
Luna masih sibuk di kamarnya. Dia sudah mengganti jubah handuknya dengan pakaian tidur.
Berbaring nyaman di sofa dengan laptop yang diletakkan di meja portable tepat di atas perutnya. Potongan buah segar, air putih dan susu sebagai cemilannya.
Angguk-angguk paham dengan apa yang di bacanya. Berbagai artikel seputar kehamilan dia telusuri.
Test kehamilan menggunakan test pack dalam masa kehamilan 1 minggu akan sulit di deteksi, bahkan menggunakan alat test pack paling sensitive sekalipun. Membaca hal itu, Luna mengurungkan niatnya untuk test pack. Karena jika di hamil, usianya pasti sangatlah muda. Dia memutuskan untuk menjalani hal ini seperti biasa, menikmati masa-masa mendebarkan ini.
Yang penting dia sudah mengetahui ada tanda-tanda pada dirinya, tanpa terlalu menanamkan harapan yang menjulang tinggi, agar fenomena kehamilan palsu seperti artikel yang sempat dibaca tadi tidak melandanya.
Tadi Luna membaca tentang kehamilan palsu atau dalam istilah medisnya pseudocyesis. Dimana kehamilan palsu merupakan kondisi yang membuat seorang wanita percaya bahwa dirinya hamil, padahal tidak. Wanita itu bahkan memiliki gejala umum kehamilan, namun tidak ditemukan janin di dalam rahimnya.
Belum di ketahui penyebabnya secara pasti, tapi para ahli percaya bahwa kondisi emosional dan psikologis lah yang mengelabui tubuh untuk berfikir bahwa kehamilan memang terjadi. Dimana otak wanita tersebut salah menginterpertasikan gejala yang di alaminya.
Dalam artikel tersebut menyatakan bahwa kehamilan palsu kerap melanda wanita yang berumur 40 tahun ke atas yang menginginkan kehamilan, wanita yang sering keguguran, wanita yang menginginkan kehamilan dan wanita yang segera ingin mempunyai anak karena untuk di pengaruhi lingkungan.
Mengerikan! Dia termasuk dalam lingkaran tersebut. Dimana suami dan keluarganya menginginkan dia untuk segera hamil. Oleh karena itu Luna mempersiapkan dirinya sebaik mungkin agar tidak terjerumus pada kehamilan palsu ini.
Luna memutuskan untuk konsultasi ke dokter setelah urusan di Prancis selesai. Namun dia akan lebih memperhatikan pola makan dan istirahatnya sebaik mungkin dari sekarang.
Luna sudah merencanakan semuanya dengan sebaik mungkin. Berkat artikel-artikel ini dia mengetahui banyak hal. Tentunya artikel itu dapat di percaya, karena Luna mengunjungi situs resmi para dokter dan ahli kandungan.
“Hufft..” Luna membuang nafasnya perlahan dan meregangkan jemarinya.
“Nona.” panggil bi Ina yang di selingi dengan ketukan pintu dari luar. “Waktunya makan malam. Nyonya dan tuan sudah menunggu.”
“Iya bi Ina,” teriaknya.
Luna segera menutup laptopnya, menyingkirkan meja portable dan menaruhnya di meja. Dia keluar dari kamar dengan senyum-senyum. Biarlah semua ini dia pendam sendiri dulu, takutnya bila dia menceritakan pada papa dan mamanya akan menimbulkan dampak lain. Seperti kecewa nantinya, bila kenyataan dia belum hamil.
Sabar dulu, semuanya harus pasti, baru akan ini dia ungkap.
“Ma, pa..” sapa Luna yang langsung duduk di samping tuan Alister dan berhadapan dengan nyonya Aliester. Lalu langsung menyantap makanan yang sudah di sediakan untuknya.
Tuan Aliester dan nyonya Aliester memperhatikan putrinya yang tidak banyak bicara seperti biasanya. Langsung makan dengan lahab dan sesekali tersenyum.
__ADS_1
Tuan Aliester dan nyonya Aliester merasa aneh, Keduanya saling pandang, sorot mata mereka penuh tanya dengan sikap putrinya ini.
“Sayang bagaiamana kabar terbaru dari menantuku?” tuan Aliester memulai pembicaraan.
“Menantu papa baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Tapi selalu doakan yang terbaik untuknya.” Menatap papanya dengan senyum, lalu lanjut makan bahkan mengambil tambahan makanannya.
“Pasti.” Terbelalak melihat putriya kembali menambah menu ke piringnya. Lagi-lagi suami istri itu saling tatap.
“Pa, ma nanti setelah urusan di Prancis berliburlah. Papa dan mama sudah terlalu lama hanya berdiam diri di rumah.” Melirik orang tuanya bergantian. “Orang tua harus lebih bisa menikmati hidup.” Lanjutnya penuh penekanan, karena orang tuanya menatapnya heran.
“Sayang kamu yakin? Dalam keadaan seperti ini?” tanya nyonya Aliester.
“Ma.. Mark kan sudah bilang. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Percaya saja padanya. Lagian, memangnya kita bisa apa? kita juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya.” Ujar Luna memandangi kedua orang tuanya dengan sorot mata meyakinkan.
“Kamu benar. Lalu..” kata tuan Aliester terhenti sejenak. Dia memandangi lekat putrinya. “Lalu bagaimana denganmu?”
“Aku akan segera kembali ke sini. Aku harus melukis, secepatnya aku harus melakukan pameran pa.” jawabnya santai dan menyuapi makanannya kembali.
Gurat senyum langsung tercipta di bibir Luna saat melirik kedua orang tuanya tampak mengangguk kecil. Tanpa protes lagi, itu berarti setuju dengan idenya yang menyarankan untuk liburan.
“Dengan begini aku akan lebih leluasa konsultasi nantinya.”
Pesawat menuju Prancis telah lepas landas.
Bandar Udara Internasional Faa’a, Polinesia Prancis.
Luna dan kedua orang tuanya sudah sampai di Polinesia. Tidak sampai di sini, mereka juga harus melakukan perjalanan darat lagi selama 2 jam. Karena jarak bandara dan Moorea-Maiao cukup jauh.
“Nona..” teriak suara wanita di kerumunan penjemputan.
“Hah?” Luna menghentikan langkahnya, begitupun dengan orang tuanya. membuka kaca mata hitamnya mencari sumber suara.
“Aku di sini.” teriak wanita itu lagi. Dia bahkan membawa kertas besar yang bertuliskan ‘Welcome Aliester Family’s’
Luna dan kedua orang tuanya saling tatap. Terka-menerka siapa wanita itu, karena wanita itu menutupi wajahnya oleh kertas besar yang di buatnya itu. Jika dari suaranya sudah tidak asing bagi mereka.
__ADS_1
“Nona,” soraknya lagi. Kali ini dia menampakkan wajahnya sambil tersenyum lebar.
“Zhaon?” ucap ketiganya kaget. Darimana dia tahu bahwa mereka ke sini? pertanyaan mulai menghujami.
“Zhaon, ini sungguh kamu?” tanya Luna yang sudah mendekat.
“Memangnya siapa lagi nona.” jawab Zhaon sambil tertawa. Lalu dia mengucap salam pada tuan dan nyonya Aliester dengan ramah.
“Kenapa bisa?” tanya Luna masih penasaran. Sementara tuan dan nyonya Aliester merasa hal ini tidak perlu di pertanyakan lagi, ini pasti ulah menantunya yang mengirim Zhaon. Tidak peduli, dan mereka memimpin jalan menuju gerbang mobil yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.
“Ya bisa nona.” Kening Luna berkerut mendengar jawaban Zhaon.
“Apa suamiku yang mengirimmu?” matanya menatap Zhaon menyelidik.
“Iya.” jawab Zhaon dengan anggukan.
“Kenapa bisa? aku bahkan tidak memberitahu dia bahwa keberangkatan di percepat.”
“Memangnya apa yang tidak di ketahui tuan tentang anda nona? Setiap tarikan nafas nona saja tuan tau.” Tawa kecil di ujung kalimat.
“Iya. Benar juga. Kenapa aku bisa lupa jika suamiku seperti manusia super serba tau bahkan apa yang aku pikirkan tak jarang dia tebak dengan benar. Huh, kenapa aku bisa lupa, jika selalu ada sorot mata yang mengikuti secara diam-diam.”
Keluh Luna dalam hatinya. Jika begini, bisa-bisa konsulnya yang sudah dia rencanakan akan sulit lagi.
“Mama dan papa sudah ku atasi. sekarang bagaimana dengan mata-mata? Aaa.. ”
“Lalu kamu ke sini apa tujuannya? Apa yang di rencanakan suamiku?” menatap Zhaon tajam.
“Aku akan menjadi pengawal pribadi nona sekarang. Tuan bilang, jika ada pria yang mengganggu nona, langsung tumbangkan saja.” tawa renyah dari mulut Zhaon.
“Ahk, menantuku memang idaman. Jika begini kami akan lebih tenang berlibur nanti. Ada Zhaon yang menjagamu.” Sambung tuan Aliester dengan tawa tak kalah renyah.
“Ya ya..” Luna hanya bisa mengangguk. Terpaksa menerima saja. Toh, jikapun mau protes, orang yang akan di protes juga tidak ada di sini.
“Sayang, kamu jauh begini masih saja menggemaskan. Memangnya siapa yang akan menggangguku? membuatku semakin merindukanmu saja.”
__ADS_1
Bisik hati Luna tiba-tiba. Cepat sekali mood nya berubah. Wajah cemberutnya langsung berubah senyum manis di bibirnya.
Bersambung…