
“Sayang kita mau pergi kemana?” tanya Luna yang terlihat bingung, saat mereka memasuki helikopter yang sudah bersiap untuk terbang.
“Kita lihat saja nanti. Kamu pasti suka.” usap-usap lembut pipi sang istri. “ Mari.” Ujar Mark lembut seraya mengajak sang istri untuk duduk. Luna menatap Mark, lalu menganggukkan kepalanya. Sebenarnya rasa penasaran masih memenuhi dirinya.
Saat semuanya sudah siap, helikopter mulai lepas landas. Mata Luna tertuju pada pemandangan indah yang di suguhkan.
Penampakan laut dari atas ketinggian sangatlah menakjubkan. Terumbu karang, pasir putih, laut biru dan debur ombak ribut, tapi bisa menjadi penenang bagi seseorang.
Senyum indah terukir di bibir Luna, melirik sang suami, lalu meyandarkan kepalanya di dada sang suami dengan matanya yang kembali tertuju pada pemandangan. Senyumnya seolah menggambarkan rasa terimakasihnya. Terimakasih untuk memanjakan matanya dengan pemandangan ini.
Sesaat kemudian Luna teringat akan Rangga. Pria yang selalu setia mengikuti suaminya, tapi kali ini tidak terlihat sejak mereka berpisah di bandara.
“Oh iya sayang, Rangga tidak ikut dengan kita? Dimana dia sekarang?” mendongakkan wajahnya menatap sang suami.
“ Rangga sedang bertugas sayang.” Sedikit tertawa, lalu mncium puncak kepala sang istri.
“ Kenapa jawabannya terdengar tidak meyakinkan.”
Luna mengulum bibirnya. Sedikit bingung dan juga penasaran. Ada apa ini sebenarnya.
“ Huftt..” mengehembaskan nafas, lalu menoleh kembali padan pemandangan di bawah. Namun seketika mata Luna sedikit terbelalak saat melihat kapal pesiar besar dan mewah sedang berlayar.
“Kapal pesiar.” ucapnya pelan. Terbesit di hatinya, jika berlibur di kapal pesiar pasti menyenangkan. Senyum-senyum sambil mendongakkan wajahnya pada sang suami. Dia ingin menyampaikan ide yang baru terlintas di fikirannya.
Tapi sebelum berucap, Luna sudah di kagetkan kalimat kapilot yang yang mengatakan akan segera mendarat di landasan kapal pesiar tersebut.
Sontak Luna langsung meoleh pada Mark dengan sorot matanya penuh tanya.
“ Iya sayang. Kita akan menghabiskan waktu di sini.” Mark tersenyum, lalu mengusap pipi Luna dengan lembut.
“ Kamu serius?” Luna gelagap bertanya dengan bola matanya yang masih membulat.
Mark tertawa ringan melihat tingkah Luna, lalu menganggukkan kepalanya.
“ Wah..” decak Luna sambil menoleh pada kapal pesiar yang semakin terlihat dekat. Lihatlah, suaminya memang sangat bisa di andalkan. Hal ini baru saja terlintas di fikirannya. Tapi ternyata suamniya telah menyiapkan ini semua untuknya.
“Bagaimana? Apa istriku suka? Aku memikirkan ini semua dengan sebaik mungkin.”
“Suka. Aku sangat suka sayang. Terimakasih.” Mmuuach, satu kecupan di bibir Mark. Lalu dia bersandar manja.
Helikopter telah mandarat. Mark keluar, lalu mengulurkan tangannya pada Luna untuk turun.
“Selamat datang.” Rangga menyambut kedatangan Mark dan Luna. Di belakangnya juga terdapat beberapa orang stelan jas rapi berbaris membungkukkan badan meyambut mereka. Tidak hanya itu, di sisi lain juga banyak terlihat orang-orang serupa.
“Terimaksih Rangga. kau sudah bekerja keras.” Tepuk-tepuk bahu sahabatnya dengan senyum hangatnya. Lalu mereka berjalan kursi yang sudah tersedia.
"Jadi di sini Rangga bertugas." gumam Luna. Lalu dia mengedarkan pandangannya pada kapal pesiar besar dan mewah ini.
“ Kenapa sepi? apa para wisatawan di dalam semuanya?”
“ Luna, bagaimana menurutmu kapal pesiara ini?” tanya rangga pada Luna yang masih memperhatikan setiap sisi kapal.
“Sangat mewah. Ini sangat bagus untuk memanjakan diri.” ujarnya dengan senyum.
“ Haha.. Mark mengetahui dengan sangat jelas apa yang kau suka. Dia menyiapkan kapal ini khusus untuk bulan madu kalian.”
“ Hah?” Luna langsung terkejut dan menoleh pada Mark dengan matanya yang membulat. Sementara Mark memberikan jawaban hanya dengan senyum lembutnya.
“ Ja-jadi maksud kalian, di kapal ini tidak ada penumpang lainnnya?” tanya Luna sambil menatap kedua pria itu.
“ Iya. Ini kapal pribadi.” jawab Rangga dengan santai. “ Kapal ini memiliki 82 kamar. 2 kamar kamar besar di lantai teratas. Dilengkapi fasiliatas Jacuzzi, sauna, ruang gym,bioskop, restoran dan iteriornya sangat menakjubkan. Oh iya, di sini juga ada area pesta.” Jelas Rangga dengan semangat.
Luna terdiam, tidak bisa berucap lagi. Dia hanya menoleh pada Mark, menatap sang suami dengan kedip-kedip polos.
“Enteng sekali.”
Bisik hatinya. Dia seolah lupa siapa suaminya ini.
***
__ADS_1
Matahari sudah mulai menghilang di bawah garis cakrawala di sisi langit sebelah barat. Langit di hiasi dengan warna jingga kemearahan yang terlihat sangat indah.
Luna dan Mark berdiri menyaksikan sunset ini dari Sun Deck. Dek terbuka yang berada di lantai teratas, tempat terbaik untuk menikmati moment indah ini. Apalagi cuaca saat ini cerah, sehingga pemandangan matahari terbenam terlihat jelas tanpa polusi.
“ Sayang jangan begini.” Luna berusaha melepaskan tangan Mark yang memeluknya dengan erat dari belakang.
“ Kanapa?” bertanya dengan suara berat dan semakin memperarat pelukannya.
“ Malu sayang. Lihatlah, orang-orangmu ada di sini.” ucapnya pelan sambil mengarahkan pandang pada beberapa pengawal yang berdiri tegap.
“ Mereka sudah di latih untuk membutakan mata dan menulikan telinga di waktu pribadiku sayang. Jadi sekarang mereka itu sama seperti patung, mereka tidak akan melihat dan mendengar apapun yang kita lakukan.”
“ Apa?” Luna langsung mendongakkan wajah menoleh pada Mark. “ Kamu melatih orangmu seperti itu? bagaimana bisa seorang manusia dilatih jadi patung?” tanyanya polos.
“ Haha.. kamu tidak perlu pikirkan itu. yang terpenting sekarang, ini adalah waktu kita. Kita akan menikmati setiap detiknya. Hanya kita berdua. Tidak akan ada yang mengganggu kita, mereka mengerti apa yang dilakukan pasangan saat honeymoon.” Cium lembut di bahu sang istri.
Luna mengulum senyum malunya. Tidak disangka Mark akan berucap frontal begini. Namun dia juga tidak ingin merusak moment, tidak ingin mengecewakan suaminya.
Luna memegangi tangan sang suami yang melingkar di pinggangnya. Bersandar manja di tubuh sang suami.
Mata keduanya menatap cahaya jingga yang kemerahan terlihat memenuhi sisi langit sebelat barat itu. Pantulan cahayanya yang berpendar di atas air laut terlihat menghasilkan gradasi warna yang indah.
Mark membalikkan badan Luna, menatap dalam wajah sang istri yang terlihat senyum malu-malu.
“ Sayang, aku sangat mencintaimu.” Cup, Mark mencium lembut bibir merah muda yang istri. Mereka berciuman dengan mesra, saling menikmati dan memperdalam ciuman.
Seiring dengan ciuman dua insan ini, perlahan matahari pun menghilang di bawah garis cakrawala. Penanda hari telah usai dan berganti mejadi malam. Saat itu juga lampu-lampu kapal pesiar mulai menyala hingga menambah semaraknya suasana romantis.
Sungguh, ini adalah moment yang sangat indah bagi keduanya.
***
Setelah menikmati sunset, sekarang waktunya pasangan ini untuk menikmati makan malam yang romantis.
Di balkon kabin terlihat beberapa pelayan wanita menyiapkan segalanya.
Ya.. ini waktu berdua mereka, dan di balkon kabin juga tidak ada pengawal pria yang berjaga, jadi tidak masalah dengan istrinya berpakaian sexy. Sementara itu Mark mengenakan pakaian kasual kemejanya.
Mark mengulurkan tangan pada Luna, agar mereka segera menuju balkon kabin. Saat mereka datang, para pelayan langsung menundukkan kepala dan pergi dengan sopan. Namun sesaat Mark menghentikan langkahnya, saat melihat seoarang pelayan. Mark menoleh ke belekang dengan mengerutkan keningnya.
“ Ada apa?” tanya Luna yang ikut menoleh pada apa yang Mark lihat.
“ Bukan apa-apa sayang.” Menggelengkan kepalanya, lalu menarik kursi dan mempersilahkan sang istri duduk dengan lembut. Kemudian dia pun juga duduk tepat di hadapan sang istri.
Makan malam romantis di mulai. Mereka makan sambil berbincang hangat, tawa terukir di bibir keduanya. Saling menyuapi, hingga bercanda dengan permainan tipuan suapan tersebut.
“ Aaaa.. serahkan padaku. Luna memegangi tangan Mark mempertolokkan sepotong cake padanya.
“ Mau ini?” tanya Mark, lalu dia menggigit cake tersebut. Lalu dengan sexynya dia menggerakkan telunjukkanya menyuruh Luna untuk mengembil cake tersebut dari mulutnya.
Luna tersenyum malu. Namun perlahan dia mendekat, dan mengggit cake tersebut. Sekarang bibir mereka berada di sepotong cake yang sama. Mark membiarkankan Luna untuk menghabiskan cake tersebut.
Tapi karena malu Luna berhenti, dan saat itulah Mark ambil kendali. Dia mendorong cake terebut kemulut Luna hingga masuk keseluruhannya dan seketika itu juga Mark langsung meraup bibir merah muda nan ranum itu dengan dengan gemas.
Luna membelalakkan matanya, sangat terkejut. Bahkan hal seperti inipun, merupakan pertama kali mereka lakukan, meskipun sudah sering kali berciuman.
Rasanya benar-benar memabukkankan karena Mark melakukan itu dengan sangat lembut dan penuh cinta.
Lambat laun Luna mulai tergoda. Dia memejamkan matanya dan membalas ciuman hangat dari Mark. Mereka berdua larut dalam ciuman panas penuh cinta dan gairah itu, hingga akhirnya mereka melepaskan pagutan bibir yang memabukkan itu.
Mark menatap wajah Luna yang senantiasa masih memejamkan matanya. Dera nafas mereka saling menyapu wajah masing-masing.
Perlahan Luna membuka matanya. Menunduk malu, karena mata yang bertatapan sangat dekat. Sungguh mereka seperti pasangan yang baru menikah tadi siang saja. Masih sangat malu-malu.
'tak' Mark menjentikkan jarinya. Seketika kembang api besar nan indah langsung meledak dan bertaburan di langit malam yang cerah.
"Wah.. " Luna langsung berdecak kagum melihat itu semua. Dia berdiri memandangi letusan kembang api nan indah itu di langit.
Binar matanya sangat jelas mengatakan, bahwa dia menyukai itu semua. Sangat bahagia mempunyai suami yang selalu memberinya kejutan yang tidak diduga-duga.
__ADS_1
"Sangat indah sayang."
"Bagaimana, bukankah suamimu ini keren?" memeluk Luna dari belakang. Tidak sabar menunggu pujian dari sang istri.
"Humm." menganggukkan kepalanya pelan. "Suamiku memang sangat keren. Selalu bisa membuatku terpesona setiap saatnya." senyum sumbringah menghiasi bibirnya.
sementara Mark sudah mencium puncak kepalanya dengan lembut.
Di tengah pelukan tersebut, Luna mengusap lengannya. Bajunya yang terbuka di hembus semilir angin laut tentu saja menusuk kulitnya. Mark menyadari itu, dia menarik Luna untuk segera ke kabin.
Saat di kabin, Luna malah salah tingkah. Sangat sulit mengatur gejolak di dadanya saat ini. Dia berdiri di depan meja yang tertata beberapa buku di sana.
Mark menoleh dan tersemyum, lalu dia mengambil selimut dan mendekati Luna.
Di balutnya tubuh indah sang istri dengan selimut, lalu dia angkat Luna untuk duduk di atas meja.
Tentu saja hal itu membuat Luna bingung dan hanya dia tanpa berkedip menatap wajah tampan suaminya.
Mark menatap dalam wajah sang istri lalu perlahan mendekati bibir ranum itu lagi. dan Luna langsung memejamkan matanya untuk menerima ciuman itu.
“ Buka matamu sayang.” ucap Mark lembut. Dengan patuh Luna membuka matanya dan mencoba menantang tatapan sang suami yang tengah memandanginya penuh hasrat.
“Sayang.. aku menginginkanmu.”
Luna mengerti apa yang di maksud dari perkataan Mark,dengan malu-malu Luna pun menjawab.
“Miliki aku seutuhnya malam ini.. sayang.”
Jangan tanya lagi apa yang di lakukan Mark setelah mendapat lampu hijau dari Luna.
Mark langsung menurunkan Luna dari meja. Berdiri dan memutar selimut yang membalut tubuh istrinya dan hingga sekarang keduanya berada dalam selimut tersebut dan saling berhadapan.
Bertatapan penuh cinta, lalu perlahan tangan Mark menelusuri tubuh Luna, mencari resleting gaun di punggung istrinya. Luna terus memandangi Mark, membiarkan tangan pria itu bekerja.
Merah padam, seperti kepiting rebus wajah Luna jangan di tanyakan lagi. Tapi kali ini dia tidak akan menutupinya lagi.
Perlahan tangan Mark sudah menurunkan resleting gaunnya, dapat ia rasakan dan gejolak di tubuhnya semakin kuat. Dan beberapa detik kemudian resleting itu sudah terbuka dan gaunnya terjatuh di lantai. Di balik selimut itu tubuh Luna sudah hampir nak*d.
Mark menggiring Luna ke ranjang. Dan menjatuhkan tubuh mereka berdua di sana.
Mark menyentuh dagu Luna, lalu membuka mulutnya dan mulai mencium sang istri. Ciuman itu semakin lama, semakin dalam. Tubuh mereka menggeliat, melepaskan semua emosi yang tertanam selama ini.
Bibir Mark sudah turun ke leher dan bagian depan Luna. Dia berhenti sejenak setelah meninggalkan bekas merah yang di namai mahakarya terindah olehnya. Membelai lembut pipi sang istri lalu lanjut dengan tangannya yang mulai bergerak aktif kemana-mana.
Malam pertama yang sangat indah dan panas bagi pasangan suami istri, yang sudah menikah lebih dari satu tahun ini.
Akhirnya Mark bisa menumpahkan hasratnya setelah sekian lama bersabar. Bahagia, sangat bahagia, karena melakukannya dengan hati dan perasaan istrinya yang juga sudah siap memasrahkan diri padanya.
Tengah malam sudah berlalu, namun mereka masih sibuk dengan urusannya.
A few minute later…..
Mereka sudah selesai dengan urusannya. Luna sudah jatuh tertidur dan tidak berdaya.
Mark mengusap-ngusap lembut bahu sang istri. Senyum penuh kebahagian terukir di bibir merah cherrynya yang sensualnya.
Mencium kening sang istiri, lau membelai wajah sang istri sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
“Terimakasih sayang. Terimakasih untuk semuanya.” Satu kecupan lagi di kening dan bahu sang istri tercinta. Mendekap lembut tubuh polos istri di balik selimut, lalu memejamkan matanya dengan bibirnya yang masih full senyum.
Bersambung...
.
.
Like, koment & votenya dong readers.
Kok tega kali baca, tapi gak ninggalin jejak sama sekali. Hiks, sedih tau...
__ADS_1