
Kening Luna berkerut ketika tidak mendapati Mark di dalam dressroom. Kemana perginya? Luna tersenyum tipis, lalu pintu dressroom ditutup kembali. Sekarang dia membawa langkah keluar dari kamar.
Mungkin Mark ada di ruang baca. Langsung saja Luna mengayun langkah ke sana.
“Nyonya,”
Luna menoleh pada sumber suara, “Ya, ada apa?” tanyanya pada pelayan yang datang menghampirinya.
“Tuan sudah menunggu di bawah.”
“Di bawah?” tanya Luna dengan kening yang berkerut.
“Maksud saya Tuan menunggu Nyonya untuk sarapan.”
“Hah?” Luna seolah keliru. Matanya berkedip-kedip. Tidak biasanya Mark seperti ini. Biasanya mereka selalu turun bersama untuk sarapan.
“Nyonya..”
“Oh, ok ok.. aku akan segera ke bawah.” Ujar Luna akur. Dia berjalan duluan yang di ikuti oleh pelayan tersebut dari belakang.
***
“Morning sayang.” sambut Mark. Dia menghampiri sang istri. Satu kecupan dilayangkan di kening Luna.
“Morning,” balas Luna singkat. Luna sedikit menyipitkan mata melihat tingkah Mark pagi ini. Apalagi melihat Mark yang hanya mengenakan pakaian semi formal saja. Kemana jasnya? apa dia tidak bekerja hari ini?
“Mari. Ini pagi yang indah. Mari kita mulai sarapannya.” Ujar Mark sambil membimbing Luna menuju meja makan. Satu kursi ditarik, kemudian dia mempersilkkan Luna duduk.
“Mark.”
“Ya sayang,” jawab Mark yang sudah mengambil tempat di samping sang istri.
“Ada apa dengan pakaianmu hari ini? apa kamu merubah style mu?”
Mark tertawa melihat tatapan Luna heran bercampur bingung. Luna, Luna..
“Kenapa kamu malah tertawa?” tanya Luna kesal. Matanya di jelingkan sambil merubah posisi duduk menghadap ke depan. Kedua tangannya juga sudah melipat di dada. Kesal!
Aku serius, dia malah tertawa.
“Sorry sayang. Kamu terlihat sangat menggemaskan, makanya aku tertawa. Kita damai ya. Sekarang kita sarapan.”
Luna tidak memperdulikan kalimat Mark. Pandangannya tetap lurus ke depan.
Mark mengusap kedua bahu Luna dan menciumnya dengan lembut. Luna tersenyum tipis. Dia merasa sangat senang di perlakukan demikian.
“Sayang.. look at this.”
Perlahan Luna menoleh pada piring yang sudah di letakkan Mark di depannya. Sandwich telur spesial. Telur mata sapi kali ini terlihat sangat sempurna. Masak dengan pas, tidak gosong seperti semalam.
“Sayang..” Mark ditatapnya dengan lembut, “Apa ini kamu yang membuatnya?”
Mark mengangguk, “Ya. Bagaimana? Apa itu menggugah selera?”
Cepat Luna menganggukkan kepalanya. Tangan Mark diraih dan dibawa ke bibir. Dia cium tangan suaminya itu. Tangan yang sudah bekerja keras.
“Terima kasih sayang. Jadi karena ini kamu bangun pagi-pagi dan turun lebih cepat.” Mata Luna sedikit berkaca-kaca. Terharuuu…
Mark tersenyum lembut melihat Luna yang tidak berhenti mencium tangannya. Kemudian tubuh sang istri ditarik dan dibawa ke dalam pelukannya.
“Ini bukan hal besar, aku akan berusaha sebaik mungkin, dan melakukan apapun untuk mu dan bayi kita.” perut Luna di usap dengan sayang.
“Bayi kita tidak akan nyeceskan, meskipun baru pagi ini dapat telur mata sapinya?”
__ADS_1
Luna tertawa, “Mudah-mudahan saja tidak. Jika nyeces salahkan papanya.”
Mark mencebik sambil meleraikan pelukan. Sekarang dia menunduk ke arah perut Luna yang semakin kelihatan. Tubuh Luna juga terlihat lebih berisi sekarang.
“Maafkan Papa sayang. Ke depannya, Papa akan berusaha lebih baik lagi.” satu kecupan dilayangkan di perut Luna. Luna tersenyum bahagia sambil mengusap rambut Mark.
Mark memang selalu penuh kejutan. Mark selalu sabar menghadapi mood nya yang berubah-ubah. Bahkan ketika hatinya hampa karena sang mertua yang semakin dingin dan senyap. Mark pandai menghiburnya.
Bukan apa, ingatan Luna masih sangat segar akan perbincangannya dengan sang mertua waktu itu. Ibu Mark yang tidak menerima dia seutuhnya.
Ok biarlah. Luna akan menahannya sesaknya. Perlakuan Mark yang penuh sayang, cukup mengobati hati dihampakan karena perihal itu.
Mark mengangkat kepalanya kembali, “Mari sarapan.”
Luna mengangguk dengan senyum. Garfu dan pisau diambil. Dia mulai memotong dan memakan sandwich tersebut dengan lahab. Mark tersenyum bahagia.
“Pelan-pelan saja. Tidak ada yang berebutan denganmu, ini semuanya untuk mu dan bayi kita sayang.”
Luna tertawa, “Tapi ini enak. Bagaimana kamu bisa belajar memasak secepat ini?” tanyanya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“Aku bisa mempelajari apapun dengan cepat. Yang semalam hanyalah satu kekeliruan.”
Luna mencebik. Ya ya ya.. kamu memang sangat pandai membela diri Mark Rendra.
Mark melihat bibir Luna belepotan. Dia tersenyum lalu mengusap tepi bibir sang istri dengan jempolnya. Luna tersenyum sambil menatap Mark. Sandwich kembali di masukkan ke dalam mulut. Kali ini dia sengaja makan dengan belepotan.
Mark menggelang. Nakal ya.
Luna tersengih puas dapat mengerjai Mark agar selalu membersihkan tepi bibirnya itu. Namun tiba-tiba..
CUP! Bibir Mark berlabuh di bibirnya. Mata Luna terbelalak ketika merasakan Mark menjilati bibirnya yang belepotan. Apa-apaan ini?
“Ehem,”
WHAT? Bulat mata keduanya melihat sosok di hadapan mereka. IBU!
Luna segera mendorong tubuh Mark agar menjauh. Ya Lord… malunya. Merah padam wajah Luna dalam seketika. Rasanya mau bersembunyi saja sekarang. Sementara Mark malah tersengih. Awalnya saja dia terkejut, tapi sekarang dia malah mempamerkan wajah tenang.
“Ibu datang.” Ucap Luna sedikit tergagap. Luna berdiri ingin menghampiri sang mertua.
Zia sekedar menatap Luna datar. Lalu dia beralih menatap putranya. Langkah Luna terhenti. Dia kaku berdiri sekarang.
“Mark..” ujar Zia sambil menghampiri Mark dan memeluk sayang putra satu-satunya itu. Mark terlihat tergamam. Kenapa tiba-tiba? Jarang ibunya memulai seperti ini. Apakah ibu sudah berubah seperti dulu?
Mark tersenyum. Tangannya naik mendekap punggung sang ibu sambil memejamkan mata. Dia terlalu rindu pelukan ini. Sejak mereka berpisah, sudah sangat jarang dia dapatkan pelukan hangat seperti ini.
Luna melihat interaksi mertua dan suaminya itu dengan senyum. Namun tidak bisa dimunafikkan juga bahwa hatinya sedih karena di abaikan. Dia menunduk dengan senyum kecut. Sabarlah duhai hati.
Mark membuka matanya kembali. Dia melirik Luna. Mark tau Luna seduh berkecil hati akan perlakuan ibunya.
“Kenapa ibu tidak memberitahuku bahwa ibu akan datang?” pelukan di leraikan.
“Jika ibu mengabariku, aku akan menjemput.” Sambungnya sambil menarik kursi dan mempersilahkan ibunya duduk.
“Ibu ingin memberi kejutan untukmu.” Zia meraih tangan Mark dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
Mark tertawa ringan. Ya, inilah ibunya yang dulu. Ibu sudah kembali.
“Sayang kemarilah.” Panggil Mark pada Luna yang masih berdiri kaku.
Luna patuh. Namun baru dua langkah Luna berjalan tiba-tiba Zia berdiri kembali.
“Mark sebenarnya..” belum sampai Zia berucap, satu suara memotongnya.
__ADS_1
“Morning.”
Zia, Mark dan Luna menoleh pada sumber suara. Mark terlihat terkejut melihat sosok wanita yang datang itu.
“Mark inilah surprise yang ibu maksud.” Zia berdiri dan mendekati gadis itu.
“Kemarilah sayang.” Tangan gadis itu di bimbing mendekati Mark.
“Ibu hentikan.” Pekik Mark.
Senyum di bibir Zia langsung hilang. Gadis di sampingnya juga terlihat terkejut. Pun Luna yang tidak tahu apa-apa lebih terkejut lagi.
“Luna pergi ke atas!” titah Mark.
Luna kerut dahi. Dia seolah keliru dengan sikap Mark sekarang.
“Mark, kenapa kamu tidak sopan sekali. Misya baru datang, kenapa kamu marah-marah? setidaknya sambut dulu dia.” ujar Zia tidak berpuas hati.
Mark tersenyum sinis, “Dia bukan tamuku, dia tamu ibu. Jadi ibu saja yang melayani dia.”
Mark kembali menatap Luna.
“Luna kenapa masih berdiri. Aku menyuruhmu ke atas.” Tegasnya lagi.
Luna serba salah. Ketika itu Zia menatapnya tajam.
“Luna..”
Luna terperanjat mendengar suara tinggi Mark kali ini. Mau tidak mau akhirnya dia membawa langkah meninggalkan ruangan itu. Dia pergi dengan rasa penuh tanya.
Misya? Siapa gadis yang bernama Misya itu hingga membuat suaminya semarah ini? ini pertama kali Mark meninggikan suara padanya. Bahkan ketika hubungan mereka kusut dulu, Mark tidak pernah seganas ini meninggikan suara padanya.
Cepat Luna menaiki anak tangga dan segera memasuki kamar. Dia langsung melabuhkan bokongnya di ranjang. Dia menahan sesak di dada. Perutnya yang membesar itu di usap perlahan.
***
Situasi antara Mark, Zia dan gadis bernama Misya itu masih tegang. Mark mendengus lalu beranjak dari situ.
“Mark kamu mau kemana?” tahan Zia.
“Menyusul istriku.”
Mark terus melangkah sehingga Zia mengikuti langkah cepat putranya itu.
“Mark, Mark..” Mark tidak memperdulikan panggilannya.
“Bukankah Luna menginginkan ibu tinggal di sini?”
Langkah Mark terhenti tepat ketika hendak menaiki tangga. Dia menoleh dengan ekspresi dingin.
“Lalu?” tanya Mark.
“Ok, ibu setuju tinggal di sini. Tapi Misya juga ikut.”
WHAT? Kening Mark berkerut seribu. Dia juga menoleh pada Misya yang terlihat begitu polos. Gadis itu menunduk ketika Mark menatapnya tajam.
Mark tersenyum sinis, “Jika itu syarat ibu, silakan kembali ke kediaman keluarga Rangga.”
Berdesir darah Zia mendengar kalimat Mark. Merah padam wajahnya seketika itu. Tajam matanya melihat Mark yang sudah membawa langkah menuju lantai atas.
Bersambung….
Siapa Misya? Ada yang masih ingat?
__ADS_1