TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TMABK


__ADS_3

Kedua tangannya mendekap di dada yang tidak lagi berbaju. Otot-otot tubuhnya memang sempurna, tidak ada yang perlu dimalukan. Tapi jika begini di hadapan orang yang senang melihatnya di kerjai, kan kesal juga. Apalgi sambil memasak. Kalau hanya di hadapan Luna saja okey! tidak memakai sehelai benangpun tidak masalah. bukannya dongkol, malah akan lebih senang. Kan kan kan.. 


Mark mengutuk-ngutuk di dalam hati. Bukan pada sang istri, tapi pada Key, Rangga dan Jiang He yang menatapnya mengejek.


Zhaon, Lery dan Nindy sudah tersengih sesama mereka.  Zhaon yang baru saja datang merasa beruntung datang tepat waktu. Kapan lagi bisa melihat tubuh sempurna itu? Mereka seolah lupa siapa pria itu dan suami siapa yang di pandang. Masa bodoh ah! Ini namanya rezeky mana boleh di tolak. Wah… roti sobek, memang sangat menggoda.


Hanya Hanny saja yang geleng kepala dan kasihan pada Mark.  Dia melanjutkan kerjanya. 


Lalu Luna? sudah senyum-senyum sang Nyonya Rendra itu melihat suaminya demikian. 


“Sayang boleh aku memakai apron?” tanya Mark. Kedua tangannya masih mendekap di dada. Bibir di manyun-manyunkan agar sang istri kasihan.


“Tidak!” cepat Luna menggeleng, “Aku ingin melihatmu memasak seperti itu.” tegasnya sekali lagi.


“Ayo lah Mark.. kau jangan sampai membuat keponakan nyeces. Cepat masakan telur mata sapi itu. Jangan membuatnya terlalu lama menunggu.” Ujar Key menyela. Yang lain sudah menahan tawa. 


Rasakan! Ini kesempatan mengolok-ngolokkan si Tuan Muda angkuh ini.


Mark ketab gigi, bibirnya berkedut menahan umpatan. Awas saja kalian, nanti akan ada masanya aku akan membalas. Tangan yang mendekap di dada di turunkan. Dia segera mencapai Teflon.


Waaaahhhh!!!


Zhaon, Lery dan Nindy semakin di buat kagum hingga mulut mereka terbuka karena takjub melihat tubuh Mark.


Kening Luna berkerut. Dia berdecit saat menyadari tiga gadis itu melototi suaminya. Apa-apaan ini? getus hatinya cemburu melihat tiga gadis itu hampir nyeces melihat tubuh suaminya.


“Sayang,” ujar Luna Manja. Dia mendekati suaminya itu. Apron di gapai dan di tutupi tubuh suaminya itu. No.. tiba-tiba dia tidak rela tubuh suaminya menjadi tontonan mata nakal teman-temannya. 


“Sini aku pasangkan.” Ujarnya sambil memasangkan apron tersebut. 


Kenapa tiba-tiba? Tadi tegang urat melarangnya. Meskipun sedikit bingung, Mark hanya menurut saja.


“Cepat lanjutkan kerjamu. Aku sudah lapar!” ujar Key pada Lery yang masih saja terpesona dan lupa menutup mulut.


Lery terkejut, “Ah, iya-iya. Mana sendok..” ucapnya seolah tidak terjadi apa-apa.


Key mencebikkan bibirnya. Tampang saja yang terlihat polos, tapi otak mesum juga. Pantas saja waktu itu Lery seenaknya saja mengusap wajahnya. Key menye-menye sendiri melihat Lery yang sudah fokus memasak.  


Zhaon dan Rangga saling menoleh. Eh, cepat Zhaon melarikan anak matanya. Apakah aku ketahuan melototi tubuh kak Mark tadi? Ya ampun malunya…


Sebelum Rangga menyindirnya, Zhaon langsung meraih mangkuk yang berisikan paprika di hadapannya. Langsung membuat kerja seolah sibuk.

__ADS_1


Sementara itu Jiang He di sana.  Dia menoleh pada Nindy yang berdiri di sampingnya. Dia sadar gadis itu tersengih karena tidak lagi bisa melihat tubuh Mark.


“Kamu menyukainya?”


“Hah?” Nindy terkejut. Dia menoleh pada Jiang He.


“Aku juga punya tubuh demikian. Dan juga lebih keren.” Jiang He tersengih setelah kalimatnya.


Nindy ikut tersengih, “Kapan aku bisa melihatnya?” 


What? Jiang He tiba-tiba frustasi. Dia memang salah memilih lawan. Nindy, Nindy..


“Secepatnya.” Balas Jiang He.


Glek! Salivanya di telan kesat. Kak Key… Aku mau menikah secepatnya….


“Aduh aduh..” 


Semua mata menoleh pada pasangan suami istri yang berdiri di hadapan kompor. Mark memegang sendok dan penutup panik untuk melindungi dirinya dari cipratan minyak. Dia tidak ubahnya seperti captein Amerika yang sedang aksi saja. 


Sementara itu Luna juga sudah tertawa geli di belakang Mark sambil memegang ringan pinggang suaminya itu.


“Sayang ih..” ucap Luna manja di sela tawanya.


***


Seorang wanita cantik, tinggi dan ramping menarik bagasi keluar dari area baggage claim. Matanya meliar memperhatikan sekeliling. Sudah sangat lama dia tidak menjejakkan kaki di Negara ini. Sudah banyak yang berubah.


Dulu negara ini ditinggalkan karena sakit hati. Sekarang dia kembali dengan senang hati. 


Raut wajah gadis itu tampak serius, serta dengan penampilan glamornya sangat jelas menunjukkan bahwa dia adalah gadis yang berkelas. Dia masih berjalan dengan teratur, tiba-tiba dia berhenti. Kaca mata hitam yang terpasang di lepaskan. Bibirnya mengembang senyum saat melihat sosok yang tengah menantinya.


“Tante..” panggilnya dengan ceria. Tangannya juga ikut di lambaikan.


***


Mark menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tertawa bodoh melihat sang istri yang cemberut ke arahnya. Pun yang lainnya turut memandang Mark dengan menahan tawa. Mark kedut bibir melihat teman-temannya yang pun sudah duduk melingkari meja. Hanya dia sendiri yang berdiri sekarang.


“Sayang..” Rengek Luna sambil menatap sepiring telur mata sapi gosong di hadapannya.


“Sorry sayang,” 

__ADS_1


Luna sudah memanjangkan bibirnya. Matanya menatap makan-makan yang sudah berhasil di masak. Namun diantara makanan-makanan di sana, kenapa makanan yang paling dia inginkan yang terburuk. Telur mata sapi gosong! Sementara yang lainnya berhasil.


Hati sebenarnya sedih. Namun Luna tidak mau merusak pesta ini karena Moody's nya. Pesta indoor dibawah langit malam yang cerah ini, tidak seharusnya rusak.


“Okey.. sekarang mari kita mulai pestanya…” ujar Luna sambil mengangkat gelas yang berisikan jus anggur khusus untuknya.


Waaahh!!! Semuanya ikut berteriak. Mereka juga menggapai gelas di hadapan masing-masing. Gelas beradu hingga menghasilkan bunyi. Setelahnya mereka minum dengan rasa bahagia. Kemudian acara makan-makan pun di mulai sambil berbincang. 


Interaksi dari pasangan Nindy dan Jiang He semakin manis. Pun Key dan Lery masih getus-getus manja. Rangga dan Zhaon dingin-dingin mencekat. Hanny yang datang tanpa pasangan hanya sebagai pemerhati.


Meraka makan dengan lahab. 


Di sela mengunyah, Luna masih saja melirik seonggok telur gosong tersebut. Dia telan ludah. Mark menyadari tingkah istrinya itu. Dia merasa bersalah.


“Maafkan aku sayang..” gumamnya.


***


Suasana di ruang yang minim cahaya itu tampak mencekam. Dua orang pengawal sudah tergeletak di lantai dengan mulut yang berbusa. Pintu besi di sana juga tampak sudah terbuka. 


Terdengar suara pintu di buka dari luar. Seorang pria masuk ke sana dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat dua orang temannya sudah tidak sadarkan diri di lantai.


“Apa yang terjadi?” dia berlari cepat ke arah temannya itu dan berusaha membangunkan. 


"Ya Ampun..." dia mencoba merasai denyut nadi di pergelangan temannya itu.


Tiba-tiba…


BUGH! Kepalanya di pukul dengan benda keras dari belakang. 


“Ka.. kamu..” ucapnya tersekat ketika melihat sosok tubuh yang memukulnya. Sosok tubuh dengan menutup wajah dengan kain.


BRUGH! tengkuk pria itu kembali di pukul hingga sudah tidak sadarkan diri. Dia tergeletak di lantai.


Sosok tubuh itu bangkit setelah tiga orang itu berhasil dia tumbangkan. Dia mengambil topi yang di gunakan salah satu pengawal. Lalu kain menutupi wajahnya di buka.


HYENA!


Dia tersengih dengan sorot matanya penuh dendam.


“Finally. Luna Aliester, Mark Rendra, I’M COME BACK!!!”

__ADS_1


Bersambung…


Halo.. masih adakah yang menunggu cerita ini. Yuk tulis di kolom komentar ☺


__ADS_2