TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 Ide Surprise


__ADS_3

“Kenapa kau seperti ini, Luna?” Mark mengusap wajahnya kasar. Sudah 3 jam dia mencoba menyibukkan diri di ruang kerja tapi hasilnya nihil. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Luna, serta teka-teki tentang tatapan Luna yang penuh kebencian sungguh mengusiknya.


Mark bangkit, berjalan cepat menuju kamar yang di tempati Luna. Sudah di depan pintu, tapi Mark ragu untuk mengetuk pintu, takut Luna akan semakin marah padanya.


“Sayang kenapa begini?” desah Mark dengan mondar-mandir.


Cukup lama, akhirnya Mark mulai mendekati pintu. Dia menghirup napas dalam.


“Sayang.. ini aku, apakah kau sudah tidur?”


Bergeming. Tidak ada tanggapan. Mungki Luna sudah tidur dan Mark mencoba membuka pintu.


“Krack.” Terbuka. Pintu tidak di kunci. Mark merasa sangat lega, dia mengintip sedikit.


“Hah?” darah Mark berdesir. Dia membuka pintu lebar, tidak di temukannya sang istri di sana.


“Luna, sayang..” panggilnya khawatir sambil mengecek ke kamar mandi, tapi tetap tidak ada.


Ekspresi Mark tidak bisa di jelaskan sekarang, dia segara bergegas keluar menuju kamarnya. jika sampai terjadi sesuatu pada Luna dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


“Sayang aku mohon jangan seperti ini.” membuka pintu kamarnya.


Mark bernapas lega, ternyata Luna tidur di kamar mereka. Binar matanya kembali. Pelan dia menutup pintu agar tidak membangunkan sang istri.


Mark mendekat, duduk di tepi ranjang memandangi wajah cantik Luna.


“Sayang aku sangat merindukanmu.” Kecup lembut di kening. Luna menggeliat, memiringkan badannya.


Mark tersenyum lembut, lalu memperbaiki selimut Luna. Kemudian dia masuk ke dressromm untuk berganti pakaiaan.


***


Malam telah berganti siang. Matahari menampakkan dirinya di ufuk timur. Luna mengerjabkan matanya, membukanya pelan, kepalanya serasa berat.


“Mark…” Luna tersenyum mendapati dirinya dalam pelukan sang suami.


“Maafkan aku ya sayang..” memgusap lembut pipi Mark kemudian mengecup bibir sang suami seperti biasa yang dia lakukan.


Mark yang sebenarnya sudah bangun sedari tadi merasa sangat bahagia. Istrinya sudah tidak marah lagi. Dia pura-pura tidur untuk memastikan ini.


Mark mayungging senyum, kemudia membalas ciuman Luna. seketika Luna terkejut, matanya membulat.


“Jadi dia tidak tidur?” sekarang Luna khawatir jika dia kembali mual. Tapi tidak di sangka ciuman itu membuat dia terbuai dan juga sama sekali tidak merasa mual. Merasa aman Luna hanya pasrah. Dia juga sangat merindukan Mark.


Mereka menyudahi pagutan bibir. Saling memandang dengan dera napas yang yang menyapu wajah masing-masing.


“Sayang maafkan aku telah membuatmu marah.” tutur Mark.

__ADS_1


Luna mengangguk, “ Aku juga minta maaf. Aku tidak seharusnya bereaksi seperti itu.”


Mark tersenyum dan mendekap Luna erat.


“Aku sangat mencintaimu. Mari kita berdamai kembali mau sehebat apapun kita bertengkar, Humm..” Luna mengangguk setuju, membenamkan wajahnya di dada Mark.


“Sayang mari peluk papa. Sabar ya, sebentar lagi mama akan memberitahu semua orang akan kehadiranmu. Merak pasti sangat bahagia. Sekarang seperi ini dulu, jangan rewel agar bisa selalu dekat dengan papa. Oke.”


***


Hari-hari berlalu. Tuan Aliester dan nyonya Aliester juga sudah kembali dari liburannya hari ini. Beruntung beberapa hari ini kondisi Luna juga baik, dia hanya sesekali mual, hanya saja dia sering meras pusing dan emosionalnya yang tidak stabil.


Bi ina sebagai orang yang telah berpengalaman sudah sangat mencurigai kondisi nonanya itu. Tapi setiap kali hendak bertanya, Luna selalu mengalihkan topik hingga akhirnya bi Ina diam dan menutup mulutnya rapa-rapat.


“Ada Apa sayang?” tanya nonya Aliester bingung, karena Luna menariknya menuju balkon.


“Sssttt.. jangan keras-keras ma.” Meletakkan telunjuknya di bibir, takut jika Mark dan papanya yang sedang berbincang di dalam mendengarnya.


“Oke, oke. Tapi ada apa?”


“Ma, besok Mark ulang tahun.”


Alis nonya Aliester terangkat, “Mama tau. Lalu?”


Semuanya tahu jika Mark sama dengan halnya dengan Luna. Tidak suka dengan perayaan ulang tahun. Bagi mereka ulang tahun itu menyedihkan, mereka semakin tua.


“Jangan bilang tiba-tiba ingin merayakannya.” Tambah nonya Aliseter.


Luna menggeleng. “Tidak ma. Tapi aku punya sedikit rencana.”


“Rencana seperti apa?”


“Hanya makan malam, tapi aku ingin kita sedikit berbeda.”


“Berbeda?”


“Iya, papa juga tidak boleh tahu rencana kita. Jadi mama harus membantuku.”


“Membantu seperti apa sayang?”


Luna mendekat dan membisik mamanya. Ekspresi nyonya Aliester tampak terkejut dengan hal yang dibisiki Luna.


“Ke-kenapa seperti itu sayang?” nonya Aliseter tergagap.


“Malam ini saja ma. Hummm…” bujuk Luna manja dengan binar mata indahnya. Nyonya Aliseter mengusap melipisnya dan mengangguk seteju dengan ekspresinya sedkit terpaksa. Tapi Luna tidak peduli. Dia langsung memeluk mamanya.


“Terimakasih ma. Mmmuaachh..”

__ADS_1


***


“Ma, serius meninggalkan papa tidur sendirian.” Teriak tuan Aliester mengekori nyonya Alister keluar kamar dengan piyama.


“Papa tuli ya. Mama sudah bilang iya berali-kali.” ketus nyonya Aliester.


“Iya, tapi kenapa? mama mau tidur sama putri kita? Ma, putri kita sudah menikah. Mama mau menganggu….” Kalimat tuan Aliseter terhenti karena melihat Mark yang juga sedang di dorong paksa oleh Luna keluar kamar.


Begitupun dengan Mark yang hendak protes langsung berhenti menatap kedua mertuanya.


Mark dan tuan Aliester saling tatap mencoba mencerna apa yang terjadi.


“Mama.."


“Luna..”


Teriak Mark dan Tuan Aliester bersamaan. Sadar bahwa ini adalah rencana dua wanita ini.


Luna dan nyonya Aliester tertawa geli, lalu menutup pintu cepat.


“Sayang aku mau tidur dengan mama.” Teriak Luna dari dalam dengan tawa.


“Aku pikir kalian tidur bersama, itu tidak buruk.” Tambah nyonya Aliester.


Mark dan tuan Aliester salin tatap geli.


“TIDAK AKAN!!!” Jawab keduanya dan langsung bubar. Tuan Aliseter kemabli ke kamarnya dengan gerutu kesalnya.


“Awas ya kalian berdua.”


Mark yang pergi ke ruang kerjanya juga menggerutu tak kalah kesal.


“Istri dan mertuaku umur berapa ya sekarang? kenapa kekanakan sekali.” decak Mark membuka pintu kuat. Kesal dan frustasi rasanya.


“Mama….” Teriak tuan Alister. Dia berguling-guling di ranjang. Baru kali ini dia benar-benar kalah di buat oleh istri dan putrinya. Biasanya semua kendali di tangannya, tapi sekarang dia di permainkan seperti anak kecil. Tuan Aliester terus berguling, kakinya menendang-nendang seperti bayi besar merajuk.


Sementara Luna sudah berbaring nyaman di pangkuan nyonya Aliester yang duduk bersandar di kepala ranjang.


“Kenapa tiba-tiba berfikiran seperti ini sayang?” tanya nonya Aliseter mengusap lembut rambut Luna.


“Aku rindu seperti ini dengan mama, terus aku juga ingin membuat papa dan Mark kesal sampai makan malam besok.” Jawab Luna dengan mata yang terpejam.


Nyonya Aliester tersenyum, lalu tangan satunya tiba-tiba mendarat di perut Luna. seketika Luna langsung membuka matanya terkejut.


“Sayang sudah berapa lama?”


“Ma-maksud mama?” tanya Luna terbata-bata.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2