
Luna menatapi dirinya di cermin sambil menyisir rambutnya dengan perlahan.
“ Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa papa dan mama sudah 1 bulan kembali ke sisiku. Selama 1 bulan papa tidak berulah seperti yang dia katakan, sejak hari itu papa tidak lagi pergi ke kantor. Tapi ketika aku pulang, aku sering tidak menemukan papa dan mama di rumah. Kata pelayan, papa dan mama mencaba hobi baru, yaitu mereka belajar menunggang kuda.
Papa dan mamaku memang selalu penuh kejutan. Di usia yang tak lagi tergolong muda, tapi masih saja mencoba sesuatu yang menantang. Dan Publick juga tidak mengetahui jika papa dan mamaku sudah kembali, jadi mereka bisa beraktifitas tanpa ada gangguan.
Begitupun dengan Mark, dia juga tidak meminta restu pada papa untuk menikahiku dalam waktu dekat. Rasanya sangat melegakan, semuanya berjalan sesuai keiginanku. Proyek dengan Alexa dan Camelia juga akan segera di mulai. Dan malam ini aku berencana untuk mengatakan keiginanku pada papa untuk melanjutkan pendidikanku.
Aku sudah tidak sabar beralih pada dunia yang ku inginkan, dunia lukis yang sangat ku cintai. Impian itu tidak akan pernah aku padamkan. Galery seniku, aku sangat memimpikannya. Dan..”
‘ tok tok ‘ suara ketukan pintu membunyarkan rencana yang sedang dirancang Luna.
“ Nona.. tuan dan nyonya meminta anda untuk menemuinya di ruang baca.” Panggil bi Ina dari luar.
“ Baik bi, sebentar lagi aku akan ke sana."
“ Baiklah nona.” bi Ina langsung beranjak dari sana.
“ Huff.. kebetulan sekali. Hal apakah yang ingin papa bicarakan padaku? humm..”
Luna meletakkan sisirnya, lalu dia langsung keluar untuk menemui orangtuanya.
“ Dan sebelum aku berangkat untuk melanjutkan pendidikan, aku akan mengatakan pada kak Jiang He tentang hubunganku dengan Mark.
Aku tidak yakin jika dia masih mencintaiku, tapi jika ya aku harus memperjelas semuanya, agar tidak ada Hyena selenjutnya. Orang yang berani membunuh orang lain hanya karena penolakan cinta dan menyalahkan orang lain atas semuanya.” Lanjut Luna sambil berjalan dengan tenang menuju ruang baca papanya.
***
Luna sudah 10 menit berada di ruang baca papanya, tapi tidak ada pembicaraan sama sekali. Papa dan mamanya hanya diam sambil memandanginya dengan tatapan yang mencurigakan.
“ Papa dan mama memang sangat menyanyangiku, tapi mereka sangat suka mengerjaiku karena ide gila dari papa. Dan sekarang aku sangat tau situasi ini, habislah. Pa, ma apa lagi yang sedang kalian pikirkan? apa aku melakukan kesalahan? Kali ini dengan cara apa lagi kalian mengerjaiku?” gumam Luna yang sudah berkeringat dingin. Dia meremas-remas tepi baju di lututnya dan menundukkan wajahnya, namun sesekali dia melirik papa dan mamanya yang terus menatapnya.
“ Luna apa kamu tahu kenapa papa memanggilmu ke sini?”
“ Mana aku tahu, kalian sedari tadi hanya diam dan menatapku.” Jawabnya dalam hati, dia terlihat sangat kesal. Mulutnya seperti akan meluapkan berbagai umpatan.
“ Luna.. papa bicara padamu.”
“ Eh iya pa.. “ Luna terkejut dan langsung mengakat wajahnya dan mentap papanya.
“ Ternya tadi hanya hatiku yang bicara. Dasar Luna, kenapa mendadak bodoh.” Gumamnya mengumpati dirinya sendiri.
“ Sayang jangan tegang begitu, rilexs saja.” dengan senyum.
“ Ah haha,, iya ma. Katakan saja apa yang ingin papa dan mama katakan padaku.” Luna tertawa canggung, dia sungguh kesal dengn situasi ini.
“ Baiklah. kamu harus jawab pertanyaan papa dengan tegas!. Luna apa kamu sungguh mencintai Mark Rendra?”
“ Iya. aku sangat mencintainya.” Jawabnya dengan tegas, tapi hatinya penuh tanda tanya, kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini lagi.
“ Lalu bagaimana dengan impianmu tentang gallery seni?”
“ Apa masalahnya mencintai Mark dengan impianku? Aku bisa mencintai keduanya!” Jawab Luna dengan polos.
Luna teringat maksud hatinya, jadi dia langsung saja mengatakannya.
“oh iya pa, sebenarnya aku ke sini juga ingin mengatakan hal ini pada kalian.” Luna tiba-tiba bersemangat, karena papanya tidak melupakan impiannya.
“ Maksudmu?”
“ Sebentar lagi aku akan menyelesaikan semua tugasku di kantor, dan sekarang papa dan mama sudah kembali. Semuanya sudah baik-baik saja, jadi aku berencana untuk melanjutkan pendidikanku. Lalu mewujudkan galery seni impianku. Bagaimana menurut papa, aku sudah lama merencanakan ini?” Luna mejelaskannya dengan semangat yang menggebu dan penuh senyum di bibirnya. Dia memandangi kedua orang tuanya dengan penuh harapan.
“ Bagaimana kamu bisa berkata semuanya baik-baik saja? sekarang kita tidak punya apa-apa. Kamu juga melarang papa untuk tidak tahu malu. Dan sekarang kamu ingin pergi ke Inggris, lalu bagaimana dengan nasib kami di sini.” jawab tuan Aliester dengan wajah memelas.
“ Eh.. aku tidak memikirkan ini. Tapi Mark bilang aku tidak perlu mencemaskan ini. Berarti dia menanggung semua kebutuhan keluargaku? Memalukan juga jika di pikirkan. Tapi aku harus bagaimana, papa tidak mungkin kembali ke kantor dengan status yang lebih rendah.” Bisik hatinya mulai bimbang.
__ADS_1
“ Pa.. aku punya tabungan. Kalian bisa gunakan itu. Lagian saat aku kuliah nanti, aku juga masih bekerja dengan Alexa. Keuntungan dari kerjasama itu pasti sangatlah besar. Semuanya akan tetap terpenuhi asal papa dan mama sedikit berhemat.” Jelasnya dengan senyum canggung.
“ Luna.. “ teriak papanya dengan sangat kesal.
Luna langsung berdiri dan berlari ke pintu.
“ Hahaha.. ampun pa. Aku tidak akan begitu. Aku akan memikirkan cara lain. Selamat malam pa, ma.. aku sangat menyanyangi kalian.” ucapnya sebelum menutup pintu.
Luna pergi dari ruangan baca papanya penuh dengan senyum, yang tadinya dia mengira akan di kerjai. Tapi malah dia yang membuat papanya kesal.
“ Hahaha.. papa jika miskin menggemaskan juga. Sekarang aku putrinya harus berusaha menghasilakan uang yang banyak. Hummp.. ini akan menjadi hal yang menyenangkan.”
“ Luna.. jika kamu tidak bisa menghasilkan uang yang banyak. Bagaimana kita menggunakan warisan kakek saja.” ucap tuan Aliester secara tiba-tiba. Dia dan istrinya berdiri di depan pintu degan melipat tangan di dadanya.
Luna terkejut dan menghentikan langkahnya.
“ Tidak, aku tidak akan melakukan itu. Pa.. aku punya kemampuan, jadi tidak perlu menggunakan uang itu. Aku tidak akan menyentuhnya lagi. Papa jangan pernah membahas uang itu lagi di hadapanku!” Luna kembali ke kamarnya dengan kesal.
Harta warisan kakeknya merupakan hal yang sangat sensiif baginya. Selain 2 juta dolar yang dia ambil waktu menyelamatkan Hyena, dia tidak pernah menyentuhnya lagi. Untuk 2 juta dolar itupun, dia berniat untuk mengembalikannya.
Sementara itu tuan Aliester dan istrinya menahan tawa, mereka memandangi punggung putrinya yang menjauh dan ekspresi kesal Luna tadi masih terbayang olehnya.
***
Pagi harinya Luna terlihat ceria, kekesalan pada papanya malam itu sudah dia lupakan seiring begntainya malam menjadi siang.
“ Huh.. sial pagi-pagi begini aku sudah merindukannya. Jauh darinya cukup menyiksa juga. Bgaimana jadinya jika aku kuliah di Inggris, apa aku akan mati karena menahan rindu?” Luna menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk menyengkal pemikirannya sendiri.
“ Aku tidak boleh di kendalikan oleh perasaanku. Aku masih punya banyak impian yang harus aku wujudkan.” sambil memandangi angka digital di atas lift yang menyatakan sedang berada di lantai mana dia.
‘ ting ‘ lift terbuka.
Luna langsung melangkahkan kakinya keluar, dia berjalan dengan tenang. Dia sudah merencanakan untuk membuatkan teh untuk Mark pagi ini, dia akan menyambut kedatangan kekasihnya pagi ini. Karena ada hal penting juga yang ingin dia bicarakan.
Luna sedang mengaduk teh di paintry, tangannya bekerja serta hati dan pikirannya sedang meyusun kalimat dan melatih bagaimana dia akan memulai pembicaraan ini pada Mark. Di tengah latihannya itu, dia mendengar suara Mark dan Rangga sedang berbincang.
“ Kalian sudah datang! Sambut Luna denga senyum.
Mark dan Rangga melirik 3 gelas teh yang bawa oleh Luna. Rangga merasa aneh, karena tidak biasanya Luna seperti ini. bagaimanapun sedang baiknya dia, dia tidak pernah melihat Luna menyajikan minuman di kantor.
“ Cuaca hari ini cukup dingin. Aku menyajikan teh untuk kalian.” sambil berjalan menuju sofa.
“ Aku melakukan ini, tidak terlalu anehkan? Kenapa mereka menatapku seperti itu?” bisik hati Luna, merasa bahwa rencananya sudah terbaca oleh 2 orang pria itu.
“ Kamu datang lebih awal hari ini, hanya untuk menyajikan teh?” Mark berjalan mengikuti Luna. Sementara Rangga msih pada posisi berdirinya.
“ Tentu saja tidak. Aku hanya ingin menikmati teh dengan kalian.” sambil memindahkan gelas tersebut dari nampan. Luna melirik Rangga yang masih saja berdiri, “ Rangga, kenapa kamu masih di situ. Ayo bergabung!” dengan senyum yang ramah.
“ Saya tidak bisa Luna. Saya harus segera pergi, ada hal penting yang harus saya urus di tempat lain.”
“ Begitu ya.” dengan wajah kecewanya.
“ Rangga kau bisa cicipi dulu teh buatan Luna. Dia sudah bersusah payah membuatnya khusus untukmu.” Perintah Mark, meskipun sebenarnya hal yang akan di urus oleh Rangga benar-benar harus di segerakan. Tapi dia tidak ingin melihat wajah kecewa Luna.
“ Iya, setidaknya cicipi saja sedikit.” Bujuk Luna.
“ Baiklah.” dengan senyum.
“ Hal bodoh apa ini Mark, ini hanyalah teh. Bersusah payah apanya. Tapi teh ini cukup langka juga, karena Luna yang menyajikannya dengan tak terduga.” Celoteh Rangga dalam hatinya.
***
Rangga sudah pergi dari ruangan, Rangga meyisakan teh setengah dari gelas. Karena memang harus segera mengurus hal penting itu, dia tidak bisa berlama-lama menikmati teh bersama dengan Luna dan Mark.
“ Bagaimana aku memulainya?” gumam Luna sambil meminum tehnya. Dia melirik Mark yang sedang menatap dirinya.
__ADS_1
“ Luna hal apa yang ingin kau bicarakan? apa teh ini sogokan?” bisik hati Mark penuh curiga.
“ Mark kenapa menatapku begitu?” sambil meletakkan gelasnya dengan senyum senyum canggung.
Mark menggelengkan kepalanya, dengan terus memandangi Luna dengan dalam.
“ Mark.. sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu padamu.”
“ Katakan.”
“ Kau tahu bahwa mengurus perusahaan bukanlah hal yang aku inginkan. Ini aku lakukan karena memang harus aku lakukan. Sebagai seorang seniman aku mempunyai impianku sendiri, aku ingin berkarya, melakukan pameran dan tentunya aku juga ingin membuat gallery seniku sendiri.” Luna menatap Mark yang masih mendengarkannya dengan tenang, kemudian dia melanjutkan penjelasannya.
“ Untuk melakukan semua itu, maka aku sudah memikirkan ini sejak lama. Itu adalah hal yang sangat aku dambakan. Oleh karena itu, setelah aku terbebas dari tugas kantor ini aku berencana untuk melanjutkan pendidikanku di Inggris.” Jelas Luna dengan mengatup kedua bibirnya di kata terakhirnya.
Dia tidak bisa menerka ekspresi Mark yang sedang menatapnyanya, terlihat tenang tapi penuh teka teki. Luna benar-benar sangat menantikan jawaban dari Mark.
“ Baiklah. Kau bisa lakukan apapun yang ingin kau lakukan.” sambil mengusap kepala Luna dengan senyum.
Jawaban dari Mark benar-benar membuat Luna terkejut, dia tidak menyangka jika Mark akan memberinya izin dengan mudah. Padahal sebelumnya, Mark seakan tidak mau melepaskannya dan segera mengikatnya dengan pernikahan.
Meski dia bahagia dengan izin Mark, tapi dia juga sedih karena tidak ada penahanan sedikitpun dari Mark.
“ Mark.. apa kau tidak mencintaiku lagi. kau sanggup berpisah selama 2 tahun denganku? Tidak ada penahanan sama sekali, sungguh membuatku sedih.” Gumamnya seraya dengan ekspresi kecewa itu terlihat jelas di wajahnya.
Mark terkekeh menahan tawa melihat ekperesi kesal Luna, “ Luna apa yang kau pikirkan dengan ekspresi itu? Kau kecewa padaku? siapa suruh kamu ingin meninggalkanku begitu saja.” bisik hatinya.
Sebenarnya masih banyak yang ingin Luna bicarakan, tapi dia sudah tidak tahan dengan keentengan jawaban yang di berikan Mark.
“ Kamu terlihat sangat tenang mendengar kepergianku. Baiklah, jika begitu aku akan sangat lega. Aku akan mengurusnya dengan cepat dan pergi dengan segera.” Sambil beranjak pergi, nada bicara, ekpresi dan gesture tubuhnya terlihat jelas sangat kesal. di hatinya juga berharap Mark akan sedikit menahannya setelah mendegarkan kalimatnya itu.
Tapi respon Mark sungguh di luar dugaan. Dia tetap santai, bahkan dia tidak menatap Luna lagi.
“ Kekasihku mau pergi, aku bisa apa?” Mark menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan matanya. Dia terlihat santai tapi sebenarnya sedang menahan tawa .
Luna melirik Mark dengan sangat kesal, dia pergi ke mejanya dengan celoteh tiada henti di batinnya.
“ Mencintaiku? Seperti ini di bilang mencintaiku? Markk,,, kau benar-benar membuatku kesal. seharusnya aku bahagia, tapi malah di buat kesal oleh sikapmu ini. Dasar brengsek..” Di balik punggungnya itu, dia menggerakkan kedua jemari tangannya dengan gestur seakan-akan dia mau mencekik Mark.
Luna benar-benar sangat kesal, dia serasa akan menghancurkan apapun yang dia lihat.
Tapi seketika kekesalannya terhenti, dia sangat terkejut ketika melihat sebuah kotak mewah terletak di mejanya.
“ Hah.. ini apa? ” dengan tatapan bingung. Lalu dia melihat ke arah Mark.
Mark tersenyum deng lembut, lalu dia mendekati Luna.
“ Masih ingin menyumpahiku? Kau yang ingin meninggalkanku, tapi malah kau yang kesal padaku.”
Luna masih bingung, dia menatap Mark yang berjalan menjunya tanpa berkedip.
Mark mendekati Luna, sangat dekat hingga Luna tertahan di meja.
“ Sayang kenakan gaun ini untuk makan alam nanti.” bisik Mark dengan menggoda.
“ Ma makan malam? Aku rasa kita tidak ada membuat janji itu hari ini.” jawab Luna terbata-bata.
“ Apa aku harus seformal itu dengan kekasihku?” Mark memundrkan tubuhnya, dengan gesture tubuh merajuk.
Luna menggelengkan kepalanya, lalau dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Mark. dia mendongak ke atas untuk melihat wajah kekasihnya dengan senyum bahagia.
“ Terimakasih sayang.” Ungkap Luna dengan penuh kelembutan.
Mark tersenyum, dia menarik tubuh Luna lebih dekat “ Aku tidak mengkin membiarkanmu pergi begitu saja.”
Mark mempererat pelukannya, membuat Luna merasakan dera nafas Mark di wajahnya. Mereka bertatapan dengan radius yang begitu dekat hingga menautkan hidung mereka dan saling tersenyum dengan bahagia.
__ADS_1
" Aku tidak akan membiarkanmu pergi tanpa ikatan." ucap Mark dalam hatinya.