TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
3 PRIA MENYEBALKAN


__ADS_3

\= Tengah malam, Pukul 01.30 \=


“ Mama..!!!” teriak Luna terbangun dari tidurnya. Dia melihat ke sekitar.


“ Hiks hiks..ternyata aku bermimpi. Syukurlah ini hanya mimpi. Kenapa terasa sangat nyata.” ucap Luna sambil menangis.


“Ma , pa.. kalian baik-baik sajakan? Ya Tuhan.. Kenapa aku bisa mimpi buruk tentang mamaku.” sambil mengusap air matanya.


Tapi nyatanya Luna terus menangis hingga tersedu-sedu.


Luna menangis terlalu lama hingga dia cegukan.


“ Houkg houkg..dadaku sakit.” jeritnya menahan sakit hingga mengigit bibirnya.


Luna memaksakan dirinya untuk berdiri.


“ Aku harus mengambil air untuk minum.” guman Luna sambil berjaln keluar.


Di Luar agak gelap dan remang-remang karena hanya ada beberapa lampu yang menyala. Hingga membuat Luna sedikit merinding.


“ Kenapa aku tiba-tiba aku kedinginan.”


Memegangi tengkuhnya, bergedik nheri dan lanjut berjalan.


“Sial kenapa kamarku berada di ujung, sementara mereka para pria kamarnya berada di tempat yang strategis. Bagunan tua ini walau di dekor dengan indah di dalamnya, tapi tetap saja menyeramkan di malam hari. Dan ini dimana saklar lampunya aku juga tidak tahu, aku harus meraba-raba begini.” celoteh Luna di sela cegukannya.


Sepanjang jalan Luna selalu cegukan. Dia terus berjalan dengan meraba-raba dan ketika menuruni tangga Luna terpeleset.


“ Aaakk..aduh du duuh,” jerit Luna dalam kegelapan.


Tiba-tiba lampu di ruangan tersebut menyala.


“ Eh siapa yang menyalakan lampunya.” gumam Luna bingung dan melihat sekeliling.


Ternyata yang menghidupkan lampu tersebut adalah Key, Mark dan Rangga.


Mereka melihat Luna yang sudah terduduk di tangga, mereka langsung berlari mendekati Luna.


“ Kalian belum tidur ya?” cengingisan canggung.


“ Dasar bodoh, apa yang kau lakukan?” ucap Mark sambil membantu Luna untuk berdiri.


“ Kau kenapa memarahiku. Aku tidak apa-apa, ini hanya terpeleset.” jawab Luna dengan sedikit kesal tapi terlihat jelas dia juga menahan sakit.


Rangga dan Key terlihat khawatir melihat Luna yang menahan sakit. Mereka sempat saling tatap dan kembali menoleh pada Luna yang sudah di pegangi oleh Mark.


“Heii..kalian jangan memandangiku dengan kasihan begitu! Aku sungguh bai-baik saja. Aku hanya mau mengambil air di dapur, huukk.” jawab Luna sambil cegukan.


“Kenapa kau tidak menyalakan lampunya? Apa kau fikir dirimu mempunyai penglihatan yang tajam seperti Vampir?” Mark masih saja memarahi Luna.


Luna cemberut dengan sedih, bibirnya tampak bergerak kesal.


“Aku tidak tahu dimana saklarnya, maaf sudah mengganggu kalian. Sekarang kalian kembalilah. Aku tidak butuh bantuan kalian.” jawab Luna sambil melepaskan tangan Mark yang memeganginya.


Luna berusaha untuk menuruni tangga tapi dia terjatuh lagi dan Mark dengan sigap menangkapnya.


“Aaa... kakiku sakitm” jerit Luna yang terlihat jelas menahan sakit.


“Aish..kau ini.” Mark terlihat sangat marah karena kecerobahan Luna.


“Aku akan mengambilkan air untukmu. Mark kau bantulah Luna!” ucap Key dan langsung ke bawah untuk mengambilkan air untuk Luna.


Luna terus cegukan dan menahan sakit kakinya.


“ Mark, kakinya pasti terkilir aku akan mengambilkan obat.” ucap Rangga dan bergegas pergi.


Mark langsung menggendong Luna, dan Luna pun hanya diam karena saat itu kakinya benar-benar sakit. Mark memperhatikan wajah Lun.


“ Apa dia habis menangis?, matanya terlihat bengkak. Huh..dia sangat pandai membuat diriku selalu mengkhawatirkannya” bisik hati Mark.


Mark mendudukkan Luna di sofa dengan pelan.


“ Ini airnya, cegukanmu pasti menyakitkan!” ucap Key sambil menyerahkan segelas minuman.


“ Makasih kak!” Lina tersenyum lembut dan mendeguk minuman tersebut.


“ Minumlah dengan pelan, jika kau minumnya terburu-buru cegukannya tidak akan sembuh.” Mqrk terdengar kesal dengan kalimatnya.


Setelah meminum segelas air cegukan Luna sudah berkurang.


Key melihat mata Luna yang bengkak “Apa kau habis menangis?” tanya Key.


Luna terkejut mendengar pertanyaan Key.


“ Tidak” jawab Luna menyangkalnya dengan cepat.


“Matamu bengkak begitu, kenapa lagi kalau bukan karena kau menangis!” ucap Key.


Luna terdiam tak bisa mengelak lagi.


“ Apa ini ini terlihat sangat jelas?” bisik hati Luna malu.


Mark duduk berlutut di depan Luna.


“ Eh apa yang kau lakukan?” tanya Luna bingung.


Mark tidak menjawab Luna, dia memengangi dan memperhatikan kaki Luna yang mulai membengkak.


“ Kenapa Rangga lama sekali mengambil obatnya.” ucap Mark khawatir.


“ Mungkin dia tidak menemukannya, aku akan ke atas untuk membantunya mencari.” ucap Key dan langsung bergegas pergi.

__ADS_1


Tapi Rangga tiba-tiba turun, ”Aku tidak menemukan obat untuk terkilir, Key kau ikut aku! Kita akan keluar untuk membelinya.”


“Jangan repot repot. Ini bisa sembuh tanpa obat. Ini sudah larut, kalian jangan keluar.” ucap Luna dengan tidak enak hati.


“Kami ini pria, tak masalah keluar kapanpun. Dan terlebih lagi, kami harus menjagamu.” ucap Rangga yang tiba-tiba berbicara tak seperti biasanya pada Luna.


“Rangga benar, kami tiga orang pria tidak bisa menjaga satu orang wanita, bukankah itu memalukan!” Lanjut Key.


Luna hanya bisa senyum kecut mendengar perkataan Rangga dan Key. Terserah kalian jika begitu.


“ Jika begitu, kenapa kalian belum berangkat juga, pergilah cepat!” bentak Mark karena kesal melihat sahabatnya yang terlalu banyak bicara.


“ Ah haha.. iya iya, kami pergi. Kau galak sekali. Kau harus memberikan pertolongan pertama yang baik ya!” ucap Key dan langsung menarik Rangga untuk pergi.


“Arh.. menyebalkan sekali dua orang itu.” ucap Mark kesal dan menggelengkan kepalanya.


“Dan kau... kenapa kau begitu ceroboh sekali Luna. Kenapa tidak bisa menjaga diri dengan baik.” bentak Mark dengan sorot mata tajamya pada Luna.


“Aku tidak mau mendengarkan celotehanmu. Kakiku sangat sensitif, jika kau terus berbicara itu akan membuatnya semakin sakit.” jawab Luna tidak kalah kesal.


Luna pun merebahkan diri untuk bersandar di sofa dan memejamkan matanya. Masa bodoh dengan pria menyebalkan ini.


“ Kenapa Rangga berbicara seperti itu, ini pertaa kalinya dia memanggilku tanpa sebutan nona. Apa karena dia selalu bergaul dengan Mark dan Key hingga membuat dia terbawa arus!” bisik Luna dalam hatinya.


Mark menggelengkan kepalanya melihat Luna yang masih bisa bersantai walaupun sebenarnya menahan sakit.


“Bisa setenang ini juga luar biasa. kebanyakan wanita akan menjerit menyebalkan jika sudah terluka seperti ini. hummm.. kakinya bengkak, jika aku memijatnya apa dia bisa tahan?” bisik hati Mark sambil menyusap kaki Luna dengan lembut.


Merasakan perlakuan Mark yang lembut, Luna membuka matanya.


“Walau dia jahat dan kasar, tapi tak jarang juga dia memperlakukanku dengan lembut.” bisik hati Luna dan tersenyum.


Luna terus memandangi wajah Mark dan sesaat dia tersadar dan menampar pipinya sendiri.


“ Ya Tuhan.. Luna apa yang kau pikirkan kenapa bisa senyum melihat si brengsek menyebalkan ini.” gumam Luna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Luna kaki mulai bengkak, aku khawatir jika tidak di pijat dia akan semakin membengkak dan akan butuh waktu lama agar kau bisa berjalan.” ucap Mark.


“Eh.. lalu aku harus bagaimana? ”.


“Aku bisa memijatnya, tapi apa kau bisa tahan. Ini akan sedikit menyakitkan.”


Luna khawatir, dia tidak ingin terlalu lama tidak bisa berjalan, tapi dia juga ragu apakah dia bisa menahan sakitnya.


“ Emm..apa itu akan benar-benar sangat menyakitkan?”


“ Iya, tapi asal kau bisa tahan, maka ini juga akan sembuh lebih cepat."


“ Kalau begiru lakukanlah!!” ucap Luna sambil menutup mata dengan kedua tangannya. Luna sudah bersiap-siap untuk melawan rasa sakit.


Melihat Tingkah Luna yang seperti itu, Mark tertawa geli.


“ Kau jangaan bicara, lakukan saja dengan cepat. Aku menutup mataku, karena takut kakiku yang satunya lagi akan menendangmu jika kau memijiat terlalu kuat.” teriak Luna.


“ Dasar bodoh, tidak ada kaitannya sama sekali. Jika kau tidak mau menendangku harusnya kau memegangi kakimu. Bukan menutup matamu.”


“Terserah aku.. aku yang punya kaki. Ini adalah caraku mengontrolnya, kau kenapa malah mengajak ribut. Kau lakukan saja dengan cepat!” teriak Luna sangat kesal.


“Baiklah.”


“Aaaaa... ” teriak Luna.


“Aku belum mulai, kenapa kau sudah berteriak?”


“ Ah haha.. maaf maaf aku terlalu tegang.” jawab Luna dengan bodoh.


“ Haha.. jika begini aku lebih khawatir dari pada kamu.” ucap Mark dengan terkekeh.


Mark mulai memijat kaki Luna, dan Luna menahan sakit hingga menggigit bibirnya.


Mark sebenarnya tidak tega, tapi dia harus melakukannya. Karena jika tidak di lakukan, yang ada Luna hanya akan menahan sakit lebih lama.


Dan beberap saat kemudian Key dan Rangga juga telah kembali membawakn obat kapsul dan obat luar.


Setelah selasai semuanya, Mark menggendong Luna ke kamarnya.


Malam itu, tiga orang pria di sibukkan dengan merawat Luna dan menjaga Luna. Meskipun Luna sudah sudah menuyruh mereka untuk segera beristirahat, tapi ketiganya tidak ada yang mau dia tetap menemani Luna di kamarnya.


“ Huh.. menyebalkan sekali. Bagaimana aku bisa tidur jika ada tiga orang pria di kamarku. Ini bukan rumah sakit dan aku juga bukan mengalami sakit keras, kalian begini seperti sedang menemaniku untuk meregang nyawa saja!!! kenapa kalian semua menyebalkan begini!!!” teriak Luna dalam hatinya sambil menarik selimutnya dan menutupi seluruh dirinya.


Key dan Rangga bingung dengan tingkah Luna, tapi meraka tidak memperdulikan sama sekali. Yang mereka mau hanya untuk menjaga Luna malam ini.


Mark menyadari kalau Luna tidak nyaman dengan keberadaan mereka di sana. Menatap Key dan Rangga bergantian.


“ Aku rasa, aku sendiri yang menjaga Luna di sini sudah cukup dan kalian berdua keluarlah!”


“ Heh, seharusnya kalian ketiga-tiganya pergi saja. kenapa harus dia tetep di sini.” celoteh Luna di balik selimutnya.


“ Mark kami juga ingin menjaganya, kenapa kau malah menyuruh kami keluar.” ucap Key kesal.


“ Keberadaan kalian disini membuat dia tidak nyaman.” bentak Mark.


“ Memangnya kau pikir, dengan kau ada di sini, Luna akan nyaman. Akan lebih adilnya kita tetap di sini ketiganya.” Jawab Key tak mau kalah.


“ Key benar, kau jangan ingin memonopoli Luna seenaknya!” lanjut Rangga membela Key.


“ Apa? memonopoli aku? , tiga pria ini sebenarnya menganggap aku apaannnn?. Kenapa mulut meresa menyebalkan begitu” teriak Luna dalam hatinya.


Mark melihat Luna yang ribut sendiri di balik selimutnya.


"Kalian jangan bicara lagi, jika aku bilang keluar ya keluar.” ucap Mark sambil mendorong paksa Key dan Rangga secara Paksa.

__ADS_1


“ Hei hei.. kau ini apa-apaan.” ucap Rangga berusaha berontak.


“ Hiks..bayiku mentang-mentang dia kuat seenaknya memperlakukan kami begini.” rengek Key.


“Keluar keluar.” usir Mark.


“Apa? Kak Key memanngil Mark dengan bayinya??Hihi.. lucu sekali. Sepertinya aku punya senjata baru untuk mengerjainya ” gumam Luna.


Markpun berhasil mengusir Key dan Rangga dari kamar Luna, lalu dia mengunci kamar Luna dari dalam.


Sementara Key masih mengetu-ngetuk pintu.


' tok tok to '


“ Bayiku.. cepat buka pintunya! ” rengek Key dari luar.


“ Aku hitung sampai tiga, jika kalian masaih mengganggu. Aku akan membungkam mulut kalian berdua.” ancam Mark dengan kesal.


“Huh.. baiklah, kami pergi”.


Key dan Ranggapun pergi, Mark merasa sangat lega.


Mark mendengar Luna terkekeh di balik selimutnya.


“Apa yang kau tertawakan, apa melihat tiga orang pria bertengkar karena ingin menjagamu membuatmu merasa lucu?” tanya Rangga dengan kesal.


Luna tidak merespon Mark sama sekali, dia tetap tertawa.


“ Kau ini..” Ucap Mark kesal sambil menarik selimut Luna.


“ Haha.. sumpah ini sangat lucu, aku tidak menyangka hubungan kalian seperti ini.” ucap Luna


“ Bayiku..bhaha, aku tak bisa menahan tawaku ”


Luna terus mengejek Mark.


Mark sangat kesal melihat Luna yang ikut-ikutan mengejeknya.


“Kau jangan ikut-ikutan dengan mereka!, atau kau akan sama bodohnya dengan mereka!”


Luna tetap tidak memperdulikan ucapan Mark sedikitpun dia masih tertawa hingga memegangi perutnya.


“ Ahhh..” tiba-tiba Mark berbaring di sebelah Luna.


Luna langsung berhenti tertawa dan langsung berbalik badan.


“Kau kenapa di sini.” teriak Luna sambil mendorong Mark.


“Kau kenapa mendorongku? Bukankah aku ini seorang bayi, kalian harus menjaga bayi kalian dengan baik. Tidur di kasur yang empuk bukankah cara untuk memberikan kenyamanan bayi kalian.” ucap Mark dengan mode imut.


Luna duduk “ Iiii.. ini sangat menjijikkan. Bagaimana seorang pria dewasa bisa sok imut begini. Kau pergilah ke kamarmu. Di kamarmu kasurnya pasti lebih empuk” ucap Luna sambil mendorong Mark dari ranjangnya.


Mark menahan tangan Luna.


“ Bayimu ingin tidur bersamamu, bagaimana bisa kau mengusirnya dengan kejam begini.” ucap Mark sambil menempelkan pipinya ke tangan Luna.


Luna langsung menarik tangannya.


“ Kau kau.. tidak tahu malu!” ucap Luna dengan sedikit ketakutan.


“ Hah, makanya jangan coba-coba untuk mengerjaiku! ” bisik hati Mark dan smirk di wajahnya.


Kemudian Mark bangun dan beranjak dari ranjang Luna. dia masuk ke dressroom Luna.


“Si brengsek itu sangat menggelikan. Aku sangat menyesal mengerjainya. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu padaku.” gumam Luna dengan jantungnya yang masih berdebar dengan hebat.


“Tapi kenapa dia ke dressroom, kenapa tidak keluar saja, apa dia mau tidur di sana?” tanya Luna dalam hatinya dengan tidak tenang.


Markpun keluar dari dressroom tersebut dengan membawa beberapa selimut tebal dan bantal.


Mark membentangkan selimut tebal tersebut di lantai sebelah ranjang Luna.


“ Apa yang kau lakukan?”.


“Apa kau tidak lihat? Kenap masih bertanya.” jawab Mark dengan kesal.


“Apa kau akan tidur di sini?”


“ Tentu saja, kau tidurlah dengan tenang aku tidak akan mengganggumu!” ucap Mark sambil tidur.


“Ah haha,, aku kira kau tidak perlu begini. Tidur di bawah pasti tidak nyaman.” ucap Luna dengan senyum masam


“Jadi apa kau akan mengizinkanku tidur di ranjangmu?”.


“ Eh, bukan begitu maksudku. Kau lebih baik kembali ke kamarmu!”.


“ Tidak perlu. Aku akan menemanimu. Lagian ini sudah lewat jam 3. Kembali ke kamarku hanya akan membuang waktu istirahat ku saja.” sambil memejamkan matanya.


“ Aishh.. berjalan ke kamarmu tidak lebih dari lima menit saja brengsekkkk” teriak Luna dalam hatinya dengan sangat kesal.


Luna meremas-remas jemarinya menahan kekesalannya ”Aku ingin sekali mencekiknya, dia sangat menyebalkan”.


“ Kau tidurlah dengan tenang, jangan gerak sana sini. Kenapa kau sangat serakah, kau hanya berbagi kamar denganku, bukan berbagi ranjang.” bentak Mark.


Luna langsung berhenti “ Huh, si brensek ini. au tidak tau betapa tidak nyamannya aku dengan keradaanmu di sini” gumamnya.


Lunapun menarik selimutnya dan menutupi seluruh dirinya.


Luna berusaha untuk tenang dia memejamkan matanya. Tapi dia tetap bisa tidur, hatinya terus berbicara.


“ Hatiku, kenapa kau sangat ribut. Aku ingin tidur dengan tenang” bisik hati Luna dengan kasihan.

__ADS_1


__ADS_2