
Luna memasuki kamarnya dengan lunglai. Lelah rasanya, meski dia tidak begitu banyak beraktifitas.
Luna sudah membicarakan perihal berangkat ke Prancis besok pagi pada kedua orang tuanya. Meski ini tiba-tiba, tuan Aliester memakluminya saja. Selain itu Luna juga menceritakan bahwa tadi dia pergi ke rumah pamannya.
“Tetap waspada!” kalimat yang tidak pernah bosan di ingatkan oleh orang tuanya. Karena keluarga pamamnya memang tidak bisa di percaya.
Meminta maaf dan mengulang kesalahan kembali sudah ratusan kali mereka lakukan pada keluarga Luna. Entah dimana urat malunya, hingga tidak merasa malu apalagi merasa bersalah akan perbuatan mereka yang rendahan itu.
Luna melempar tasnya semabarangan, lalu menuju ke kamar mandi. Banyak pikiran membuatnya gerah, ingin segera bersentuhan dengan air agar bisa merilekskan pikiran dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah ini.
Melakukan ritual mandi dengan aroma vanila dengan taburan kelopak bunga mawar adalah hal yang paling menyenangkan untuk saat ini. Semuanya sudah siap di kamar mandi, Luna segera memulai ritualnya.
Beberapa saat kemudian Luna telah selesai mandi. Masih menggunakan jubah handuknya.
Saat berendam tadi Luna mengingat salah satu temannya yang bisa di andalkan untuk mencari informasi teamnya. Luna mengambil ponsel dan melakukan panggilan.
"Luna, sungguh ini kau?' suara wanita yang antusias di seberang sana. Wajar, sudah lama mereka tidak berkomunukasi.
"Iya Ren." ujar Luna dengan lembut.
Ren merupakan Kurator seni Lembaga sekaligus teman dekat Lily. Dulu Luna juga sering berinteraksi dengannya.
Cukup lama berbincang dan bertukar kabar. Setelah itu Luna langsung mengatakan tujuannya.
Sayangnya, ternyata Ren juga tidak mengetahui tentang team Kurator seni Independen tempat Lily bekerja.
Ren sudah cukup lama lost contack dengan Lily. Karena kesibukannya yang sering bertugas di luar negeri, dia tidak sempat untuk mencari tau. Baginya selama tidak ada masalah, nanti juga akan baik dengan sendirinya.
"Tapi Kau tenang saja Luna. Percayakan semuanya padaku! Aku akan membantumu." Ucap Ren meyakinkan.
"Terimakasih Ren."
__ADS_1
"Ah, jau jangan sungkan begini." sambil tertawa. "Aku masih tidak meyangka jika kau menghubungiku. Akan aku pastikan akan memdapatkan informasi yang akurat untukmu. Nanti aku akan mengabarimu."
"Baiklah. Maaf telah mengganggumu. Sekali lagi terimakasih."
"Tidak apa-apa." masih dengan tawa bahagia.
"Bye-bye."
"Iya, bye-bye."
Percakapan berakhir, Luna membuang nafasnya kasar, melempar ponselnya serta merebahkan dirinya di ranjang. Matanya menerawang menatapi langit-langit kamar. Rindu mulai menelisik hatinya.
“Sayang.” Menoleh pada foto pernikahannya yang terpajang di dinding dengan megahnya. “Aku sangat rindu.” Matanya berkaca-kaca. Rindu dan khawatir yang menyatu sungguh mengaduk-aduk perasaannya.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba perkataan nyonya Xio melintas di pikirannya.
“Hamil?” gumamnya. Memejamkan mata sejenak, lalu bangkit dengan semangat.
Luna menggambil laptopnya. Searching, mulai dari kapan kehamilan bisa di ketahui.
Deg,
Deg,
Deg.
Jantungnya berdebar tidak menentu saat akan membuka artike yang berjudul “Kapan saya bisa cek kehamilan dengan Test Pack?”
Harap-harap cemas menyatu.
Saat menonton drama dia sering melihat sang wanita baru menyadari kehamilannya sudah berusia 2 bulan, 3 bulan atau bahkan 4 bulan. Kenapa ketahuannya lama sekali?
__ADS_1
Dia tidak ingin seperti itu. Dia ingin mengetahui kehamilannya lebih cepat. Kehadiran benih yang di buahi itu harus di jaga di sadari dari awal.
Klik. Dengan tangan yang sedikit gemetaran, Luna mulai membaca artikel tersebut.
Kening Luna berkerut saat membaca tes urin dan tes darah.
Test darah dapat di lakukan setelah 10 hari berhubungan. Tidak tertarik. Luna lebih terfokus pada tes Urin dengan test pack yang dapat lakukan setelah hari pertama atau hari ke sepuluh terlambat haid.
“Kenapa lama sekali?” bibirnya berkedut kesal sambil mengingat kapan terakhir kali dia haid.
Antara ragu dengan ingatannya, kemudian dia mengambil kalender kecil di nakas. Kalender yang biasa dia tandai untuk jadwal haidnya.
“Apa?” mata Luna terbelalak sambil menutup mulutnya. “Ini, ini sudah bisa. Aku sudah bisa tes?” terbata-bata Luna berucap saat mengetahui dari jadwal haidnya sudah terlambat 6 hari.
“Sungguh?” tangannya gemataran, bahagia dan kaget di hatinya. Dia menggigit bahkan menggigit ibu jarinya.
Bergegas Luna mengambil ponselnya. Dia ingat bahwa saat pertama kali berhubungan merupakan masa suburnya. Ingin memastikan kembali bahwa dia tidak salah.
Yah! Luna tersenyum lebar. Benar bahwa itu adalah masa suburnya. Tidak tau bagaimana cara mengungkapkan kebahagiaannya ini. Meski masih fifty-fifty, tapi di lihat dari berhubungan di masa subur, seharusnya tidak mengecewakan.
Luna menepuk-nepuk kedua pipinya. Sungguh ini nyata. Berhenti, lalu membuang nafasnya pelan.
“Sayang, apa kamu sudah berada di sini?” mengusap perutnya yang rata. Air mata bahagia yang mulai menetes. “Mama akan menjagamu dengan baik. Menjagamu dengan segenap jiwa mama.”
Teringat olehnya bagaimana saat sang suami mengusap perutnya sebelum berangkat ke Norwegia. Mark mengusap bahkan mencium perutnya. Air matanya semakin deras.
“Apa papa menyadari kehadiranmu sayang? Makanya papa selalu mengusap perut mama?”
Luna mengusap air matanya. Hal bahagia ini harus dia pastikan dengan segera.
Bersambung..
__ADS_1