TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 Key X Lery


__ADS_3

“Ini berkas yang perlu tuan tandatangani.” Lery meletakkan beberapa berkas di depan Key yang terlihat sibuk dengan Ipad di tangannya.


“Dimana aku harus menandantangani?” Tanya Key dengan matanya yang masih terfokus pada layar Ipadnya. Suara Key terdengar serak dan dia juga mendengus setelahnya. Sepertinya pria ini sedang flu dan batuk.


“ Oh..” Lery dengan cepat membuka berkas tersebut. “ Ini tuan.” Ucapnya setelah dia membuka bagian yang akan di tandatangani oleh Key.


Key menganggukkan kepalanya namun tangannya seolah mengatakan tunggu dan tangan yang satunya tampak sedang menutup hidungnya dengan jari telunjuknya.


“Maaf aku flu.” Ucap Key saat dia sudah mngusap hidungnya dengan tisu lembut.


“ Tidak apa-apa tuan.”


Key membuang tisu di tong sampah yang terlihat sudah hampir penuh dengan tisu serupa. Tampak Lery berjinjit untu melihat kemana Key membuang tisu tersebut.


“ Haschim..” Key bersin tiba-tiba.


Dug, hal itu mengejutkan Lery. Dia gagal mengintip dan langsung berdiri dengan tegap kembali.


“Flunya parah. Tapi kenapa masih bekerja? Kenapa tidak pulang saja? Apakah dia tidak berobat?”


“Maafkan aku, sebaiknya kau keluar. Atau nanti aku akan menularimu. 5 menit lagi kembali untuk mengambil berkas ini.”


Suaranya sengau. Mentupi hidup dengan tisu dan dia juga tampak mengusap kepalanya. Ya, flu juga akan membuat kepala menjadi pusing.


“ Baik tuan.” Lery membalikkan badannya. Tapi seketika dia menghentikan langkahnya. Menoleh pada Key yang sudah menumpu kedua siku di meja dan mengusap kepalanya. Tidak tega dia melihatnya.


“Tuan, apakah anda sudah berobat? Flu dan batuk pasti sangat tidak nyaman.” Lery memberanikan diri bertanya.


“Aku tidak suka minum obat. Selagi bisa ku atasi, aku tidak akan meminum obat dari dokter.”


“Hah?”


Lery mengerutkan keningnya. Tidak percaya dari apa yang dia dengar.


“Seperti anak kecil saja. Siapa juga yang sukan minum obat.”


“Tidak baik begitu tuan. Jika dibiarkan, maka flu dan batuk anda akan semakin parah. Jika tuan tidak mau minum resep dokter, saya punya sedikit cara untuk mengurangi flu tanpa resep dokter.” Dia berhati-hati dengan kalimatnya. Takut presdir gila ini akan menyemprotnya lagi dengan kata-kata menyebalkan.


Sementara Key yang mendengar kalimat Lery langsung berhenti mengusap kepalanya, menoleh pada Lery yang masih berdiri di depannya. Ditatapnya tanpa ekspresi, hingga membuat Lery resah.


“ Matilah. Apa dia akan memerahiku? Lery… kamu sudah tau seberapa menyebalkannya presdir gila ini. tapi masih saja memperdulikannya.”


Lery melempar senyum yang nyaris terlihat masam. Dia menyesal telah bertanya tadi, dan berharap tidak diomeli kali ini. Ini terakhir kalinya, lain kali tidak akan macam-macam lagi.


Key menghebus nafasnya, mengambil tisu dan megusap hidungnya dan dia juga batuk secara bersamaan. Sungguh flu dan batuk ini menyiksanya.


“ Baiklah, jika begitu bagi padaku caramu itu.” ucap Key yang seolah acuh tak acuh.


Lery langsung mengedipkan matanya. seoalah tidak percaya jika presdir gila ini tidak mengomelinya.


“Syukurlah aku selamat.”


“Baik tuan. Saya akan menyiapkannya.” Membungkuk dengan sopan, lalu keluar untuk menyiapkan hal yang bisa mengurangi flu tanpa resep dokter itu.


Saat sampai di luar ruangan Key, tampak Lery langsung menuju paintry. Mengambil panci, lalu memasak air. Dia mengetuk-ngetuk jemarinya di meja menunggu air itu mendidih.


Di dalam ruangan tampak Key sudah berpindah duduk di sofa. Dia benar-benar di buat sibuk oleh flunya. Lendir bening itu menyumbat hidungnya yang tampak sudah memerah. Tenggorokannya gatal, tampak dia berulangkali meminum air putih yang tersedia di meja.

__ADS_1


Satu dengusan lagi, lalu membuang tisu tersebut. kemudian, dia ambilnya pena untuk menandatangani berkas-berkas yang di beri oleh Lery tadi.


“Tuan, ini saya Lery.” ucapnya setelah mengetuk pintu. Lalu dia langsung masuk setelah berucap, mengerti jika tidak mungkin presdir gila yang sedang sakit itu mengubris panggilannya.


Lery masuk dengan membawa 2 gelas berkuping yang berisi air panas dan hangat, serta segulung sapu tangan di di nampan.


“Ya ampun. Pasti sanagt tidak nyaman.” Ucap Lery sambil menaruh nampan tersebut di meja.


Key menatapnya bingung. Mana penangkal flu dan batuknya itu? lalu dia menaruh kembali berkas di meja.


“Tuan, itu air pana dan air hangat. Tuan bisa gunakan uap air panas untuk meredakan flus dan air hangat untuk meredakan tenggorokan tuan yang gatal.” Mengulurkan air hangat pada Ke agar segera di minum.


“Hal sederhana ini saja?” tanya Key seolah tidak percaya.


Lery mengerutkan keningnya. Kenapa orang kaya tidak mengetahui hal ini? padahal ini cukup ampuh.


“ Iya tuan. Ini cukup mujarab meredakan flu dan batuk.” Senyum manisnya mengembang.


Key meraih gelas itu, lalu meminum dan menghabiskan hingga setengah gelas.


“ Lalu, apa yang di lakukan dengan air panas ini?” tanyanya.


“Tuan cukup dekatkan gelas di hidung tuan. Hirup uapnya, hal ini akan menyegarkan hidung yang tersumbat.” Mengambil dan mengulurkannya pada Key. Sungguh interaksi yang datar diantara keduanya. hanya seperti tanya dan jawab sekilas saja.


“ Duduklah!” perintah Key pada Lery yang sedari tadi masih berdiri di sampingnya.


“Hah?” Lery mengedipkan matanya. mencerna apakah yang di dengarnya tadi tidak salah. Lalu dengan bibir yang di bungkus senyum, Lery langsung duduk di samping Key dengan jarak sewajarnya.


Key menarik gelas di tangannya, mendekatkan di hidung. Melihat Key yang menaruh terlalu dekat, sontak Lery langsung mendekati Key.


“ Tuan, janga taruh terlalu dekat.” tangan Lery sudah menahan gelas itu. Tidak sadar sekarang posisinya sudah memalukan.


“Apa yang kau lakukan?” ekspresi Key terilhat sanagt tidak senang.


“Aku?” Lery mengedipkan matanya. Lalu melhat tangannya yang berada di tempat yang salah itu. “ Aaa..” menarrik tangannya cepat. “ Maafkan saya tuan.” Ucapnya cepat dengan menundukkan kepalanya.


Key saat ingin sekali marah, tapi tiba-tiba bersinnya datang 3 kali beruntun hingga air di gelas yang di peganginya itu tumpah.


“ Arh..” Key gelagap terkejut karena air panas itu membasahi jas bagian dadannya dan tentu tembus hingga kulitnya.


Sonta Lery langsung mengangkat kepalanya dan mengambil gelas yang di pegang Key.


“ Anda tidak apa-apa tuan?” menaruh gelas. Sementara Key sedikit menahan panas di dadanya.


“ Aish.. lihatlah. Ini semua ulahmu.” Key kesal sambil melonggarkan dasinya.


“ Maaf tuan. Tadi saya berniat untuk membantu tuan. Tuan menaruh gelas terlalu dekat, bisa-bisa hidung tuan melepuh.” Jelasnya dengan suara memelan.


“ Tapi sekarang dadaku yang melepuh.” Imbuh Key dengan tangannya yang mengibas-ngibas kemajanya. Lalu dia melepas jas di sertai dengan bersin beberapa kali.


“ Maaf tuan.” Suara Lery penuh rasa bersalah. sudah terbayang olehnya, di balik kemeja itu, dada Key pasti sudah memerah.


Key menaruh jasnya di pangkuannya, lalu langsung menyandarkan dirinya di sandaran sofa, mendongak memandangi langit-langit ruangannya. Begitu sedikit lebih nyaman, karena dia tidak perlu mendengus berkali-kali kerana ingusnya.


“Lery kau sungguh membuatku kesal. Aku tidak habis pikir Ketrin mempercayai tugasnya padamu.” suara sengau Key karena flunya itu.


“Sebenarnya dimana salahku? Dia terkena tumpahan air panas karena dia yang bersin.”

__ADS_1


Lery hanya menunduk. Tidak berani menjawab. Tapi hatinya tidak tega, ketika mendengar Key bersin lagi dan lagi. dia mengambil gulungan sapu tangan di nampan, lalu di celupkannya pada air panas.


“ Tuan, mengompres hidung dengan air hangat juga bisa meredakan flu.” Ucap Lery sambil meremas sapu tangan yang sudah di celupkan. Namun Key tidak mengubrisnya sama sekali, dia tetap pada posisinya denagn memejamkan mata.


Lery mengulum bibirnya, dan entah keberanian dari mana lagi dia mendekati Key, lalu meletakkan sapu tangan tersebut di hidung Key.


Sontak Key langsung membuka matanya saat rasa hangat itu menyentuh hidungnya. Sementara Lery tampak degan hati-hati menaruh sapu tangan itu di hidungnya.


“Setidaknya ini bisa membantu. Dan Jika tuan ingin, saya punya cara lain, yaitu denagn cara memakan bawang putih. Tapi di kantor tidak ada.” dia tersenyum lembut di sela ucapannya.


Key tetap diam, memandangi wajah polos Lery yang tampak tenang.


“ Jika rasa panasnya sudah hilang, maka celupkan lagi pada air panas dan tempel lagi di hidung tuan.” Lagi-lagi tersenyum lembut, lalu duduk seperti semula.


“ Sebenarnya banyak cara sederhana meredakan flu. Ada juga cara enaknya, yaitu dengan makan. Tapi tidak asal makan tuan. Tuan harus makan makanan pedas.” Lery tertawa ringan di ujung kalimatnya. Dia tampak bicara santai. Seolah dia sudah terbiasa mengobrol denag Key. Sementara Key masih diam, memperhatikan Lery yang terus mengoceh.


‘ Drtt drtt’ ponsel Key yang berada di jasnya bergetar.


Key segera mengambilnya, sedikit bergerak hingga sapu tangan di hidungnya juga bergerak. Dengan cepat Lery menahannya. Karena merasa sudah dingin Lery kembali mencelupkan sapau tangan ke air yang sudah berkurang panasnya. Dia tampak berfikir.


Sementara Key yang masih menengadah memandadi layar ponselnya. tampak pesan dari Rangga.


“Honeymoon…” tulisnya yang di sertai dengan beberapa foto Mark dan Luna yang tampak mesra di kapal pesiar dan juga bermain di pantai.


“Cih,” Key menggelengkan kepalanya. Lalu membalas pesan dari Rangga.


“Apakah menyenangkan menjadi orang ketiga diantara mereka? kenapa aku merasa sangat kasaihan padamu.” balasnya. Lalu dia melihat foto Mark dan Luna yang dikirim Rangga padanya. Senyumnya terukir, ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia.


Tiba-tiba Lery mengangkat kepalanya dan menambah sandaran bantal di kepalanya.


“Ini akan membantu tuan agar tetap bisa bernafas dengan nyaman. Lalu dia kembali menaruh kompres di hidung Key. “ Saya akan mengambil air hangat lagi tuan.” Lery berdiri dan meninggalkan ruangan.


Key masih terdiam, di sentuhnya sapu tangan di hidungnya, lalu bantal di kepalanya. Tidak habis pikir jika Lery bersikap lembut padanya, padahal dia selalu bersikap dingin pada gadis itu, bahkan tak jarang memarahinya.


‘Drrtt drt’ getar ponsel kembali menyadarkannya.


Key menggeleng pelan, lalu membaca pesan dari Rangga.


“ Haha.. aku tidak pernah masalah dengan ini. kau khawatirkan saja dirimu, kapan kau akan seperti mereka?”


Key terkekeh mambacanya, sungguh dia juga belum memikirkan. Namun ponselnya bergetar lagi. masih pesan dari Rangga.


“Key ingat, kita berkumpul di Jepang. Aku tidak mau mendengar apapun kesibukanmu.”


“Haha.. tidak perlu khawatir. Aku akan menyusul dengan senang hati.” Balasnya.


Rangga tampak senang membaca balasan dari Key. Dia tiduran di kursi selonjoran sambil menikmati suasana pantai di pulau Cres. Di depannya terdapat Luna dan Mark yang sedang bermain ombak dengan mesra dan ceria. Senyum terukir melihat kebahagian sahabtnya itu.


“Aku harap kalian akan tetap semesra dan sedamai ini hingga rambut kalian memutih. Terpisahkan hanya karena maut.” harapnya.


**Bersambung...


.


.


Like, Koment & Vote

__ADS_1


Gimana? datar kali ya interaksi mereka? ya.. bagaimana lagi. Ini karena ada rahasia di balik itu. Bagi yang masih ingat eps saat Key dan Rangga mengikuti pangeran Tris saat di Cartagena pasti mudeng. Dimana Mark, Key dan Rangga punya kenangan masalalu yang belum terungkap**.


__ADS_2