TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
AKU MENDUKUNGMU


__ADS_3

“Jangan menangis!” ucap Mark lembut sambil mengusap kepala Luna.


Ketika suara tangisan Luna mulai reda, Mark melepaskan pelukannya.


Mark memegangi Luna dan Luna menengadahkan kepalanya untuk menatap Mark.


“Sudah nangisnya?” sambil mengusapembut pipi Luna.


Luna hanya mengedipkan matanya seperti anak kecil yang sedang di bujuk.


Mark tersenyum lembut melihat ekspressi Luna yang begitu menggemaskan.


“Sekarang kamu lebih baik keluar dari selimutmu!”


Luna menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.


“Kenapa? Apa kamu kedinginan?” tanya Mark bingung.


“Pajamaku tipis” ucap Luna malu sambil menunduk.


“ Aku akhirnya aku mengatakan sendiri .” Bisik hati Luna sambil menggigit bibirnya.


Mark terkejut dan diapun merasa mal


“ Oh, ah haha. kalau begitu aku akan keluar. Cepat bersihkan dirimu, dan sarapan ke bawah!” ucap Mark sambil berjalan keluar.


“ krakk” Mark dengan segera menutup pintu.


Luna kaget melihat Mark yang malah terlihat malu dan segera bergegas keluar ketika mendengar ucapannya.


“Dia imut juga. ” ucap Luna tanpa sadar.


“Eh, aku bilang dia imut? Luna.. kau benar-benar sudah gila ya. Diia begitu saja kamu sudah terpesona dengannya?” teriak Luna sembari melepaskan selimutnya dengan kesal.


Sesaat kemudian Luna teringat dengan kertas yang berikan orang aneh yang ia temui di jalanan Cartagena. Dia bergegas mencari kertas tersebut di dalam tasnya.


“Ketemu.”


Luna membuka kertas itu. kertas kecil itu berisikan,


‘ Call me!, if you trust me. Number Phone 0XXXXXX”


“Hfft.. aku sudah memecahkan video itu. baiklah, sepertinya orang itu bisa di percaya. ”


Luna mengambil ponselnya dan menghubungi orang tersebut.


‘ tuuutt tuutt tuuttt’


“Hallo, nona Luna apakah anda mempercayai saya?”


Luna terkejut ternyata orang tersebut langsung mengetahui bahwa itu dia.


“Sepertinya dia sudah mendapatkan nomorku. Humm, semoga saja aku tidak mengambil langkah yang salah.” bisik hati Luna


“Sepertinya tuan memang sudah tau banyak tentang saya.”


“Tentu saja, karena saya adalah pelindungmu.”


“ Hah, saya tidak mengenal tuan, bagaimana bisa menjadi pelindung saya?”


“Nona tidak perlu tahu mengenai itu. sekarang nona menghubungi saya, apa karna sudah mempercayai saya?”


“ Saya akan coba percaya. Ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan.”


“Bagus. Jika begitu jika bisa bertemu 2 hari setelah ini.”


“Tapi saya sekarang ada di China.”


“Saya juga di China. Saya akan mengirimkan alamatnya di hari itu. ingat jangan sampai ada yang tahu tentang ini.”


“ Baiklah.”


***


\= Di kamar Mark \=


Mark keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada dan handuk berwarna putih melingkar di pinggangnya.


Badannya sangat kekar dengan perut sixpack alias kotak-kotak ala roti sobek sangatlah mempesona.


Dia berjalan menuju kaca sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Di depan kaca dia menatap dirinya dan tangannyapun berhenti beraktivitas.


Dia teringat dengan keterlibatan paman keduanya yang sampai sekarang membuatnya masih tidak percaya, tatapannya berubah menjadi dingin.


Mark mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya.


“Paman keterlibatanmu masih sulit ku percayai. Sekarang saatnya permainan dimulai.” Ucap Mark dengan senyum penuh kebencian.


Kemudian dia meletakkan handuk kecilnya dan segera mengenakan pakaiannya.


Mark kembali memandangi dirinya di cermin sambil merapikan dasinya. Hari ini Mark mengenakan kemeja bewarna putih, dasi biru dengan garis-garis putih, rompi dongker dengan jas yang berwarna senada, sepatu kulit berwarna hitam yang mengkilat.


Mark memang sangat tampan di tambah dengan proporsi tubuh yang sempurna dan barang-barang mewah yang selalu melekat di badannya.


Setelah merapikan diri di cermin, Mark berjalan membuka dressroomnya.


Waahh... di dalam dressroom itu sangatlah menakjubkan, semuanya tertata dengan rapi. Stelan, dasi, pakaian kasual, sepatu dan aksesoris semuanya adalah barang-barang bermerek.


Mark berdiri di bagian jam, di sana tertata jam dengan berbagai merek kelas dunia. Dia memperhatikan dengan teliti dan akhirnya dia memilih untuk memakai jam Graff Diamond Hallucimation yang harganya 55 Juta USD .


Setelah merasa semuanya sudah perfect, Mark keluar dari kamarnya.


Mark keluar dari kamarnya, dia masih memengangi gagang pintu untuk menutupnya.


Kebutulan juga Luna keluar dari kamarnya dan lagi-lagi sangat kebetulan mereka memakai stelan dengan warna yang senada.


Mark menatap Luna dan Luna pun menatapnya.


“ What? ” ucap Luna sembarani menutup mulutnya.

__ADS_1


Mark bingung melihat ekspressi Luna, “ Kau kenapa?”


“ Ah haha..hari ini kebetulan sekali. Kau tidak mencotekku kan?” ucap Luna dengan senyumnya.


Mark menatap Luna cengo, dia masih belum mengerti.


“ Hal apa yang aku contek darimu?”


“ Lihatlah, pakaian kita seperti ini sangat memalukan.”


Barulah dia sadar. Dia memperhatikan penampilan Luna memakai stelan yang senada dengannya. High Heels hitam, Rok selutut yang ketat, kemeja putih dan blazer yang membentuk tubuh Luna dengan sempurna di tambah dengan rambut Luna kali ini di cepol ke atas membuatnya penampilan semakin manis.


Mark melemparkan senyumnya pada Luna.


“ Aku rasa, aku harus mengganti pakaianku.” ucap Luna sambil berbalik badan untuk membuka pintu kamarnya.


“ Tidak perlu, begini lebih baik.” sambil berjalan mendekati Luna.


Luna pun berhenti dengan tangannya yang memegangi gagang pintunya.


“ Aku tidak mau samaan dengamu, itu memalukan. Kita bukan pergi ke taman bermain yang couple begini.”


“Aku bilang tidak perlu. Tapi kau harus mengganti high heels mu, ini terlalu tinggi. Ini bisa melukai kakimu lagi.”


Luna membuka pintunya dan masuk ke kamarnya.


“ Kau tidak perlu mengaturku.”


Luna menutup pintu kamarnya, tapi dengan sigap Mark menahannya.


“ Mark apa yang kau lakukan?” dengan nada kesal.


Mark mendorong pintu tersebut dan menerobos masuk.


“Kau tidak perlu mengganti pakaianmu karena kita bisa telat.”


“Telat?, kau adalah seorang presdir untuk apa megkhawatirkan itu?”


“ Karena aku presdir, maka aku harus memberikan contoh yang baik pada bawahanku. Jika aku telat, maka aku akan kehilangan wibawaku.” ucap Mark dengan serius.


Luna terkejut dan tak berani bicara lagi.


“ Luna, kau menurut saja. Jangan terus menentangku. Ini hanyalah sebuah warna, kenapa kau mempermasalahkannya.”


Luna memang sudah kehabisan kata-katanya, dia tersadar bahwa apa yang dikatakan Mark itu benar. Dia saja yang kekanak-kanakan.


“Sekarang gantilah high heelsmu dengan yang lain!” ucap Mark pada Luna yang masih bengong.


Luna patuh, dia membuka dressroomnya dan memilih high heels yang lain.


“ Yang mana yang harus aku gunakan.” gumam Luna.


Mark datang dan memilihkan untuk Luna. Mark mengambil flat simple yang bewarna hitam dengan tumit tahu yang tinggiya 3 cm.


“ Gunakan ini saja.”


“ Tapi ini terlalu sederhana, setidaknya aku memakai yang tingginya 5cm.”


“Lepaskan high heelsmu!”


“ Ah,, baiklah.” Luna langsung melepaskan dengan canggung.


Mark memegangi kaki Luna.


“ Itu tidak perlu. Aku bisa memakainya sendiri. Sekarang berdirilah.” pinta Luna pada Mark. Dia merasa sangat tidak enak pada Mark.


“ Luna hari ini kau tak perlu membawa mobil, kita berangkat bersama ya.” sambil berdiri.


“ Baiklah” sambil mengenakan flatnya.


Mark tersenyum senang melihat Luna yang patuh, Luna pun menatap Mark dan membalas senyum Mark. Setelah itu mereka turun ke bawah bersama untuk sarapan.


***


\= Lixing Group \=


Pagi hari Mark sibuk memimpin rapat, dia mendengarkan semua laporan dari karyawannya dan memberikan solusi ketika ada kendala.


Setelah semua karyawan selesai memberikan laporannya. Mark memberikan motivasi dan dorongan pada karyawannya agar bisa bekerja dengan semangat dan memberikan yang lebih baik ke depannya.


Di tengah Mark yang sedang berbicara, tanpa sadar Luna menopang dagunya dan terus memandangi Mark.


“Kenapa aku sering merasakan kehangatannya akhir-akhir ini, dia selalu memperhatikan dan memperlakukanku dengan lembut. Walaupun di bumbui dengan sedikit kejengkelan tapi ini sangat menenangkan.” bisik hati Luna dengan masih memandangi Mark.


Mark berhenti bicara dan melihat ke arah Luna yang terus menatapinya dengan senyum.


“ Luna fokuslah!” ucap Mark.


Luna terkejut dan tersadar, dia langsung merubah cara duduknya dengan merasa sedikit malu. Orang-orang di dalam ruang rapatpun tersenyum kecil melihat tingkah Luna.


“ Nona Luna sepertinya sangat mengagumi tuan, hingga tak melepaskan pandangannya pada tuan.” bisik satu orang di sana.


Luna mendengar bisikan orang tersebut, dia meletakkan kedua tangannya di kedua pahanya dan menggenggam jemarinya.


“ Aish.. sangat memalukan.” bisik hati Luna sembari menggigit bibirnya menahan malu.


Mark kemudian melanjutkan kalimatnya hingga semua orang kembali fokus. Tapi tidak dengan Luna yang masih menahan malu, dia tidak lagi menatap Mark. Dia hanya mendengarkan Mark dengan memandangi dokumen yang ada di depannya.


Beberapa saat kemudian rapat telah selesai, satu-persatu meninggalkan ruangan. Luna pun bergegas meninggalkan ruangan dan langsung pergi ke toilet.


Di toilet Luna memilih tempat biasa yang dia masuki, dia duduk dan mengumpati dirinya sendiri.


“ Luna, kenapa kamu tiba-tiba begini.” gumamnya sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.


Seperti biasa beberapa orang-orangpun datang ke toilet dan bergosip. Tapi kali ini mereka tak bergosip menjelekkan Luna, karena semenjak Luna berhasil mendapatkan proyek pertamanya, tak ada lagi yang berani meremehkannya.


Tapi kali ini mereka memuji keserasian Luna dengan Mark. Ada yang memuji ketampanan Mark hingga bereaksi seperti seorang fangirl dan mereka ingin berada di posisi Luna.


Luna menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar keributan sekelompok orang itu.


 

__ADS_1


Beberapa saat kemudian orang-orang pergi toilet tersebut telah pergi dan Luna pun keluar.


Dia membersihkan tangannya di wastafel dan kemudian kembeli ke ruangan Mark.


Tapi saat dia berada di depan pintu ruangan Mark, dia merasa sedikit malu untuk masuk.


“ Huftt,, aku tidak boleh seperti ini.” gumam Luna dan langsung membuka pintu.


Saat Luna masuk, dia hanya menemukan Mark sendiri yang sibuk menandatangi berbagai berkas hingga tak memperdulikan kedatangan Luna.


Luna berjalan menuju mejanya “ Syukurlah.” gumam Luna lega.


Luna duduk di kursinya dan langsung melihat berkas-berkas yang ada di mejanya. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


***


\= Di SK Group \=


Di parkiran bawah tanah seseorang dengan stelan abu-abu memasuki sebuah mobil, dan tak lain orang yang di dalam mobil itu sudah ada Rangga yang menunggunya.


“Ini semua data yang tuan muda minta.” ucapnya orang sambil menyerahkan map coklat.


“Terimakasih banyak tuan Jors.”


“Kenapa tiba-tiba tuan Muda Mark meminta semua ini, apa dia sudah memutuskan untuk mengambil kembali haknya?”


“ Hal ini bisa tuan Jors bicarakan ketika bertemu dengan Mark nantinya.”


“ Baiklah, saya tidak bisa lama-lama, saya harus pergi. Sampaikan salamku pada tuan muda.”


“ Baiklah.”


Jors langsung keluar dari mobil Rangga dan pergi dengan santai agar gerakannya tak tampak mencurigakan.


Rangga mengambil ponselnya dan menelvon Mark.


“ Mark semuanya sudah di tanganku.”


“ Bagus, kita berjumpa di tempat Key saja malam ini. lanjutkan tugasmu!”


“ Baiklah.” sambil memutuskan telvonnya.


SK Group merupakan Perusahaan keluarga Rendra yang seharusnya menjadi milik Mark dan sekarang perusahaan tersebut di kuasai oleh paman keduanya.


SK Group merupakan perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi terbesar kedua di dunia. Oleh karena itu Mark juga ahli dalam urusan telekomunikasi, tentang teknolgi termasuk dalam menciptakan virus dan sebagainya. Karena bakat alami ini memang sudah di turuni dari ayahnya, selain itu semasa kuliah Mark juga mendalami ilmu ini.


***


Mark meletakkan ponselnya di meja, kemudian menatap Luna yang masih sibuk dengan dokumen-dokumennya.


“Luna siang ini kita makan bersama.”


“Mark sepertinya aku tidak bisa makan di luar, begitu banyak yang harus aku kerjakan.” tanpa menatap Mark dia tetap sibuk membaca dokumennya.


“Kenapa kau sibuk sekali, kau hanya mengerjakan 1 proyek saja. Tapi sudah berani mengabaikan atasanmu.”


“Mark aku sudah lama tidak masuk kerja jadi sudah banyak dokumen yang menumpuk. Dan besok aku harus ke lokasi untuk mengecek semuanya.”


Mark mendekati Luna dan duduk di meja sembari memandangi kesibukan gadis itu.


Luna meletakkan pulpennya dengan kesal.


“Mark kenapa kau duduk di sini?”


“Makanlah denganku, maka aku tidak akan mengganngumu.”


“Humm.. aku tidak boleh mencari masalah dengannya, karna itu hanya akan menghabiskan waktu. aku harus bisa mengerjakan semuanya dengan cepat. Agar bisa menemui orang aneh itu dengan tenang” bisik hati Luna.


“ Ok ok. Sekarang tolong kau menyingkir.” dengan menahan kesal.


Mark pun berdiri “ kalau begitu ayo kita pergi.”


“ Hah, sekarang?”


“ Luna, kau terlalu sibuk hingga lupa waktu, lihatlah sekarang jam berapa!"


Lunapun melihat jam tangannya.


“ Ya Tuhan,, ternyata sudah jam istirahat.” Ucap Luna dukup terkejut.


Luna merapikan dokumen di mejanya, setelah itu mereka pergi unuk makan siang di Luar.


\= Di restoran S \=


Mark dan Luna sedang menikmati makanannya.


“ Luna apa kau menyukai makanan di sini?”


“ Ini pertama kali aku ke sini, tapi ini rasanya memang sangat enak.”


“ Jika kau suka maka aku akan membelinya.”


Luna terkejut hingga tersedak.


“ Uhuk hu..,”


“ Kau kenapa?” sambil menyerahkan segelas air putih pada Luna.


Luna pun lansung meminumnya.


“ Mark apa kau gila, ku bilang suka. Jadi kau memutuskan untuk membelinya.” ucap Luna pelan sambil meletakkan kembali gelas yang sudah kosong.


“ Haha,, sebenarnya aku sudah mengincar lama restoran ini. Karena sewaktu kecil aku, Ayah dan ibuku sering ke sini. Semenjak kematian ayahku, aku tak pernah lagi mengunjungi tempat ini lagi. Dan Ketika aku sudah mendapatkan kepercayaan pamanku, aku langsung berinvestasi di sini, 40% sahamnya adalah milikku. Dan ini pertamakali aku kembali ke sini.” dengan ekspressi yang berusaha menyimpan kesedihan.


Luna tertegun mendengar ucap Mark.


“ Dia terlalu banyak menyimpan kesedihan, hingga tidak bisa mengekspresikannya. Ini pasti sangat sulit baginya” bisik hati Luna.


Luna memegang tangan Mark yang berada di atas meja.


“ Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Aku mendukungmu”

__ADS_1


Mark memandangi tangan Luna yang menggenggam tangannya, lalu dia menatap Luna dan Lunapun melemparkan senyum penuh dukungan pada Mark.


__ADS_2