TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 SIASAT NYONYA XIO


__ADS_3

Festival musim semi atau biasa di sebut juga dengan imlek telah tiba. Dimana moment ini akan menjadi moment hangat bagi setiap keluarga.


Begitupun dengan keluarga Aliester, di kediamannya semua orang sudah rapi dengan pakaian warna merah. Di ruang tamu juga terlihat keluarga Noman bersama dengan istri dan anakanya Camelia. Terdengar gelak tawa di sela pembicaraan mereka.


Pembicaraan yang renyah itu seketika berhenti ketika mereka melihat Mark dan Luna yang menuruni tangga. Dan Noman melemparkan senyumnya pada Mark, lalu mereka sekeluarga berdiri memberi hormat.


“ Jangan seperti itu paman. Hari ini bukan urusan bisnis, santai saja.” Mark berucap ramah dan tangannyanya mempersilahkan untuk duduk kembali.


Tuan Aliester dan Nyonya Aliester tampak tersenyum tipis melihat situasi itu. Sementara nyonya Xio tampak memperhatikan Luna dengan tatapan menyelidik. Matanyanya tampak menyipit saat melihat perut Luna yang masih ramping.


“ Camelia,” panggilnya pelan dengan menyinggung legan Camelia dengan sikunya.


“ Iya ma..” jawab Camelia sambil mendekat.


Nyonya Xio tampak ingin berbisik, tapi terhenti saat Noman menyentuh bahunya. Dia menoleh, lalu menatap sekitar ternyata semua mata tertuju padanya.


“ Maafkan istri dan putriku .” Noman berucap dengan senyum penyesalan, lalu menoleh dengan tatapan tajam penuh peringatan pada istrinya.


“ Tidak apa-apa. Semuanya sudah di sini, sekarang lebih baik kita makan bersama.” ajak tuan Aliester sambil berdiri.


Semuanya menganggukkan kepala, kemudian berjalan menuju ruang makan yang di pimpin oleh tuan Aliester.


“ Aku tidak melihat perubahan apapun dari tubuh Luna. Apa dia belum hamil?”


Bisik hati nyonya Xio dengan memandangi punggung Luna yang berada di depannya. Matanya menyipit, lalu dia tersenyum miring, entah apalagi yang di pikirkannya kali ini.


Di meja makan semuanya sudah terhidang, termasuk menu jiaozi yang merupakan lambang kekayaan bagi orang Tiongkok dan berbagai menu lainnya.


Selama acara makan keluarga, mereka berbincang dengan cukup nyaman. Namun nyonya Xio tampak sangat penasaran dengan Luna. Dia terus memperhatikan Luna yang terlihat makan dengan lahab dan sesekali di suapi oleh Mark.


Rasa penasarannya tentang apakah Luna sudah hamil atau belum memenuhi pikirannya. Ingin sekali bertanya, tapi takut juga karena jelas-jelas suaminya telah memperingatinya tadi.


“ Luna, tante dengar dari Camelia sebentar lagi kamu akan mendapatkan gelar magistermu ya?” tanya nyonya Xio. Dia tetap ingin berbicara, berusaha sedikit mencari celah dari pembicaraan basa-basi ini.


“ Iya tante. 2 minggu lagi.” jawab Luna dengan menoleh pada nyonya Xio.


“ Wah itu sangat bagus. Kamu benar-benar sangat pintar hingga bisa menyelesaikan pendidikanmu dalam waktu singkat.”


“ Tante terlalu memuji. Ini adalah waktu yang normal, banyak mahasiswa/i Royal Collage Art lulus dalam waktu ini.”


“ Tapi itu tentu saja tidak terlepas dari kemampuanmu yang luar biasa. Kamu pasti sangat sibuk dalam 1 tahun ini. Jagalah kesehatan dengan baik, agar cucu kami tetap sehat.” nyonya Xio berucap penuh senyum.


“ Bukan begitukah kakak?” lanjutnya denagan bertanya pada nyonya Aliester.

__ADS_1


Nyonya Aliester tersenyum tipis dengan sedikit mengangguk. Dia paham tujuan nyonya Xio di balik ini, pasti menyelidik dan tentang putrinya.


“ Luna akan selalu menjaga kesehatannya dan saya menjamin itu. Jadi tidak perlu khawatir, anakku pasti akan lahir dengan sangat sehat nantinya.” jawab Mark denagn lembut, lalu dia menyuapai Luna sepotong daging.


“ Makan yang banyak sayang.” sambil mengelus perut Luna seolah Luna sedang hamil. Luna tertawa lalu mengelus rambut Mark yang sedikit menunduk mengelus perutnya.


“ Tante, kenapa kamu sangat penasaran?”


Luna melirik nyonya Xio yang sekarang terlihat tersenyum pahit. Nyonya Xio mengambil gelas lalu menghabiskan minumannya dengan sekali degukan. Sementara Camelia tetap terlihat tenang dengan makanannya.


“ Sudah hamil? Tapi kenapa aku tidak yakin.” Gerutu hatinya.


“ Jadi kapan kamu akan kembali ke London Luna? pasti kan sangat sibuk menyiapkan pengukuhan gelarmu nanti.” tanya nyonya Xio kembali.


“ Sayang kenapa bertanya seperti itu? Luna baru saja kembali dari London, tidak pantas menayakan kapan di kembali.” sela Noman dengan lembut pada istirinya. “ Maafkan tantemu Luna, dia hanya hanya terlalu peduli padamu.” Sambil menoleh pada Luna.


“ Iya, saya paham paman. Tidak apa-apa menanyakan hal itu.” jawab Luna. Lalu dia mengalih tatapnya pada nyonya Xio.” Aku akan kemali di hari ke empat perayaan musin semi ini tante. Tante benar, cukup banyak yang harus di urus di sana.” jelasnya.


“ Itu bagus. Kehamilan pertama akan sangat rentan, jadi jangan sampai terlalu lelah. Kerjakan semuanya dengan tenang dan nyaman.”


“ Terimakasih perhatiannya tante. Aku akan mengingatnya dengan baik.”


Setelah menjawab Luna menatap papa dan mamanya, lalu mereka saling lempar senyum. Merasa konyol saja membohongi keluarga Noman di hari besar ini. habis mereka terlalu ingin tahu, ya… tidak masalah untuk mengerjainya sesaat.


***


“ Aku tidak yakin ma. Terkahir kali saat di proyek, aku tidak melihat tanda-tanda apapun dari Luna. Begitupun tadi, dia biasa saja.”


Camelia menjawab dengan santai tanpa menoleh pada mamanya. Semantara Noman Aliester tampak sedikit melirik kebelakang mendengar percakapan istri dan putrinya.


“ Hah, mama juga tidak yakin. Jadi tadi mereka mempermainkan mama?” Nyonya Xio mendengus kesal dan menggenggam erat tangannya.


“ Sayang, mereka itu pintar. Kamu bertanya dengan gelagat yang sangat mudah di tebak, makanya kamu di bodohi.” Noman tertawa di ujung kalimatnya.


“ Sayang kamu..” menatap tajam suaminya yang masih tertawa.


“ Tapi ini bagus juga. Karena mereka berbohong, jadi dapat kita simpulkan jika mereka sedang menyembunyikan sesuatu.” ucap Noman dengan senyum liciknya.


“ Maksud papa?” nyonya Xio mengerutkan keningnya, penasaran dengan apa yang telah difikirkan suaminya. Sementara Camelia masih tetap diam dengan pandangannya yang menoleh ke luar jendela mobil.


“ Mereka sudah menikah 1 tahun lebih, tapi Luna masih belum hamil. Itu pasti ada yang salah dari salah satunya.” Noman kembali tertawa, merasa hebat dengan pemikirannya.


“ Papa benar juga. Tapi siapakah yang berpotensi yang bermasalah di sini?” nyonya Xio tampak semangat dan mulai memikirkan kemungkinan yang dia pertimbangkan sendiri.

__ADS_1


Berfikir dan berfikir, hingga beberapa saat kemudian matanya terbelalak. Sepertinya dia sudah menemukan sesuatu yang hebat.


“ Hemm. Mama punya ide bagus pa, Camelia.” semangat dengan menjentikkan jemarinya. Tapi dia memutar malas bola matanya, saat melihat Camelia tidak merespon dan masih menoleh ke luar.


“ Camelia.” ucapnya sambil menepuk keras paha putrinya.


“ Iih.. mama ini kenapa?” berucap dengan kesal sambil mengusap rasa perih di pahanya.


“ Hei.. papa dan mama sedang mencari celah untuk merebut Mark. Tapi kamu malah terlihat biasa saja dan tidak ada antusias sedikitpun. Apa kamu tidak ingin menjadi nyonya dari pebisnis global? tidak ingin menjadi nyonya Rendra? ”


“ Memangnya apa lagi yang papa dan mama pikirkan sekarang? mencari informasi tentang kesehatan mereka berdua?” Camelia mendecih, lalu menatap tajam mamanya.” Itu adalah hal yang tidak mungkin.” Lanjutnya, lalu membuang muka dengan jengah.


“ Dasar bodoh. Mana mungkin mama berani melakukan hal itu. Itu sama saja dengan mama menyerahkan nyawa mama pada mereka.” Nyonya Xio menjawab tak kalah kesal.


“ Mama punya ide yang yang sangat bagus. Dan jika ini berhasil, Mark pasti tidak akan bisa mengelak, atau bahkan mungkin dia akan sangat berterimakasih.” Lanjutnya dengan senyum penuh siasat.


“ Apa rencana mama? ” kali ini Noman yang yang tampak semangat dan tidak sabaran mendengar penjelasan istrinya.


“ Mark Rendra adalah pebisnis global. Dia pasti sangat membutuhkan keturunan untuk melanjutkan bisnisnya. Untuk itu semua dia pasti menjaga dirinya dengan baik. Menurut mama, jikapun salah satu mereka yang bermasalah, pastilah itu Luna.” sambil tersenyum puas, merasa hebat dengan pemikirannya.


“ Luna terlalu sibuk dengan pendidikannya dan dia juga aktif dalam urusan proyek resort. Dia pasti mempunyai banyak fikiran dan juga stress, hingga mengganggu kesehatannya. Dan setelah menyelesaikan pendidikannya, dia pasti akan sibuk dengan gallery seninya. Dia itu wanita hyperaktif dan haus pujian. Dia tamak akan prestasi.” Lanjutnya.


“ Lalu? ” tanya Camelia dengan suaranya masih terdengar kesal.


Nyonya Xio mendekati putrinya, lalu mengusap lembut rambut Camelia. “ Sayang, kamu adalah putri papa dan mama yang palinng cantik. Kamu dan Luna tidak jauh berbeda. Meskipun Mark sangat mencintai Luna, tapi dia adalah pria normal kita bisa..”


“ Jangan lanjutkan lagi!” Camelia terdengar marah dan mengalihkan pandangannya.


“ Apa maksudmu? Camelia, mamamu..”


“ Aku bilang jangan lanjutkan lagi.” Camelia memotong kalimat Noman yang menghardiknya. Menjawab tak kalah keras dan seperti frustasi.


“ Aku paham maksud kalian. Aku pasti akan melakukannya.” Camelia menangis di akhir kalimatnya. Dia menyandarkan dirinya, menghadap ke luar jendela dengan membelakangi mamanya.


“ Sayang kamu kenapa?” tanya nyonya Xio khawatir. Dia menyentuh tangan Camelia, tapi dengan cepat Camleia menepisnya. Dia berusaha menahan suara tangisnya dengan menutup mulutnya.


“ Dasar anak tidak berguna.”caci Noman sambil memperbaiki duduknya seperti semula. Merasa sangat kesal melihat Camelia menangis tidak jelas begini.


Suasana di mobil menjadi mencekam. Sopir yang mengemudi hanya bisa diam dan fokus pada jalan. Sudah terbiasa dengan adu mulut dan susana seperti ini dari keluarga majikannya.


Camelia mengusap air matanya, memandangi refleksi dirinya yang samar dari kaca mobil, lalu tampak dia tersenyum tipis.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2