
“A-apa maksudmu?” tanya Jhon terbata-bata.
“Apa kau fikir aku ini bodoh? heh, aku tau semuanya.”
“Apa yang kau ketahui?” tanyanya lagi. Jhon terlihat semakin resah, membuat Mark tersenyum penuh makna.
“Aku masih perlu mengatakannya padamu ya?” sambil menangani pistolnya membuat Jhon mundur ketakutan.
“Kau takut?” tanya Mark dengan sedikit tertawa. “Kau tau kecepatan peluru ini?” mengarahkan pistonya ke arah Jhon dengan posisi tembak.
“Mark..” lirih Jhon sambil menggelengkan kepalanya.
‘dorr..’
“Arhh..”
Bruhgg.
Jhon membulatkan matanya. Lalu melihat kebelakang. Tenyata yang di tembak oleh Mark adalah orangnya yang bersembunyi di sisi dinding belakang. Sepertinya ingin menyelamatkan dirinya. Walaupun gagal, Jhon menarik nafasnya lega. Bukan dia yang di tembak.
Jhon menoleh pada Mark yang menatapnya dengan senyum menakutkan. Dia tahu, bahwa nyawanya pasti tidak ampun bagi Mark.
“Aku sudah menyiapkan pistol khusus untuk menghabisimu. Jadi selagi aku belum mengeluarkannya, ku beri kau kesempatan untuk mengakui dosamu.” Tutur Mark dingin.
Jhon tidak berucap sepatah katapun. Dia malah menundukkan kepalanya.
“Kenapa?” tanya Mark meremehkan.
“Aku tidak punya apapun untuk di katakan.” Jawab Jhon lemah.
“Ou.. berarti kau sudah siap untuk semuanya.” Mark memberikan isyarat matanya pada Rangga. Rangga pun menepuk tangannya 2 kali. Di pintu muncullah Keni dan seorang gadis kecil yang di seret kasar oleh orang-orang Mark.
“Kau..” eram Jhon penuh kemarahan. Apalagi melihat tangan terikat dan mulut di lakban pada istri dan putrinya. Keni berderai mata dan membuang muka darinya. Sementara putri kecilnya menggelengkan kepala kecewa padanya.
“Iblis. Kau jangan melibatkan mereka lagi. Mereka tidak tahu apa-apa.” teriak Jhon kesetanan, membuat Mark merasa puas dengan pemandangan ini.
“Iblis? Haha.. pandai sekali mulutmu berucap. Lalu selama ini kau anggap apa dirimu yang telah membunuh ayah dan kakekku?” ekspresi Mark menggelap. Semua dendamnya muncul ke permukaan.
“Aku mohon lepaskan mereka.” tutur Jhon menahan kemarahan. Dia menantang tatapan mata Mark. “Kau mau nyawaku?” mendekat. “ Silahkan! Kau bisa membunuhku sekarang. Ayo bunuh aku.” Dia bahkan mengeluarkan senjata apinya di balik jasnya dan memberikannya pada Mark. ”Tembaklah!” mengarahkan pistol tersebut di keningnya.
__ADS_1
Mark kembali tertawa. “Kau sungguh ingin mati?” tanyanya membuat Jhon bingung.
“Apa maksudnya?” bisik hati Jhon.
“Tidak semudah itu!” menarik tangannya yang di pegangi Jhon. “Akui dosamu!” berbalik badan membuat Jhon semakin ketakutan. Dia takut Mark memberi isyarat yang membahayakan istri dan putri kecilnya.
"Aku akui." ucap Jhon cepat. "Ayahmu tidak bersalah. Bukan ayahmu penyebab kematian adikku. Musuhku yang membunuhnya." tuturnya dengan nada bergetar.
"Mereka memanfaatkan situasi. Menjadikan ayahmu kambing hitam untukku. Memanfaatkan kemarahan dan dendamku melihat adikku sakit hati karena di tolak ayahmu. Maafkan aku. Aku baru mengetahui ini. Oleh karena itu aku bersembunyi darimu. Setalah aku membalas kematian adikku pada orang yang tepat, aku mengambil identitas orang lain agar kau tidak menemukanku. Aku takut, aku tahu kau pasti murka. Maafkan aku.. cukup aku saja. Jangan libatkan keluargaku. Bunuh saja aku." pinta Jhon sungguh-sungguh.
Mark bergeming. Dia juga sudah tau kebenarannya, hanya saja dia ingin mendengar penjelasan Jhon. Pengakuan dosa dari Jhon yang telah membunuh orang-orang terkasihnya.
"Kau pikir aku akan berbelas kasihan padamu? heh, kau harus merasakan apa yang aku rasakan. Mati saja tidak cukup untukmu." balas Mark sakarstik. Membuat tubuh Jhon menegang.
Rangga tepuk tangan kembali. Jhon semakin cemas. Apalagi ini pikirnya?
Beberapa orang dengan badan kekar masuk. Mereka langsung menyeret orang Jhon yang telah di kendalikan Mark sebelumnya. Mereka sepenuhnya belum bisa dipercaya. Harus tetap waspada.
“Bawa semuanya ke Markas” perintah Rangga.
Jhon bingung ketika dirinya juga di seret oleh orang berbadan kekar tersebut. Dia menoleh kebelakang. Darahnya mendidih ketika melihat istri dan putrinya di suruh duduk menunduk dan senapan api di todongkan ke kepala keduanya.
“Aku akan akan memperlihatkan vidionya padamu nanti.” ejek Mark dengan tawanya.
Sementara Jhon semakin kesetanan, dia menangis dengan teriak histerisnya. Sungguh dia tidak ingin lagi keluarganya terkena dampak atas dosanya.
"Jangan lukai istri dan putriku.. aku mohon." Tidak ada yang memperdulikan rintihannya. Jhon semakin menggila. Terus berusaha melepaskan diri dan memohon agar tidak menyakiti orang terkasih.
Baru beberapa jam putra dan putrinya di makamkan. Dan sekarang istri dan putri kecilnya juga akan bernasib sama.
Mark dan lainnya juga sudah keluar dari ruangan. Tinggallah Keni dan putri kecil Jhon bersama 2 orang yang menodongkan senjata di kepala mereka.
Rangga memberikan isyarat anggukan kepala pada dua pria kekar itu. Merekapun mengangguk mengerti. Ditanganinya senapannya dan pintu ruangan tersebut perlahan tertutup.
Mata Jhon membulat. Dia menggelengkan kepalanya frustasi, terdengar jelas olehnya suara senapan yang sedang ditangani.
‘ dor….’ Dua tembakan serentak dari dalam.
“Tidak……….” Teriak Jhon menggila. Dia melemah. Tangisnya tergugu, mendengar suara tembakan yang entah bagaimana menghancurkan istri dan putri kecilnya di dalam sana.
__ADS_1
Mark dan Rangga tersenyum puas melihat ketidakberdayaan Jhon.
***
Di luar mansion tampak Anette dan 3 oarang anaknya keluar dari mobil. Saat itu juga semua orong keluar dari mansion.
“Sayang,” Charles langsung berlari haru menuju istrinya. Begitupun Anette juga langsung menghamburkan diri memeluk suaminya.
“Sayang kau baik-baik saja? aku merindukanmu.” Tutur Anette dengan air mata yang memuncah.
Tampak Jark putra Charles saling melempar senyum dengan Mark. Tatapan penuh terimakasih pada pria yang telah menyelematkan daddy nya.
“Daddy..” Jark mengajak Aksel dan Elin adik kembarnya ikut bergabung dengan daddy dan mommy nya.
“Kalian semunya baik-baik saja?” Charles memperhatikan istrinya.
“Kami semua baik-baik saja.” jawab Anette dengan haru.
“Syukurlah. Kemarilah, daddy merindukan kalian” memeluk Jark, putranya yang sudah dewasa. “ Terimakasih sudah melindung mommy dan si kembar.” Ucapnya bangga, lalu memeluk dan mencium anak kembarnya.
Jhon masih tergugu. Dia berjalan pasrah diseret. Dia menoleh pada keluarga Charles. Keluarga yang telah di manfaatkannya untuk menyembunyikan identitasnya lebih dari satu tahun ini.
Aksel dan Elin terkejut. Kenapa pria itu sangat mirip dengan daddy nya? Namun mereka tampak takut ketika Jhon tersenyum lembut pada mereka.
“Dia bukan daddy. Inilah daddy kita.” jelas Jark cepat pada adiknya. Si kembar mengangguk paham, tali batin antara orang tua dan anak begitu kuat. Percaya bahwa yang di samping mereka inilah daddynya.
Keluarga itu kembali berpelukan hangat. Mark tersenyum, melihat keharmonisan pemandangan di depannya. Mata Mark berkaca-kaca. Teringat akan ayah dan ibunya yang dulu juga selalu memberikan kehangatannya padanya.
“Biarkan dulu mereka. Nanti antar mereka pulang.” Titah Mark pada orangnya. Lalu dia dan Rangga langsung masuk ke dalam mobil.
Bersambung…
.
.
Sebelumnya aku sudah sampaikan di GC ya, bahwa aku gak bisa up teratur sekarang. Maaf, aku lupa kasih tau di sini. Hingga kakak yang gak masuk group mungkin bingung kenapa sekarang aku Up nya gak tiap hari lagi. Gak up, tanpa pemberitahuan lagi 😅
Maap ya, aku sungguh lupa ngasih taunya 😀
__ADS_1
Oh iya. Mengenai vidio masih dalam proses ya kakak ☺️