
Rangga mengumpulkan 3 orang menyusup itu. penyusup yang bernama Leo di penuhi darah dan bisa jadi dia juga mengalami cidera tulang karena Key mendorongya ke tangga dan berguling sebanyak 40 anak tangga.
Key melepaskan perban di mulut penyusup itu.
“Aishh, kau kejam juga Key. Lihatlah, penyusup yang kau atasi terlihat sangat kasihan.” ucap Mark.
“Haha.. aku tidak akan tanggung-tanggung jika berurusan dengan tikus-tikus seperti mereka. Apalagi aku menemukannya di kamar Luna, kemarahanku semakin tak bisa di tahan.”
“Key kau sangat keren. Apalagi saat kau mendorong penyusup ini ke tangga dan setelah itu kau muncul dengan memapah Luna. Waahh itu benar-benar keren. Aku seperti melihat sebuah scane romantis di dalam sebuah drama. Aku pengagummu.” puji Rangga pada sahabatnya itu.
“Apa aku terlihat seperti seorang pangeran yang sedang melindungi ratunya.”
“Tentu saja.”
Mark tersenyum kecut mendengar percakapan Rangga dan Key. Dia merasa Rangga terlalu melebih-lebihkan.
Luna senyum melihat interaksi 3 orang pria menyebalkan sekaligus pria yang selalu melindunginya setiap saat.
“Perkiraanku benar, Rangga tidak hanya sebatas orangnya Mark. Mereka memiliki hubungan yang sangat dekat dan kuat. Melihat mereka bertiga begini sangatlah hangat dan nyaman di mata. Membuatku merindukan Hyena saja. Hump.. tapi dia sekarang benar-benar sangat sibuk, kami tidak punya waktu untuk berkumpul seperti masa sekolah.” bisik hati Luna.
Rangga mengikat 3 penyusup itu dan membawanya ke ruang bawah tanah dengan cara di seret seperti hewan peliharaan.
Sesampainya di ruang bawah tanah, Key dan Rangga melempar 3 tikus itu dengan kasar. Sehingga 3 orang itu saling bertumbukan dan terjatuh.
Mark geleng-geleng kepala melihat tindakan Key dan Rangga.
“Melihat mereka seperti ini, aku merasa sudah bergaul dengan mafia saja.” gumam Mark.
Mark menyerahkan 3 penyusup itu pada Key dan Rangga untuk di introgasi. Dia menyerahkan sepenuhnya, terserah Key dan Rangga menggunakan metode seperti apa. Terserah mereka mau apakan 3 tikus itu, asalkan bisa mendapatkan informasi siapa yang mengirim mereka.
***
Mark kembali ke ruang tengah, dimana di sana dia mendapati Luna sedang berjongkok tak sempurna dengan sedikit meluruskan kakinya yang sakit ke samping. Dia berusaha membangunkan pelayan yang masih tak sadarkan diri.
Luna menusuk-nusuk lembut pipi pelayan dengan telunjuknya.
“Kakak, kakak, bangunlah! Kenapa kalian semua bisa begini?” celoteh Luna.
Pelayan itu tak bergerak sama sekali. Kemudian Luna berpindah ke pelayan lain dan melakukan hal yang sama. Mark tersenyum gemesh melihat tingkah Luna.
Mark mendekati Luna “Hem, hem.. apa yang kau lakukan?” tanya Mark seolah-olah dia baru datang.
Luna langsung menengadahkan kepalanya.
“Mark apa yang harus kita lakukan untuk menyadarkan mereka? mereka tidak boleh begini. Lantainya dingin, kan kasihan.”
Mark melihat jam tangannya, “Mereka akan sadar sebentar lagi. Kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka!”
Luna berdiri, tapi tiba-tiba kakinya tidak stabil dia terhuyung-huyung seperti akan terjatuh. Mark dengan cepat menangkap Luna.
Sekarang Luna berada dalam dekapan Mark, mereka saling bertatapan. Luna sangat terkejut sekaligus juga malu, dia berusaha mendorong tubuh Mark. Tetapi, pria itu menahan tangan Luna.
“Jangan melawan lagi! kakimu belum sembuh.” dengan Nada marah.
Luna mengalihkan pandangannya dari tatapan Mark. Pipi Luna menjadi sedikit merah sekarang.
Mark menggendong Luna ke sofa dan mendudukkan Luna dengan lembut. Kemudian Mark mengangkat kedua kaki Luna ke sofa dan meluruskan keduanya. Luna hanya bisa diam mematung. Dia tidak ada keberanian lagi untuk membantah Mark.
Sekarang Mark duduk di ujung kaki Luna. Dia memegangi kaki Luna dengan lembut dan memperhatikannya dengan serius.
“Apa aku perlu memijatnya lagi?” Mark menatap Luna.
Luna terkejut, “Hah? aku rasa tidak. Ini akan segera sembuh.” Luna tersenyum canggung.
Begitupun Mark, dia tersenyum. Tetapi, dia tetap memijat lembut kaki Luna.
“Aku bilang tidak perlu.” dengan cemberut.
“Ini hanya pijatan biasa, tidak sama dengan pijatan sebelumnya.”
Luna menceloteh dalam hatinya.
“Ya.. terserah kamu saja, jadi percuma kamu menanyakan pendapatku. Kamu memang bisa bersikap lembut tapi Benar-benar selalu ingin mendominasi. Aku merasa kasihan dengan perempuan yang akan menjadi masa depannya nanti. Punya pasangan seperti ini, pasti sangat menyesakkan. Tidak bisa bebas, hanya bisa menuruti ucapannya. Aku doakan semoga perempuan itu mempunyai hati yang lapang sehingga bisa menerima semuanya. Terutama sifatnya yang kadang-kadang kasar seperti seorang mengidap Paranoid itu. Huhu.. itu sangat menyeramkan.”
Salah satu pengawal sadarkan diri. Dia bangun dengan memegangi kepalanya. Dia masih terlihat mengantuk. Pandangannya di edarkan ke sekitarnya. Dia terperanjak sekaligus kelihatan sangat bingung. Kemudian di susul dengan yang lainnya, juga mulai sadarkan diri, diapun membantu temannya untuk bangun.
Sesaat kemudian mereka baru sadar jika Mark dan Luna sedang menatap mereka.
“Eh tuan, maafkan kami tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Apa tuan dan nona terluka?”
Tiba-iba pengawal dari Luar juga berbondong masuk meminta maaf. Begitupun dengan pelayan yang berada di dapur dan tempat lainnya.
Semuanya sudah berkumpul. Mereka semua meminta maaf pada Mark. Mark sama sekali tidak menyalahkan mereka, karena asap itu memang tak akan bisa di hindari, jika memang sudah di hirup maka efeknya akan segera bereaksi.
Tapi tidak semerta memaafkan begutu saja, dengan bijak Mark menasehati mereka dengan nada yang tegas. Agar lain kali mereka harus lebih ekstra hati-hati dan menyuruh agar mereka membuat pertahanan yang lebih kuat.
“Tempat ini memang selalu di pantau oleh berbagai pihak. Tapi baru kali ini kita kebobolan, saya harap tidak akan ada untuk kedua kalinya.”
__ADS_1
“Baik tuan. Kami pasti akan lebih waspada dan hati-hati ke depannya”.
“Bagus. Kalian harus mengganti semua perkakas dan membuang air serta persedian yang ada di dapur! Aku melihat mereka meracuninya. Dan kalian juga harus membawa mesin pendekteksi racun dan pendeteksi alat elektronik, cek semuanya hinga seluruh sudut ruangan. Siapa tau mereka sudah memasang perekam suara atau semacamya. Penyusup itu sedang di atasi oleh Key dan Rangga. Sekarang kalian kembalilah ke tugas masing-masing!”
“Kami laksanakan.” dengan serentak.
“Ta-tapi apakah ada yang terluka?” tanya kepala pengawal dengan gugup karena khawatir dan merasa bersalah.
“Yang terluka hanyalah penyusup itu. Kalian tidak perlu meragukan kemampuan tuan kalian.”
Mendengar ucapan Mark, Luna menggelengkan kepala.
“Sangat menyenangkan ya, bisa menyombongkan diri.” gumamnya.
“Syukurlah tuan.” ucap mereka lega.
Para pengawal dan pelayan tersebut membungkuk memberi hormat kemudian berjalan mundur dan bubar dengan teratur.
****
Mark, Key dan Rangga berdiskusi di sofa ruang baca. Mereka membahas dan mengalisa kejadian siang tadi. Karena penyusup itu belum juga mau mengaku.
Strategi yang di gunakan penyusup sangat berbeda dengan biasa yang di alukan Jhon. Oleh karena itu mereka harus menganalisa dengan teliti dan hati-hati.
Mereka juga memikirkan siapa-siapa saja yang memusuhinya dan mengalisa strategi masing-masing musuhnya tersebut.
2 jam kemudian mereka sudah menemukan titik terang, tapi mereka belum bisa memastikan. Mereka memilik 3 musuh sebagai praduga awal. Dimana Jhon masih termasuk dalam 3 praduga tersebut. Mereka memang harus tetap mendengar pengakuan dari mulut penyusup itu.
“Kerja bagus hari ini.” ucap Mark sambil menepuk-nepuk pundak Key dan Rangga.
Key dan Rangga saling bertatapan dengan muslihat licik.
Mark menyadari itu.
“Hei hei.. kalian jangan main-main denganku.” ucap Mark sudah merasa khawatir.
Key dan Rangga tidak peduli. Mereka mendekati Mark. Rangga memegangi tangan Mark ke belakang, Mark berusaha meronta tapi Key langsung menjalankan aksinya.
Key menggelitiki Mark, membuat Mark tertawa terjungkal menahan geli. Mark meronta-ronta dengan menendang-nendang. Karena ada meja di depan Mark, Key menggeser meja tersebut.
Mark mengambil nafas lega, tapi setelah selesai menyingkirkan meja. Key kembali menggelitiki Mark. Semua kata keluar dari mulut Mark. Key dan Rangga tertawa Puas, karena telah mengerjai sahabatnya itu.
“Sudah, sudah! kalian jangan begini lagi. Kita sudah dewasa!” ucap Mark di tengah-tengah tawanya yang menahan geli.
Tapi mereka tak mendengarkan Mark.
Key berhenti menggelitik. Mark langsung terkapar tak beraturan di sofa.
Rangga melepaskan tangan Mark. Dengan spontan Mark langsung meluncur ke bawah dengan kaki tebuka lebar. Dera nafasnya sangat tak beraturan dan badannya terasa tak bertenaga.
Key dan Rangga pun ikut duduk di samping kiri dan Kanan Mark. Mereka menyandarkan kepalanya di bahu Mark yang lebar.
“Kalian menyingkirlah dariku!” Mark menolak kepala kedua temannya.
Mereka merespon ucapan Mark hanya dengan menggelengkan kepala dengan ekspressi yang imut.
“Tunggu saja, kalian pasti akan ku balas.”
Key memegangi tangan Mark.
“Balaslah!” sambil menepuk-nepukkan telapak tangan Mark pada pipinya.
Dengan kesal Mark menarik tangannya.
Mark mengatur nafasnya sembari memejamkan mata.
“Sepertinya aku harus memulangkan Luna ke China dengan segera.” mata Mark masih terpejam. Pria itu tiba-tiba berbicara serius.
Key dan Rangga terkejut dengan ucapan Mark. Keduanya mengangkat kepala mereka dari baru Mark.
“Apa merasa tidak bisa menjaganya di sini?” tanya Rangga.
“Bukan aku merasa tak bisa menjaganya. Tapi aku tidak yakin bisa selalu ada tetap di sampingnya. Lagian dia juga sudah memintaku untuk mengizinkannya pulang lebih cepat.”
“Jika itu menurutmu lebih baik, maka lakukanlah.” ucap Key.
“Aku masih harus mengurus beberapa hal dan membutuhkan waktu 4 hari lagi paling cepat untuk menyelesaikannya. Key aku mempercayakan Luna padamu. Kau pulanglah dengan Luna besok!”
Key terkejut dengan ucapan Mark, “Kenapa begitu?”
“Kau masih harus mengurusi perusahaanmu. Tidak baik jika terlalu lama membiarkan sekretarismu mengurus semuanya.”
“Urusan perusahaanku tak masalah. Tapi karena kau mempercayakan Luna, baiklah aku akan kembali dengannya.”
“Aku juga akan mengirim kembali pengawal untuk memperhatikan Luna dari kejauhan. memperkuat keamanan di kediaman Luna dan perusahaan. Dan kau Key, cukup memantau saja nantinya.”
Key mengangguk menyetujui perkataan Mark.
__ADS_1
“Huftt, sementara aku dan Rangga akan menyelesaikan hal-hal yang masih tersisa di sini. Semoga apa yang kita rencanakan bisa berjalan dengan baik”
***
Tengah malam Mark mendatangi kamar Luna. Dia mengambil Kursi dan duduk dengan terus memandangi wajah Luna yang tidur dengan wajah tak damai. Luna gerak kiri dan kanan. Dia tidur dengan sangat tidak tenang.
Mark memegangi tangan Luna, sambil mengusap kepala Luna.
“Uuush uuushh, tidurlah dengan tenang.” ucap Mark pelan seperti menenangkan anak kecil. Tapi ajaibnya, Luna memang mulai tenang. Ekspressinyapun juga terlihat jauh lebih tenang dari sebelumya dan juga tiba-tiba dia terlihat seperti tersenyum.
Mark terus memandangi wajah Luna. Seketika berbagai bukti, ucapan Jia Ming tentang papa Luna terbayang di pikirannya. Semuanya terlintas seperti sebuah kaset yang mainkan.
“Luna, aku sudah memverifikasi semuanya. Mulai dari bukti yang ku temukan dulu, penjelasan Jia Ming serta analisa-nalisaku dan perkiraan dengan berbagai kemungkinan. Sampai sekarang 75% membuktikan papamu memang tidak bersalah. Aku harap aku akan segera memenuhi persenan itu dengan kesadaran papa dan mamamu. Mereka harus sehat seperti semula. Mulai sekarang aku berjanji akan selalu melindungimu dengan seluruh kekuatan dan kemampuanku. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu apalagi membahayakanmu. Aku akan menepati janjiku. Maafkan aku jika beberapa bulan ini sering menyakiti hatimu. Dan maafkan aku, karena aku akan tetap memainkan drama salah paham ini denganmu. Aku hanya akan menyerahkan orangtuamu saat mereka sehat. Saat ini aku tidak akan memberitahumu apa-apa. Aku akan menebus kesalahnku, saat orangtuamu kembali sehat. Saat itu kau dan orangtuamu boleh menghukumku.” ucap Mark sembari mencium tangan Luna.
***
Pagi hari Mark, Key dan Rangga sudah berpakaian dengan Rapi. Sebelumnya Mark sudah menyuruh pelayan untuk melayani Luna dengan baik pagi ini dan mendandani Luna.
Mark menjemput Luna ke kamarnya.
' tok tok tok ' pintu kamar diketuk.
Pelayanmu membukakan pintu,
“Tuan muda, silahkan masuk.”
Mark masuk dengan tangan kirinya di sembunyikan di belakang.
Luna menoleh dengan cemberut ke Mark.
“Mark ada apa hari ini? kenapa kamu menyuruh mereka mendandaniku? Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Luna, pagi ini hari terakhirmu di sini. Aku mengizinkanmu untuk kembali ke China.” Mark senyum manis.
“Benarkah? Kau tidak membohongikukan?” tanya Luna sangat bahagia.
“Tentu saja tidak. Mana mungkin aku membuat drama kebohongan di pagi hari yang cerah ini.”
“Terina kasih Mark. Kau tenang saja aku bisa menjaga diriku, dan kau lihat sekarang kakiku juga hampir sembuh. Ini tidak sakit lagi. Aku rasa, besok aku sudah bisa menggunakan high heels.” dengan sangat antusias.
Mark mendekati Luna “ Bodoh, kau jangan menggunakan high heels dengan cepat. Dalam beberapa minggu ke depan kau harus tetap menggunakan Flat santai saja.”
Mark membungkuk di depan Luna dan mengeluarkan kotak yang berada di tangan kirinya.
“Apa itu? apa juga ada hadiah terakhir ku di sini? “ tanyanya penasaran.
Merk tersenyum dan membuka kotak tersebut. Ternyata isi dari kotak itu adalah Flat mewah keluaran terbaru dari Gucci.
Mark melepaskan sandal tidur yang di gunakan Luna.
“Apa yang kau lakukan?” Luna menarik kakinya.
“Aku akan memasangkannya untukmu.”
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” tolak Luna.
Luna melihat ke pelayan yang sedang memandangi mereka dengan senyum-senyum. Malunya.....
“Kau patuh sajalah. Apa kau ingin membuatku malu di depan pelayanku?”
Luna terpaksa menurut.
“Mark, kau sangat berlebihan. Aku benar-benar malu meski hanya 3 orang pelayan yang memandangiku.” gumam Luna.
Setelah selesai memasangkan flat untuk Luna, Mark langsung berdiri.
“Mari kita ke bawah.” sambil mengulurkan tangan.
“Ya Tuhan.. sekarang sel otaknya yang mana lagi yang rusak? Ini hanya sarapan kenapa harus dengan adegan ini.” bisik hati Luna.
Luna hanya bisa menurut. Dia memberikan tangannya pada Mark dan berdiri.
“Waahh... tuan dan nona sangat serasi.” dengan spontan ucapan itu keluar dari mulut pelayan
“Waahh.. saya tidak sabar melihat tuan dan nona menikah. Tuan jika tuan dan nona menikah tolong selenggarakan pesta kedua di Cartagena. Kami ingin melihatnya juga.” pinta mereka.
“Eh,apa-apaan ini?” Luna terkejut mendengan ucapan pelayan tersebut.
“Tentu saja.” jawab Mark.
“Waah.. kami semakin tidak sabar menunggu hari itu datang.”
Mark dengan cepat langsung menatap Mark dan Markpun menatapnya.
Mereka saling bertatapan. Luna menggelengkan kepala dengan ekspressi tak percaya degan jawaban Mark. Mark membalas Luna dengan senyuman jahat seperti dia senang mengerjai Luna.
“Aaaa.. lagi dan lagi mengerjaiku.” batin Luna meronta.
__ADS_1