TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 LONDON TERASA LEBIH DINGIN TANPAMU


__ADS_3

**Haihai Readers.. jangan lupa like dulu sebelum membaca ya,


Koment setelah membaca.


Happy Reading**....


------------@@@----@@@------------


“ Bagaimana keadaannya?” Mark bertanya seraya pada dokter Tang. Mereka masih berjalan menuju sebuah ruangan.


“ Keadaan pasien stabil tuan.” Jawab dokter Tang.


Mark berhenti, dan dokter Tang langsung membuka pintu untuk Mark. dengan ekspresi dingin Mark dan Rangga masuk.


Di dalam ruangan itu terdapat pasien dengan alat medis yang canggih, dan pasien itu adalah Hyena. Sebulan yang lalu, Hyena menusuk dirinya sendiri dengan sumpit. Satu-satunya benda tajam yang bisa dia gunakan saat dia menerima makanan.


Saking frustasi dan ilang akalnya, dia inging mengakhiri hidupnya saja. Untuk apa dia tetap hidup, jika hanya menjadi tahanan dan menunggu kematian. Terdapat 2 tusukan di perutnya dan satu tusukan sangat dalam, hingga mengenai organ pentingnya.


“ Berapa lama lagi waktu yang di butuhkan, untuk dia sadarkan diri?” tanya Mark menoleh pada dokter Tang.


“ Saya akan lakukan yang terbaik tuan,” Dokter Tang tidak berani menatap Mark.


Mark mndengus,“ Baiklah. Dokter Tang, aku serahkan semuanya padamu. Jangan mengecewakan ku. Karena dia harus tetap hidup, dia hanya boleh mati di tanganku.” Mark berucap dengan dingin.


“ Saya mengerti tuan.”


Setelah mendengar jawaban dokter Tang, Mark langsung keluar begitu saja.


“ Dokter Tang, lakukanlah yang terbaik.” Rangga menepuk bahu dokter Tang kemudian keluar menyusul Mark.


Saat Rangga sampai di luar, dia melihat Mark sudah sedikit jauh. Rangga berjalan cepat agar bisa menyusul Mark.


“ Rangga, apa semuanya sudah disiapkan?” tanya Mark saat menyadari Rangga yang sudah mendekat.


“ Sudah.”


“ Baiklah. Jika begitu, langsung saja ke bandara.”


“ Baik.”


Di ruang tamu tampak Zhaon sedang membaca sebuah buku. Saat menyadari Mark datang dia langsung berdiri dan mengikuti Mark yang langsung menuju keluar. Seampainya dia di luar, Mark dan Rangga akan memasuki mobil.


“ Tuan..” panggil Zhaon.


“ Ada apa lagi Zhaon?” suara Rangga terdengar kesal. Zhaon menoleh pada Rangga dengan tatapan memelas, lalu beralih pada Mark.


“ Tuan, setelah saya kembali ke Hongkong. Seminggu kemudiannya, apa saya boleh mengujungi nona Luna di London?” Zhaon tampak menaruh harapn besar akan keinginannya itu. berharap Mark akan mengizinkannya.


“ Akan aku pikirkan.” Mark langsung memasuki mobilnya.


“ Terimakasih tuan.” Zhaon tampak bahagia dengan jawaban Mark, meski itu fifty-fifty


Sementara Rangga hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kegigihan Zhaon yang dari awal dia mengetahui bagaimana cara Zhaon mendekati Mark. Entah apa tujuan Zhaon sebenarnya, masih teka-teki bagi Rangga. Dia masuk ke mobil dan langsung melajukan mobilnya.


Saat di perjalanan, Rangga melirik Mark dari kaca spion. Tampak Mark sedang bermain dengan ponselnya.


“ Sayang, apa kau sudah sarapan?” pesan dari Luna.


“ Sudah.” Balas Mark denga singkat.


“ Aaa.. kenapa jawabnya singkat sekali.” balas Luna di ikuti stker merajuknya.


“ Lalu kau mau aku menjawab seperti apa?” tampak Mark tersenyum ketika membalas pesan itu.


“ Sudahlah, lupakan saja. Dasar suami kaku.” balas Luna. Kemudan di susul dengan pesan berikutnya. “ Kemana perginya kata-kata manismu Mark Rendra???” balas Luna kali ini denga stiker sangat marah.


“ Mark menurutmu apa tujuan lain Zhaon terus mendekatimu.” Tanya Rangga.

__ADS_1


“ Entahlah.” Jawab Mark singkat, lalu di sambung dengan senyum tipisnya karena membaca pesan dari sang istri. Sementara Ranga di buat kesal dengan jawabn singkat Mark. Rangga tidak sadar jika Mark sedang tenggelam dalam chatingan dengan Luna.


“ Mark aku bicara serius padamu.” Rangga berucap dengan nada tinggi, dia merasa sangat kesal melihat Mark senyum-senyum seperti orang gila.


“ Haha.. kau kenapa marah? tidak puas dengan jawabanku? Humm?”


“ Cih,” Rangga benar-benar kesal.


“ Jika kau memaksaku maka aku hanya bisa menjawabnya seperti ini.” Mark berhenti sejenak, sehingga Rangga tampak serius untuk mendengarkan.


“ Mungkin dia menginginkanmu.” Mark berucap dengan tawa di akhir kalimatnya.


“ Mark kau gila ya..” Rangga di buat makin kesal.


“ Coba kau pikir saja Rangga. Dia tidak mungkin menginginkanku, aku sudah menikah. Dan dia juga sangat mendukung pernikahanku dengan Luna. Dia bahkan menyiapkan hotel dihari pernikahan kami.” Mark berucap dengan masih tertawa.


“ Cih, tapi sialnya dia malah menyiapkan baju tidur yang aneh untukku dan Luna. Sehingga sampai sekarang aku mengenakan baju tidur aneh-aneh itu.” lanjut Mark. Walau itu terdengar kesal, tapi Mark berucap dengan sedikit tertawa.


Rangga tidak menjawab lagi, dia hanya menggerutu tanpa suara. Sangat kesal, karena Mark sering meledeknya.


Mark tampak membalas pesan Luna kembali.


“ Sayang aku sarapan dengan baik. Kau makan sianglah lah dengan baik di sana, jaga kesehatanmu. Jangan sampai sakit. Aku merindukanmu.” di lengkapi dengan emoticon cium.


Setelah mengirim pesan itu, Mark kembali menyimpan ponselnya. Dia mentap Rangga yang mengetir.


“ Rangga bagaimana hubunganmu dengan Janneth?” tanya Mark tanpa basa-basi, hingga hal itu membuat Rangga terkejut dan setirnya sedikit hilang kendali.


“ Rangga, apa kau ingin mati ya? jika ingin mati ya mati saja, jangan membawaku.“ teriak Mark kesal sambil memperbaiki duduknya.


“ Hahaha.. maafkan aku.”


“ Sial kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti ini?”


Rangga terlihat tidak nyaman, nama Janneth seolah menghilangkan fokusnya.


“ Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Janneth. Kami hanya teman.”


“ Teman? Lalu kenapa mendengar nama Janneth seolah mengusikmu?”


“ Karena kami memang hanya teman. Eh” Rangga terlihat membulatka matanya, lalu menyisipikan matanya kesal. Sepertinya dia keceplosan.


Di belakang tampak Mark menahan tawa, dia berhenti bertanya. Hal ini sudah sangat jelas baginya, ternyata sahabatnya sedang berduka dengan hatinya.


“ Cih, dasar mulut tidak bisa di ajak kompromi. Kenapa selalu tidak bisa berbohong pada pria ini.”


Rangga menggerutu memarahi dirinya sendiri, sehingga dia menambah kecepatan laju mobilnya.


***


Luna yang menerima pesan terakhir dari Mark, tampak senyum-senyum. Dia sedang berada di sebuah restoran dengan beberapa rekan kerjanya untuk pamaren. Temannya itu adala pria dan wanita.


“ Luna kamu kenapa?” tanya salah satu teman prianya.


“ Ah, tidak apa-apa.” Luna kembali melatakkan ponselnya. Lalu dia meminum minumannya.


“ Luna setelah ini kau mau kemana?”


“ Aku ingin ke salon.”


“ Ya.. kita wanita memang harus merawat diri, apalagi setelah melewati hari yang cukup melelahkan ini. Aku ikut denganmu.”


“ Aku juga.” sela teman yang lainnya


“ Ok.” Luna menyetujui.


“ Luna, setelah dari salon bagaimana jika kita ke club.”

__ADS_1


“ Ya.. aku setuju. Aku akan menunggu kalian di sana.” mereka semua tampak antusias.


“ Maaf, aku tidak bisa.” Tolak Luna dengan ramah.


“ Hei.. kau satu-satunya orang yang sangat jarang untuk pergi ke club. “ sambung yang lainnya dengan sangat menyayangkan.


“ Maafkan aku.” Ucap Luna dengan senyum.


Luna dan temannya sudah selasai makan siang. Mereka masih berdiri di depan restoran, tampak mereka mengenakan mantel musim dingin versi masing-masing. Karena sekarang adalah akhir musim dingin, suhu berfluktuasi hingga 8 derjat celcius di sertai dengan angina lembut.


Bebarapa dari mereka berpisah di depan restoran untuk urusan masing-masing. Sekarang tinggallah Luna dan 2 oarang lainnya yang mempunyai rencana untuk pergi ke salon. Tanpa lama-lama lagi, meraka langsung pergi ke salon langganan meraka.


Saat sampai di salon, meraka langsung melakukan admininstarasi, setelah itu melakukan perawatan.


Mereka tampak bersenang-senang dan menikmatiya. Di saat sesi pemijatan, salah satu teman Luna menanyainya.


“ Luna, apa kau sudah mempunyai kekasih?”


“ Tentu saja.” Luna berucap dengan senyum.


“ Lebih tepatnya aku mempunyai suami.” Lanjut Luna dalam hatinya.


Sontak saja perkataan Luna langsung menarik teman Luna yang satunya lagi.


” Apakah orang Asia atau orang Amerika atau orang Inggris?” tanyanya antusias.


“ Orang Asia.” Luna senyum, sembari wajah Mark terbayang olehnya.


“ Kenapa tidak mencoba yang berbeda?”


“ Ya.. mau bagaimana lagi. Priaku membuatku tidak mampu menoleh pada yang lain.”


Jawaban Luna langsung membungkam temannya, mereka hanya bisa menanggapi dengan anggukan, paham bagaimana Luna sangat mencintai pria itu.


***


Hari sudah gelap, Luna baru kembali ke apartementnya dengan membawa beberapa bagpaper di tangannya. Hasil shoppingnya untuk menghilangkan kesuntukannya.


Saat sampai di kamarnya Luna langsung menaruh belanjaan dengan rapi. Setelah itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Malam semakin larut, tampak Luna sudah menyelimuti dirinya dia tas ranjang. Namun di balik selimut Luna masih bermain dengan ponselnya. Menghubungi Mark berkali-kali tidak ada jawaban, serta mengirim bertubi-tubi pesan juga tidak ada balasan.


“ Mark London terasa jauh lebih dingin tanpamu. Apalagi tanpa kabarmu seperti ini. Aku benar-benar membeku.” Pesan terakhir yang di kirim Luna. tampak di sudut matanya telah mengalir bulir bening. Luna melempar ponselnya sembarangan lalu memeluk erat bonekanya.


‘ krek’ tiba-tiba Luna mendengar suara pintu terbuka. Sontak Luna langsung bangkit, dan tampaklah sosok Mark berdiri di sana.


“ Sayang kamu datang.” Luna langsung bangkit mendekati Mark dan menghamburkan dirinya dalam pelukan sang suami.


“ Dasar suami jahat.” Gerutu Luna sambil memukul dada Mark, sementara air matanya yang masih mengalir. Luna menyeka air matanya, tidak ingin Mark mengetahui dia serapuh ini karena rindu.


“Maafkan aku, aku hanya memberimu sedikit kejutan.” Mark memeluk erat sang istri sambil membelai dengan lembut. “Tadi aku menerima pesan, katanya dia membeku dan sepertinya perlu ku hangatkan.” Mark mulai menggoda Luna yang masih kesal.


“Pesannya salah ketik.” Jawab Luna dengan cepat melepaskan pelukannya dari Mark. Rasa was-wasnya kembali banngkit dan malu juga ada di sana. Tapi Mark dengan sigap menarik Luna kembali ke pelukannya.


“ Hei hei.. beginikah cara istri menyambut suami?”


“Aku sudah menyambutmu dengan baik. Sekarang ayo kita tidur.”


“Enak saja tidur.” Mark langsung mencium bibir sang istri. Luna meski penuh waspada dia membalas ciuman Mark dengan lembut. Malam ini akan panjang, melepaskan kerinduan mereka.


.


.


Bersambung..


Like & koment.

__ADS_1


__ADS_2