TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
MALAM PERTAMA (1)


__ADS_3

“ Hotel? aku kira akan ada sesuatu yang special. Kenapa si tuan muda ini terlalu memaksa jika hanya menginap di hotel. Di rumahku kasur juga sangat empuk, sangat nyaman untuk tidur, ukurannya juga king size.”


Luna menggerutu dalam hatinya, saat dia dan Mark sudah berada dalam lift menuju kamar yang akan mereka inapi.


“ Kenapa sayang?” Mark menyadari Luna masih kesal, terlihat sangat jelas di wajahnya.


“ Tidak apa-apa sayang.” menyeringaikan senyumnya menatap Mark.


Deg, tiba-tiba ritme jantungnya berubah, dia seperti baru menyadari sesuatu.


“ Oh My God, hotel?” Luna mencuri pandang pada Mark. “ Aaa.. dia tidak akan melupakan kesepakatan sebelumnya kan? Mark tidak akan melakukan apa-apa padaku kan?” mencuri pandang lagi untuk menyelidik isi pikiran Mark.


“ Luna, Luna tenanglah. Kamu pasti bisa mengatasinya nanti. tenang, tenang.” Luna mengambil nafas pelan untuk menenangkan dirinya. Dalam hatinya terus berdoa untuk tidak terjadi apa-apa malam ini.


Lift pribadi sudah terbuka, di mana lift itu langsung membawa mereka ke dalam kamar. Sontak Luna juga mengangkat kepalanya utuk melangkahkan kaki ke luar dari lift.


Dan taraa.. dia langsung di sambut dengan sebuah kamar hotel yang super mewah, di mana lantainya sudah di taburi kelopak bunga mawar berwarna merah yang membentuk jalan, sepertinya taburan kelopak mawar itu mengarah pada kamar. Cahaya lampu reman-remang di lengkapi dengan beberapa lilin aroma terapi juga menyala sebagai pendukung untuk menuju suasana romantis.


“ Apa ini?” Luna masih bergumam. Dia serasa ingin tertawa. Apakah kamar pengantin harus begini, di taburi kelopak bunga mawar seperti ini. Meskipun dia pecinta bunga mawar tapi dia tidak pernah menaburi kelopak bunga mawar di kamarnya. Begitulah ekpresi Luna menggambarkan.


Mark mengulurkan tangannya pada Luna, dengan senang hati Luna memberikan tangannya pada Mark, namun debar jantung Luna semakin cepat saat tangan mereka bersentuhan. Mereka menelusuri kamar itu dengan saling berpegangan tangan. Presidential suite yang luas ini tentu tidak langsung menuju pada kamar. Ada dua zona yang memisahkan antara area istirahat dan bersantai.


Luna mengedarka padangannya, dimana kamar yang terletak paling atas ini memiliki teras yang menghadap ke laut dengan panorama yang begitu indah. Tak hanya itu, di teras itu juga di lengkapi dengan teleskop untuk melihat bintang-bintang ketika malam cerah. Namun butiran salju yang berjatuhan di luar, memang lebih tepat untuk mereka melewati malam yang indah ini.


Luna menundukkan kepalanya, mendesah tawa yang bercampur haru. Sudah lama juga dia tidak menikmati pantai. Saat di Cartagena ada terbesit ingin bermain ke pantai, tapi tidak kesampaian. Dan sekarang si tuan muda yang telah menjadi suaminya ini telah memberikannya kejutan yang tak terduga-duga. Seolah-olah si tuan muda ini mengetahui apa saja yang di inginkannya.


“ Kenapa sayang? kamu tidak suka?” tatapan mata Mark menyelidik, khawatir jika Luna tidak senang dengan apa yang sudah dia siapkan.


Luna mengangkat kepalanya, menatap Mark dalam, lalu dia melengkungkan senyum penuh kebahagiaan. “Aku sangat suka sayang, terimakasih karena selalu memenuhi semua yang aku inginkan.” air matanya menetes di sela ucapannya.


“Lalu kenapa kamu menangis?” Mark mengusap air mata Luna dengan lembut.

__ADS_1


“Apa ini air mata bahagia lagi?” Mark langsung menebak, karena memang itulah yang selalu di ucapkan Luna saat dia terharu.


Luna tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Sini!” Mark menarik Luna dalam pelukannya.


“Mark apa kau bisa mendengarkan kata hatiku?” sambil melingkarkan erat tangannya nya di pinggang Mark, mendongakkan wajah, menatap wajah Mark yang tampan.


“ Tentu saja.” jawab Mark dengan tawa ringannya, lalu dia mengecup kening Luna gemas.


“ lJadi, apakah sekarang kau mendengarnya?”


“Iya aku mendengarnya. Hati mu bilang jika kamu sangat mencintaiku dan merasa sangat bersyukur mempunyai suami setampan aku.” Mark berucap dengan senyum menggoda.


“ Apa-apaan. Kamu hanya asal menebak saja. wek.” mencibiri Mark penuh ejekan.


Mark tertawa, menundukkan kepalanya, hingga kepala keduanya bertemu, saling tatap hingga suasana hening. Tangan kanan Mark memegang lembut pipi Luna, lalu beranjak menyusuri rambut Luna.


“Ya Tuhan.. kenapa jadi begini?” Luna merasa cemas, dia sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Di tengah ke kekhawatirannya itu di malah memejamkan matanya, logika menolak tapi hasratnya ingin.


“ Apa?” Luna membuka matanya cepat. Malu sungguh malu, jadi dia saja yang berfikiran terlalu jauh, hingga sudah bersiap pasrah seperti tadi.


“ Benarkah?” suara Luna terdengar sangat canggung, rasa malunya sudah tak tertahankan. Bagaimana bisa dia seperi ini. Bodoh, ingin sekali menampar diri sendiri.


Mark tersenyum tipis melihat tingkah Luna. Tanpa aba-aba lagi dia langsung mencium bibir Luna. Luna hanya mengedipkan mata, masih ingin mencerna apakah ini nyata, atau pikiran anehnya karena tadi sudah berhaharap.


“ Ya.. Luna sadarlah!”


Arh, Luna sedikit mendesah, karena Mark menggigit lembut bibirnya. Baru dia yakin jika ini adalah nyata. Binar matanya tampak bahagia, dia memejamkan matanya, menikmati moment indah ini.


***


“ Aaah.. segarnya. Tubuh ku terasa lebih ringan setelah mandi.” Luna menatap dirinya di kaca. Sambil membalut rambutnya yang basah dengan handuk. Lalu tiba-tiba moment ciuman terlintas kembali di ingatannya.

__ADS_1


Tangannya memegangi bibirnya, kemudian tersenyum malu yang menggemaskan. Wajah bahagia itu tidah bisa dia sembunyikan, meski ada kecemasan dalam hatinya.


Luna masih berdiri di rak baju ganti yang telah di sediakan di kamar mandi super mewah itu. Di sana tertuliskan for tonight. Sepasang baju tidur berwarna kuning yang imut dengan detail gambar sepasang kelinci di punggung dan bagian dada kanan. Tanpa ragu Luna langsung meraihnya dan mengenakannya.


“ Wah ini sungguh seleraku.” Memandangi dirinya di cermin dengan menggunakan baju tidur model kimono.


“ Siapa yang menyiapkannya? Apakah Mark? aa.. aku sudah tidak sabar melihat dia menggunakan ini.” membayangkan Mark mengenakan baju ini dia sudah merasa sangat lucu.


Luna sudah berdiri di depan pintu, entah kenapa dia merasa gugup hingga menghembuskan beberapa kali nafas panjang. Setalah merasa tenang, lalu dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi. Berharap suasana tidak canggung, tapi dia malah di kejutkan dengan pemandangan yang langsung membuat rona pipinya. Di kamar dia melihat Mark yang berbaring sudah telanjang dada di sofa. Luna sungguh merasa aneh, dan tidak terbiasa dengan situasi ini.


“ Ya Tuhan.” Luna langsung berbalik badan, masih sangat malu. Ini terlalu asing baginya.


“ Sudah selesai sayang?” Mark berdiri dan berjalan menuju Luna.


“ Sudah sayang. Sekarang kamu mandilah.” Luna berbicara di balik punggungnya.


Mark mengerutkan dahinya, melihat tingkah Luna yang malu-malu begini membuat dia malah ingin mengerjainya.” Sayang kenapa tidak menatap suamimu ini, apa aku semakin tampan tanpa mengenakan baju?” Mark sudah berdiri di depan Luna.


“ Aaa..” Teriak Luna histeris, Luna berputar balik badan. “ Mandi cepat sana, malam sudah semakin larut.” Celotehnya cepat, seirama dengan langkah kaki seribunya untuk melarikan diri dari Mark.


Mark tersenyum gemas hingga menggelengkan kepala, “ Sayang kenapa kamu sangat menggemaskan?” ucapnya pelan sambil masuk ke kamar mandi.


“ Hah.. syukurlah.” Luna merasa sangat lega saat mendengar suara pintu kamar mandi tertutup.


Bersambung...


.


.


Janganga lupa like dan komentnya.

__ADS_1


__ADS_2