TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 DEVIL LOGIC


__ADS_3

Saat Mark sudah keluar dari kamar mandi, dia langsung menjawab panggilan dari Louis sambil berjalan menuju jendela.


“ Halo.”


“ Ya halo Mark.” Louis duduk di depan laptop. Sekarang dia berada di markas di Norwegia. Matanya tampak lekat memandangi layar laptop tersebut.


“ Bagaimana hasilnya? Apa kakak sudah mendapatkan petunjuk?”


“ Ya.. aku sudah berhasil.” Dia mengatur nafasnya. “ Mark, ini sungguh di luar pikiranku. Perktaanmu benar adanya.” Berucap sambil menyibakkan rambutnya ke belakang.


“ Aku benar?” tanya Mark dengan seringai senyum liciknya dan tatapan tajamnya ke arah luar jendela. “ Jadi?” tanyanya lagi. Butuh penjelasan lebih lanjut.


“ Aku sudah mengirim foto dan berkas ke emailmu.”


Mendengar perkataan Louis, Mark langsung berjalan ke meja di sisi ranjang dan mengambil ipadnya. Buka dan langsung login membuka emailnya.


“ Dia sungguh hebat, namun ini akan menjadi senjata bagi kita. Bukan hanya dia, tapi kita bisa menenggelamkan semua kelompoknya.” Jelas Louis. Sementara Mark tampak sudah memandangi sebuah foto pria paruh baya yang mengenakan pakaian polisi serta tes DNA dan sidik jari.


“ Baiklah. Tetap awasi saja dulu. Tetap pada rencana, tiba waktunya kita akan bertindak.”


“ Ok. Hmm.. Mark.” Louis terdngar ragu-ragu.


“ Ada apa? katakan saja apa yang ingin kakak katakan.” Mark sangat mengenal kakaknya. Meskipun tidak melihat raut wajah Louis saat ini, tapi dari nada suara itu dia sudah bisa menebak bahwa kakaknya ingin mengatakankan sesuatu.


Sementara Louis masih ragu-ragu. Dia mengusap keningnya, lalu mengetuk meja dengan jemarinya.


“ Mark, apa kau tidak apa-apa dengan ini? maksudku, kejadian masa lalu itu…”


“ Aku tidak apa-apa” Mark memotong kalimat Louis. Dia tidak ingin mendengar lebih jauh akan kekhawatiran kakaknya.


“ Luna berbeda. Dia tidak akan meninggalkanku dalam keadaan apapun. Kakak, percayalah padaku. Kali ini aku tidak akan memberi kesempatan sedikitpun pada siapapun. Aku akan melindungi Luna selamanya. Akan ku pastikan, tidak akan ada lagi yang namanya pilihan itu demi kebaikanku.” Mark berucap tegas. Namun emosional di wajahnya sangat terlihat, urat lehernya menegang serta raut wajahnya memerah seperti orang yang sedang marah besar.


“ Maafkan aku.” Suara Louis terndengar sangat menyesal karena telah menyinggung masa lalu yang sepertinya tabu untuk di ungkit.


“ Tidak apa-apa.” Mark mencoba untuk menenangka dirinya. “ Kakak terimakasih untuk semauanya. Kau pasti sangat kesepian karena bertugas sendirian.” Sambil tertawa ringan. Dia tidak ingin suasana seperti tadi berlangsung lama.


“ Haha.. ini tidak masalah sama sekali. Aku menikmati semua ini.” masih tertawa, lalu dia berhenti sejenak.


“ Hei apa kau lupa ya, jika aku adalah orang terbaik dalam kelompok kita dalam hal ini. Jadi tidak perlu mengkhawatirkanku. Sebagai orang yang profesional, aku sangat paham. Tidak perlu terlalu ramai untuk mengawasi musuh. Karena itu hanya akan memberikan sinyal pada musuh.” Lanjut Louis dengan membanggakan dirinya.


“ Kakak memang hebat. Baiklah, telvonnya aku tutup. Berhati-hatilah di sana.”


“ Pastinya.” jawab Louis dengan tegas.


Percakapan mereka telah berakhir. Mark melatakkan ponselnya, sementara matanya masih menatap dingin foto pria separuh baya dengan nama Charles Scott yang terpampang di seragam pria itu.


***


Mark dan Luna sudah dalam perjalanan. Duduk di kursi belakang dengan jemari mereka yang saling menggenggam. Namun pandangan mereka hanya tertuju ke depan.

__ADS_1


Hening, tidak ada pembicaraan sama sekali. Tapi sebenarnya dalam diri Luna sangatlah ribut. Masih sibuk memikirkan perihal sekretaris Mika.


Luna menoleh pada Mark. Memperhatikan wajah Mark, lalu melihat tangan mereka yang menggenggam erat.


“ Sayang kamu tidak seperti yang ada dalam pikiran liarku kan? Logikaku sangat jahat, dia memberikan bayangan yang menyakitkan.“


Luna merengek dalam hatinya. Menundukkan kepala, dan menggigit bibirnya kelu.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di kantor. Seperti biasa mereka selalu di sambut dengan penuh kesopanan. Sementara Luna yang beralasan ke kantor untuk menyapa karyawan, tentu saja dia bersikap lebih ramah dan menebar senyum pada siapapun yang di lewatinya.


“ Nikmatilah liburan musim semi kalian nantinya." ucap Luna dengan senyum.


Saat mereka sampai di lantai ruangan Mark, Luna mengedarkan pandangannya. Mencari tahu sosok wajah baru di jajaran meja sekretaris.


“ Seperti apakah rupa sekretaris Mika, hingga membuat Mark berencana untuk mengajaknya keluar menemui klient. Siapa wanita yang bisa menggantikan posisi Rangga?” mata reporter Luna mulai beraksi. Terlihat santai, namun penuh hasrat menyelidik.


Mereka sudah hampir sampai di ruang Mark. Tapi Luna belum mendapatkan apa-apa.


‘ tap’ Luna menghentikan langkahnya.


“ Sayang kamu duluan saja ya. Aku mau menyapa sekretaris Nina dulu.” Sambil melebarkan senyum.


Sudut alis Mark tetangkat, namun beberapa detik setelahnya dia menganggukkan kepalanya.


“ Baiklah. Seharusnya jika kau menyapa bawa oleh-oleh untuk mereka.” Mark berucap lembut dengan senyumnya. Namun bagi Luna kalimat itu bagaikan sembaran petir.


“ Itu sindirian yang sangat halus. Apa dia sudah membaca semua isi pikiranku?”


“ Baiklah.” Mark mengangguk-anggukan kepalanya, mengusap pipi Luna. Lalu langsung menuju ruangannya.


Selepas kepergian Mark, Luna langsung bernafas lega. Lalu dia langsung berjalan menuju tempat jajaran sekretaris. Sementara Nina dan para sekretaris tampak terkejut melihat Luna yang mendekati mereka.


“ Apa? nona Luna ke sini?”


“ Nona.” sapa mereka dengan penuh hormat.


“ Lama tidak berjumpa dengan semuanya.” Ucap Luna dengan lembut.


“ Iya nona. Nona terlihat semakin cantik saja.” puji Nina yang di sertai dengan anggukan kepala dari sekretaris lainnya.


“ Kenapa hanya mereka bertiga? Kemana yang lainnya? Hanya ada 4 meja di sini, seharusnya itu tidak ada tambahan jumlah. Berarti Maiko telah di pecat?”


Mata Luna cepat memperhatikan tempat itu.


“ Oh iya, kenapa hanya kalian bertiga? Kemana perginya sekertaris Mika?” Luna harus menuntaskan rasa penasarannya.


Ketiga sekertaris tersebut tampa saling pandang, lalu tertawa kecil.


“ Ternyata nona sudah mengetahui perihal sekretaris Mika ya. hihi..” mereka seolah tidak bisa menahan tawa.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membeuat Luna bingung. Ada apa ini? kenapa karyawannya terlihat senang perihal sekretaris Mika tersebut?. itu lah yang di pikirkan Luna. Dan sekaligus pikiran-pikaran liarnya semakin menguat.


“ Kenapa kalian tertawa? apa sekretaris Mika dekat dengan presdir?” tanya Luna yang terlihat dengan tetap berusaha santai.


“ Maaf nona. Habis ini sangat lucu. Ternyata sekretaris Mika memang sangat di kenal.”


“ Maksud kalian?”


“ Sekretaris Mika adalah kesayangan tuan muda.”


“ Apa???” suara Luna lansung mengeras. Di saat yang bersamaan tampak Maiko muncul dengan secankir kopi di tangannya.


“ Nona.” Sapanya dengan sedikit terkejut, lalu menundukkan kepalanya.


“ Maiko? Kamu masih di sini? lalu meja kalian?” Luna mengedarkan kembali pandangannya di ruangan itu. Karena jumlah orang dan meja tidak sebanding.


“ Dimana mejamu? Apa Mika menggeser mejamu? Atau dia memiliki ruangan khusus?” tanya Luna beruntun.


Tiga orang sekeretaris perempuan tampak heran, sementara Maiko malah menggaruk tengkuknya dengan senyum bodoh pada Luna.


“ Maaf nona, sepertinya nona salah paham. Sekretaris Mika itu adalah sekeretari Maiko.” Jelas Nina.


“ Hah?” lagi-lagi Luna terkejut. Memandang Maiko yang masih senyum bodoh. sementara 3 orang lainnya msih tertawa kecil.


“ Begini nona. Itu adalah nama aneh dari ibu saya. Dia menginginkan anak perempuan dan sudah menyiapkan nama. Tapi saat USG tenyata malah mendapatkan saya. Meski di di kartu keluarga namaku Maiko tapi ibu tetap saja memanggilku Mika. Dan tuan muda mengetahui itu saat kebetulan ibu bertemu dengan tuan muda di luar kantor saat ingin menemuiku. Ibu menanyai saya dengan sebutan Mika. Tentu saja tuan mudah tidak tahu. Tapi ibu malah berbicara seolah akrab dengan tuan dan menceritakan semuanya. Dan alhasil tuan muda ikut-ikutan memanggilku Mika dan tersebar ke seluruh karyawan. ” Jelas Maiko dengan muka kasihan. Sementara Luna dan lainnya tertawa. tampak wajah kelegaan dari Luna.


***


Epilog


Luna berjalan menuju ruang Mark dengan wajah ceria sambil berdialog dengan pemikirannya sendiri.


“ Hei kau.. Logika kau lihatkan. Suamiku tidak bermain di belakangku, meski ku belum menyerahkan diri padanya.”


“ Anada masih melupakan satu hal nona.”


“ Apa lagi?”


“ Suamimu mengakui sendiri jika dirinya srigala.”


“ Kau..ku bunuh kau. Jangan bicara lagi.” menggelengkankan kepalaya dengan kesal. sementara devil logic nya tertawa puas.


“ Haha.. pikirkan baik-baik nona.”


"Jangan dengarkan dia nona.... " teriak angel heart.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2