TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
BERSYUKUR


__ADS_3

Mark pergi menjauh dari Luna untuk menjawab telvon dari Dr.Mico.


“ Halo, ada apa?”.


“ Maaf saya mengganggu tuan. Saya ingin mengabarkan bahawa nyonya Aliester tiba-tiba mengamuk tidak jelas. Dia melempar semua barang-barang yang ada di dekatnya.” ucap Dr. Mico dengan nada cemas.


“ Kenapa bisa? Apa sekarang dia masih mengamuk?”


“ Masih tuan, sekarang ada pisau di tangannya kami sangat khawatir. Apa yang harus kami lakukan?”


“ Ya Tuhan.. kenapa kalian ceroboh sekali, kenapa ada benda berbahaya seperti itu di ruangannya.” ucap Mark dengan sangat menyayangkan kecerobohan orang-orangnya.


“ Maafkan kami tuan, pisau tersebut di gunakan Dr. Sannon untuk mengupas buah. Saat Dr. Sannon lengah dia mengambil pisau tersebut dan mengamuk tidak jelas. Tuan sepertinya dia mengingat sesuatu.”


“ Baiklah sekarang sudah tidak ada waktu aktifkan camera di ruangan. Saya akan melihat situasinya.” ucap Mark sambil mematikan ponsel.


Mark langsung pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan Luna tanpa sepatah katapun. Luna yang melihat Mark sangat khawatir juga bingung.


“ Dia kenapa? Apa yang terjadi?” bisik hati Luna.


“ Sudahlah, apapun yang terjadi itu bukan urusanku.” ucap Luna yang berusaha untuk tidak peduli.


Setiba di ruang bacanya Mark langsung menyambungkan video dengan Dr. Mico sambil melihat keadaan ruangan nyonya Aliester.


Saat melihat situasi di ruang nyonya Aliester Mark sangat panik. Ruangan tersebut sangat kacau, barang-barang bertebaran dimana-mana dan pecahan gelas juga bertebaran di lantai.


Sementara nyonya Aliester duduk di lantai dengan penuh pecahan kaca dan menangis tidak jelas.


“ Ya Tuhan... apa yang membuat dia mengamuk. Padahal sebelumya dia sangat tenang.” gumam Mark saat melihat situasi di sana.


“ Dr. Sannon, apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Mark kepda Dr. Sannon yang juga terlihat Panik.


“ Maafkan saya tuan. Ini karena saya terlalu gegabah. Saat saya menyuapi nyonya Alieter saya menanyakan sesuatu yang membuat dia mengamuk.” jelas Dr. Sannon dengan penuh penyesalan.


“ Apa yang anda tanyakankan?” bentak Mark,


Dr. sannon sangat terkejut hingga dia gemetaran.


“ Maafkan saya tuan, saya sangat ceroboh. Saya menanyakan apakah dia mengingat tentang kecelakaannya.” jawab Dr. sannon dengan suara gemetar dan dia juga sudah meneteskan air mata.


“ Apa kau sudah gila, kenapa menanyakan hal seperti itu. Dia saja belum mengingat apa-apa. Berbicara saja dia hanya mengeluarkan dua kata saja dari mulutnya. Kenapa seorang dokter bisa secoroboh ini.”


“ Maafkan Dr. sannon tuan, dia masih baru jadi dia belum terbiasa. Nanti saya akan menghubungi Dr. Mou agar dia bisa cepat kembali.” ucap Dr. Mico memohon pengampunan untuk Dr. Sannon kepada Mark.


Dr. Sannon merupakan dokter yang masih sangat muda, dia di sini hanya untuk menggantikan Dr. Mou untuk beberapa hari karena Dr. Mou sedang ada kepentingan di tempat lain.


“ Kenapa Dr. Mou bisa memiliki murid sebodoh dia.” teriak Mark.


“ Tapi tuan, sebelum nyonya Aliester mengamuk dia menyebut nama anda, dia menangis dan berkata untuk tidak menyakiti anda.” ucap Dr. sannon sambil memegangi kedua tangannya yang gemetaran.


Di tengah pembicaraan tersebut, di ruangan nyonya Aliester tiba-tiba dia pingsan.


“ Tuan tuan.. nyonya Aliester pingsan!” ucap Dr. Mico dan dia langsung menyuruh bawahannya untuk segera ke ruangan tersebut untuk segera di beri perawatan.


“ Kalian cepat tangani nyoya Aliester dengan baik. Syukurlah dia tidak melakukan hal yang bisa melukai dirinya.” ucap Mark sangat lega.


Mark terdiam dengan tatapan yang dingin.


“ Dr. Sannon apa yang kamu katakan tadi, itu tidak penting sama sekali. Kau membuatnya mengamuk itu akan membuat dia semakin tertekan. Sebagai seorang Psikiater seharusnya kau lebih paham itu. Aku tidak menyuruh kalian untuk memaksa dia mengingat dengan cepat.”


“ Saya paham. Sekali lagi maafkan saya tuan!”


“ Mulai sekarang jangan sampai ada benda berbahaya berada di ruangannya, singkirkan semua benda apapun yang bisa membahayakannya!. Kedepannya saya tidak ingin mendengarkan hal bodoh seperti ini lagi.”


“ Kami mengerti tuan.” jawab mereka


Mark memutuskan panggilan.


“ Dia berkata untuk tidak menyakitiku? tapi mengapa beberapa bukti mengarah pada mereka. Meskipun mereka sendiri yang menyerahkan bukti mengenai Jhon padaku, tapi beberapa bukti yang aku temukan sebelumnya juga mengarah pada mereka.” bisik hati Mark yang penuh dengan tekanan.


***


Luna di atap masih menunggu Mark sambil menikmati cemilan. Matanya terus memandangi hasil lukisannya.


“ Kenapa dia tidak kembali, apa dia akan meninggalkanku begini saja” gumam Luna sangat kesal.


Luna terus menunggu dengan gelisah dan akhirnya berdiri dan memutuskan untuk melihat Mark ke bawah.


“ Baiklah ini bukan apa-apa, aku hanya kesal saja karena dia meninggalkanku tanpa sepatah katapun.” gumam Luna sambil berjalan ke bawah.


Setibanya di depan ruangan Mark, Luna ingin masuk. Tapi tiba dia mendengar Mark sedang berbicara dengan seseorang.


“ Dia bicara dengan siapa?” bisik hati Luna sambil menempelkan telingannya di pintu.


Di dalam Mark sedang melakukan panggilan video dengan Dr. Mou.


“ Dr. Mou aku harap kau segeralah kembali, muridmu sungguh tidak bisa di andalkan. Kau bepergian kemana? apa kau masih menerima tawaran dari yang lain? apa uang yang ku berikan padamu masih belum cukup?”


“ Haha.. bukan begitu. Aku hanya pergi untuk beberapa hari saja karena ada hal sangat mendesak.”


“ Dr. Mou aku harap kau cepat kembali, hari ini muridmu sudah membahayakan nyonya Aliester. Jika kau menyerahkan tugasmu seharusnya kau mencari dokter yang sepadan denganmu, bukannya mengutus anak baru seperti itu.”


Luna yang sedang menguping di Luar sangat terkejut.

__ADS_1


“ Apa yang kau lakukan?” tanya seseorang dari belakang Luna.


Luna terperanjak, dan langsung berbalik badan, ternyata Key dan Rangga yang baru datang.


“ Aishh.. kalian mengejutkan saja.” ucap Luna kesal.


“ Apa kau sedang menguping?” tanya Key dengan tatapan penuh curiga.


“ Ah.. tidak, tidak. Aku hanya mau masuk. Tapi aku mendengar dia sedang berbicara dengan seseorang. Karena takut mengganggunya aku menunggu dia selesai, baru aku masuk.” Jawab Luna dengan tampang yang kurang meyakinkan.


Mark mendengar keributan di luar.


“ Siapa yang ribut-ribut di luar sana?” bisik Mark kesal.


“ Dr. Mou, aku tidak mau dengar alasan apapun darimu. Aku hanya mengizinkan 3 hari untukmu berkeliaran tidak jelas di luar sana. Setelah itu kau harus kembali.” ucap Mark dan langsung memutuskan panggilan.


Mark langsung berdiri dan keluar dari ruangannya. Saat dia membuka pintu dia sudah melihat Luna dan Key sedang ribut-ribut.


“Aku tidak menguping. Kalian jangan asal menuduh.” teriak Luna.


“Kalau kau tidak menguping kenapa kau menempelkan kupingmu di pintu.” balas Key.


Mark sangat terkejut.


“Apa, jadi Luna mendengar pembicaraanku dengan Dr. Mou? Apa dia mendengarkan semuanya?” bisik hati Mark khawatir.


Rangga melihat ekspressi Mark, dia menyadari sesuatu.


“ Apa Mark sedang membicarakan sesuatu yang menyangkut dengan Luna, dia terlihat khawatir.” bisik hati Rangga.


Menyadari keberadaan Mark, Luna langsung menatap Mark dengan penuh kebencian.


“ Sekarang aku butuh penjelasanmu.” ucap Luna pada. Mark.


“ Sial, sepertinya dia memang mendengarnya” bisik hati Mark.


“ Kalian berdua tunggu di luar. Kau ikut aku ke dalam!” teriak Luna sambil menarik Mark ke dalam dan menutup Pintu dengan keras.


'prakkk'


“ Marahnya perempuan memang sangat menakutkan.” ucap Key


“ Key sepertinya Luna sudah mengetahui sesuatu dari hasil menguping tadi. Dia sangat marah, aku khawatir apa yang akan terjadi di dalam.” ucap Rangga


“ Entahalah, aku tidak bisa menebaknya. Yang aku lihat dia memarahiku dengan sepenuh hatinya.”


Di dalam ruang baca, suasana sangat mencekam. Luna terus memandangi Mark dengan tajam.


“ Aku tidak akan memberikanmu penjelasan apapun.” ucap Mark memulai pembicaraan.


“Kau meninggalkanku di sana sendirian, aku sudah menunggumu sangat lama tapi kau tidak muncu-muncul juga. Dan ketika aku turun, aku malah menemukanmu sedang berbicara dengan seorang dokter. Aku kan sudah dari awal mengingatkanmu kau perlu ke dokter, lukamu cukup dalam.” teriak Luna.


“Hah, jadi tidak mendengar pembicaraanku kesluruhannya. Huft.. syukurlah” bisik hati Mark lega.


“Kau memarahiku hanya karena ini? jika kau khawatir padaku, kau cukup rawat aku dengan baik. Jangan malah menatapku dengan tatapan yang membunuh itu!” balas Mark.


“Aku marah karena tidak mendengar percakapanmu dengan jelas, mereka mengagetkanku.”


“Jadi kau mengakui kalau kau menguping pembicaraanku?”


“Kalau aku tidak menguping bagaimana caranya aku mengetahui jika kau memang membutuhkan dokter. Kau selalu membohongiku. Jadi kapan doktermu akan datang?” dengan kesal.


Mark tersenyum, “ Dokterku sudah datang.” ucap Mark.


“ Hah, dimana dia? Jadi tadi kau tidak melakukan panggilan video?” ucap Luna sambil clingak-cliguk melihat dimana dokter itu.


Mark mendekati Luna “Kaulah dokterku.” bisik Mark di telinga Luna.


Luna mendorong Mark.


“ Aaa.. kau ini apa-apaan. Sepertinya kau tidak hanya membutuhkan dokter mengobati luka luar saja, tapi juga membutuhkan dokter sakit jiwa.” ucap Luna dengan wajahnya yang sudah mulai memerah.


“Aku keluar dulu, sebaiknya kau hubungi dokter sakit jiwa untukmu, sekalian dokter bedah. Agar bisa memperbaiki otakmu yang sudah geser. ” ucap Luna sambil berjalan keluar.


Mark tersenyum puas melihat tingkah Luna.


Saat di luar Key dan Rangga juga masih berdiri di sana. Luna menatap Key dan Rangga masih dengan tatapan membunuh. Luna mendekati mereka sambil mengepalkan tangannya.


Dan ‘woosshh’ kedua tinju Luna melayang ke Key dan Rangga tapi dengan polosnya mereka menghindarinya


'toing'


Luna malah sial, tinjunya malah mengenai tembok.


“ Ak ak aahh.. ini sakit. Kalian berani sekali.” teriak Luna.


Key dan Rangga menahan tawanya, karena melihat posisi Luna yang lucu.


“Baiklah, aku akan memepringati kalian. Lain kali kalian jangan mengejutkanku lagi. Dan ingat, tadi aku tidak menguping.” ucap Luna dan berlalu pergi dengan wajah memerah karena merasa malu.


Setelah Luna sedkit jauah, Key dan Rangga melepaskan tawanya.


“Haha.. bukankah itu sangat lucu? Apakah dia kesakitan?" ucap Key.

__ADS_1


“Itu pasti sakit. Tapi sepertinya tidak terjadi apa-apa di dalam. Mungkin hanya aku saja yang berlebihan mengkhawatirkan Mark. ” ucap Rangga.


“ Lebih baik kita masuk ke dalam untuk memastikannya!”


Merekapun langsung masuk ke ruang baca Mark, tapi di dalam mereka malah mendapati Mark yang senyum-senyum sendiri.


“Eh, apa aku tidak salah lihat ?” tanya Key ke Rangga sambil mengucek-ngucek matanya.


“Entahlah, aku merasa sangat aneh. Luna keluar dengan sangat kesal, tapi dia malah senyum-senyum seperti orang gila di sini.” ucap Rangga.


“ Mark, Mark!” panggil Rangga, tapi Mark tidak sadar dia masih saja senyum-senyum.


“ Apakah aku ini hantu yang tak terlihat?” bisik hati Rangga kesal dan sedih.


‘ puingg....’ Key melempari Mark dengan buku dan buku tersebut mengenai kepala Mark.


Mark tersadar dan melihat ke arah Key dan Rangga dengan tatapan tajam.


“Haha,, maaf, ternyata buku sekarang mempunyai sayap.” ucap Key dengan gurauan.


“Kenapa kalian melempariku?” bentak Mark.


“Karena kau seperti orang gila, senyum-senyum sendiri dengan melihat ke meja. Apakah mejanya begitu lucu?” ucap Rangga menyindir Mark.


“Sial, ternyata aku masih terbawa suasana dari Luna. sangat memalukan mereka melihatku.” bisik hati Mark


“Aku tidak sedang tersenyum, aku hanya sedang memikirkan sesuatu?” ucap Mark berusaha menyanggah.


“ Ouw.. baiklah, apakah yang kau pikirkan. Hingga membuat wajah dinginmu ini bisa tersenyum begitu, apakah itu seorang wanita?" ucap Key menggoda Mark.


Mark sangat marah, dia merasa di permainkan. Dia tidak suka di olok-olokkan oleh sahabatnya ini.


“Kalian sudah bosan hidup sehat ya. Kalian pilih tangan kiri atau tangan kanan untuk mengantarkan kalian ke rumah sakit?” ucap Mark mengancam sahabatnya dengan sangat kesal.


“Eh dia mengancam lagi. kami memilih ke kubur saja dari pada rumah sakit.” bisik hati Key sedih karena merasa gagal menggoda Mark.


“Haha.. Key sudahlah kita tidak akan pernah bisa dengan puas mengerjainya.” ucap Rangga berusaha memecahkan suasan yang canggung.


“Itu baru benar. Kalian lebih baik diam!” ucap Mark merasa bangga karena bisa melumpuhkan siasat kedua sahabatnya itu.


“Asal kau senang saja!” bisik hati Key dan Rangga kecewa.


“Sebenarnya apa yang terjadi?, kami melihat Luna menguping apa dia mengetahui sesuatau?" tanya Rangga mengalihkan pembicaraan.


“ Tidak, dia tidak mendengarkan dengan jelas pembicaraanku."


“ Kau berbicara dengan siapa?"


“ Tadi aku sedang melakukan panggilan video dengan Dr. Mou kami membahas tentang nyonya Aliester. Tapi syukurlah Luna tidak mendengar pembicaraan kami, jika sampai dia mengetahuinya, akan sangat sulit menjelaskannya.” jelas Mark.


“ Syukurlah, sepertinya kami mendapatinya tepat waktu hingga dia tidak bisa mendebgarkannya.” ucap Rangga lega.


“ Tapi, kenapa dia menatapmu seperti ingin membunuh saja, apa yang terjadi antara kalian?” tanya Key.


“ Itu dia marah padaku. Aku terluka.”


“ Hah, kau terluka? Kenapa bisa?”


"Bagian mana yang terluka?” tanya Key dan Rangga Langsung mendekati Mark dan mengamati Mark.


Mark yang belum menyelesaikan pembicaraannya sangat kesal melihat sahabatnya yang langsung memotong kalimatnya.


“ A aa kalian ini apa-apaan. Ini hanya luka kecil. Kalian berdua jangan memngkhawatirkan aku seperti bayi kalian. Aku ini lebih tangguh dari kalian.” ucap Mark kesal.


“ Coba perlihatkan dulu, bagian mana yang luka.” bentak Key kesal.


Markpun berdiri dan dan membalikkan badannya.


“Ini hanya Luka kecil.” ucap Mark sambil memperlihatkan leher belakangnya yang sudah di perban Luna.


“Ya Tuhan.. kau memang bayiku. Apa yang kau lakukan hingga bisa melukai lehermu begini.” ucap Key sambil mengamati luka Mark.


“ Key.. kau jangan keterlaluan. Aku bukan bayimu.” bentak Mark dengan sangat kesal


“ Kau itu memang bayiku..orang dewasa akan terluka di bagian wajah, badan dan hatinya. Tapi kau malah terluka di tempat yang sulit di jangkau. Kau bayiku yang ceroboh..“ teriak Key.


“ Sudahlah, kau tutup saja mulutmu! Telingaku tidak bisa lagi mendengar perkataanmu yang sulit di cerna itu.” ucap Mark kesal dan duduk dengan wajah yang cemeberut.


Key dan Rangga saling bertatapan dan tersenyum puas.


"Hehe.."


“ Meskipun kita tidak bisa menggodanya tentang perasaan. Tapi kita tetap bisa menjahilinya seperti bayi kita yang lucu.” bisik Key ke Rangga.


“ Haha.. kau memang selalu punya cara.” puji Rangga.


“Apa kalian sudah punya informasi baru?” tanya Mark mengalihkan pembicaraan.


“Tentu saja, kami tidak mungkin pulang tanpa membawa apa-apa.” jawab Rangga.


“Baiklah. Sekarang mari kita diskusikan.” ajak Mark dengan serius.


Mereka mulai berdiskusi dengan serius. Key dan Rangga menceritakan semuanya pada Mark, dan merekapun menyusun rencana dan strategi mereka selanjutnya.

__ADS_1


Di sela diskusi Mark tersenyum sambil memandangi kedua sahabatnya.


“ Terimakasuh Tuhan, sudah mengirimkan mereka untukku.” bisik hati Mark sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Key dan Rangga.


__ADS_2