TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
PENYAMBUTAN KEPULANGAN HYENA


__ADS_3

“ Apa kau ingin mengambil bintang?” tanya Mark.


“ Tidak, itu hanya hal yang tak mungkin. Aku hanya ingin menikmati cahayanya. Bukankah cahayanya indah?” tanya Luna dengan senyumnya.


Mark mengajak Luna berdiri, dan dia berdiri di belakang Luna sembari menutup mata Luna dengan kedua telapak tangannya.


“ Sekarang apa kamu bisa melihat bintang?”


“ Tentu saja tidak, ini gelap.”


Lalu Mark membuka kembali mata Luna.


“ Sekarang apa kamu masih melihatnya?”


“ Masih, mereka masih setia memantulkan cahayanya dengan indah di sana” jawab Luna sembari menunjuk ke arah Langit.


“ Itulah bintang, dia begitu setia untuk memberikan cahaya di tengah gelapnya malam. Bintang itu punya cahayanya sendiri tidak seperti bulan dan dia juga lebih jauh dari bulan. Namun dari kejauhannya dia tetap setia menemani bulan untuk menerangi gelap malam” ucap Mark dengan lembut.


“ Aku ingin menjadi bintang “ ucap Luna dengan senyum.


“ Kau sudah jadi bintang”


“ Bagaimana bisa? aku tidak mempunyai cahaya” tanya Luna sembari memutar kepalanya dan menengadah ke atas untuk melihat Mark yang masih berdiri di belakangnya.


Mark menatap Luna “ Kau sudah jadi bintang bagi seseorang.”


“ Sungguh? Aku harap bisa bertemu dengan orang itu” ucap Luna.


Luna berjalan dan kembali ke bangku. Dia melepaskan sandalnya dan duduk dengan melipat kakinya. Kemudian Mark juga duduk di samping Luna.


Suasana yang menjengkelkan berubah menjadi suasana yang menenangkan. Mereka sangat akur saat itu.


Tengah malam di bawah indahnya langit yang di taburi bintang membuat 2 insan itu larut dalam suasana. Gelak tawa mereka pecah, mereka bergurau sembari menghitung bintang.


Di tengah gelak tawa itu, Mark menatap Luna dengan senyumnya yang lembut. Dia merasa bahagia karena bisa mengembalikan mood baik Luna.


“ Haha,, ini sangat menyenangkan” ucap Luna sembali mengusap bahunya. Dia kelihatan kedinginan.


Menyadari hal itu, Mark langsung membuka jasnya dan memasangkan pada Luna.


“ Eh, ini?? 😳 ” tanya Luna terkejut sambil menatap Mark.


“ Pakailah, kau kedinginan”


“ Terimakasih” ucap Luna dengan senyumnya yang tersipu malu.


Suasana hening sejenak.


“ Mark terimakasih, sudah menghiburku.”


“ Apa sekarang kau merasa sudah baikan? Kau tidak marah lagi padaku?”


“ Ya, aku tidak marah lagi”


“ Syukurlah. Jika begitu , apa kita sudah bisa pulang?. Ini sudah larut, kau harus istirahat yang cukup.”


Luna menganggukkan kepalanya lalu menurunkan kakinya untuk memasang kembali sandal Mark yang dia kenakan. Tapi kakinya tidak menemukan sandal sebelah kanannya.


“ Eh, kemana perginya?” ucap Luna sembari melihat kebawah.


“ Ada apa” tanya Mark.


“ Aku tidak menemukan sandalmu. Jelas-jelas tadi aku menaruhnya di sini, kenapa bisa hilang” sambil mencari ke bawah bangku.


Mark melihat sekeliling, lalu dia melihat ada sekor anj*ng yang sedan menggigit sandal itu.


“ Sepertinya ****** tertarik dengan sandalku ” ucap Mark santai.


“ Hah, anj*ng? ” ucap luna sembri menatap Mark, lalu melihat ke arah pandang Mark.


Luna melihat seekor anj*ng itu menggigit sandal sambil menatap Mark.


“ Hahaha,, kenapa bisa.” ucap Luna dengan rasa bersalah.


“ Huh, sudahlah. Sekarang kita pergi saja.”


“ Maafkan aku” penuh rasa bersalah.


“ Bodoh, itu hanyalah sebuah sandal. Kenapa kau merasa bersalah begitu.”


Luna hanya diam sambil menunduk, dia tetap merasa bersalah.


Mark berjongkok di depan Luna.


“ Sekarang naiklah. Aku akan menggendongmu”


Luan tertegun dan mengangkat kepalanya.


“ Tidak perlu. Aku bisa jalan saja” ucap Luna dengan gestur tangannya yang juga menolak.


“ Apa kau ingin berjalan dengan telanjang kaki?, di sini banyak batu-batu kecil, itu hanya akan melukai kakimu. Aku sudah berusaha untuk selalu melindungimu, tapi kenapa kau sendiri malah ingin melukai dirimu sendiri. Sudahlah jangan menolak lagi”


Luna tak bisa berkata lagi, diapun naik ke punggung Mark dan melingkarkan tangannya di leher Mark dengan lembut.


“ Aku berat, nanti bisa mencederai punggungmu” ucap Luna pelan.


Mark tersenyum, lalu dia berdiri.


“ Kau memang berat, tapi itu tidak akan mampu mencederaiku.”


Mark melihat kaki kiri Luna masih memakai sandalnya, “ Kenapa masih di pakai?”


“ Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tetap menggunakannya” ucap Luna sembari meletakkan dagunya di bahu Mark.


Mark tersenyum dan berjalan pelan menuju mobilnya.


***


\= di Rumah Sakit \=

__ADS_1


 


Dua hari telah berlalu, pagi-pagi sekali Luna yang di temani oleh Mark sudah berada di rumah sakit untuk membawa Hyena kembali ke rumah.


“ Luna kenapa pagi sekali kau datang?” tanya Hyena.


“ Karena aku sudah tidak sabar membawamu pulang. Bukankah di sini tidak nyaman? Walaupun ini kamar khusus, tapi tetap saja rumah sakit. Lagian hari ini juga tidak masuk kantor” jawab Luna.


“ Terimakasih Luna, karena sudah melakukan banyak hal untukku.”


Luna tersenyum.


"Memamng sudah semestinya. Aku sudah menganggapmu sebagai keluarga. Jadi tidak perlu sungkan.”


Beberapa menit kemudian, semua urusan di rumah sakit sudah selesai. Luna dengan segera membawa Hyena ke mobil.


Selama dalam perjalanan, Luna dan Hyena bercerita banyak hal. sementara Mark yang mengemudi hanya diam dengan sorot matanya yang dingin.


Sesekali Hyena melirik Mark yang tak bicara sepatahkatapun padanya sejak di rumah sakit. Dia merasakan sangat jelas bahwa Mark tidak menyukainya.


Hyena tersenyum kecut, “ Luna hanya kau seorang yang peduli padaku. sementara yang lainnya tidak” ucap Hyena tiba-tiba sambil menunduk.


Luna terkejut mendengar perkataan Hyena. Rasa sedih yang mendalam sangat terlihat jelas di wajah Hyena.


“ Apa yang harus ku lakukan?” bisik hati Luna resah.


“ kamu salah Hyena, banyak yang peduli padamu. Tapi hanya saja mereka tidak bisa mengungkapkan. Kamu tahu tidak, di malam kamu operasi kak Jiang He juga menunggumu. Dia terlihat gelisah.


Dan Mark sebenarnya juga peduli padamu, buktinya dia pergi menjemputmu. Hanya saja dia terlalu kaku jadi tidak terlihat jika dia itu peduli” ucap Luna berusaha menghibur Hyena.


Mark tersenyum,


“ Luna benar, kami semua peduli denganmu. Jangan kira hanya kami diam, kami tidak punya rasa peduli” ucap Mark.


Luna merasa senang mendengar Mark yang mendukung perkatannya.


“ Kau dengarkan Hyena. Jangan sedih lagi ya. Jikapun memang tidak ada yang peduli padamu, aku sendiri akan memperdulikanmu sebanyak yang kau mau.


Aku akan menyanyangimu lebih dari yang mereka berikan. Bukankah itu cukup, kenapa kau masih menginginkan orang lain?” ucap Luna dengan mode merajuk.


“ Haha,, kau memang sahabatku. Baiklah, jika memamng begitu aku tidak akan mengharapkan orang lain lagi” ucap Hyena


“ Huhu,, kau memang Hyenaku ” ucap Luna sambil mencubit kedua pipi Hyena dengan lembut.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah. Luna dengan cepat keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Hyena.


“ Hati-hati” ucap Luna sambil membantu sahabatnya itu.


Mark berjalan duluan, dan di susul oleh Luna dan Hyena di belakang. Saat di depan pintu Mark berhenti, dia menunggu Luna dan Hyena. Saat ini Luna merasa cukup aneh.


“ Kenapa dia tidak masuk saja?” bisik hati Luna.


Saat Luna dan Hyena sudah di dekatnya, barulah pintu terbuka.


Dan...


Ternyata di dalam sudah banyak orang menunggu kepulangan Hyena. Semua orang ada di sana, Nindy, Rangga, Key, Jiang He dan terakhir Luna melihat Hanny.


“ Kak Hanny?” bisik hati Luna merasa sedikit heran.


Namun Hanny hanya menatapnya dengan senyum.


Hyena menatap Luna dengan wajah terharu, dan Luna juga tersenyum bahagia. Akhirnya sahabatnya itu tidak merasa di acuhkan lagi.


“ Kalian semua di sini?” ucap hyena dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


“ Iya. Kami mana mungkin tidak menyambut sang penolong.” Ucap Nindy sembari mendekati Hyena dan dia membawa Hyena masuk kedalam.


Luna melihat Mark.


“ Apa kau yang mempersiapkannya?” tanya Luna.


“ Tidak. Meraka sendiri yang inisiatif. Mereka ingin menyambut orang yang telah menyelamatkanmu” ucap Mark.


“ Hah. Apa itu hanya karena Hyena menyelamatkan aku? Jika seandainya dia terluka bukan karena menyelamatkanku, apa kalian tidak akan melakukan hal yang sama?” tanya Luna merasa sedikit kecewa.


“ Entahlah. Kau tanyakan saja pada mereka.” sambil melangkahkan kakinya masuk dan bergabung denga orang-orang itu.


Sementara Luna tersenyum kecut.


“ *Dari awal aku memang merasakan bahwa Mark tidak menyukai Hyena. Apa yang membuat dia tidak menyukai Hyena, padahal dia juga baru mengenalnya.


Ah, sudahlah, ini bukan saatnya aku memikirkan hal ini. bisa-bisa nanti aku merusak suasana ini, meskipun Mark tidak menyukai Hyena, tapi setidaknya kak Jiang He, Rangga, kak Key, Nindy dan kak Hanny tidak begitu*.” Bisik hati Luna.


Luna kemudian masuk dan bergabung dengan orang–orang itu, dia duduk di sebelah Jiang He.


“ Kakak datang juga” ucap Luna.


“ Tentu saja. Semua orang di sini, kenapa aku tidak?”


Luna tersenyum, “ Sejak kapan kak dekat dengan Mark?” tanya Luna penasaran.


“ Kami tidak dekat. Kami hanya berlaku sebagaimana seharusnya pria bertindak” jelas Jiang He.


“ Ahaha,, kenapa kata-kata kakak sulit untuk ku cerna?” tanya Luna bingung.


Jiang He mengusap kepala Luna, “ Sudahlah. Jangan di fikirkan!” ucap Jiang lembut.


Luna hanya tersenyum. Sementara Mark yang memperhatikan Mareka terlihat kesal.


Di saat yang bersamaan Nindy tak habis-habisnya menyenangkan hati Hyena. Dia memperlakukan Hyena dengan baik.


“ Hyena kami membawa banyak bunga dan buah untukmu, lihatlah, itu semua kami siapkan khusus untuuk menyambutmu” ucap Nindy sambil menunjuk setumpuk buket bunga yang berbagai macam.


Hyena melihatnya, “ Terimakasih semuanya. Aku sangat terharu” sambil mengusap air matanya.


“ Ahaha,, lihatlah kak. Hyena bahkan menangis, dasar bodoh. kenapa menangis?” ucap Nindy.


“ Aku sangat terharu. Sudah sangat lama aku tidak merasakan hal seperti ini” dengan tersedu.

__ADS_1


Nindy mengusap air mata Hyena.


“ Jangan menangis lagi. Kamu pantas mendapatkan ini, karena kamu adalah sang penolong.”


“ Hyena sepertinya aku yang tidak penuh persiapan untuk menyambutmu. Mereka semua membawa buket bunga dan buah, sedangkan aku tidak ada apa-apa. maafkan aku ya” ucap Luna.


“ Luna kau tidak perlu melakukan itu. kau sudah melakukan lebih dari ini.”


“ Ahhaha… tapi tetap saja aku merasa bersalah. Sebagai gantinya, jika kau sudah sembuh total aku akan mentraktirmu.”


“ Baiklah.”


“ Waah,, kami semua juga mau” ucap Nindy.


“ Iya Luna kami juga mau. Bagaimana bisa kau hanya mentraktir satu orang sementara kau berbicara di depan semua orang” lanjut Key.


Luna mengerutkan dahinya,


“ Haha,, baiklah. jika begitu aku akan mentraktir semuanya.”


Mark berdiri, “ Semuanya sudah di sini. lebih baik sekarang kita langsung saja ke taman.”


“ Hah, kita mau apa ke taman?” tanya Luna heran.


“ Kita akan mengadakan pesta kecil-kecilan” jawab Mark.


“ Bi Ina apa semuanya sudah siap?” tanya Rangga.


“ Sudah tuan. Semuanya sudah bisa ke sana” jawab bi Ina.


“ Waahh,,, bahkan ada pesta. Ayo kita ke sana” ucap Nindy dengan semangat.


***


Di taman sudah tersedia begitu banyak buah, kue, dan berbagai minuman.


Sebenarnya hal ini tak ubahnya seperti piknik, tapi hanya saja di lakukan di taman rumah sendiri. Di sana juga 2 dua buah Camera yang sudah terpasang di tripod, sepertinya mereka merekam moment itu.


Mereka mulai duduk dan menikmati semua yang ada di sana sambil bercerita dengan bebas.


Yang jelasnya Nindy adalah orang yang paling ribut di sana. Karena dia mempunyai suara yang keras di tambah dia selalu berlawanan dengan Key kakaknya sendiri.


Ada-ada saja yang mereka ributkan hingga mengundang gelak tawa semua orang.


Bahkan hanya sepotong kesemek saja mereka berebut dan berdebat, padahal masih banyak buah kesemek lainnya.Tapi mereka tetap saja memperdebatkan 1 potong kesemek itu.


Tapi dengan keberadaan mereka juga membuat suasana lebih hidup.


“ Kakak, kau mengalahlah pada adikmu ini” teriak Nindy kesal.


“ Kau yang mengalah, kau itu perempuan” jawab Key.


“ Huh,, dari sini membuatku sadar. Tidak heran sampai sekarang kakak masih saja tidak punya kekasih, kakak sangat menyebalkan.


Mana ada wanita yang mau sama orang seperti kakak, sama adikpun tidak mau mengalah” ejek Nindy menohok.


Perkataan Nindy mengundang gelak tawa semua orang.


“ Kau dengar itu Key. Kau harus lebih lembut dan bisa mengalah pada wanita” lanjut Rangga.


“ Kak Rangga Juga. Memangnya kakak sudah punya kekasih?. Sampai sekarang kakak masih jomblo karena kakak terlalu lengket dengan kak Mark” ucap Nindy spontan.


Tapi tiba-tiba dia menutup mulutnya, dia keceplosan. Dia merasa sedikit khawatir, karena selama ini dia tidak pernah bergurau dengan Mark yang dingin itu.


Dia menatap wajah Mark yang dingin,


“Mampus, kenapa bisa begini. Dasar mulut, tidak bisa di-rem” umpat Nindy dalam hatinya yang khawatir.


Semua orang melirik Mark, mereka menunggu respon Mark yang tanpa ekspresi itu.


“ kenapa kalian mentapku?” tanya Mark dingin.


“ Hahaha,,, tidak apa-apa” ucap mereka merasa lega karena Mark tidak marah dengan ucapan Nindy.


“ Sebenarnya Rangga tidak punya pasangan tidak ada kaitannya denganku. Aku sudah memberinya kesempatan untuk kencan, hanya saja dia tidak mempunyai kemampuan untuk menarik wanita “ jawab Mark tiba-tiba.


“ Mark, kenapa kau menyebalkan” teriak Rangga sangat kesal.


“ Bukankah begitu. Taruhan saat pesta saja kalian belum bisa menepatinya” jawab Mark santai tapi menusuk.


Mendengar ucapan Mark, membuat Key yang sedang minum tersedak.


“ Mark Rendra,,, “ teriak Key kesal


Semua orang tertawa.


***


Pesta penyambutan masih berlanjut, para wanita sibuk mengambil gambar dan merekam video bersama Key dan Rangga.


Sementara Mark dan Jiang He duduk sedikit menjauh dari orang-orang.


"Sepertinya langkah ini cukup berhasil" ucap Mark.


" Entahlah, tapi setidaknya memberikan sedikit efek. Dia adalah orang yang sangat berhati-hati" Jelas Jiang He.


" Humm,, setidaknya kita sudah berusaha."


Suasana hening dalam seketika, mereka memandangi Luna dan yang lainnya sibuk mengambil gambar.


“ Bagaimana hasil pemyelidikanmu, apa sudah membuahkan hasil?” Tanya Mark pada Jiang He memulai kembali pembicaraan.


Smirk terukit di bibir Jiang He, lalu dia menatap Mark.


“ Kau boleh mentertawakanku sekarang. Tapi ingatlah, yang namanya kebohogan cepat atau lambat pasti akan terungkap.”


“ Kebohongan? Hah, aku memaklumi kebencianmu padaku. Tapi kau tidak berhak mendikteku.” Balas Mark dengan sorot matanya yang tajam.


Kedua sorot mata itu saling beradu yang menandakan ancaman agresif dari masing-masing diri mereka.

__ADS_1


__ADS_2