
“ Apa kau anak kecil yang kehilangan orang tuamu?” suara Jiang He terdengar tidak senang. menatap Nindy yang berjongkok dengan penuh air mata.
“ Hik hiks..” Nindy kembali tersedu, menundukkan kepala dan memeluk lututnya. Dia tidak menanggapi Jiang He yang sudah basah seperuh badannya, karena memayungi Nindy.
Jiang He mendengus tersenyum kesal sambil menggelengkan kepalanya. Berjongkok dan berusaha untuk menarik Nindy untuk berdiri.
“ Lepaskan aku. Jangan pedulikan aku!” teriak Nindy sambil mengibaskan tangannya, mengusir tangan Jiang He yang memegangi bahunya. Namun Jiang He menangkap pergelangan tangan Nindy dan memeganganya dengan erat, mungkin itu terasa sakit. Nindy benar-benar sudah hilang kendali untuk menjaga sikap, dia bahkan tidak peduli dengan orang yang berteduh di sekitaran memandanginya.
“ Aku mohon jangan perdulikan aku!” pinta Nindy di sela tangisnya dengan tangannya yang masih meronta.
“ Tuan, anda basah kuyup.” sekretaris Xi mendekat dengan membawa payung.
“ Maaf saya terlambat tuan.” Dia tampak gelisah. Sekretaris Xi menatap Nindy yang masih menunduk dengan penuh tanya di hatinya.
“ Siapa wanita ini? kenapa tuan dengannya? dan apa yang terjadi?”
Sekertaris Xi malah sibuk dengan tanya hatinya, hingga lupa dengan apa yang harus dialakukan.
“Sekretaris Xi, bantu aku.” Pinta Jiang He dengan tangannya yang menggoyangkan payung yang di pegangya. Menyadarkan sekretarisnya yang melamun.
“ Eh. Baik tuan.” Dengan cepat sekretaris Xi memegangi payung Jiang He.
Jiang He berdiri, lalu melepaskan mantelnya, hingga membuat sekretaris Xi tambah membelalakkan mata. Bingung apa yang akan di lakukan tuannya.
“ Nindy, ayo ke mobil. Kau akan sakit jika begini.” Jiang He menutupi seluruh tubuh Nindy yang berjongkok dengan mantelnya.
“ Apa ini? apa yang dia lakukan?”
Bisik hati Nindy. Dia masih menunduk dengan tersedu.
“ Ayo berdiri.” Jiang He memegangi kedua bahu Nindy, membantu Nindy agar berdiri. Namun Nindy masih enggan, dia menahan tubuhnya.
“ Nindy, apapun masalahmu, bertingkah seperti ini adalah hal yang bodoh. Jangan mendorong dirimu untuk lebih terpuruk lagi.”
Mendengar ucapan Jiang He, Nindy malah semakin tersedu. Tapi ketika Jiang memncoba membantunya berdiri, dia menurut. Saat telah berdiri, Jiang He mengeratkan mantel yang menutupi Nindy.
“ Ayo.”
Sekretaris Xi mengekor di belakang sambil memayungi Nindy dan Jiang He. Dia masih belum melihat wajah Nindy, hingga rasa penasaran masih tampak jelas di wajahnya.
“ Sekretaris Xi, berikan uang pada pria yang mengenakan mantel hijau itu. Katakan aku membeli payungnya.” Ucap Jiang sambil mengarahkan pandangannya pada pria yang tampak berdiri di depan café.
“ Baik tuan.”
Namun belum sempat sekretaris Xi mendekat, pria bermantel hijau itu bersorak.
“ Bawa saja payungnya. Aku tidak membutuhkan payung itu lagi, ini café ku. Jangan biarkan wanitamu sakit.”
“ Eh..” sekretaris Xi semakin gelagap terkejut.
__ADS_1
“ Terimakasih tuan.” Jiang He menerima kebaikan orang itu dengan senyum ramah. Tampak Nindy sedikit mendongak, melihat Jiang He yang melempar senyum itu pada pemberi payung. Namun dengan cepat dia kembali menunduk dengan menggelengkan kepalanya. Air matanya masih mengalir, meski velumenya sudah berkurang.
Mereka sudah di dalam mobil. Nindy duduk dan menyandarkan kepalanya dan tatapan tertuju pada jendela mobil.
“ Cari toko baju terdekat.” Ucap Jiang He pada sekretaris Xi.
“ Baik tuan.”
“ Mobilku masih di sini.” Nindy berucap tanupa menoleh.
“ Dimana?.”
“ Di Café Liang.”
“ Seretaris Xi akan mengurunya nanti.”
“ Baik tuan.” Sekretaris Xi langsung melejukan mobilnya menuju toko baju. Namun sesekali dia melirik di kaca spion, masih penasarasn siapa wanita di belakang kemudinya.
Sekretaris Xi sepenasaran itu, karena sejak Luna menikah dan tidak mungkin bisa di miliki oleh tuannya. Sejak saat itu Jiang He bersikap dingin pada setiap wanita.
Keramahan dalam diri tuannya seolah menghilang. Pernikahan Luna telah membekukan hatinya dan entah siapa yang bisa mencairkannya kembali.
“ Siapapun wanita ini, aku akan sangat berterimakasih padanya. Semoga tuan kembali seperti dulu lagi. Pria ramah dan hangat.”
***
Jiang He dan Nindy duduk berhadapan di sebuah café, menikmati minuman hangat, serta juga terdapat beberapa makanan di meja.
Nindy mengesap minumannya sambil menoleh keluar. Hujan, dia masih tertarik melihat rintik hujan di luar, dari pada berbincang dengan Jiang He yang ada di depannya.
Jiang He pun tampaknya mengerti, dia tidak ingin mengusik Nindy dengan pertanyaan. Apalagi bertanya tentang hal apa yang membuat Nindy menangis histeris di tengah hujan itu.
Sebenarnya ini kejutan tak terduga melihat Nindy serapuh ini, karena selama ini Jiang He melihat Nindy adalah wanita yang ceria, super aktif, blak-blakan serta jail yang tak ubahnya seperti anak-anak.
“ Kakak pasti melihatku anehkan?”
Tiba-tiba Nindy membuka pembicaraan. Nindy menoleh pada Jiang He sejenak, lalu menundukkan wajahnya dengan tersenyum pahit.
“ Tidak. Menangis bukanlah hal yang aneh. Itu adalah hal yang wajar, bahkan perlu di keluarkan dari pada menahannya.”
“ Tapi aku menangis seperti orang gila di tengah hujan. Benar-benar memalukan.” Nindy mengumpati dirinya sendiri. Dia yang ceria, bawel, tapi kali ini Jiang He telah melihat sisi lain dari dirinya.
“ Itu bukanlah hal memalukan. Sudahlah, jangan mengumpati diri lagi!” Jiang He mengambil sumpitnya lalu menaruh wonton di mangkuh Nindy. “ Makanlah. Nanti sup nya dingin.”
Jiang He tersenyum dan mulai makan, dia tidak ingin membuat Nindy malah merasa buruk atau berfikiran lain. Apalagi Nindy menurutnya masih kekanak-kanakan pasti akan sulit menebak jalan pikirannya. Satu-satunya hal yang Jiang pahami adalah, bahwa orang yang selalu ceria dan kuat, tidak senang jika orang lain melihat kerapuhannya.
Nindy menatap wonton yang di taruh Jiang He di mangkuknya, lalu dia meraih sumpitnya. Menjepit wonton di mangkuk, lalu meletakkannya kembali. Entah kenapa dia malah tampak tidak senang.
“ Apa kakak tidak penasaran kenapa aku menangis?” Nindy menatap Jiang He dengan tajam.
__ADS_1
Jiang He yang baru saja memasukkan makanan ke mulutnya tampak terkejut. menatap Nindy, mengunyah sambil berfikir.
“ Apa dia ingin aku menanyainya? Padhal aku diam, agar tidak mengusiknya. Wanita yang aneh. ”
Jiang He mengambil tisu, lalu menyeka bibirnya.
“ Jika aku bertanya, akankah kamu akan menjawabnya?” tanya Jiang He mencoba memastikan.
“ Aish.. sudahlah. Untuk apa aku memaksa orang yang bahkan tidak penasaran sama sekali.”
Nindy mendengus kesal, mengambil sumpitnya, lalu memasukkan 2 potongan wonton dalam mulutnya.
“ Kenapa bisa seorang pria sangat kaku begini. Bahkan tidak tahu bagaimana cara menghibur wanita.”
Jiang He tampak tersenyum tipis melihat Nindy yang terlihat kesal, hingga mengunyah dengan mulut penuh. Ada kelegaan di sana, sepertinya Nindy yang blak-blakan telah kembali.
“ Hei.. kenapa kakak malah tersenyum.” Nindy berucap kesal dengan mulutnya yang masih penuh. Mengunyah cepat, lalu mendeguk air putih.
“ Aku di khianati oleh kekasihku.” Ucap Nindy seraya menaruh gelasnya di meja dengan keras.
Jiang He yang sedang mengambil makan dengan sumpitnya, langsung berhenti. Menatap Nindy yang berucap sedikit lirih.
“ Aku ke Shanghai hanya untuk menemuinya, tapi tidak di sangka ini yang aku dapatkan. Aku menyiapkan kejutan untuk anniversary kami, tapi dia malah merayakan anniversary dengan yang lain.” Nindy tertawa pahit di akhir kalimatnya.
“ Haah.. ini sungguh sangat kejutan. “ Air mata Nindy tampak mengalir di sudut matanya, bayangan kejadian di café tadi kembali terputar di fikirannya, kemudian berganti dengan moment manisnya dengan sang kekasih.
“ Kak Jiang He, sekarang aku bisa merasakan apa yang kakak rasakan. Mencintai tapi tidak di cintai. Hahaha..” Nindy tertawa sambil menuangkan minumuan ke gelasnya dan menghabiskannya dengan sekali degukan.
“ Jangan samakan Luna dengan kekasihmu. Luna tidak pernah mengkhianatiku, aku saja yang berharap padanya.” Ucapan Jiang He terdengar dingin.
“ Ya ya ya.. kakak benar juga. Bagaimana bisa Luna bisa di bandingkan dengan pria brengsek itu. Maaf kan aku, aku hanya merasa terlalu menyedihkan.”
‘Brugh’ Nindy menjatuhkan kepalanya di meja, memejamkan matanya untuk melepaskan air mata yang menggantung di sudut matanya.
“ Kak Jiang He, apakah masih ada cinta yang tulus tersisa untuk kita? cinta yang tidak menyakitkan lagi seperti ini.”
“ Entahlah.. aku juga sedang mencari jawaban itu.” jawab Jiang He seadanya. Dia benar-benar sudah berubah.
Nindy mengangkat kepalanya sambil tertawa, hal itu tentu membuat Jiang He mengerutkan keningnya. Apa yang Lucu dari kalimatnya hingga mengundang tawa.
“ Bukan kah ini lucu? Kurasa kita sekarang adalah dua orang yang mempunyai luka yang sama. Bagaimana jika kita berdua saling menyembuhkan saja?” Nindy tampak semangat dengan kalimatnya.
Jiang He yang sedang minum langsung terbatuk, menatap Nindy penuh dengan rasa tidak percaya.
“ Bagiamana bisa seorang wanita tidak tahu malu begini?” pikirnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung…