
“Kenapa masih di sini? kalian ketinggalan sesuatu?”
Nicia dan Java Moor menoleh pada sumber suara.
Glek! Mereka telan ludah. Kelat kesat.
“Ti ti tidak.” cepat Nicia munafikkan. Remot control bom ditangannya disembunyikan.
Mark dan James sekedar mengangguk
“Ledakan tadi sebagai ucapan perpisahan. Beginilah di daerah kekuasaan ku bekerja. Mengejutkan bukan?” ujar James Lu santai.
Nicia dan Java Moor tampak lega.
“Baiklah Tuan, jika begitu kami segera kembali.” mereka semua langsung bergegas pergi. menuju kapal.
Nicia dan Java Moor masih punya harapan. Sepertinya ada masalah dengan remot control bomnya, sehingga tidak terjadi ledakan. Baiklah, nanti akan di perbaiki.
Mereka mulai menaiki kapal mewah itu. Sebaiknya kapal mereka bergerak, Java Moor langsung memperbaiki remot control boom. Nicia mengintip di jendela kapal. Tiba-tiba dia melihat Luna dari sisi barat. Luna tampak ingin menghampiri Mark dan James Lu.
“Kenapa aku kesal melihat dia?” getus Nicia sendirian. Nicia mengambil senapan api kesayangannya. DSR-Precision DSR 50 Sniper Rifle.
Jendela kapal sedikit dibuka untuk meloloskan ujung snipernya. Nicia memusatkan tembakan tepat di dada Luna. Dia tidak ragu, karena yakin baik Mark maupun James tidak ada kesempatan untuk membalasnya. Karena di sana terlihat tidak ada senjata yang berati. Toh, kapalnya mereka juga akan semakin jauh.
“Satu orang mati karena sniperku dan selebihnya karena ledakan bom. Estetik sekali.”
Nicia tersenyum sinis, lalu langsung melakukan tembakan.
Sebaik peluru itu menghadang tiba-tiba tubuh Luna di tolak oleh seseorang.
Dor..!
Mark dan James sontak menoleh. Bulat mata keduanya. Pun Chifei yang berada jauh dari Luna juga sudah menekup tangan ke mulut. Ya Lord..
“Argh..” Luna menyeringai. Sakit. Tubuhnya terpental keras. Luna berusaha bangkit, dia terkejut melihat Misya yang sudah berlumuran darah. Tubuh gadis itu bergetar, mana tidak sebuah peluru menembus jantung.
“Misya..” Luna langsung mendapati tubuh Misya yang nyaris tidak bergerak lagi. James dan Mark mengertakkan gigi melihat kapal yang menjauh itu. Manusia biadab! Tunggu saja giliran kalian.
Java Moor menoleh keluar setelah mendengar suara tembakan tadi. Tanpa sengaja tombol control yang sudah di perbaiki itu terjatuh, lalu terinjak.
Tik tik tik
“Bunyi apa itu?” Nicia langsung dapat menangkap dengan jelas. Darn it! Senjata makan tuan. Nyatanya bom yang dipasang oleh Nicia telah dipindahkan ke kapal ini. Pantas mudah saja Mark dan James melepaskan mereka.
Semua orang di dalam sana panik.
BOOOMMM…
Kapal itu meledak dahsyat. Kobaran api dan puing-puing kapal berhamburan.
Sementara di daratan Luna dan Chifei terperanjak dengan ledakan yang sangat kuat dari laut. Luna menahan napas sejenak, lalu tubuh Misya dia peluk erat.
“Misya..” Jerit Luna sekuat hatinya.
Luruh jantung Mark, James dan Chifei ketika sampai di tempat Misya dan Luna. Misya yang sudah tidak bernyawa dan tangis Luna yang memilukan. Mark memaut kedua bahu istrinya itu dan usap untuk menenangkan.
***
Luna memandang sepi kuburan di hadapannya. ‘Misya’ tertulis di batu nisan.
Tanah masih basah dan dengan banyak taburan bunga. Ini sudah lima hari, Luna masih rutin datang berkunjung.
Air mata yang menetes diusapnya perlahan. Bagaimana dia bisa membalas kebaikan Misya. Jika Misya tidak datang menolak tubuhnya, sepatutnya dialah yang menempati makam ini, bukan? Semasa Misya tinggal bersamanya, dia tidak pernah ada konflik langsung dengan gadis ini, hal itu membuat Luna semakin bersalah. Kenapa Misya begitu baik sehingga mau berkorban nyawa deminya.
“Sayang..” panggil Mark dari belakang. Dia senantiasa menemani Luna di sini, “Sudahlah jangan salahkan diri lagi. Misya berbuat demikian pasti ada sebab dan semua ini juga sudah ditakdirkan seperti ini.” ujar Mark membujuk.
__ADS_1
Tangis Luna malah semakin tergugu. Dia tidak bisa menahan emosinya. Misya terlalu baik padanya. Dengan apa dia mampu membalas?
Mark mengambil tempat di sebelah istrinya itu. Tubuh Luna di bawa dalam dekapannya. Mark paham, Luna itu butuh waktu untuk bisa menerima semua ini dan memaafkan diri sendiri.
***
DUA BULAN KEMUDIAN.
Luna keluar dari mobil hitam itu. Dia hanya seorang diri. Kaca mata hitam di kepala kembali dipasang. Ditangannya juga terdapat tiga buket bunga. Luna tersenyum tipis dan membawa langkah memasuki area pemakaman itu.
Satu buket Luna letakkan di atas nisan ‘Misya.’
“Terima kasih Misya. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan mu.”
Luna kemudian membawa langkah menuju nisan lain yang tidak jauh dari situ. Luna tersenyum getir. Lalu buket bunga di letakkan di dua nisan yang berdekatan itu. ‘Lou Hyena.’ Nama keduanya.
“Hyena aku harap di kehidupan selanjutnya kita bisa berteman lagi. Mari menjadi lebih baik.” ujarnya tulus.
***
Hari ini malam sangat cerah. Di sebuah hotel berbintang, orang-orang begitu ramai. Dari berbagai kalangan datang dan di sambut oleh oleh reporter bagaikan red carpet diacara award akhir tahunan.
Ya.. memang banyak kalangan artis, namun ini bukan acara penghargaan akhir tahun. Ini adalah pesta pernikahan dari pewaris Cord Media dan CEO CL group. Tidak lain adalah Nindy Wu dan Jiang He.
Melewati banyak rintangan dari berbagai persoalan. Mulai perkara para sahabat, seperti Luna diculik dan tekanan yang di alami Luna karena kepergian tragis Misya sampai masalah beda pendapat hanya karena perihal kecil, akhirnya hari ini mereka resmi juga sebagai sepasang suami istri.
“You look so beautiful..” puji Luna sambil memeluk Nindy.
“Thank’s Luna.”
“Nindy aku ada kado special untukmu.” ujar Luna sambil meleraikan pelukan mereka.
“Oh ya? apa?” antusias Nindy bertanya.
Luna mendekat dan berbisik. Terbelalak mata Nindy seketika itu.
“Ingat, pakai malam ini.” luna sudah tersengih.
Nindy merasa sangat panas di wajahnya sekarang. Dia sampai-sampai mengipas kedua tangan di wajah. Di tambah ketika itu Jiang He juga menatapnya pelik setelah Luna berbisik. Jangan bilang dia mendengarnya.
Aaa.. Nindy melarikan anak mata dari tatapan Jiang He. Luna awas kamu…
Luna tertawa kecil. Rasakan.
“Sayang kamu bilang apa sama Nindy? sampai-sampai wajahya merah seperti itu?” bisik Mark pada istrinya.
“Something. Kado pembalasan.” Sengih Luna sangat berpuas hati. Mark sekedar menggeleng, jangan kira dia tidak tahu. Luna, Luna…
***
Semua orang sudah nyaman dengan jalan masing-masing. Di Cord Media, Lery tidak lagi sebagai karyawan pengganti sementara. Karena kinerjanya bagus, dia telah tekan kontrak kerja dan menjabat sebagai direktur HRD. Key juga semakin sukses sebagai CEO Cord Media.
Key terpaksa mengubur keinginnya untuk terbang ke NYC karena hanya dia pewaris satu-satunya Cord Media. Nindy, adik nakalnya itu telah di bawa terbang oleh Jiang He ke Paris.
Zhaon juga telah kembali ke Hongkong. Dia akhirnya bersedia memimpin Gangster yang di bina sang ayah. Namun perlahan, hal yang menurutnya tidak baik, perlahan Zhaon hilangkan dari gangster nya. Dia semakin sukses dan di kenal bukan karena kejahatan lagi, namun banyak hal baik juga yang telah dia lakukan.
James Lu kembali berpetualang misterius seperti biasanya. Terbang dari negara satu ke negara lainnya.
Lalu bagaimana dengan Rangga?
Mark mengambil ponsel yang ada di meja kerjanya.
“Halo.” Suara dingin yang khas menjawab di seberang sana.
Mark menarik bibir sinis, “Rangga… kapan kau akan pulang? kenapa sekarang kau terus liburan?” jerit Mark yang memanaskan telinga. Rangga sampai-sampai menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia sangat terjekut sehingga bangkit dari rebahannya. Dia sedang berjemur di tepi pantai.
__ADS_1
Dasar Mark Rendra! manusia yang tidak pernah tenang jika dia senang.
“Calm down Mark. Kamu tidak bisa jauh dariku, katakan saja.” balas Rangga kesal.
“Aku tidak bisa jauh darimu? Ini sudah masuk tiga minggu kau tidak masuk kantor. Negara mana lagi yang kau kunjungi sekarang?” Mark bertanya semakin tidak berpuas hati.
Enak saja bilang tidak bisa berjauhan, tidak kah kamu sudah kehilangan jadi diri semenjak dua menjak hidup sangat santai ini, Rangga!
“Katakan!” hardik Mark sekali lagi.
“Ba.. Bali, Indonesia.” Jawab Rangga gagap namun mencoba untuk tetap tenang.
“Okey.. jika Dalam dua hari ini kamu masih belum kembali. Siap-siap saja ku transfer ke Afrika.”
“Eh, Mark..” Belum sempat Rangga menyelesaikan kalimatnya. Telepon sudah dimatikan sepihak.
“Up to You…” pekik Rangga pada telepon yang sudah mati itu. Lalu dia kembali merebahkan diri. Huft… dia masih sangat perlu untuk berliburan.
Luna mendengar suara kesal suaminya dari luar. Dia tersenyum sendiri. Sudah biasa. Ditebaknya, pasti perkara Rangga lagi. Dua orang itu akhir-akhir ini memang sering ribut tidak jelas. Saling mengancam sejak seminggu yang lewat, tapi satupun ancaman tidak ada yang terjadi. Dia tahu Mark hanya mengancam kosong Rangga saja.
“Sayang sepertinya Papa butuh tambahan teman. Allart sudah siap punya adik?” Ujar Luna pada Alart yang sudah semakin besar. Allart sudah berusia delapan bulan. Balita itu sudah sangat aktif. Dua gigi kecil juga sudah tumbuh di gusi bawahnya.
Allart tertawa kecil seolah mengerti apa yang di ucapkan oleh Mamanya. Luna ikut dibuat tertawa. kemudian ruangan suaminya itu di ketuk.
“Masuk.”
Luna langsung membuka pintu. Mark juga langsung bangkit dari duduknya ketika melihat istri dan anaknya yang datang.
“Hello, Baby.” Allart langsung diambil alih. Dicium sepuas hati, setelah itu istrinya juga di cium.
“Masih sibuk kerja?” tanya Luna lembut.
“Tidak, sudah selesai. Kenapa belum tidur? Allart juga?” tanya Mark pelik. Dia sempat mengerling jam di dinding. Sudah pukul 10 malam. Seharusnya Allart sudah tidur pada jam ini.
“Mama belum bisa tidur, makanya Allart juga tidak. Rindu, tunggu Papa mungkin.” Luna memaut manja lengan suaminya itu.
Mark tertawa, “Okey.. kalau begitu ayo kita tidur. Allart tidur dengan Papa, Mama malam ini?”
Allart tertawa sebagai jawaban. Membuat Luna dan Mark ikut tertawa. Mereka membawa langkah menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Mark langsung merebahkan diri di atas ranjang. Allart didudukkan di atas perut kekarnya. Pun Luna juga sudah merebahkan diri di samping suaminya.
Mereka tidak pernah puas bermain dengan Tuan muda kecil, sang pewaris keluarga Rendra dan Aliester ini.
“I love you sayang.” Mark tiba-tiba berbisik di telinga Luna.
Luna tertawa kecil, “I love you too.” Balasnya, lalu dia memearikan kecupan di pipi Mark. Luna juga bangkit lalu mengecup bertubi-tubi sang buah hati. Setelahnya dia kembali tidur seperti semula.
Mark dan Luna saling tatap. Jauh di dalam lubuk hati, mereka berharap hubungan ini akan kekal hingga akhir hayat.
Tiba muncul ide nakal dari Luna. Dia mengecup sepintas bibir suaminya itu.
Mark tertegun. Begitu saja?
Luna tertawa. Dia tahu Mark tidak berpuas hati. Baru saja Luna hendak menjauh, Mark sudah menarik tubuhnya dengan satu tangan saja. Bibirnya di kecup dengan penuh hangat dan romantis.
Perlahan Mark menutup wajah Allart dengan telapak tangannya.
“Allart jangan lihat. Papa mau jadi singa dulu.”
Ngaummmmm…..
_TAMAT_
Terima kasih sudah sudi membaca cerita “Tuan Muda Aku Benci Kamu”
__ADS_1
Maaf atas segala kekurangannya. Sekali lagi, apapun saya ucapkan terima kasih. Bye-bye.. mmuuachh..