
Pintu kamar di buka. Mata Mark meliar karena tidak melihat sosok istrinya di sana. Kemudian langkah dibawa menuju balkon. Mark tersenyum lega, pelan dia mendekati Luna yang berdiri membelakanginya itu. Mark tahu istrinya pasti berkecil hati atas kejadian tadi.
“Sayang..” panggil Mark. Tangannya melingkar di pinggang Luna. Bahu Luna di kecup lembut kemudian dagunya ditopangkan di sana, “Sayang kenapa berdiri? nanti lelah. Kasihan sayang dan anak kita.”
Luna hanya diam. Pandangannya tetap lurus ke depan. Jangan harap mudah saja membujuknya. Huh!
“Maafkan aku.” ujar Mark mulai membujuk.
“Aku hanya terlalu terkejut melihat sikap ibu. Ibu sudah keterlaluan.”
Luna masih senyap. Mark menghela napasnya perlahan. Dia tahu jika Luna butuh penjelasan lebih. Mark mengangkat wajahnya dari bahu Luna. Dia memeluk Luna lebih erat. Luna dapat merasakan hembusan napas Mark yang hinggap di cuping telinganya. Suaminya itu juga mengecup puncak kepalanya.
“Misya, nama perempuan yang bersama ibu tadi. Dia adalah teman sekaligus mantan kekasihku.”
Berdesir darah Luna mendengar pengakuan Mark. Dia segera mendongak untuk melihat wajah suaminya itu. Mata bertemu mata.
***
“Tante, lebih baik kita pergi.” ajak Misya pada Zia.
Senyap. Misya menghela napasnya perlahan. Dia tidak tahu harus bagaimana. Sementara Zia masih ingin menunggu Mark untuk turun ke bawah. Dia ingin berbicara lebih dengan putranya itu.
Tidak lama setelahnya Zia memijit pelipisnya frustasi. Mark masih saja tidak turun-turun, perlahan dia menoleh pada Misya yang kini sibuk dengan ponsel di tangan. Wajah polos Misya ditatapnya iba.
“Misya.. maafkan tante.”
Misya menoleh, “Tidak apa-apa tante. Misya baik-baik saja.” senyum lembut kekal dia pamerkan.
Zia menghela napas lega, “Baiklah. Sekarang kita kembali ke hotel. Tante akan mencari waktu untuk berbicara dengan Mark kembali.”
Misya mengangguk. Zia melirik ke lantai atas, sepertinya Mark memang tidak akan turun.
“Tante..”
Zia menoleh pada Misya yang sudah berdiri. Dia akur dan keluar bersama Misya dai villa mewah itu.
***
“Mark.” Sambut Rangga pada Mark yang baru keluar dari mobil.
“Bagaimana?”
“Kau bisa lihat sendiri vidionya.”
Mark dan Rangga berjalan beriringan memasuki mansion. Mereka langsung membawa langkah ke ruang pemantauan.
Petugas di dalam langsung bangkit dan mempersilakan kedua tuannya itu duduk. Sebuah video di putar. Mark dan Rangga menatap screen yang menampilkan aksi Hyena melarikan diri dari penjara tadi semalam.
“Dia melakukannya dengan sangat baik.” terang Rangga.
Mark mengangguk seraya tersenyum sinis. Hyena, Hyena… akhirnya berhasil juga gadis itu kabur. Sejak sembuh dari luka di perut, Hyena berprilaku sangat penurut dan hanya banyak diam ketimbang biasanya yang suka meraung minta dibunuh saja. Ternyata inilah tujuannya.
Baiklah Hyena. Nikmatilah kebebasanmu itu.
***
Mark memberhentikan mobilnya di depan Villa. Dia langsung di sambut oleh pengawal dengan membukakan pintu mobil itu untuknya. Membungkuk hormat ketika Mark keluar dari dalam mobil.
“Bagaimana dengan istriku?” tanya Mark sambil memasuki Villa.
“Nyonya tidak ada pergi kemana-kemana. Nyonya hanya melukis di taman dan kembali beristirahat setelahnya.”
Mark sekedar mengangguk. Ya, Luna memang sudah aktif melukis. Bahkan minggu depan istrinya itu akan melakukan pameran. Mark membawa langkah menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Pengawal tidak lagi mengikutinya.
Pintu kamar dibuka. Mendengar suara pintu, Luna cepat-cepat memejamkan matanya. Pura-pura tidur. Ponsel di tangan dia letakkan di samping.
Luna belum bisa menerima apa yang telah terjadi, terlalu pedih meski Mark sudah berterus terang.
Mantan kekasih? Bukan itu yang mengganggu pikiran Luna. Baginya tidak masalah bagaimanapun masa lalu Mark, siapa dan perempuan manapun yang hadir dalam kehidupan Mark, itu tidak penting! Tapi kedekatan ibu mertua dengan gadis itulah yang membuat hatinya tawar. Kata Mark, gadis itu dulu memang dekat dengan ibunya.
Mark sudah menikah, untuk apa perempuan itu hadir kembali? atau apakah ini alasan ibu Mark tidak bisa menerimanya sebagai menantu? Semuanya berkecamuk di benak Luna sekarang.
Seharusnya memang bukan Mark menjadi sasaran merajuk. Tapi bagaimana lagi, ya beginilah perempuan. Terlebih lagi dia sekarang sedang hamil. Hatinya mudah saja sayu.
“Sayang.” Mark menghampiri Luna di ranjang. Cepat sekali istrinya tidur. Baru pukul setengah delapan.
Tangan Mark naik mengusap lembut pipi sang istri. Tubuh Luna yang semakin berisi membuat pipi Luna lebih tembem. Mark gemas sendiri. Mark tersenyum sendiri. Mungkin istrinya lelah, makanya tidur lebih cepat.
Mark menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya sampai dada. Tiba-tiba mata Mark melihat ponsel istrinya itu. ponsel tersebut diambil. Kening Mark berkerut.
Panas! Ponsel istrinya terasa sidikit panas. Berarti baru di gunakan. Dalam waktu bersamaan Luna sedikit membuka mata untuk melirik suaminya itu.
Ya ampun… mau saja Luna tepuk jidat sekarang. Apa Mark mencurigainya?
__ADS_1
Mark menoleh, Luna cepat-cepat menutup matanya kembali.
Ok calm down Luna. Luna berusaha setenang mungkin. Masa bodoh Mark curiga jika dia ini hanya pura-pura tidur.
Mark pura-pura batuk. Dia tahu jika Luna tadi mengintipnya. Luna, Luna..
Ponsel ditaruh di nakas. Setalahnya dia membawa langkah menuju kamar mandi.
Sebaiknya Mark menutup pintu, Luna juga langsung bangkit dari tidur.
“Huh wajahku panas..” rengek Luna sambil menekup kedua telapak tangan di wajah, “Mark sebenarnya tahu apa tidak ya?”
“Menurutmu?”
Eh, Luna angkat wajah. Dia cuak melihat Mark yang sudah menjungkit kening di hadapannya. Mulut Luna sedikit ternganga. Tiga detik kemudian Luna langsung membenamkan wajahnya ke bantal. Malu, malu, ini benar-benar memalukan.
Mark tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu. Perlahan dia melabuhkan bokong di samping Luna.
“Masih marah padaku?” tanyanya lembut, “Bangunlah, lihat aku. Aku tidak akan mentertawakanmu.” Bujuknya karena melihat Luna yang masih tidak bergerak. Dia risau jika istrinya kurang oksigen jika begitu.
“Aku malu..”
“Untuk apa malu? aku suka melihatmu merajuk begini."
Apa di bilang? Suka? Luna mencebik.
“Sini, sini..” Mark menarik tubuh istrinya itu. Luna hanya patuh. Mark tertsenyum tipis ketika menyibak rambut yang menutupi wajah istrinya itu. Luna sudah memanjang muncung. Kalah angsa olehnya.
Mark menarik Luna ke dalam dekapannya, “Jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa. Tidak akan ada yang berubah. I love you, I love you so much. Jangan pikirkan hal lain, cukup fokus pada keluarga kecil kita. Humm?”
Luna terharu dengan kalimat yang keluar dari mulut Mark. Ah, Mark memang selalu pandai melunakkan hatinya.
Luna mendongak menatap Mark sudah tersenyum lembut padanya.
“I love you too so much.”
***
Hyena mengendap-ngendap memasuki gedung apartement. Dia mengenakan pakaian serba hitam, di lengkapi dengan syal sebagai penutup kapala dan mengenakan kaca mata hitam. Dia tekun memperhatikan situasi. Merasa aman, cepat Hyena menuju lift dan segera menekan tombol. Dia menggigit ibu jarinya sambil menunggu pintu lift itu terbuka.
Ting! Pintu Lift terbuka. Hyena sedikit tergamam ketika banyak orang di dalam. Mereka melihat Hyena aneh. Beberapa orang keluar dan masih ada dua lagi yang tersisa. Pria dan wanita, sepertinya mereka adalah pasangan kekasih.
Hyena pun masuk ke dalam. Dia membiarkan pasangan itu menekan tombol. Hyena sedikit melirik pasangan itu ketika melihat lantai yang mereka tuju sama. Rasanya dia tidak mengenal orang itu. Dia sedikit cemas, namun dia halau dengan cepat. Mungkin saja mereka penghuni baru.
Ketika pasangan tersebut melewati pintu apartemennya, Hyena dapat bernapas lega. Pasangan tersebut terus lanjut berjalan. Mereka juga tampak mesra. Ok, sepertinya aman.
Hyena berhenti di depan pintu apartemen yang sudah lama dia tinggalkan itu. Password di masukkan, Hyena sempat melihat sekeliling sebelum dia masuk.
“Hufftt..” Hyena bersandar di pintu sambil memejamkan mata. Tidak mudah baginya untuk datang ke sini. Dia merasa terus ada yang mengikutinya.
Mata kembali di buka. Hyena segera bergerak. Pertama-tama dia menyalakan lampu. Dia harus bergegas. Dia hanya perlu mengambil satu barang di sini.
***
Luna bangun lebih awal pada pagi ini. Dia tersenyum ketika mendapati wajah Mark yang masih lelap tidur.
“Bukankah papa sangat tampan sayang?” ujarnya sambil mengusap perutnya itu. Tiga setengah bulan lagi dia akan melahirkan. Ah, tidak sabar rasanya.
Satu kecupan dilabuhkan di bibir Mark. Kemudian dia bangkit tanpa membangunkan suaminya itu. Sekarang weekend, tidak apa jika Mark bangun sedikit lebih lama.
Langkah di bawa ke kamar mandi. Luna terlihat sangat ceria. Pagi ini dia akan bertemu dengan team kurator. Tidak lain, team kurator tersebut adalah team yang senantiasa membantunya dulu.
Seperti yang telah di tekadkan sebelumnya, dia akan membangkitkan team Kurator itu kembali. Luna berhasil, semasa kehamilannya sudah 2 kali Luna melakukan pameran dengan team kurator tersebut dan pameran kali ini adalah yang ketiga. Masih dengan team kurator yang sama.
Selesai saja Luna berdandan. Dia tersenyum sendiri melihat pantulan dirinya di cermin. Pipi yang semakin chubby dan perut yang semakin membesar. Lucu saja. pantas Mark semakin gemas dengan dirinya.
Luna menoleh pada Mark yang masih nyenyak tidur di ranjang. Suaminya benar-benar lelah sepertinya. Luna tidak tega membangunkan suaminya itu. Langkah dibawa mendekati Mark, satu kecupan dilayangkan di pipi suaminya itu.
“Aku pergi dulu ya sayang.” ujarnya.
Tas yang sudah disiapakan tadi di ambil. Kemudian Luna beranjak dari situ.
***
Perbicanngan di restoran itu berjalan dengan sangat lancar. Telihat Lily menjelaskan secara lugas. Luna merasa puas dengan kerja team Kurator pameran yang akan dilakukan lima hari 5 hari lagi. Ide, perancangan dan strategi yang sempurna. Tema pameran kali ini adalah ‘Life On Life’. Semua oarang terlihat bersemangat.
Meeting kecil itu telah selesai. Orang-orang mulai bubar. Sekarang tinggallah Luna dengan Lily di situ.
“Terima Kasih Nona.”
Luna menoleh pada Lily, “Sama-sama Lily. Semua ini berkat kerja keras kalian juga. Aku hanya sedikit membantu saja.” Luna tertawa kecil. Lily memang tidak henti-hentinya berterima kasih padanya.
“Tidak Nona. Nona Luna sangat membantu. Tanpa Nona, mungkin karir kami sebagai kurator akan tenggelam begitu saja. Namun berkat Nona, kami kembali di percayai oleh orang-orang.” luah Lily. Dia benar-benar bersyukur mengenali orang sebaik Luna.
__ADS_1
Kali ini Luna mengangguk saja. Akur! Lily kalau di lawan tidak akan ada henti-hentinya.
“Baiklah, sekarang lebih baik kita pergi. Sudah saatnya curator Lily melihat koleksi lukisan terbaruku.”
Lily mengangguk setuju, mereka berdua berjalan bersamaan keluar dari restoran itu.
Sedang asyiknya Luna dan Lily berbincang, tiba-tiba Luna melihat ibu mertuanya bersama dengan gadis yang bernama Misya itu. Dua orang itu berjalan ke arahnya. Luna tercegat di situ. Lily sudah keheranan..
“Luna,” Zia berhenti tepat di depan menantunya itu. Ekpresinya masih sama seperti biasanya. Datar dan dingin.
Luna hanya membalas dengan senyum lembut. Kemudian dia menoleh pada Lily.
“Lily kamu tunggu saya di mobil ya.”
“Baik Nona.” seolah mengerti dengan situasi, Lily cepat beredar dari situ. Sempat dia melirik pada Misya sebelumnya.
Sebaiknya Lily pergi, Zia kembali bersuara.
“Luna mari kita berbicang dulu.” Zia melangkah duluan diikuti oleh Misya. Gadis itu tersenym pada Luna. Namun Luna hanya memandangnya dengan datar.
Luna menghela napasnya perlahan. Apa lagi kali ini? mau tidak mau dia juga mengikuti ibu mertuanya itu.
Mereka sampai di pivate room. Entah apa yang ingin dibicarakan ibu mertuanya itu hingga memilih tempat di sini.
Luna tersenyum kelat ketika melihat hidangan sudah tersedia di sana. Sepertinya ibu mertuanya ini telah mengetahui gerak geriknya. Sehingga pertemuan mereka sangat pas.
“Duduklah.”
Perlahan Luna melabuhkan bokongnya. Zia dan Misya juga demikian.
“Kandunganmu sehat?” tanya Zia memulai pembicaraan.
“Sehat bu,”
“Berapa bulan lagi kami akan bersalin?”
“Lebih kurang tiga setengah bulan lagi.”
Zia mengangguk paham, "Minumlah. Jus apel itu sangat bagus untuk ibu hamil.” Ujarnya seraya mecapai minumannya juga.
Luna patuh saja. Gelas di capai dan jus tersebut di teguknya.
“Luna, apa Mark sudah mengatakan sesuatu padamu?” tanya Zia setelah Luna selesai minum.
“Tidak ada. Apa ibu meninggalkan pesan untukku?”
Zia mengeluh perlahan. Tenyata putranya itu benar-benar menentang. Tidak apa-apa, sekarang dia bisa menggunakan Luna.
“Luna bukankah kamu ingin kita tinggal bersama kan?”
“Iya. Apakah ibu ibu sudah memikirkannya? Ibu sudah ada keputusan?” tanya Luna dengan riak gembira.
Zia mengangguk, “Ibu mau. Tapi ibu tidak sendiri.”
“Maksud ibu?” tanya Luna seolah keliru. Dia melirik Misya yang senantiasa tersenyum padanya ketika itu.
“Ibu bersama Misya.”
Luna terdiam. Hilang riak gembira tadi. Dibawah meja tangannya sudah mengepal kuat.
Zia senantiasa menampilkan wajah tenang. Di dalam hati, dia sangat berharap Luna setuju. Jika Luna setuju maka dalam artian kata Luna pasti membujuk Mark untuk setuju. Putranya itu pasti tidak akan tega meolak keinginan Luna. Maka dengan begitu rencananya akan berjalan dengan mulus.
Sekarang Zia tidak sabar akan jawaban menantunya itu.
Perlahan Luna tersenyum. Lalu mengangguk, “Boleh saja ibu.” Jawabnya ceria. Kemudian dia menoleh pada Misya.
“Luna.” ujarnya sambil mengulurkan tangan.
“Hah?” Misya terlihat kaget. Dia melirik Zia.
“Bukankah kita belum berkenalan. Ayo berkenalan, sebentar lagi kita akan tinggal satu atap. Kenal lebi awal lebih baik.”
Perlahan Misya menyambut tangan Luna, “Misya.”
“Nice name.” puji Luna.
Zia sudah tersenyum. Akhirnya. Dia menatap Luna
Dan Zia bergantian. Polos saja senyum Luna dimatanya.
“Mark sekarang kamu tidak akan ada alasan untuk menolak ibu dan Misya.” Gumamnya perlahan.
Bersambung…
__ADS_1