
Mark dan Luna duduk bersimpuh di depan makam yang bertuliskan Rai Rendra.
Sementara Rangga berdiri di belakang keduanya.
Mark dan Luna menaruh buket bunga di atas makam tersebut. Lalu Mark mengusap batu nisan yang di lengkapi dengan foto sang ayah yang tersenyum lembut.
“ Ayah aku datang. Kali ini aku datang dengan membawa beberapa kabar baik untuk ayah. Aku tahu ayah pasti sudah mengetahuinya.” sambil senyum lembut.
“ Ayah, aku sudah membalas paman kedua, aku sudah mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku. Ayah senangkan? Haha.. tentu saja, aku tahu ayah tidak suka orang lain menyentuh apa yang seharusnya menjadi milikku. Dan untuk orang yang terlibat lainnya, aku akan membereskannya dengan segera.” Mark berhenti sejenak, lalu mengngambil nafasnya dalam dengan tenang. Sementara Luna hanya menatap wajah Mark dan juga makam ayah Mark. dia merasakan dengan jelas gejolak emosi Mark.
“ Ayah maafkan aku karena sampai saat ini belum bisa membawa ibu menemuimu. Jangan salahkan ibu atas semuanya, jangan salahkan ibu karena tak merawatku, aku tahu dulu kalian sering bertengkar manja saat ibu sedikit saja mengabaikanku.
Aku sudah dewasa, aku lah seharusnya yang menjaga ibu. Ini semua salahku, maafkan aku tidak bisa menjaga ibu dengan baik. Aku akan berusaha untuk membawa ibu kembali ke sisiku dan membawanya menemuimu. Ini sudah cukup lama, ayah pasti sangat merindukan ibu kan?”
Luna tertegun, mata yang semula menatap makam langsung beralih menatap wajah Mark. Rasanya saat ini dia ingin sekali memeluk Mark, memberikan kehangatan pada hati kekasihnya yang begitu kesepian selama ini.
Mark menoleh pada Luna, lalu dia mengambil tangan Luna dan menggenggamnya.
“ Ayah aku datang ke sini juga ingin meminta restumu. Kenalkan ini Luna, dia adalah calon istriku. Kami akan menikah dalam beberapa hari lagi. Ayah bukankahkan calon istriku sangat cantik?. Luna adalah putri dari tuan Aliester teman masa muda ayah. Pertemuan kami sangat dramatis, aku berjanji akan menjaga Luna dengan baik, melindunginya dengan segenap jiwaku.” Sambil menoleh pada Luna dengan tatapan lembut.
Luna tersenyum, lalu dia menatap batu nisan ayag Mark.
“ Ayah, maaf aku datang dengan sangat terlambat menemuimu. Namun setelah ini, aku dan putramu akan selalu datang bersama. Aku akan menjaga putramu dan mencintainya sedalam yang ku bisa. Ayah mohon restu untuk pernikahan kami.” bulir bening mulai merambat jatuh dari sudut matanya.
Mark menatap Luna, lalu dia mengusap air mata yang menetes itu dengan lembut.
" Ayah pasti bahagia memiliki sebagai menantunya. Sudah.. jangan menangis lagi." sambil mengusap kepala Luna dengan lembut. Luna menjawab dengan anggukannya, lalu dia mengusap air matanya yang masih tersisa.
“ Luna besok kita juga menemui ibu ya.”
“ Iya.” sambil menganggukkan kepalangnya di iringi dengan senyum lembut.
***
Setelah selesai urusan di makam, mereka kembali ke mobil menuju rute berikutnya.
Rangga melajukan mobilnya dengan kencang melintasi jalanan sepi yang di penuhi dengan pohon bunga pir di pinggir jalan. Daun-daun yang bertaburan di jalanan beterbangan saat mobil mereka melintasi, memberikan efek pemandangan yang indah.
Sepenjang perjalanan Mark dan Luna selalu saling berpegangan tangan dengan erat.
Luna terlihat mulai mengantuk, sejuknya udara semakin menarik dia untuk tidur dalam perjalanan ini.
‘ brugh ‘ Mark dengan sigap menangkap kepala Luna yang hampir terjatuh ke sebelah kaca dengan tangan kirinya. Mark melepaskan genggaman mereka secara perlahan agar Luna tak terbangun. Lalu dengan lembut Mark menyandarkan kepala kekasihnya di bahunya yang lebar itu. Bahu yang akan selalu memberi perlindungan pada orang yang di cintainya.
__ADS_1
Mark melewati tangannya di punggung Luna, lalu mendekap Luna dengan hangat. Seakan tak ingin mengganggu tidur sang kekasih , Mark langsung mengusap bahu Luna saat Luna terlihat mulai resah.
“ Hushhush... tidurlah dengan nyenyak.”
Rangga melirik di kaca spion, lalu mengembangkan senyum kebahagiaan. Dia ikut bahagia dengan kebahagiaan sahabatnya ini.
“ Mark semoga hubunganmu dengan Luna abadi selamanya. Tak akan goyah berapapun besar badai menerpa dan ombak yang akan menghempasnya.” Bisik hati Rangga dengan senyum yang masih mengembang.
***
Beberapa menit kemudian mobil mereka berhenti di sebuah Vila. Mark merubah rencana yang awalnya ingin bertemu seseorang lalu berbalik ke vilanya karena dia tidak ingin mengganggu tidur Luna yang terlihat sangat nyenyak di siang hari ini.
Mungkin sandaran pada sang kekasih membuat tidurnya semakin pulas.
Dalam beberapa hari menuju pernikahannya, Mark memang berencana untuk menemui orang yang memang harus di temui dan di beri penjelasan. Oleh karena itu Rangga mengatur jadwalnya dengan sedemikian rupa. Termasuk Jiang He, karena beberapa waktu lalu Luna mengatakan padanya, bahwa Jiang He seperti menghindarinya sejak Jiang He kembali dari Paris.
Jiang He tidak membalas maupun menjawab panggilannya. Mark tak ingin membuat Luna merasa bersalah, oleh karena itu dia sendiri yang menghubungi Jiang He untuk bertemu.
Tapi pertemuan siang ini juga harus di batalkan. Beruntungya ketika mengabari Jiang He bahwa pertemuan mereka di batalkan, Jiang He tak keberatan sama sekali. Dia bahkan bersedia untuk mengatur ulang jadwal lagi.
Sebagai pria yang mencintai wanita yang sama, tentu Mark sangat paham apa yang di rasakan oleh Jiang He. Apa lagi Jiang He mecintai Luna jauh sebelumnya. Namun harus bagaimana lagi, takdir jodoh mengatakan bahwa dialah yang bersanding dengan Luna. Dalam hati kecilnya, Mark juga selalu mendoakan agar Jiang He bisa menemukan cinta yang lainnya.
Mark menggendong Luna keluar dari mobil dengan perlahan, mengusap dengan lembut setiap Luna terlihat resah.
“ Rangga kau istirahat saja hari ini. Suruh yang lain menyiapkan oleh-oleh untuk di bawa besok!”
“ Tidak masalah.”
“ Nindy juga mau ikut.” Tambah Rangga dengan senyum cengingisan.
“ Ya Tuhan.. ini bukan liburan. Kita hanya berkujung sebentar.”
“ Jika begitu kau yang bicara pada Nindy. Dia hanya takut padamu.”
“ Mark…” ucap Luna dengan matanya yang masi terpejam, sepertinya dia hanya mengigau. Spontan Mark langsung menenangkan Luna yang masih berada dalan gendongannya.
Dia memberikan isyarat gerakan kepalanya untuk menyuruh pergi, lalu dia langsung melangkahkan kakinya memasuki Vila.
“ Tuan..” kalimat pelayan langsung tertahan saat Mark memberikan isyarat untuk diam. Pelayan itu mengerti dan mereka langsung mengikuti Mark dari belakang menuju kamar yang sudah mereka siapkan untuk Luna.
Pelayan membukakan pintu kamar dengan cepat dan sopan. Mark masuk dan langsung membaringkan Luna di ranjang dan menyelimutinya. Sebelum menyuruh pelayan pergi, Mark menyuruh untuk menyiapkan beberapa menu kesukaan Luna, agar saat kekasihnya bangun nanti dia bisa langsung menikmatinya.
Mark memandangi wajah sang kekasih yang terlelap. Sangat indah, wajah itu di tatap semakin indah, tak pernah bosan matanya untuk memandang.
__ADS_1
Luna mulai menggeliat, dan sepertinya kali ini dia benar-benar akan bangun meskipun Mark kembali menenangkannya dengan usapan hangat di kening dan tangan Luna.
Luna terpaku melihat langit-langit kamar, mungkin dia sedang mencerna dimana keberadaannya sekarang. Mark yang melihat Luna yang sudah membuka mata juga langsung berhenti mengusap. Dia tersenyum melihat Luna yang terlihat masih bingung hingga tak menyadari keberadaannya.
Luna menyentuh tangan Mark yang masih menempel di keningya. Baru dia sadar dan menatap Mark yang berada di sampingnya.
“ Mark.. aku ketiduran ya?” tanya nya spontan
.
“ Humm..”
“ Lalu bagaimana dengan janjimu? Sekarang sudah jam berapa?” sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangan Mark.
“ 13.43? kenapa kau tidak membangunkan ku?” “ Tidak apa-apa sayang. Pertemuannya bisa di jadwalkan setelah kita kembali menjemput ibu.” Dengan senyum.
Luna memiringkan badannya ke arah Mark. Dari gerak tubuhnya dia sendiri sepertinya enggan beranjak dari tidurnya. Dia masih memegangi tangan Mark, di peluknya dan di ciumnya.
“ Lalu ini dimana?” terlihat penasaran.
“ Di Vila.”
“ Vila yang mana? Mark Rendra kau punya begitu banyak Vila.” Suara itu terdengar kesal.
“ Ini Vila untukmu.”
“ Aku tidak mau Vila.” Tiba-tiba terlihat merajuk hingga dia melepaskan tangan Mark yang di peluknya.
“ Lalu kau mau apa?”
“ Aku mau setengah dari EDDEN.” Kembali menatap Mark dengan tajam.
“ Ayolah Mark, sekarang kau baru tahu akibat dari terlalu memanjakanku dengan saham.” Bisik hatinya pebuh siasat. Dia menatap wajah Mark, sangat memantikan jawaban yang Mark berikan.
“ Tidak masalah. Kau mau seluruh EDDEN juga tak masalah.” Jawab Mark sangat santai sambil melipat tangan di dadanya.
“ Ya…” teriak Luna kesal.
“ Kau kenapa?”
“ Hey Mark Rendra apa kau tidak takut jika aku akan kabur setelah mendapatkan EDDEN?"
“ Jika tidak ada cintamu, untuk apa aku memiliki semua ini.”
__ADS_1
Luna terdiam sejenak, lalu dia membalikkan badan membelakangi Mark.
“ Hiks.. aku benaran bisa mati tak bernafas karena kata-katanya. Mark Rendra kenapa mulutmu manis sekali.” Gumamnya sambil memukul-mukul guling yang ada di sampingnya. Lagi lagi dia kalah untuk kesekian kalinya.