahnya perlahan. Dia sadar akan ketidakberkenanan suaminya itu.


“Maafkan Mark ibu, Misya. Ahir-akhir ini dia memang banyak pekerjaan.” ujar Luna seolah menutupi bahwa suaminya tidak berkenan akan kehadiran Zia dan Misya.


“Ibu paham. Oh iya Luna, ibu rasa kami perlu beristihat dulu.” 


“Oh okey. Kak Shi tolong layani Ibu dan Misya.” 


“Baik Nyonya muda. Nyonya, Nona mari ikuti saya.” Ujar pelayan Shi penuh hormat.


Zia dan Misya pun mengikuti pelayan Shi menuju lantai atas. Luna memandangi sosok tubuh yang meninggalkannya itu. Tidak lama setelahnya Luna tersenyum puas. 


Luna Aliester, dia sebodoh itu melakukan hal ini. Karena pembicaraan di restoran itu Luna pun mulai merencanakan sesuatu. Bohong saja jika Mark tidak memberitahunya akan tujuan ibu mertuanya datang pagi itu. 


Dia sengaja berpura-pura polos agar bisa mengatahui rencana mertuanya itu. Jika orang punya intrik, maka dia juga punya trik. Bukankah akan lebih baik memperhatikan orang-orang muslihat itu lebih dekat? Luna sudah siap sedia akan semuanya. 


Luna membawa tangannya ke perut ketika merasai pergerakan bayinya di dalam. Senyumnya merekah. 


“Sayang bantu Mama ya. Kuatkan Mama menghadapi hal apapun yang terjadi ke depannya.”


***


Mark duduk melamun di dalam ruang kerjanya. Hatinya tidak tenang saat ini. Banyak hal yang menari-nari di fikirannya sekarang.


Bukannya dia tidak tahu bagaimana ibunya itu memperlakukan Luna selama ini. Meski Luna tidak pernah mengadu padanya, namun dia dapat merasai sikap Luna yang lain setiap kali bertemu ibunya.


Awalnya Mark yakin ini hanya perkara waktu saja, cepat atau lambat ibu pasti akan menerima istrinya itu dengan baik.


Namun melihat situasi sekarang, Mark tidak habis pikir. Ada apa dengan ibu sebenarnya?


Lamunan Mark buyar ketika ada yang mengetuk pintu dari luar.


“Mark, boleh aku masuk?”


Mark memperbaiki duduknya sambil sedikit berdehem.


“Ya, silakan.” laptop di hadapannya dinyalakan. Membuat diri seolah sibuk.


Luna membuka pintu. Dia tersenyum melihat suaminya yang fokus pada screen laptop itu. 


“Sibuk?” Luna menarik kursi di hadapan Mark dan melabuhkan bokongnya di sana.


Mark sekedar mengangguk saja.


Luna ikut mengangguk. Dia tatap lembut suaminya yang fokus mengotak atik laptop. Mark melirik istrinya itu. 


“Kenap menatapku seperti itu?”


“Memangnya kenapa? tidak salahkan menatap suami sendiri?” 


Mark tersengih kecil. Dia tahu Luna mencoba merayunya. Mark kembali fokus pada screen.


“Sayang..” Luna bersuara kembali.


“Humm,”


“Masih marah padaku?”


“Marah untuk apa? kan kamu tidak ada berbuat salah apapun.”


“Lalu kenapa kamu dingin pada ibu dan Misya?”


Mark menghembuskan napas berat perlahan. Tangannya juga berhenti bekerja. Wajah cantik Luna di tatapnya lembut.


“Luna, kamu yakin dengan keputusanmu? Kita tidak tahu apa yang sedang ibu dan Misya rencanakan.” 


Luna tersenyum. Senang saja karena Mark juga merasa was-was. Luna bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Mark. Wajah Mark diusap dengan lembut.


“Tidak apa-apa. Kita hadapi bersama.”


Mark menggeleng, tubuh Luna ditarik agar duduk di bangkuannya.


“Aku khawatir. Ibu sudah sangat jauh berubah. Maaf kan aku, maafkan aku sayang. Maafkan juga ibu atas perlakuannya selama ini.” Suara Mark terdengar sayu. Wajahnya juga sudah di benamkan di dada istrinya itu.


Luna merasa terharu. Matanya berkaca-kaca. Kepala suaminya itu di dekap sambil mengusap punggung Mark dengan lembut.


“Tidak perlu minta maaf. Aku ikhlas menerima semuanya. Yang aku perlukan, cukup kamu selalu ada di sisiku.”


Mark mengangguk. Kemudian dia mendongak menatap istrinya itu.


“Sayang, bisa janji satu hal padaku?”


“Apa itu?"


“Apapun yant terjadi, seburuk apapun situasinya, aku mohon percayalah padaku. Cukup lihat dan dengarkan aku seorang.”


Jatuh air mata Luna seketika itu. Cepat dia menganggukkan kepalanya. Ya, seperti Mark mempercayainya, dia juga melakukan hal yang demikian. 


“Thank’s. Thank’s you so much.” Ucap Mark sambil mencium lembut tangan Luna.


***


SATU MINGGU KEMUDIAN


Luna baru saja pulang dari acara perayaan kesuksesan pameran, yang telah di adakan dua hari lalu. Acara pamaran kali ini akan menjadi pemeran terakhirnya untuk beberapa waktu. Sekarang dia akan fokus untuk menyambut kehadiran sang buah hati.


Tadi Mark ikut serta dalam pesta itu. Namun ketika hendak pulang, Mark tiba-tiba mendapat telepon sehingga mereka berpisah dan Luna pulang dengan di jemput oleh pengawal.


Pintu mobil di buka, Luna keluar dan langsung memasuki Villa. Cukup lelah, dia perlu beristirahat segera. Luna berjalan sambil memegangi pinggang bagian belakangnya. Maklum orang hamil.


“Nona Luna,” Sorak Zhaon dari arah taman. Dia berlari kecil menghampiri Luna.


“Zhaon.” Luna kaget akan kehadiran gadis itu yang tiba-tiba. 


Zhaon menjungkitkan keningnya, “Kenapa Nona terkejut?” tanyanya dengan separuh tertawa. Zhaon memang selalu kekal memanggil Luna dengan Nona, meski orang-orang Villa ini memanggil Luna dengan sebutan Nyonya muda.


“Ya kenapa kamu datang tiba-tiba?”


“Hehe..  saya menerima tugas dari Tuan.”


“Tugas apa?” tanya Luna dengan kening yang berkerut seribu.


Zhaon mendekat dan berbisik, “Personal asisten Nona.”


What? Kaget Luna. Apalagi ini Tuan Muda Mark Rendra? kenapa penyakit suaminya kumat lagi. Mengirim Zhaon untuk menjaganya? Zhaon ini satu, mau saja mengikuti apapun yang di katakan Mark. Pada Mark bukan main patuh. Tapi, pada ayah sendiri membangkang. 


Itu kelompok gangster mu siapa yang meneruskannya Zhaon? Luna menjelingkan matanya kesal, lalu lanjut berjalan memasuki Villa.  Zhaon menyimpan tawa sambil mengikuti langkah Luna. Dia tahu, Nonanya itu kesal.


“Luna, kamu sudah pulang.” tegur Misya yang duduk di ruang tengah, “Mana Mark?” lanjutnya sambil melihat arah Luna muncul tadi.


Perempuan ini satu lagi. Kenapa sibuk dengan suami orang? getus hati Luna kesal. Namun dia senantiasa mempamerkan senyum ramah pada Misya. Karena sejauh ini dia tidak ada melihat hal yang aneh dari gadis itu. Pun ibu mertuanya juga demikian. Bahkan Luna melihat hubungan Mark dan Zia juga semakin baik, meskipun padanya Zia masih saja bersikap dingin.

__ADS_1


Tidak apa. Begitu saja sudah lebih cukup baginya. 


“Suamiku ada hal penting. Dia tidak ikut pulang.”


“Begitu. Lalu dia?” tanya Misya yang cukup heran melihat Zhaon. 


“Oh.. dia adik Mark.” jawab Luna santai. Zhaon hampir tertawa mendengar jawaban Luna. Namun dia tahan.


“Adik?” Misya semakin heran. Sajak kapan Mark punya adik? Dia sangat tahu jika Mark adalah anak tunggal. 


“No wonder kamu tidak tahu. Mark mendapatkannya dengan cara tidak terduga. Ceritanya sedikit panjang.”


Zhaon mencebikkan bibir. Nona.. memangnya kamu pikir aku ini kucing, didapatkan dengan cara tidak terduga? sekalian saja bilang kalau aku dipungut.


“Kalau kamu ingin tahu, kalian berbincanglah. Zhaon aku ke atas dulu.”


Misya salah tingkah. Dia ingin mengatakan tidak perlu untuk berbincang dengan Zhaon. Namun Luna sudah membawa langkah menuju lantai atas.


“Hai,” sapa Zhaon.


“Hai.” Jawab Misya tampak segan.


Zhaon mengulurkan tangannya, “Zhaon.” 


“Misya.” Balas Misya menyambut tangan Zhaon.


Zhaon sekedar meleretkan senyum melihat kepolosan Misya. Tapi entah kenapa hatinya kurang berekanan akan gadis itu.


***


Mark pulang larut malam. Villa pun sudah sunyi, hanya pengawal yang bertugas yang masih stay berjaga-jaga. Baru Mark hendak keluar dari mobil, tiba-tiba Rangga bersuara.


“Mark.” 


Mark tidak jadi keluar, dia menoleh pada Rangga yang ada di kursi pengemudi.


“Ya ada apa?”


“Bagaimana hubungan Luna dengan Misya?” 


Mark diam sejenak. Pintu yang sudah dibuka oleh pengawal kembali di tutup cukup dengan kode yang diberikan oleh Mark.


“Sejauh ini baik-baik saja.”


“Apa kamu sudah menceritakan semuanya pada Luna?”


Mark menghembuskan napas beratnya perlahan. Ya, dia memang belum menceritakan sepenuhnya perihal Misya pada istrinya itu.


“Tidak apa. Pelan-pelan saja dulu untuk menjelaskannya pada Luna. Aku akan selalu memantau pergerakan Misya. Dia tidak bisa di percayai begitu saja. Bisa saja dia mengambil kesempatan”


Rangga sangat paham bagaimana posisi Mark sekarang. Sulit! Terlalu sulit. 


“Terima kasih. Behati-hatilah menyetir.” Mark keluar dari mobil.


Rangga menatap Mark punggung Mark yang menjauh. Dia dapat merasakan apa yang di rasakan oleh sahabatnya itu.


-FLASHBACK-


Rangga berusaha membuka matanya. Keningnya berkerut-kerut menahan sakit. Pergerakannya terbatas. Mulutnya masih di perban serta tangan dan kaki juga masih terikat di kursi.


Pun Key yang ada di sebelah Rangga juga turut sadar. Keduanya saling pandang, kemudian dia ingat akan Misya. Serentak mereka memperhatikan sekekeliling. Nihil! Tidak lagi mereka melihat di sana.


Kemana? Kenama  mereka membawa Misya? Bagaimana keadaan Misya sekarang? mereka kembali di hurung rasa bersalah mengingat kejadian terakhir kali yang mereka ingat. Misya di kerumuni oleh beberapa pria.


Rangga dan Key berusaha melepaskan perbannya. Kali ini lebih mudah. Pun tali pengekikat tangan dan kakinya. Tiba-tiba dia mendengar suara langkah. Serentak Key dan Rangga menoleh.


Mata mereka membulat ketika melihat sosok tubuh yang datang. Mark!


Pria berdiri sambil menggendong Misya yang tersedu-sedu. Terdapat beberapa luka di tubuh Mark yang tidak berbaju itu. Pun Misya yang kacau juga sudah di balut oleh Mark dengan kemejanya.


Mereka bersyukur ternyata Mark datang menyelamatkan mereka. Namun tidak lama tiba-tiba terdengar suara detikan waktu.


“Key, Rangga aku akan membawa Misya keluar. Tunggu aku aku pasti akan menyelamatkan kalian.” Mark langsung bergegas keluar. Pun Key dan Rangga berusaha melepaskan tali pengikat mereka.


Situasi semakin tegang. Mereka berpacu dengan waktu. Terlebih mereka tidak tahu berapa timer bom itu akan meledak. Rangga akhirnya bisa membebaskan diri.


“Key..” teriak Rangga sambil membantu mencoba membantu Key. Baru dia mencoba berdiri, tetapi terasa satu kakinya tidak bisa digerakkan. 


Rangga berdecit, dia ingat  bahwa kakinya itu luka. Bersusah payah Rangga mencoba mendekati Key dengan tenaga yang masih tersisa.


“Rangga lebih baik kamu pergi. selamatkan dirimu.” Teriak Key.


“Tidak! aku tidak akan meninggalkanmu.” Dengan tenaga yang tersisa bangkit dengan satu kaki bukanlah mudah.


Brugh! Rangga kembali jatuh. Dia memang sudah kehabisan tenaga.


“Rangga selamatkan saja dirimu. Jangan pedulikan aku.” ujar Key yang kala itu sudah tidak bisa bergerak. Ikatan tangan dan kakinya juga masih utuh.


Rangga tidak memperdulikan kalimat Key. Dia merangkak mendekati Key hingga akhirnya sampai. Ikatan Key berusaha dia lepaskan. Berhasil. Key sudah berlinang air mata melihat kesungguhan Rangga menolongnya. 


Key berusaha bangkit namun di saat yang bersamaan Rangga malah tergeletak dan tidak sadarkan diri lagi. Key berteriak histeris. Tenaganya juga tidak seberapa sekarang.


“Rangga, please bangunlah.” Isaknya berusaha membangunkan sahabatnya itu.


“Rangga, Key..” Mark berlari menghampiri kedua sahabatnya itu.


“Darn it.” Decit Mark ketika mendengar timer bom lebih cepat.


“Mark pergilah. Jangan pedulikan kami. Selamatkan dirimu.” Rayu Key.


“Apa kau gila. Kita masih punya waktu. Rangga pingsan. Key kau masih punya tenaga kan?”


Key menggeleng.


“Bodoh! apa kau sangat ingin mati hah?” Jerkah Mark. Dia berjongkok dan menggapai tubuh Rangga.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Key.


“Aku akan menggendong Rangga dan


kau naik ke punggungku.” Arah Mark.


“Kau yakin?” dengan keadaan Mark yang juga terluka, apakah Mark mampu menggendong mereka berdua?


“Lakukan saja!” arah Mark sekali lagi. Rangga sudah di pangkuan ditangannya.


“Key..” bentak Mark pada Key yang masih diam. Merka tidak punya banyak waktu.


“Aku bisa berjalan sendiri."


“Dengan keadaanmu seperti ini? jangan bodoh. Cepat naik ke punggungku. Atau kau ingin kita bertiga mati di sini?”


Key akhirnya patuh. Dia naik dan berpegangan kuat pada tubuh sahabatnya itu. Sekuat tenaga Mark bangkit. Awalnya kaki Mark goyah ketika baru berdiri. Key sudah menggelengkan kepalanya. Namun Mark tidak menyerah. Mendengar timer bom yang semakin cepat, Mark Juga dapat mempercepat langkahnya. Akhirnya meraka keluar dari bangunan tua itu.


BOOMMMMMM! 


Mark semakin mempercepat larinya dan tubuh mereka terpelenting ketika terkena efek ledakan dan kobaran api.


Mark dan Key terengah-engah di tanah.  Bersyukur mereka selamat. 


SEBULAN KEMUDIAN


Kondisi Key dan Rangga sudah membaik. Namun berbeda dengan Misya yang mengalami tekanan mental. Misya menjadi pendiam dan terkadang tiba-tiba menangis histeris. Tragedi dilecehkan oleh para pria itu selalu menghantui Misya. 


Key dan Rangga merasa sangat bersalah. 


Terlebih lagi Mark. Misya adalah kekasihnya. Mark sangat menyalahkan dirinya karena tidak bisa melindungi wanita yang sangat dia cintai itu. 


Apapun yang tejadi, Mark akan membalas orang-orang itu. Apapun dilakukan oleh Mark untuk mencari tahu dalang dari semua ini.

__ADS_1


Dalam aksi pencarian informasi yang di lakukan Mark, sehingga lah dia mendapatkan sebuah fakta yang mengejutkan.


Misya! gadis itu hanya berpura-pura! 


Apa yang telah terjadi adalah hasil rancangan saja. Vetron, pria yang menyiksa Rangga dan Key adalah sepupu dari Misya. Hari itu Misya hanya berpura-pura di culik agar dapat menjebak Key dan Rangga. Begitulah informasi yang Mark dapatkan.


“Apa ini Misya?” pekik Mark penuh kekecewaan.


“Mark.. maafkan aku.” Rayu Misya sambil berusaha menggapai lengan Mark. Namun dengan kasar Mark menepis. Dia terlalu kecewa pada gadis itu. 


“Jelaskan!”


Misya diam. Dia tidak mampu untuk menjelaskannya. Situasi cukup rumit baginya. Dia juga terjebak.


Mark mendengus sinis.


“Misya segila apapun sepupumu itu, tapi di mata ku kau jauh lebih gila. Kau menganggap remeh nyawa manusia dan bersedia menjebak temanku untuk di serahkan pada sepupu gila mu itu. Dan kau bahkan merendahkan dirimu sendiri dengan drama pelecehan itu. Kau suka kan? Hah aku tidak menyangka kau serendah itu.” Sindir Mark sinis, “Dengarkan baik-baik apa yang aku katakan ini. Mulai sekarang kita tidak punya hubungan apa-apa lagi.” 


“Tidak! Mark aku tidak mau kita putus. Aku sangat mencintaimu.”


Teriak Misya sambil menatap Mark yang pergi meninggalkannya. Tubuh Misya melorot kebawah dia terduduk di lantai. Dia serasa tidak bertenaga sekarang. Begitu pedih hatinya menerima kenyataan bahwa Mark telah memutuskan hubungan mereka.


Ya ide itu memang hasil perancangan gila sepupunya gilanya itu. Tapi ini sungguh diluar dugaannya. Siapa sangka tenyata jebakan yang dibuat Vetron untuk menghancurkannya. Aksi pelecehan itu di luar dugaannya. Meskipun para Pria itu tidak benar-benar menyentuhnya, tapi jujur Misya benar-benar trauma melihat para pria itu mengerumuninya. 


Misya terisak menangis. Entah dendam apa yang miliki Vetron hingga tega melakukan semua ini padanya. Hidupnya benar-benar hancur sekarang. Mark juga telah meninggalkannya. Misya tidak dapat menerima hakikat itu.


Hari-hari berlalu. Segala upaya Misya coba untuk mendapatkan kemaafan Mark. Tetapi Mark tidak memperdulikannya sama sekali. Pun Rangga dan Key juga mengabaikannya. 


Pada saat itu Key dan Rangga merasa kasihan dengan Misya. Masih jelas diingatan mereka, kejadian itu mereka dapat melihat betapa kasihan nya Misya.


Di tengah mencoba untuk memahami, namun rasa simpati itu di lumpuhkan ketika mengetahui fakta. Bahwa tidak hanya sekali dua kali Misya menjebak orang untuk sepupu gilanya itu.


Tersinggung sedikit saja, maka Vetron akan meminta Misya untuk mendatang orang itu padanya. Apapun caranya.


Untuk kasus Rangga dan Key ini hanya perkara tertabrak saja. Ketika Key dan Rangga asyik bergurau sambil berjalan tiba-tiba Key menabrak tubuh Vetron. Nah, dari situlah bermula.


Mark sangat kecewa pada Misya. Baginya Misya lah psikopat yang sesungguhnya. 


“Mark.. “ Misya berlutut dan memegangi kaki Mark. 


“Misya please, kita sudah selesai.”


“Tidak! aku tidak mau.” air mata Misya sudah turun dengan deras. Tidak dia pedulikan orang-orang yang melihatnya di café itu. Yang terpenting baginya saat itu adalah mendapatkan kemaafan Mark dan Mark kembali menerimanya.


Mark memijit pelipisnya geram. Lalu di sentak tangan Misya dari kakinya hingga terlepas.


“Sekali lagi aku katakan. Aku tidak ingin melihatmu lagi!” Mark melangkah pergi yang kemudian di susul oleh Rangga.


Key melihat Misya penuh kasihan. Dia ikut merasa bersalah, jika saja dia tidak menabrak Vetron waktu itu, mungkin hal ini tidak terjadi.


“Maafkan aku Misya.” Ujar Key. Lalu dia ikut menyusul Mark dan Rangga.


"Mark apapun caranya. Kamu harus kembali padaku." tangannya di kepal penuh getar.


***


Misya tersenyum puas melihat wajah tampan Mark yang ada di hadapannya sekarang. Mark yang masih tidur dengan nyenyak. Hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua.


Ya, Misya memang sudah gila. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan Mark sehingga memilih jalan ini. Dia menjebak Mark agar tidur dengannya. Misya yakin Mark pasti akan bertanggung jawab.


Dahi Mark berkerut. Perlahan dia membuka matanya. Kepalanya terasa sangat pusing sekarang. Ketika melihat suasana yang berbeda cepat Mark membuka lebar matanya. 


“Morning.” Ujar Misya manja.


Mark menoleh, “Kamu?” bulat mata Mark seketika. Apa-apaan ini? apa yang telah terjadi?


“Kamu kenapa di sini?” Mark bangkit. Lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Karena melihat tubuh polos Misya. Gila! ini benar-benar gila. 


“Kamu yang membawa aku ke sini.  Kamu tidak ingat lagi? sayang sekali kamu mabuk semalam.” ujar Misya manja. 


Mark berusaha mengingat. Semalam dia memang pergi ke club. Tapi dia hanya minum satu gelas saja. Itupun juga bukan minuman dengan kadar alkohol tinggi. Kenapa dia bisa mabuk? Mark tersenyum sinis.


“Kau menjebakku?” tanyanya.


“Tidak. Ada datang ke club karena bartender menghubungiku. Dia bilang kau mabuk parah.” Kilah Misya memberi alasan. Bartender di club itu adalah temannya dan Mark sendiri tahu itu.


“Oh, jadi artinya kau dan Viko bekerja sama?”


“Ma-mana ada.” Misya tergagap kali ini. 


“Misya kau memang sangat murahan.”


Mark bangun sambil menutupi tubuhnya dengan selimut, Baju di lantai dipungut. Lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.


Misya tersenyum tipis. Dia tidak peduli apapun lagi. Melihat Mark yang tidak banyak bicara sepertinya Mark akan kembali padanya.


Misya bangkit, diapun mengenakan pakaiannya. 


Tidak lama Mark keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap.


“Mark, kita Mulai dari awal lagi ya.” Misya mendekat, namun Mark menolak tubuh Misya. Tergamam Misya seketika.


“In your dream.” Ujar Mark tidak berprasaan. Dia membawa langkah menuju pintu.


“Mark tapi kamu sudah merenggut kesucianku. Ka-kamu jangan sekejam ini Mark.” pekik Misya. Dadanya berombak. Tidak! dia tidak mau kehilangan Mark.


Langkah Mark terhenti. Dia tersengih sinis sambil menoleh pada Misya.


“I’m sorry Misya, aku tidak ingat apapun.”


“Mark kau gila. Kamu itu mabuk, jadi wajar tidak ingat. Ranjang! ranjang itu yang menjadi saksi malam indah kita semalam. Lalu foto aku juga punya fotonya.” Misya mengambil ponsel di nakas dan menunjukkan foto dirinya yang berpelukan dengan intim dengan Mark.


Mark tertawa keras. Misya dibuat heran.  Apa ini?


“Misya, Misya.. Apa kita benar-benar menikmati itu semalam sehingga kau sempat mengambil gambar? Aku tidak sebodoh itu untuk kau jebak Misya.” Mark mencengkram tangan Misya kuat. Sehingga ponsel di tangan Misya terlepas dan jatuh ke lantai.


“Mark sakit..” rintihnya.


Mark tidak peduli. Dia menarik Misya mendekati ranjang.


“Sekarang tunjukkan padaku, jika aku merenggut kesucianmu. Kenapa aku tidak melihat ada bercak darah di sini?”


Pias wajah Misya seketika.


“Jawab!” pekik Mark, sehingga Misya terperanjat.


“Ii itu..”


“Apa lagi sekarang? kau ingin bilang ini bukan pertama kali kau melakukannya?” 


Cih. Tangan Misya di tolak dengan kasar. Mark menatap Misya jengah. Mark yakin tidak ada apapun yang terjadi semalam.


“Misya kau jangan merendahkan dirimu lagi. Jika kau berfikir cara ini bisa membuat aku menerimamu kembali. Kamu sungguh salah besar! aku Mark Rendra sangat jijik dengan cara kotor mu ini. Misya jika kamu ingin di hargai oleh orang lain, maka hargailah dirimu terlebih dahulu.” Mark langsung beranjak dari situ.


Misya meraup wajahnya kasar. Dia juga mulai menagis histeris. Mark malah semakin membencinya sekarang.


“Mark…” jeritnya pilu.


Bersambung...


 


Baca lagi bab 164. S2☘️Banyak Hal.


Agar kalian lebih nyambung akan flashback yang otor ceritakan di sini.


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA 🥰


 

__ADS_1


 


__ADS_2