TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TMABK


__ADS_3

“Mark please…” Lirih Misya pilu. Pipinya sudah basah dengan air mata.


Mark menggeleng. Tangan Misya yang penyekat lengannya diraih dan lepaskan. Misya menggeleng pedih. Tangannya sekarang hanya memegang kemeja Mark. Sedaya mungkin dia menahan , namun perlahan lepas juga.


“Mark aku mohon. Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku mohon.. jangan hukum aku. Aku tersiksa. Sangat teriksa.” Isak Misya. Tangannya dibawa menepuk-nepuk dada, untuk menunjukkan betapa sesaknya di sana. 


“Aku tidak pernah menghukum. Kau saja yang menghukum diri sendiri. Misya kembalilah ke tempat dimana kamu seharusnya.” Mark berlalu setelah kalimatnya.


“Mark..” Misya terduduk di lantai. Sungguh hatinya sakit, teramat sakit. Nama Mark terus di panggilnya, namun pria itu terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun. 


***


 Misya duduk melamun sambil melihat selembar foto di tangannya. Tidak lain, itu adalah foto manis dia dan Mark. Mark yang merengkuh lembut bahunya sambil menayangkan senyum paling manis ke arah camera. Pun Misya mendongak menatap penuh cinta pada pria itu. Satu keluhan dilepaskan dan foto tersebut dibawa ke dada. 


Sudah banyak waktu yang dia habiskan di sini, namun tidak ada perubahan sedikitpun antara hubungannnya dengan Mark. Pria itu hanya asyik bermesraan dengan istri dan anaknya. Terlebih Allard sekarang sudah memesuki usia 4 bulan, semua orang sibuk bermain dengan bayi itu. Termasuk Zia, hubungan Zia dengan Luna sudah sangat baik. Misya merasa semakin terbuang.


Misya memejamkan matanya, angin lembut yang bertiup pada siang ini membawa dia akan kenangan lalu....


FLASCHBACK


Misya menyetir dengan kecepatan tinggi. Mata indahnya senantiasa sembab. Dia sudah terlalu lelah menangis, namun apa daya air mata tidak pernah mau berkompromi. Semenjak Mark meninggalkannya, seperti ini lah hari-hari ia lewati, tiada hari tanpa air mata. Saat keramaian saja dia tampak ceria, namun jika sudah seorang diri,  laju saja air mata itu keluar.


Ya, jika perkara hati dia memang pecundang. Entah berapa lama lagi waktu yang di perlukan untuk bisa melupakan Mark. Ini sudah bertahun, namun nama Mark masih terpahat indah di hatinya. Ini sangat kejam dan tidak adil baginya. 


Hari ini Misya perlu tuntaskan satu sebab yang membuat hidupnya huru-hara ini. 


Misya membawa mobilnya memasuki mansion mewah yang kerap sepi itu. Mobilnya di berhentikan tanpa meletakkan di parkiran yang tersedia di sana. Sebelum mobil dimatikan, Misya menyelipkan satu benda kecil dibalik saku belakang jeansnya, lalu dia menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali dengan perlahan. Pintu mobil dibuka, kemudian dia membawa langkah keluar dan memasuki mansion mewah itu.


Sebaiknya pintu mansion dibuka, langsung saja kelihatan wajah Vetron yang sudah tersenyum lebar ke arahnya. 


“Hello baby,” sapa Vetron sambil mengangkat segelas minuman ditangannya. 


Misya tidak menanggapi sapaan Vetron, dia langsung mengatur langkah ke arah pria yang paling dibencinya itu. Pria yang membuatnya kehilangan warna hidup. Datar dan suram saja ekpresi Misya kala itu. 


Wajah Vetron memenuhi ruang matanya sekarang. Senyum manis pria itu sangat menjijikkan bagi Misya. Gadis itu berhenti tepat dihadapan Vetron dengan jarak selangkah saja. Vetron maju, lalu tangannya naik mengusap wajah sepupunya itu, namun dengan kasar Misya menepis. Matanya menatap penuh benci kepada Vetron.


“Jangan sentuh saya dengan tangan kotor kamu Vetron.”


Kening Vetron berkerut mendengar kata yang digunakan Misya. ‘Saya? Kamu?’


“Vetron, saya sudah muak dengan semuanya. Saya tidak ingin tersiksa lagi sendirian. Kamu dapat hidup tenang setelah hal buruk yang kamu lakukan. Tapi saya sebagai korban atas sikap gilamu itu menderita selamanya. Saya sudah tidak sanggup, saya tidak mau menderita lagi. Saya juga tidak mau ada korban lagi atas kegilaanmu.” luah Misya yang sudah tidak dapat menahan kemarahannya. Sudah cukup selama ini dia mendiamkan Vetron dan seolah tidak ada hal apapun yang telah Vetron perbuat padanya, pada semuanya.


Vetron menarik senyum geli, dia tertawa sambil menggeleng-geleng. Entah apa yang lucu. Dasar pria gila!


“Misya, Misya... jangan banyak bicara. Selamanya kau akan tetap jadi budakku.”


PANGGGG!


Satu tamparan melayang di pipi Vetron. Keras! Hingga Misya merasa tangannya kebas dan bergetar setelahnya.


Vetron terdiam sesaat. Tangannya naik mengusap bekas tamparan Misya tadi. Cis, sengihnya. Raut wajah cukup tenang tadi langsung berubah mengerikan. Matanya merah menatap Misya.


“Vektron kamu tidak layak ada di dunia ini.”


Vetron merentap kasar tangan Misya lalu menarik tubuh Misya membelakanginya. Dagu gadis itu juga di cengkram dengan tangan satunya lagi.


“Kau ada hak apa untuk menentukan aku layak atau tidaknya di dunia ini, hah? Lalu kau sesuci apa hingga pantas didunia ini. Misya.. apa yang aku lakukan, semuanya karena kamu juga. Semua tindakanku terpulang padamu. Kau yang memancing mereka, aku yang menyiksa mereka, lalu keluarga kita yang membersihkan namaku. Bukankah begitu?”


Misya menahan sesak. Ya, memang benar begitu adanya. Dia dan keluarganya memang melakukan semua itu untuk Vetron. Vetron adalah orang yang kebal hukum, karena banyak dari instruktur kepolisian berisikan orang-orangnya, termasuk ayah Misya. Namun hari ini, Misya tidak mau lagi demikan. Dia harus melakukan sesuatu.


Perlahan Misya merogoh saku jeans ya. Pisau berukiran kecil di keluarkan dari sana dan tanpa ragu Misya menghunuskan pisau tersebut ke perut Vetron. Kuat.


Vetron mengaduh dan tangannya langsung melepaskan dagu dan satu tangan Misya yang di cengkeramnya.


“Misya.. kau.” Vetron memegang perut dan mengangkat tangannya yang sudah penuh dengan darah.


“Aku sudah bilang kau tidak layak di dunia ini. Maka aku akan selesaikan kau dengan tanganku sendiri.” 


Mata Misya mengarah pada pistol yang terletak di meja. Pun Vetron juga menoleh pada pandangan yang sama. Belum sempat Vetron bertindak Misya menyepak kuat tubuh Vetron dengan kakinya, hingga pria itu tersungkur. Lalu dengan satu gerakan cepat, pistol di atas meja itu diambilnya.


“Tidak Misya..” Vetron terkedu ketika Misya mengarahkan pistol tersebut padanya.


“Bye..” 

__ADS_1


Dor….


Misya tersenyum miring setelah mengingat kejadian itu. Dalam masa bersamaan, dia ingat perkataan Mark yang menyuruhnya untuk pergi ke tempat yang seharusnya. Hah, dimana tempat dia yang seharusnya? Dia sendiri bingung, dia bukan manusia suci bahkan dia telah merenggut nyawa seorang manusia dengan tangannya sendiri. Tapi apakah itu sepenuhnya dia yang salah? 


Jika mendengarkan ego, tentu saja dia tidak salah. Semuanya untuk kebaikan. Dengan hilangnya Vetron di dunia ini, maka tidak akan ada lagi korban dari kegilaan pria itu. Namun dari sisi moral sebagai manusia, hal itu tetap salah. Tapi izinkanlah dia untuk mengubur dosa ini selamanya. Dan izinkan dia untuk bahagia sekali lagi. Bolehkah?


“Mark aku juga tersiksa, aku adalah korban. Tapi kamu tidak pikirkan itu sedikitpun. Kamu mengabaikan ku begitu saja. Baiklah, kamu bilang aku harus kembali pada tempat seharusnya kan? Akan aku lakukan.” foto yang di tekup di dada tadi di remas dan dijatuhkan begitu saja.


***


 Luna dan Mark memandikan Allard sore itu. Mereka memang kerap melakukan ini, meskipun ada baby siter yang bisa mengerjakannya. Namun, hal-hal seperti inilah terasa lebih quatime untuk di lewati untuk keluarga kecil mereka. 


Selesai memandikan, mereka juga memakaikan baju Allard, memberi susu dan tanpa terasa Allard tertidur setelahnya.


Luna tersenyum kecil melihat bibir Allard yang masih bergerak menghisap susu, padahal matanya sudah terpejam.


“Tidur yang nyaman ya sayang. Nanti kembung jika terlalu banyak minum.” Dot bayi tersebut di lepaskan dari bibir mungil Allard. Pun Mark membantu untuk memindah Allard ke baby cot.


Luna tersenyum melihat pemandangan di depannya sekarang. Istri manapun pasti sangat senang melihat pemandangan ini. Luna mendekati suaminya itu.


“Sayang..” pinggang Mark dipeluknya dari belakang. Kepalanya juga di sandarkan dipunggung suaminya itu. Aroma maskulin dari tubuh Mark dihirup dalam sambil memejamkan mata. Ya, dia sangat suka aroma tubuh suaminya ini. 


“Ada apa? kenapa tiba-tiba menempel begini?” tanya Mark sengaja mengusik. 


“Memangnya tidak boleh? Aku rindu.” balas Luna dengan suaranya yang tenang dan manja.


Mark tersenyum lebar. Pelukan Luna di longgarkan, kemudian dia berbalik badan menghadap Luna yang sudah menatapnya lembut.


“Tentu saja boleh. I miss you too.” Tangannya naik mengusap lembut pipi istrinya itu, lalu menjalar ke tengguk, wajah mereka juga semakin rapat dan cup…


Bibir kedua nya menempel. Luna memejamkan matanya, pun Mark menarik pinggang Luna untuk lebih rapat padanya kemudian memperdalam ciuman mereka. Sesekali mereka berhenti untuk mencuri napas. Tatapan mereka beradu, deru napas saling menyapu wajah masing-masing.


“Ayo kita lanjutkan di kamar.” ujar Mark dengan deep voicenya. 


“Apa perlu dilanjutkan? Aku rasa cukup sampai di sini saja.” Ujar Luna tanpa bersalah. Padahal dia yang memulai ini.


Mark tersengih, tanpa aba-aba tubuh istrinya diangkat.


Haish sudah! Decis hati Luna. Ini masih sore, menyesal juga karena sudah menggoda suaminya tadi.


Belum sempat Mark membuka pintu kamar mereka, tiba-tiba Zia memanggilnya.


“Mark..”


Haish.. Mark mengeluh. Kesal, geram. Saat-saat seperti ini, ibu malah mengganggu. 


“Ya, ada apa Bu?” Mark menoleh pada ibunya itu tanpa berniat untuk menurunkan tubuh Luna dari gendongannya.


“Allard sudah tidur? Sekarang apa kalian sibuk? bisa bicara sebentar?”  mata Zia melirik Luna yang mengacungkan jempol padanya. Ah, Zia bukanya tidak tahu apa yang telah terjadi.


Mark mengeluh perlahan. Keningnya berkerut. Ibu… tolonglah paham.


“Sayang..” Luna menepuk bahu suaminya itu.


“Apa?” kesal saja suara Mark.


“Put me down.”


Ok ok.. Mark akhirnya mengalah. Tubuh istrinya itu diturunkan. Luna sudah tertawa kecil melihat wajah kecewa suaminya itu. Itu makanya, lain kali kalau mau romantik-romantik tahu waktu. Hihihi.


***


“Jadi kamu mau pergi? kemana? Kembali ke New York?” Luna menatap Misya, lalu beralih pada suaminya yang tiada reaksi, lalu lanjut pada ibu mertuanya yang duduk di sofa ruang keluarga tersebut. Zhaon juga ikut bergabung di sana.


Misya menggeleng, “Aku tidak kembali Ke New York. Aku akan ke tempat lain, aku ingin memulai lembaran baru. Korea sepertinya tidak buruk.” Jawabnya lembut. 


“Misya.. maafkan tante karena tidak bisa membantu mu apa-apa. Selama di sini mungkin kamu merasa terabaikan. Sekali lagi tante minta maaf.” Zia meraih tangan gadis itu. 


Mata Zia berkaca-kaca. Teringat olehnya, ketika Misya menghubunginya. Hatinya sangat tersentuh ketika gadis itu memohon bantuan untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan Mark. Jujur, awalnya Zia sedikit menaruh harap jika Mark dan Misya bisa bersatu kembali, namun seiring berjalannya waktu, Zia paham jika tidak segela kehendaknya bisa dipaksakan. Ada point-point tertentu mengapa Mark tidak bisa menerima Misya kembali. 


Dan Luna… memang gadis yang sangat layak untuk mendampingi putranya itu.  Luna, adalah istri dan menantu yang luar biasa. Meskipun dia kerap memperlakukan menantunya itu dengan dingin, namun Luna tidak pernah tampak jengah. Luna tetap senyum dan memperlakukannya dengan hangat. 


Luna juga tidak pernah menghasut Mark untuk membencinya. Malah Zia pernah tidak sengaja mendengar, bahwa menantunya itu selalu mempertahankan dirinya untuk tetap di villa ini, ketika Mark berencana untuk menyuruhnya pindah ke villa yang lain. Dan itu buka hanya sekali Zia mendengarnya.

__ADS_1


Misya mengusap air mata Zia yang menetes. Dia juga ikut menangis.


“Tante tidak perlu minta maaf. Tante sudah cukup banyak membantuku. Humm.. jangan menangis lagi.” Tubuh yang mulai menua itu rengkuh dalam pelukannya. keduanya sama-sama menangis.


Luna mengusap air matanya. Entah kenapa dia ikut merasakan euphoria ini. Mark dan Zhaon masih kekal dengan ekpresi datar. 


Misya meleraikan pelukannya dengan Zia. Air matanya di usap kemudian dia beralih menatap Luna dan mendekat dengan langkah lambat. Takut jika Mark tidak berkenan kalau dia mendekati Luna.


Luna tersenyum, lalu dia berdiri sambil merenggangkan tangan sebagai tanda menyambut gadis itu. Pecah tangis Misya ke sekian kalinya, dia menghamburkan diri dalam pelukan Luna.


“Terima kasih Luna.. terima kasih sudah mau menerimaku di villa ini.”


“Iya sama-sama. Maafkan aku, jika selama tinggal di sini ada layanan yang tidak mengenakkan yang kamu terima.” Punggung Misya diusapnya dengan lembut. 


Luna tidak tahu persis apa rencana Misya sebelumya. Bohong saja jika Luna tidak mempunyai praduga pada gadis ini. Karena ketika Misya mencoba menahan Mark di dapur pada malam itu, Luna mengetahuinya. Dia mendapat laporan dari Zhaon. 


Namun hari ini Misya memutuskan pergi. Apakah Misya sudah menyerah?


Pelukan di leraikan. Luna menggenggam tangan Misya, “Kabari aku jika kamu sudah sampai. Humm?” 


Laju Misya mengangguk, “Pasti.”


Seorang pelayan datang membawa koper Misya dari atas dan membawanya keluar. Luna dan Zia berjalan bersamaan mengantarkan Misya keluar. Pun Mark dan Zhaon, meski acuh mereka juga ikut keluar.


Zia kembali memeluk Misya untuk terakhir kalinya. 


“Jaga diri baik-baik.” pelukan di leraikan.


Misya menoleh pada Luna, senyum di kembangkan. Hatinya berteriak untuk menoleh pada Mark, tapi dia takut dihampakan. Jika Mark tidak menoleh padanya, pasti akan semakin sulit dan sesak dadanya. Mau tidak mau Misya berjalan menuju mobil tanpa melirik pria yang sangat dicintainya itu.


“Misya,”


Misya berhenti. Mark….. lirih hatinya. Perlahan dia berbalik badan. Matanya langsung menatap dalam pria yang didambakannya itu.


“Hiduplah dengan baik. Maka aku akan memaafkanmu.” Tutur Mark.


Luna menoleh pada suaminya itu. Dia tersenyum bangga. Dia tahu, Mark tidak sekejam itu membiarkan Misya terlalu hampa. Lengan Mark dipautnya tanda dia mendukung tindakan suaminya itu. Pun Zia sudah tersenyum melihat situasi ini.


“Ya, aku akan coba. Terima kasih.” Misya tersenyum lembut, lalu dia langsung masuk ke dalam mobil. 


Sebaiknya pintu mobil ditutup, Misya langsung menghamburkan tangisnya tanpa suara. Tangannya dibawa menekup mulutnya itu.


Matanya memandang Luna dan Zia yang melambaikan tangan padanya ketika mobil yang dinaikinya mulai berjalan. Mark juga tampak masih menatap kepergian mobilnya. 


Mark, akhirnya pria itu mau berbicara lembut padanya. 


“Tidak, Misya… kamu tidak boleh kalah oleh perasaanmu.” Dadanya di tepuk perlahan.


Luna dan Zia masih melambaikan tangan pada mobil yang membawa Misya. Mark menatap wajah cantik istrinya itu. 


“Jadi apakah kita bisa lanjutkan?” bisik Mark dengan suara menggoda. 


Bulat mata Luna seketika. Tubuhnya dijarakkan dengan Mark.


“Me-melanjutkan apa?” 


Mark tersenyum miring, “Tentu saja projeck memberikan Allard adik.”


“Hah?” Luna telan Luna. Merona pipinya seketika, mengingat ibu mertua dan Zhaon berada di situ dan yang pastonya dapat mendengar jelas kalimat Mark tadi.


Tanpa mengundur waktu lagi, Mark langsung menggendong tubuh istrinya itu dan melangkah masuk ke dalam.


“Mark.. kenapa kau sangat tidak tahu malu.” ronta Luna.


Zia dan Zhaon sudah tertawa melihat tingkah keduanya.


“Mereka pasangan yang menggemaskan.” Ujar Zhaon.


“Ya, kamu benar.” Zia turut mengiyakan. Di dalam hati Zia selalu berharap agar rumah tangga putra tunggalnya itu selalu di penuhi keberkahan. Dia berjanji di dalam hatinya, tidak akan memperlakukan Luna dengan dingin lagi.


Dia akan berusaha untuk menjadi Ibu, Mertua dan Nenek yang baik.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2