
“ Aku kira mereka akan bertemu dengan klient. Ternyata pergi ke Cour.”
Gerutu Luna saat mobil mereka sudah sampai di depan gedung Cour Media. Luna, Mark dan Rangga keluar dari mobil. lalu mereka langsung masuk gedung menuju ruangan presdir Cour Media yang tak lain adalah Key Wu.
“ Luna..” panggil Nindy yang terlihat baru keluar dari ruangannya. Dengan senyum cerianya dia mendekat. “ Hai kak Mark, hai kak Rangga.” Sapanya.
“ Jadi ini alasannya kakak menyuruhku untuk membawa Luna pergi bersamaku? Sepertinya mereka akan membicarakan hal yang penting.”
Nindy senyum-senyum, lalu merangkul Luna sambil mengikuti Mark dan Rangga dari belakang. “ Luna kebetulan sekali kamu di sini. Aku ingin membahas sesuatu denganmu.”
“ Sungguh?”
“ Apa dia akan menceritakan tentang hubungannya dengan kak Jiang He?”
Terka hati Luna sambil tersenyum tipis.
“ Iya. Hihi.” Tawa Nindy seperti malu-malu.
“ Ayolah! Jangan membuatku penasaran.” Pinta Luna dengan memanyunkan bibirnya.
“ Nanti saja di bahas. Sekarang kita masuk dulu ya.” Ajakanya. Karena pintu ruangan Key sudah di buka oleh sekretaris Lery dan mempersilahkan masuk dengan ramah.
“ Nindy kau tidak bisa membuat alasan ya. Aku tidak melihat tanda-tanda jika Luna akan terbujuk olehnya.”
Bisik hati Rangga, sambil mengikuti Mark yang sudah masuk duluan.
“ Terimakasih.” Ucap Luna sambil tersenyum ramah pada Lery yang mempersilahkannya masuk. Sementara Nindy tampak mengerutkan keningnya. Dia belum pernah melihat sosok Lery selama ini.
“ Apa dia karyawan baru?”
Nindy sedikit memeringkan kepalanya, bahkan masih menoleh saat dia sudah melangkah masuk ruangan.
“ Itu nona Nindy kan? Kenapa dia menatapku seperti itu? Kak Ketrin bilang orang-orang berpengaruh di sini ramah-ramah. Tapi sampai detik ini, aku tidak menemukan adanya keramahan. Yang ada menjengkelkan semuanya.”
Lery menggerutu dalam hatinya sambil menutup pintu berusaha sepelan mungkin. Setelah pintu tertutup dia kembali ke mejanya.
“ Duduklah. Aku masih punya sedikit lagi yang di kerjakan.” Ucap Key dengan matanya yang masih focus pada layar komputer. Lalu dia menekan panggilan dan lanjut megotak-atik keyboard.
“ Ya tuan, ap..”
“ Bawakan Americano untuk tamuku.” sela Key dan berucap cepat.
Di sisi Lery yang menjawab telepon tampak menahan kesalnya. Tersenyum simpul dan mengusap dada.
“ Baik tuan.” Lery menutup telepon. Lalu mengeram dengan mengepal kedua tangannya.
“ Kenapa aku merasa di musuhi oleh para atasanku?”
Di ruang presdir, terlihat Key sudah menyelesaikan pekerjaannya. Menoleh pada Nindy dan Luna, lalu dia mengambil ponselnya.
“ Apa kau sudah punya cara menarik Luna pergi?” Key mengirim pesan pada Nindy. Kerena merasa belum ada pergerakan.
Nindy mengambil ponselnya yang tiba-tiba bergetar, lalu memanyunkan bibirnya sambil menoleh pada kakaknya.
“ Entahlah, aku tidak yakin. Sebenarnya aku punya janji hari ini.”
“ Bawa saja Luna bersamamu. Memangnya kau janji dengan siapa? Bukan kencankan? Nanti malam harus di rumah! kau jangan coba-coba pergi berkencan ya setan kecil.” Balas Key menohok dengan stiker marahnya.
Membaca balasan dari kakaknya, membuat Nindy langsung menatap Key kesal. Sudut bibir atasnya terangkat. Lalu kembali menatap layar ponsel dan mebalas pesan Key.
Luna yang sedari tadi memperhatikan merasa bingung. Karena hanya dia yang tidak punya aktivitas. Mark dan Rangga juga terlihat sibuk dengan ipad di tangan Mark. Di ipad tersebut terdapat kode-kode yang sama sekali tidak di mengerti oleh Luna. Terpakasa diam, Luna merasa benar-benar tidak bisa masuk dengan pembahasan orang-orang itu.
“ Apa aku tidak terlihat? Mereka mengabaikanku.” Melipat tangan di dada dan melirik orang-orang itu bergantian.
“ Aku bukan maniak kencan. Aku pasti membawa Luna pergi. Tidak perlu khawatir!” balas Nindy, lalu dia menyimpan ponselnya. Di saat yang bersamaan, dengan gelagat Nindy yang kesal, Luna menoleh padanya.
“ Ada apa?” Tanya Luna spontan.
__ADS_1
“ Bukan apa-apa. Hanya kesal membaca pesan dari orang aneh.” Nindy menjawab dengan cengigisan.
“ Ooo..” Luna menganggukkan kepalanya.
“ Oh iya Luna, bagaimana siang ini kita makan bersama.” Nindy memulai aksinya.
“ Baiklah.” Jawab Luna menyetujui, lalu dia menoleh pada Mark. “ Kita akan makan siang bersama.”
Kalimat Luna langsung membuat Mark dan Rangga yang sibuk menatap Layar langsung menoleh pada Luna. Begitupun dengan Key yang bahkan langsung berdiri dari kursi kerjanya.
“ Makasudku hanya kita berdua Luna.” Sela Nindy cepat. “ Aku hanya ingin makan siang berdua denganmu. Aku kan sudah bilang akan membahas sesuatu padamu.” Nindy berusaha semampunya. Karena baginya dalam membujuk Luna adalah hal cukup sulit.
“ Tapi..”
“ Luna, kamu dan Nindy duluan saja makan siangnya nanti. Karena kami punya banyak hal yang akan di bahas mungkin akan terlambat makan siang.” Key berusaha membantu. Dia mendekat dan duduk di sofa.
“ Mana boleh seperti itu. Sesibuk apapun kalian, harus tetap menjaga kesehatan.” Suara Luna terdengar kesal.
“ Baiklah. Kami akan memesan makanan nanti. Kau dan Nindy pergilah makan di luar.” Jawab Mark dengan senyum lalau mengusap kepala Luna.
“ Luna…” rengek Nindy di sertai denga kedip-kedip manjanya.
“ Ok ok. Tapi kalian harus janji tidak mengabaikan makan siang ya.” sambil menoleh pada Mark.
Mark menjawab dengan senyum serta anggukan kecil.
“ Ok. Kalau begitu kita berangkat sekarang saja.” Nindy tampak semangat. Dia langsung berdiri dan menarik tangan Luna.
“ Kenapa cepat sekali? ini masih 1 jam lagi. ” Luna bingung dan mendongak melihat Nindy yang menarik tangannya.
“ Ya lebih cepat lebih baik. Memangnya apa lagi yang kita tunggu. Para pria ini akan memulai pekerjaannya dan kita tidak akan mengerti sama sekali dengan apa yang mereka bahas.”
“ Eh, kenapa aju merasa sedang ditipu ya? mereka seperti sengaja mendorongku keluar.Ahk... masa bodoh. Lagian aku juga sudah tidak sabar mendengar tentang hubungan Nindy dan kak Jiang He.”
“ Tunggu dulu” Luna menarik tangannya dari Nindy.
“ Sayang aku pergi ya.” menatap Mark dengan senyum.
Sementara Nindy yang masih berdiri di depan Luna, langsung mengalih pandangnya. Begitupun Key tampak angguk-angguk sambil mengusap keningnya.sementara Rangga sangat santai, lebih dari ini dia sudah sering melihatnya.
“ Aku lupa jika mereka suami istri. Kenapa aku malah asal menarik saja. Bodoh, suami istri harus berpamitan dengan romantis. Meski hanya berpisah beberapa jam. Dasar jomblo. Hiks”
Nindy mengumpati dirinya sendiri sambil menepuk tangannya yang menarik tangan Luna tadi.
“ Nindy, jaga istriku baik-baik.” ucap Mark tanpa menoleh.
“ Baik kakak.” Nindy menjawab dengan senyum cengingisan. Sungguh iri rasanya.
“ Hei hei.. kami hanya pergi makan. Bukan pergi berperang.”
Luna menggerutu dalam hatinya. Merasa suaminya terlalu berlebihan. Lagian, masih ada pengawal yang selalu siaga untuk mengikutinya kemanapun.
Luna mengemasi tas, lalu dia dan Nindy langsung beranjak keluar. Namun di saat mereka membuka pintu terlihat Lery yang baru datang membawa Americano dan hampir saya akan bertambaraka jika Nindy berjalan cepat.
“ Eh nona. Maaf.” Lery terlihat terkejut.
“ Tidak apa-apa.” jawab Nindy dengan senyum. Tapi hatinya kembali bertanya tentang karyawan baru ini.
“ Nona sudah mau pergi ya? maaf saya terlalu lama menyiapkan minuman.” Lery tampak bersalah.
“ Tidak masalah. Menyiapkan Americano sebanyak ini pasti butuh waktu.” Nindy berucap sambill mengarahkan matanya pada Americano lalu menatap Lery dengan senyum tipis.
“ Ayo Luna.” Lanjut Nindy sambil berjalan duluan.
“ Tidak apa-apa. Lain kali kami akan meminum Americano buatanmu.” Luna dengan ramah, menepuk lembut bahu Lery, lalu mengikuti Nindy.
Lery tersemyum simpul menatap 2 punggung wanita itu menjauh. Lalu masuk ke dalam dengan was-was, takut jika presdir yang menurutnya gila itu akan memarahinya di depan tamu. Dimarahi sendiri tidak terlalu masalah, tapi jika di depan tamu pasti sangat memalukan.
__ADS_1
“ Minumannya tuan.” Lery berucap lembut, lalu mendekati meja dan menaruhnya.
“ Kenapa lama sekali? 2 orang bahkan sudah pergi.” suara Key terdengar dingin. Tentu saja, hal itu menarik perhatian Mark dan Rangga. karena setahunya, Key di kenal dengan pimpinan yang hangat dan juga humoris. Lalu kenapa pada waniat ini dia bersikap dingin?.
“ Maaf tuan. Saya belum cekatan. Dan sebelumnya saya juga tidak pernah bekerja sebagai waiter.” Lery tampak senyum di akhir kalimatnya. Tetap terlihat tenang.
“ Kau menyamai Cour Media dengan profesi sejuta umat itu?”
“ Bukan begitu maksudku tuan. Aku hanya bercanda. Ini han…”
“ Ah sudahlah. Kau lebih baik keluar.” Key memotong kalimat Lery hingga membuat Lery menutup mulutnya rapat.
“ Baiklah. Saya permisi dulu.”
Lery berdiri dan membungkukkan badannya. Lalu beranjak keluar dengan membawa 2 minuman yang terlambat karena orangnya sudah pergi.
“ Dia benar-benar tidak suka padaku.Tapi kenapa dia tidak memecatku? Huffttt.. akupun demi ibu harus bisa bertahan di sini.”
Setelah kepergian Lery, Rangga tampak ingin menanyai Key. Rasa penasarannya harus mendapat jawaban.
“ Dia sekretaris baru. Sekretaris pengganti sementara.” Key malah duluan berucap sebelum di hujami berbagai pertanyaan aneh dari Rangga.
“ Lalu kenapa kau bersikap dingin padanya?”
“ Dia masih baru. Jika aku langsung menunjukkan sikapku seperti biasanya, maka dia tidak akan menaruh segan padaku.” Key berucap sambil meraih Americano dan menyesapnya.
"Bagaimana menurutmu Mark?" tanya Rangga.
“ Sedikit janggal.” Mark juga meraih Americanonya.
Key mendengus senyum. Dia tahu, tidak akan mudah untuk membuat sahabatnya percaya begitu saja.
“ Aku kurang menyukainya. Tapi sekretaris Ketrin tetap bersigigih untuk menjadikan dia sebagai penggantinya selama cuti melahirkan. Ketrin berkata hanya mempercayai wanita itu, tidak ada yang lain. Dan seperti yang kalian ketahui, sekretaris Ketrin sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. aku tidak ingin membuatnya kecewa.”
“ Kenapa kau tidak menyukainya?” tanya Rangga menggali lebih dalam. Ya inilah intinya. Masalah dia sekretaris pengganti atau apanya bukan masalah. Tapi yang perlu di pertanyakan kenapa Key yang hangat dan humoris ini bersikap dingin padanya.
Tetapi anehnya lagi, Key malah tertawa terbahak-bahak ketika Rangga menayakan hal itu lagi.
“ Rangga, kau tahu sendiri. Aku suka wanita cantik dan rapi. Tapi dia.. kalian bisa lihat sendiri. Fashionnya sangat buruk. Aku tidak terbiasa melihat karyawanku seperti itu. Ini pertama kalinya. Haha.. ya ini pertama kalinya karyawan Cour Media terlihat aneh.”
“ Hah? Hanya karena itu?”
gumam Rangga sambil melihat Key yang masih tertawa.
Sementara Mark tampak senyum tipis, lalu menaruh cangkirnya.
“ Baiklah. Sekarang lebih baik kita kembali pada tujuan pertama kita.” Mark mengambil ipadnya kembali.
“ Iya. dari pada membahas hal tidak penting begini.”
Mereka bertiga langsung mengambil dokumen masing-masing. Sementara Mark tampak melirik Key yang sedang membuka dokumen, lalu menggelengkan kepalanya.
***
“ Kita makan siang dimana?” tanya Luna. Mereka sudah berada di dalam mobil dan Nindy yang menyetir.
“ Luna sebenarnya kita tidak hanya makan siang.”
“ Lalu?” Luna terlihat santai sambil mengemluarkan ponselnya dari tas.
“ Aku ingin menghajar penghianat. Kau tidak apa-apa dengan inikan?”
“ Apa?” Luna langsung menoleh pada Nindy penuh tanya. Matanya membulat dan mulutnya sedkit terbuka.
“ Penghianat? Maksudnya apa? siapa yang berhianat? ”
.
__ADS_1
.
Bersambung....