
Hari ini Mark menyuruh Luna untuk pulang lebih awal dengan alasan tidak ingin Luna terlalu lelah saat makan malam nanti dengannya.
Meskipun Luna merasa aneh menyuruhnya pulang dengan alasan itu, namun dia juga tidak punya pilihan selain menuruti perkataan Mark. Karena pekerjaannya juga sudah rampung lebih awal. Hanya saja dia ingin tetap di kantor meski hanya sekedar memandangi kekasihnya yang sibuk dengan pekerjaan. Tapi sialnya Mark juga tidak hanya berdiam di kantor, dia sibuk di luar untuk mengurus berbagai urusan.
Luna juga sudah merengek untuk bisa ikut dengannya kali ini saja, tapi Mark tidak mengizinkannya untuk mengikutinya, dia malah memberi syarat agar Luna merayunya dengan mesra di depan Rangga jika tetap memaksa untuk ikut.
***
“ Huh.. mana ada hal gila seperti itu. Memangnya aku kamu yang bersikap genit tanpa malu sedikitpun.” Gerutu Luna dengan memanyun-manyunkan bibirnya, dia sedikit kesal mengingat kembali hal gila yang di ajukan oleh Mark.
Gerutunya terdengar sangat kesal di sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Tapi ketika sampai dan melihat kotak mewah yang berisikan gaun dan perlengkapan lain yang akan dia kenakan nanti membuat dia menyeringaikan senyum, seolah-olah makan malam nanti merupakan asupan mood baik baginya.
Luna mengambil kotak tersebut lalu keluar dari mobilnya. Dia memegangi kotak mewah itu dengan kedua tangannya dan berjalan dengan ceria memasuki rumahnya. Acara makan malam nanti sudah terbayang olehnya. Senyumnya seolah menggambarkan akulah wanita yang paling bahagia nantinya.
Luna berjalan sambil bernyanyi kecil menuju tangga. Karena saking senangnya, dia tidak menyadari keberadaan papa dan mamanya yang tengah duduk di sofa. Tuan Aliester dan istrinya memandangi Luna yang melewatinya begitu saja.
“ Apakah putriku menang lotre hari ini? dia tersenyum seperti orang gila saja.” tuan Aliester berucap dengan keras penuh sindiran.
“ Eh..” Luna menghentikan langkahnya yang hendak menapaki tangga kedua. Dia berjalan mundur beberapa langkah dan menoleh pada sumber suara.
“ Pa ma.. “ dengan senyum bodohnya. Dia sedikit terkejut, karena biasanya dia tidak menemukan papa dan mamanya saat pulang kerja, tapi sekarang papa dan mamanya terlihat sangat santai.
“ Papa dan mama tidak berlatih menunggang kuda hari ini?” Luna mendekati orang tuanya dan meletakkan kotak bawaannya di meja.
“ Menunggang kuda adalah olahraga yang mahal. Kita miskin begini bukankah harus berhemat? Hufftt.. padahal papa kemaren melihat kuda yang sangat bagus. Tapi papa tidak yakin bisa memilikinya.”
Tuan Aliester memancing rasa kebersalahan putrinya, dia sangat tidak sabar melihat reaksi Luna yang penuh rasa bersalah itu. Dia terus melirik Luna yang terdiam dengan senyum canggung. Sepertinya Luna sedang memikirkan jawaban yang akan dia lontarkan.
“ Pa.. memangnya hidupmu dulu selalu enak ya? setauku di waktu mudanya, papa sempat melarat saat pertengkaran sengitnya dengan paman Noman. Memangnya berapa usia papa sekarang? ini belum waktunya untuk papa bertingkah dan mengoceh seperti anak kecilkan?”
Luna menggerutu kesal di dalam hatinya. Dia merasa di permainkan oleh papanya, karena sedari malam kemaren dia selalu mendengar keluhan papanya. Apalagi sampai-sampai membahas tentang harta warisan kakeknya, hal itu bukan seperti sifat papanya.
“ Memangnya berapa harga kuda yang papa inginkan itu?” Luna berusaha untuk tetap tenang dengan senyumnya. Dia berusaha untuk tidak terpancing dengan permainan papanya.
“ Aku masih memegang kartu kredit tanpa batas yang di berikan Mark padaku. Aku bisa menggunakan itu dulu jika papa serius dengan ucapannya.” Bisik hatinya penuh persiapan.
“ Ah.. sudahlah. Papa tidak akan membelinya. Papa tidak mau menyusahkan putri papa. Sekarang papa miskin, sangat memalukan jika papa terus menyusahkanmu. Aku masih kuat dan sanggup bekerja tapi putriku melarang untuk bekerja. Aku saja tidak bisa menafkahi putriku mana boleh aku membuatnya lebih susah.” Dengan nada memelas.
“ Pa.. “ Luna sangat tidak senang dengan kalimat yang di keluarkan papanya. Lagi-lagi dia kalah, dia mulai di rasuki rasa bersalah dan menundukkan kepalanya.
“ Suamiku.. Kenapa kau sangat jahat pada putrimu sendiri.” gumam nyonya Aliester sambil memncubit suaminya yang berada di sampingnya. Dia sangat tidak tega melihat wajah bersalah putrinya.
Tuan Alister meringih menahan sakit, tapi setelah itu dia juga menahan tawa. Dia memberikan isyarat untuk istrinya tetap diam dan tidak menghentikannya.
“ Sayang jangan hiraukan perkataan papamu. Mama dan papa tidak keberatan dengan apapun yang telah terjadi, lagian ini bukan salahmu. Ini kesalahan kami.” Sambil memegangi tangan Luna.
“ Hey tuan Aliester.. apa kau kehabisan obat? Hingga berbicara tanpa malu begini.” Sambil memukul paha suaminya dengan kesal.
“ Tidak akan aku biarkan lagi kau mengerjai putriku.” Gumamnya sambil melirik suaminya dengan geram. Sementara tuan Aliester mengusap pahanya bekas pukulan istrinya, lalu melemparkan senyum mengejek pada istrinya.
Luna memegangi keningnya, lalu menghela nafas dan mengeluarkannya dengan tenang.
“ Sudahlah, mama dan papa jangan berkelahi begini. Aku mau istirahat dulu.” Sambil berdiri.
__ADS_1
“ Tunggu dulu, apa yang ada di kotak itu?” tanya tuan Aliester menahan Luna yang baru saja akan beranjak.
“ Ini? huh.. aku kira akan bisa menikmati acara makan malamku nanti. Tapi sepertinya tidak.” Luna menjawab dengan nada sedihnya.
“ Makan malam? Apa itu dengan Mark?”
Luna terkejut, karena nada bicara papanya terdengar sangat tidak senang dengan hal itu. Hati dan pikiran langsung di hujani pertanyaan dan perkiraan yang tidak mengenakkan.
“ Apa ini? apa papa tidak menyetujui hubunganku dengan Mark? oleh karena itukah dia terus menanyaiku apakah aku sungguh mencintai Mark?”
kemungkinan terburuk memang selalu lebih cepat datang dari logikanya.
“ Bukan seperti yang papa pikirkan. Ini makan malam dengan rekan bisnis, tidak hanya kami berdua.” Dengan senyum sambil mengibaskan tangannya. Luna terpaksa menjawab dengan berbohong. Dia takut jika papanya akan melarang jika dia mengatakan yang sebenarnya. Kesimpulan buruk yang telah dia tarik, benar-benar membuat dia takut. Takut jika papanya tidak menyetujui hubungan dengan pria yang dia cintai itu.
Hatinya mulai berbesit sedih, “ Aku senang melihat hubungan Mark dan papa tetap canggung waktu itu. Karena aku berfikir papa sedang menimang-nimang penilaiannya pada Mark. Tidak di sangka jika separah ini. apa kejujuran Mark tentang perlakuan buruknya padaku membuat papa murka hingga seperti ini? pa.. mau bagaimana lagi? sekarang putrimu sangat mencintainya.”
Tuan Aliester tersenyum penuh siasat, melihat mata putrinya yang penuh rasa kecewa tapi bibirnya tetap berusaha menutupinya dengan tersenyum merekah. Kemudian dia beranjak pergi begitu saja.
“ A a apa maksudnya? Ma.. apa maksud dari dari nada bicara papa?” Luna kembali duduk dan memegangi tangan mamanya. Nada bicaranya terdengar lirih.
“ Bukan apa-apa sayang. Papa hanya memastikan saja kau pergi dengan siapa. Sudah jangan di pikirkan lagi. pergilah nanti dengan tenang dan bahagia.”
Nyonya Aliester berusaha untuk menenangkan putrinya yang sudah termakan umpan kejahilan suaminya. Dia mengelus pipi Luna dengan lembut dan sorot mata yang menenangkan. Berharap putrinya untuk tidak sedih lagi.
“ Aliester jika kau tidak mengakhiri ini dengan segera, maka aku akan membalasmu. Memangnya kau pikir kau saja yang bisa memeprlakukan orang seperti ini? aku juga bisa memperlakukanmu lebih dari ini dan membuatmu kesal setengah mati.” Bisik hati nyonya Aliester sambil melirik suaminya yang menapaki tangga dengan lenggang.
***
Rumahnya memang sangat sepi sekali, aktivitas di dapur dan di ruang makanpun mungkin tidak ada. Begitulah ekspresi Luna menggambarkan.
“ Kak Zhaon..” Panggil Luna ketika melihat pelayan Zhaon yang muncul dari ruang utama.
“ Iya Nona.” Zhaon berjalan mendekat dengan wajah menunduk sopan. Dia menunggu Luna yang masih menuruni tangga.
“ Kemana perginya semua orang? Bahkan aku juga tidak melihat papa dan mamaku?”
Luna melangkahkan kakinya di tangga terakhir dan dan mendakati zhaon yang masih menuduk.
“ Tuan dan nyonya memilih untuk tetap di kamar malam ini nona. Mereka bilang tidak mau di ganggu oleh siapapun. Tuan hanya mengizinkan kami untuk mengantarkan makan malam saja ke kamarnya. Setelah itu tidak boleh mengganggu dengan alasan apapun.” pelayan Zhaon menjawab dengan tetap menundukkan kepalanya. Dia menggigit bibirnya seperti telah melakukan kesalahan setelah menjawab pertanyaan nonanya.
Luna tidak bodoh dan tidak bisa di curangi dengan mudah oleh pelayan Zhaon yang begitu polos. Sebagai pelayan khususnya, tentu saja Luna sudah tau bagaimana tabiat dan orang seperti apa pelayan Zhaon tersebut. Dia memandangi Zhaon tajam dengan tatapan curiga dan berjalan lebih dekat pada pelayan Zhaon.
“ Nona.. kenapa anda mendekat. Aku sungguh tidak tahu apa-apa.” bisik hatinya sambil memegangi tangannya yang mulai gemetaran.
“ Luna.. eh maksudku Nona Luna anda sudah siap?” tiba-tiba Rangga datang dengan kalimat keliru yang dia lontarkan. Luna memang sudah mengizinkannya untuk memanggilnya dengan santai saja, tak perlu formal. Tapi untuk di depan orang lain Rangga tetap berkomitmen untuk memanggil Luna dengan formal, sama halnya yang dia lakukan pada Mark.
“ Kau sudah datang?”dengan senyum. Luna terpaksa menghentikan niatnya untuk menanyai pelayan Zhaon yang terlihat mencurigakan baginya.
“ Ya nona, tuan muda Mark sudah menunggu.”
“ Baiklah, jika begitu kita langsung berangkat saja.” sambil berjalan meninggalkan pelayan Zhaon yang sedari tadi sudah gemetaran.
“ Huff.. untung tuan Rangga datang tepat waktu. Jika tidak saya tidak tahu harus bagaimana menghadapi nona.” dia mengambil nafas lega setelah Luna dan Rangga tak terlihat lagi.
__ADS_1
***
\= di Restoran S \=
Luna dan Rangga jalan beriringan menelusuri restoran menuju tempat makan malam yang di sediakan oleh Mark.
Sepanjang langkah kakinya yang menelusuri restoran, sepanjang itu pulalah hatinya terus berdecak kagum dengan interior terbaru dari restoran S ini. Dimana restoran S ini merupakan tempat yang menyimpan banyak kenangan bagi kekasihnya dan Mark juga pernah berkata akan membeli restoran ini.
“ Apakah dia sudah berhasil mendapatkan restoran ini?” tanya hatinya di selingi dengan senyum.
Rangga menghentikan langkahnya di depan ruangan berlambangkan hati yang di lengkapi dengan kelip cahaya merah darah di desain itu. Desain pintunya sangat mewah, sangat berbeda dengan pintu ruangan lain yang telah di mereka lewati.
“ Apa ini?” bisik hati Luna dengan menahan tawa. Dia merasa aneh dan geli melihat perbedaan yang begitu mencolok itu.
Dua orang pelayan tersenyum dan menyapa dengan ramah, lalu membukakan pintu.
“ Nona, aku mengantarmu sampai di sini saja. Semoga acara makan malamnya menyenangka.” Ucap Rangga dengan lembut dan sopan.
“ Terimakasih Rangga.” Lalu dia melangkahkan kaki masuk ke dalam.
***
Suasana berubah menjadi gelap ketika Luna sudah berjalan beberapa langkah memasuki ruangan. Meskipun tidak terlalu gelap tetap saja membuatnya kesal hingga ingin sekali berteriak.
‘ tak ‘ tiba-tiba cahaya indah menyala. Cahaya berwarna emas yang romantis seperti sebuah jalan yang mengarahkannya ke suatu tempat.
Luna tersenyum, kekesalannya langsung menghilang melihat penyambutan yang luar biasa dan sedikit misterius ini.
“ Mark.. tunjukkan padaku seberapa romantisnya dirimu.” Gumamya, lalu dia melangkahkan kakinya menuju arahan cahaya ini.
“ tak “ Lagi-lagi sebuah cahaya muncul di bawah kaki Luna saat ini melangkahkan kakinya dan menghilang ketika Luna sudah beranjak dari tempat itu.
Hal itu membuat Luna merasa lucu saja. dia tidak sabar untuk bertemu kekasihnya dan mencubit pipi kekasihnya. Dia merasa gemas dengan penyambutan ini.
Cahaya itu hidup setiap Luna melangkahkan dan pada langkah tertentu ada kelopak bunga mawar merah darah yang bertabur di lantai denagn pola hati , sepertiya akan terus begitu sampai Luna pada tempat tujuan.
Hal ini bagaikan mainan baru baginya, Luna selalu tersenyum dan sesekali tertawa.
‘ tak ‘ Luna sudah sampai pada langkah terakhir, karena ketika dia melangkah kedepan, lantai tersebut tidak mengeluarkan cahaya sementara lantai di belakang tetap hidup meski tak lagi dia pijaki. Luna paham dengan ini, lalu dia berjalan mundur. Berdiri di titik cahaya itu. satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu.
“ Ayo.. sekarang ada apa lagi?” Luna tidak sabar menunggu kejutan selanjutnya. Dia benar-benar menyiapkan hatinya dengan senyum penuh tersipu malu di bibirnya.
‘ tak ‘ tiba-tiba cahaya yang di pijaki Luna mati, sehingga ruangan itu menjadi gelap gulita.
Tapi 2 detik setelahnya sebuah cahaya yang lebih megah menyala kembali, dimana Mark sudah berlutut di depannya.
“ Mark..” Luna tak bisa berkata-kata lagi. Mark memegengi tangan kanan Luna dengan lembut dan tatapan penuh cinta dan kehangatan. Luna menutup mulutnya penuh haru, lalu dia memperhatikan sekitar.
Sebuah pemandangan yang menakjubkan membuat dia lebih terkejut. Yaitu.. disebuah meja makan yang begitu mewah dan megah juga terdapat kedua orangtuanya yang menatapnya dengan senyum kebehagiaan.
“ Papa mama..”
Bersambung....
__ADS_1