
Hari demi hari terus berlalu. Mark dan Luna menghabiskan waktu di rumah sakit saja meski sebenarnya Luna sudah membaik dan di perbolehkan pulang. Hal ini demi si bayi kecilnya. Allard masih perlu perawatan. Jika mau, bisa saja mereka membawa bayi mereka dan membayar dokter terbaik untuk merawat bayinya di rumah, namun ada alasan tertentu sehingga ingin Allard tetap dirawat di rumah sakit saja.
Selama di rumah sakit, Luna semakin telaten dalam merawat bayinya. Pun Mark juga demikian. Hari demi hari kondisi si kecil Allard juga semakin membaik.
***
Tidak terasa sudah enam minggu berlalu. Hari ini si kecil Allard sudah diperbolehkan pulang melihat kondisinya sudah sangat stabil. Zhaon membantu mengemasi barang-barang di ruangan VVIP itu. Hampir dua bulan ruangan ini menjadi rumah bagi Mark dan Luna.
“Zhaon.”
“Ya Nona.” Zhaon angkat wajah memandang ke arah Luna. Luna yang bardiri di depan pintu kamar mandi itu, tampak cantik dengan gaun tradisional khas China (Qipao). Baju berwarna merah separas betis itu, yang dia kenakan tampak begitu pas di badan Luna masih agak berisi. Wajahnya yang selama 6 minggu ini polos tanpa sentuhan apapun make up, sekarang telah di poles dengan make up soft look. Zhaon sedikit ternganga melihat Nonanya itu.
“Bagaimana? Apakah aku terlihat cantik?” tanya Luna dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Ya Lord.. baru Zhaon tersadar kembali. Mulutnya di katupkan kembali.
“Ca-cantik. Sangat cantik.” Suara Zhaon sedikit terbata. Ah, Nona mudanya ini memang cantik. Terlalu cantik, hingga dia yang perempuan saja ikut dibuat terpesona.
Luna tertawa kecil melihat gelabah Zhaon. Kepalanya juga menggeleng kecil. Zhaon, Zhaon..
“Thank’s.” ujar Luna setelahnya.
Luna berjalan ke arah nakas. Ponsel yang terletak di sana di ambil, lalu dia membawa diri untuk duduk di sofa. Dia perlu menunggu Mark sebelum mengambil Allard. Sebenarnya Luna sangat ingin pergi duluan, tapi semalam dia sudah janji dengan suaminya itu untuk sama-sama. Ada-ada saja, padahal tempat Allard di tempatkan tidak jauh dari ruangannya.
“Nona.”
“Humm..” jawab Luna dengan matanya tetap tertuju pada layar ponselnya. Dia sedang melihat-lihat foto Allard.
Zhaon tampak ragu-ragu. Selimut yang sudah dilipatnya di taruh di atas ranjang. Lalu dia membawa langkah mendekati Luna. Bokongnya di labuhkan di sofa, tepat di depan Nonanya itu.
“Tanya tidak ya?” bisik hati Zhaon.
Luna sadar akan sikap aneh Zhaon. Dia angkat wajah menatap orang kepercayaan suaminya itu.
“Kamu mau bicara apa Zhaon?” tanya Luna pelik.
“Itu..” Zhaon berhenti sejenak, lalu dia mengatur napas perlahan sebelum melanjutkan kalimatnya. Luna mengedipkan mata sambil menyimpan tawa kecil. Ada apa dengan gadis ini? Kenapa tiba-tiba nervous berbicara dengannya? Luna kembali menatap layar ponselnya. Dia sudah sangat rindu pada anak pertamanya itu.
“Nona, saat Nona jatuh di tangga malam itu. Apakah Nona mencurigai sesuatu?” tanya Zhaon dengan sangat berhati-hati.
Luna langsung angkat wajah dan menatap Zhaon sedikit pelik. Kenapa Zhaon tiba-tiba bertanya. Selama ini baik dia maupun Mark tidak pernah membahas kejadian itu. Ketika dia sadar dari koma, dia hanya fokus pada bayinya saja.
Tunggu! Luna juga baru sadar kenapa suaminya itu juga tidak ada membahas. Setahunya, Mark adalah orang yang tidak akan tinggal diam atas apapun yang terjadi, terlebih berkaitan tentang dirinya. Atau apakah Mark tidak ingin membuat dia bersedih makanya tidak ada membahas? Ya, Luna memang sangat menyalahkan dirinya yang tidak berhati-hati malam itu.
Rasa penasaran Luna muncul akibat pertanyaan Zhaon.
“Maksud kamu mencurigai seperti apa Zhaon?” tanya Luna berusaha tenang. Di dalam hatinya, Luna asyik bertanya apakah suaminya itu memang tidak melakukan tindakan apapun setelah kejadian itu?
“Ya sesuatu yang mencurigakan. Misalnya, jauh sebelum kejadian itu Nona merasa ada yang aneh atau malam itu Nona melihat sesuatu.”
__ADS_1
“Entahlah. Memangnya suamiku tidak mengambil tindakan ya?” tanya Luna tidak mau bermain tebak-tebakan lagi dengan hatinya.
Zhaon menghela napas perlahan. Sepertinya, Tuan Mudanya itu belum menceritakan apa-apa. Zhaon menghela napas untuk merilekskan suasana yang sedikit tegang itu. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya.
“Tuan tidak pernah bermain-main dengan hal yang berkaitan dengan Nona. Jadi tunggu saja. Tuan belum cerita dengan Nona, saya mana boleh cerita. Bisa-bisa saya di marahi Tuan.” Zhaon tersengih setelah kalimatnya. Namun di sana Zhaon tampak masih penasaran. Meskipun semuanya sudah jelas, dengan tersangka Hyena dan satu orang pengawal yang berkhianat, namun Zhaon masih belum puas. Ada sesuatu terasa keliru di hatinya. Apa itu, dia sendiri juga tidak tahu.
Luna mengangguk-angguk kecil. Benar yang di katakan Zhaon. Dia tunggu saja suaminya itu yang bercerita. Namun Luna, sekarang dibuat penasaran yang teramat sangat, karena melihat dari cara Zhaon bertanya tadi.
***
Villa tempat kediaman Mark dan Luna tampak megah dengan hiasan merah khas budaya China. Tampak mewah dan elegan. Pintu mobil mewah itu dibuka oleh pengawal, lalu Mark melangkah keluar dan menyambut istrinya yang juga baru keluar. Luna tampak terkejut dengan apa yang ada di depan matanya.
Pantas Mark memberinya gaun ini semalam dan Mark datang menjemputnya juga mengenakan jubah labuh. Sempat juga berdebat sebelum berangkat tadi. And than, it this… kejutan ternyata.
“Thank’s.” ujar Luna terharu. Allard dalam gendongan Luna tampak membuka mata. Mark dan Luna serentak menoleh pada anaknya itu. Mereka tersenyum gemas melihat keadaan anaknya itu sudah sangat sehat.
Luna Mark dan Luna melangkah memasuki villa mewah itu. Para pengawal sudah berbaris rapi dan menunduk hormat di sana. Mereka di sambut dengan penuh suka cita.
“Cucuku..” Zia menghampiri Luna dan Mark. Allard dalam gendongan Luna diambilnya. Allard berpindah tangan.
Semua orang sudah menunggu di Villa. Ramai ruang utama itu sekarang. Bahkan keluarga Rangga turut hadir. Si kembar Chici dan Chika yang sudah semakin tumbuh besar, masih saja menempel bagai anak kecil pada Nindy.
“Akhirnya Cucu Nenek pulang.” Nyonya Aliester ikut bergabung dengan Zia. Kedua besan itu tampak akrab untuk pertama kalinya. Memang benar kata orang-orang, kehadiran anak dapat menyambung silaturahmi keluarga.
“Keponakanku.” Para sahabat dan yang lainnya juga ikut bergabung melihat Allard. Mereka terlihat begitu bahagia melihat Allard kecil yang terlihat aktif meliarkan mata memperhatikan mereka. Gelak tawa bahagia memenuhi ruangan utama itu.
Mark menarik bahu Luna dalam dekapannya. Air mata istrinya juga di usap dengan ibu jarinya.
“Thank’s sayang. Terima kasih sudah melahirkan anakku, tuan muda kecil keluarga Rendra. Terima kasih sudah memberikan kebagiaan yang tiada tara ini untuk kami semua.”
Luna semakin terharu mendengar kalimat Mark. Dia tidak sanggup membalas dengan kata. Dia paut tangan di pinggang suaminya itu. Cukup tindakan itu yang mewakili segalanya.
Mark tersenyum lembut. Semesta saja yang tahu betapa bahagianya dia sekarang. Semampunya dia akan terus menjaga keluarga kecilnya ini.
“Selamat datang putraku. Tuan muda kecil. Papa akan melakukan yang terbaik untukmu. Jalan hidup memang tidak ada yang bisa mengira. Namun, Papa jamin akan memberikan keluarga yang hangat padamu. Papa tidak akan membiarkan kamu merasakan apa yang Papa rasakan.” Bisik Mark dalam hatinya.
***
Cukup lelah. Mark melabuhkan bokongnya di atas ranjang megah itu. Acara penyambutan putranya tadi cukup lama, karena bukan hanya keluarga yang di undang. Tetapi para rekan elite bisnis juga ikut serta bergabung. Pun media juga turut diundang untuk mengumumkan kehadiran anak pertamanya itu.
Sekarang media sudah penuh memberitakan akan the next pewaris dari perusahaan dunia itu. Namun Mark dan Luna tidak sembarangan memberi foto anak mereka. Wajah putranya itu masih di rahasiakan dari publik. Makanya tamu dan media datang sedikit lebih lambat dari keluarga terdekat mereka.
Pintu kamar mandi terbuka. Muncul Luna dari sana dengan mengenakan jubah tidur kuning favoritnya. Pun Mark yang selunjuran di atas ranjang juga mengenakan jubah tidur warna senada. Luna menoleh pada sumainya itu, dia merasa pelik melihat suaminya yang tengah senyum-senyum seorang diri.
Ada apa dengan suminya ini? Luna geleng kepala, namun memilih untuk tidak menghampiri suaminya itu. Dia perlu ke kamar Allard sekarang. Allard sudah disediakan kamar sendiri dan akan ada 4 orang baby siter profesional yang akan siap sedia menjaganya.
Luna awalnya keberatan. Dia mampu menjaga anak sendiri, namun Mark melarang. Mark bilang dia perlu banyak istirahat. Empat orang baby siter itu sudah sangat terlatih untuk menjaga bayi. Hingga akhirnya Luna akur dan setuju. Berat sebenarnya, namun Mark ada benarnya juga.
__ADS_1
Tapi pertanyaan sekarang, apakah dia mampu? Ini saja belum satu jam dia berpisah dengan Allard, hatinya sudah menjerit rindu. Huh, ternyata beginilah rasanya jadi seorang ibu. Melihat anak adalah hal yang paling membahagiakan.
Baru Luna hendak melangkah keluar, kakinya terhenti karena Mark tiba-tiba bersuara.
“Sayang kamu mau kemana?”
“Mau lihat Allard.” Jawab Luna di iringi gerak tangannya menunjuk ke arah pintu.
“No no no..” Mark bangkit dan menghampiri istrinya itu.
“Allard sudah ada yang merawatnya, tapi aku di sini tidak ada yang merawat. Tidak bisa dibiarkan. Kamu harus tetap di sini.”
Hah? Berkerut kening Luna mendengar kalimat Mark. Apa maksudnya coba?
Tiba-tiba tubuh Luna sudah melayang di udara. Ah, dia sudah berada dalam gendongan suaminya itu!
“Mark, aku hanya ingin melihat anakku. Aku ingin menyusuinya sebentar.” Dada Mark dipukul-pukulnya.
“Tidak perlu. Stock susu kamu masih banyak di dalam freezer dan tidak perlu juga mengkhawatirkan keahlian para baby siter pilihan keluarga Rendra.” Ujar Mark sambil membaringkan tubuh Luna di ranjang.
Luna sudah menarik muncung panjang. Seperti inilah kalau sudah di rumah, suaminya ini pasti selalu ingin bermanja.
“Tidak berhenti manyun-manyun? Nanti aku cium baru tahu. Jangan salahkan apa yang akan terjadi selanjutnya nanti.”
Cepat Luna menekup kedua tangan di bibirnya. Jangan sampai! Nanti hancur tubuhnya dibuat suaminya itu. Tidak bisa di percaya suaminya ini. Bekas operasi di perutnya juga belum sembuh seutuhnya.
Mark menyimpan tawa melihat istrinya itu. Tahu takut. Diancam dulu, baru patuh. Huh!
Mark kembali melabuhkan bokong di ranjang, Luna beringsut untuk memberi tempat pada Mark. Tangannya masih menekup mulut. Takut saja jika Mark nanti mencuri kesempatan.
“Kenapa kamu terlalu jauh?” berkerut kening Mark melihat jarak antara mereka. Bisa dua orang lagi tidur di tengah-tengah itu.
“Waspada. Kamu mana bisa dipercaya.” Jawab Luna spontan. Dia juga teringat di masa kehamilan, bahwa dia sering menolak Mark. Dia takut suaminya itu balas dendam sekarang.
Mark tertawa keras mendengar jawaban Luna. Isrtrinya sungguh berfikiran dia ini lelaki pervert. Haha.. tidaklah! Dia tahu kondisi dan keadaan. Istrinya belum begitu sehat dan istrinya juga perlu waktu. Dia bukanlah pria yang tidak tahu apa-apa tentang perempuan.
“Sini, sini..” pinta Mark diiringi dengan gerak tangannya.
“Tidak mau.”
“Keras kepala ya.” akhirnya Mark yang mendekat. Lengan istrinya di tahan ketika Luna hendak kabur.
“Jangan takut. Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya ingin seperti ini. Just like this.” tubuh istrinya itu di dekap penuh kehangatan. Luna yang awalnya meronta akhirnya berhenti setelah ikut merasakan nyaman. Ah, Tuan muda ini memang sangat pandai menjinakkannya.
“I love you.” Ujar Mark, lalu mengecup penuh sayang ubun-ubun istrinya itu.
Luna tersenyum tipis, “I love you too.” Matanya di pejamkan rapat menikmati kehangatan malam ini. Dia berharap semoga kebahagian terus menghampiri keluarganya. Pun jika ada masalah, semoga dia selalu diberikan hati yang kuat untuk menghadapi semuanya.
Bersambung…
__ADS_1
Jangan heran jika banyak konflik ya, karena cerita ini kemungkinan tidak banyak Eps lagi akan tamat. InsyaAllah akan selesai dalam bulan ini. Makanya otor perlu selesaikan satu persatu masalah yang ada. Agar tamatnya cerita ini nanti tidak gantung.