
Jangan lupa like, vote, komen, dan tambahkan ke favorit, selamat membaca
---
Andi mendengar bahwa Kakek Harmuji perlu melakukan rawat inap atas penyakitnya yang kambuh. Acara pertemuan tahunan yang seharusnya merupakan acara bahagia, malah berakhir dengan duka seperti ini. Acara itu bubar lebih awal dari biasanya.
Bahkan makan siang yang sudah dipesankan di sebuah katering tidak ada yang menyentuh. Bagaimana bisa mereka makan dengan tenang ketika ada anggota keluarga mereka yang dirawat seperti ini? Tidak bisa.
“Sebaiknya kalian pulang saja tidak masalah.” Ucap Kakek Buyut Adipramana pada akhirnya.
Andi pun membawa keluarganya pulang. Kali ini Andi membawa keluarganya ke rumah mereka. Untung saja kemarin ia dan adik-adiknya sudah membersihkan rumah tersebut. Jadi, sekarang hanya tinggal mencuci sprei dan sedikit membersihkan rumah itu, lalu rumah baru mereka siap dihuni.
“Jadi, Ayah tidak akan lagi meminta anak buah Burhan untuk mengawasi adik-adikmu. Ayah sendiri yang akan menjaga mereka.” Ucap Aripto ketika mereka berdiskusi di ruang tamu.
Sayangnya Andi sudah meminta para sepupunya untuk menyebarkan donasi darinya ke panti asuhan yang ada di pulau Jawa. Jika belum, maka saat ini mungkin Andi akan meminta mereka membantunya mengawasi adik-adiknya.
“Aku juga akan membantu melakukannya Ayah. Tetapi aku membutuhkan waktu dua hingga tiga hari untuk membereskan beberapa urusanku di Surabaya. Bisnisku yang ada di sana tidak bisa aku tinggalkan begitu saja.” Ucap Andi.
Minggu kemarin dirinya sama sekali belum mengecek perusahaannya. Setidaknya minggu ini ia perlu ke sana untuk mengecek perkembangan perusahaannya. Tidak hanya itu, dalam minggu depan dirinya sudah memiliki banyak janji.
Janji bertemu dengan Ghani dan Adimas. Janji makan malam di rumah Widya. Tidak mungkin bukan ia membatalkan semua itu? Apalagi janji dengan Ghani dan Adimas, itu menyangkut perusahaan barunya. Andi tidak bisa mengundurnya karena dirinya juga dikejar waktu.
Mungkin setelah semuanya beres, Andi bisa membantu mengawasi adik-adiknya. Lagi pula, memantau pergerakan saham bisa ia lakukan di mana saja bukan? Asalkan ada internet, memantau bursa di dalam mobil pun bisa Andi lakukan.
“Minggu depan Arfan menjalani ujian akhir. Setelah ujian, Arfan tidak perlu lagi ke sekolah. Ia bisa berada di kafe sejak pagi. Jadi, itu akan memperingan pekerjaan kita karena kita hanya perlu mengawasi pergerakan orang-orang di sekitar Amira saja.” Jelas Aripto.
Andi baru ingat mengenai hal ini. Seperti kata Aripto, setelah Arfan menyelesaikan ujiannya, tugas mereka sakan jauh lebih ringan lagi. Hanya ada Amira dan orang-orang di sekitarnya yang perlu diawasi. Pekerjaan mereka akan jauh lebih ringan.
*****
Sore itu juga Andi kembali ke Surabaya. Lebih cepat ia datang ke Surabaya, lebih cepat pula dirinya menyelesaikan pekerjaan yang perlu ia selesaikan. Kali ini Andi tidak datang ke apartemennya, ia membawa mobilnya menuju rumah barunya. Setidaknya ia perlu menaruh perangkat komputernya di sana.
__ADS_1
Mobil Andi berhenti di sebuah rumah mewah. Mengambil remot yang ada di laci mobilnya, Andi pun membuka gerbang rumah mewahnya ini menggunakan remot tersebut. Lebih praktis dan tidak merepotkan.
Setelah memakirkan mobilnya, Andi melihat-lihat isi rumah tersebut. Rumah tersebut memiliki tiga lantai, lima belas kamar dengan kamar mandi dalam, delapan kamar pekerja yang tiap kamarnya bisa sdiisi dua orang, home teater, rooftop yang cukup bagus untuk bersantai di sore hari, sebuah ruang khusus untuk bermain dengan beberapa perangkat game ada di sana, dan sebuah tempat gym.
Pantas saja nilai dari rumah ini berikut isinya adalah empat puluh lima milyar. Fasilitas rumah ini cukup lengkap belum lagi tiap ruangan di rumah ini cukup luas. Melihat rumah ini Andi semakin yakin memboyong Sekar dan keluarga kecilnya untuk tingal di sini. Setidaknya rumah ini ada yang menempati dan membersihkannya.
Ia juga akan menambah beberapa pekerja di sini. Tukang kebun, satpam, mungkin ia juga akan mempekerjakan juru masak khusus di sini. Kedepannya, Andi ingin memboyong keluarganya di rumah ini. Mungkin tidak sekarang, tetapi semuanya perlu bertahap.
Tidak mungkin bukan sekarang dirinya membawa mereka ke sini? Nilai rumah ini adalah puluhan milyar bukan ratusan juta. Akan sulit bagi keluarganya menerima perubahan sebesar ini.
Andi kemudian melihat jam di layar ponselnya. Jam delapan kurang. Sudah terlalu malam untuknya membawa Sekar dan anak-anaknya pindah kemari. Tetapi tidak ada salahnya dia menelfon ibu dua anak itu untuk menanyakan apakah dia mau bekerja dan tinggal di rumah ini atau tidak. Wanita itu belum memberikan keputusan mengenai hal itu.
Pada deringan ketiga panggilan Andi tersambung. “Hallo Mas Andi.” Sapa Sekar. “Ada apa Mas telfon saya?”
“Hallo Bu Sekar. Jadi bagaimana Bu mengenai tawaranku kemarin? Menganai bekerja dan tinggal di rumahku. Apakah Bu Sekar bersedia bekerja menjadi kepala asisten rumah tangga di rumahku?” Tanya Andi.
“Apakah saya boleh mencobanya dulu Mas? Saya takut, saya tidak becus dalam menjalankan tugas ini. Jadi, ijinkan saya mencobanya dulu.” Pinta Sekar.
“Tidak masalah Bu. Tetapi aku yakin Bu Sekar bisa melakukannya. Lalu, apakah Bu Sekar memiliki rekomendasi pekerja lainnya? Aku membutuhkan banyak perkerja di sini. Tiga asisten rumah tangga lagi, dua orang tukang kebun dan dua orang satpam. Apakah ibu bisa mencarikan pekerja itu untukku?”
Itu berarti, Andi perlu mencari para pekerja itu melalui biro penyalur tenaga kerja. Sudah jelas, hari-harinya besok akan sangat padat dengan banyaknya pertemuan. Jadi, jika besok dirinya memiliki waktu luang, ia akan pergi ke biro penyalur tenaga kerja. Jika tidak sempat, berarti lusa dirinya baru bisa ke sana.
Jika demikian, dirinya baru bisa menjemput Sekar di kosannya selasa besok. Bagaimana pun juga Andi sudah berjanji akan menjeput Sekar. Dan baru pada hari selasa jadwalnya tidak terlalu padat. Jika selasa semuanya rampung, maka pada hari itu juga dirinya akan kembali ke kota asalnya.
“Kalo begitu, selasa pagi atau siang aku akan ke kosan Bu Sekar. Jadi, besok Bu Sekar bisa beres-beres barang yang penting-penting yang mau Bu Sekar bawa.” Jelas Andi.
Setelah menghubungi Sekar, Andi mengirimkan pesan kepada Widya. Ia mengabarkan kepada gadis itu bahwa dirinya sekarang sudah ada di Surabaya. Tidak lama setelah pesan itu terkirim, sebuah ponselnya menerima sebuah panggilan masuk dari Widya.
“Hallo Wid.” Sapa Andi.
“Hallo Andi. Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang bahwa kamu tiba di Surabaya? Kenapa nggak dari sore tadi. Tahu gitu malam ini kamu bisa datang dan makan malam di rumahku.”
__ADS_1
“Ya aku baru sampai di Surabaya jam tujuh tadi. Itu sudah terlalu malam juga bukan? Jadi, meskipun aku langsung menghubungimu setelah aku sampai di Surabaya, tetap saja aku tidak bisa makan malam di rumahmu.” Jelas Andi.
“Kalau begitu kapan kamu bisa ke rumahku?”
“Aku memiliki waktu besok malam dan selasa malam. Apakah jadwal Ayah dan Kakekmu di hari itu kosong? Jika mereka tidak bisa, mungkin akhir pekan ini aku baru bisa datang ke rumahmu untuk makan smalam bersama.”
Andi tahu bahwa waktu adalah sesuatu yang berharga bagi seorang pebisnis. Setiap detiknya bisa mereka mafaatkan untuk menghasilkan uang. Jadi, Andi tahu bahwa mungkin saja Ayah dan Kakek dari Widya memiliki jadwal lain pada hari itu.
Andi tidak mungkin bukan merusak jadwal mereka, dengan mengajak mereka makan malam di hari itu, ketika mereka sendiri sudah ada janji lain. Siapa Andi memangnya bisa meminta hal seperti itu. Maka dari itu, mungkin jika Ayah dan Kakek dari Widya telah memiliki jadwal lain, mereka bisa mengundurnya di lain waktu.
Andi tidak masalah jika datang ke Surabaya hanya untuk makan malam dengan keluarga Widya. Setidaknya pada sore hari ayahnya bisa mengawasi Amira untuk hari itu, sementara dirinya pergi ke Surabaya.
“Sebentar, akan aku tanyakan kepada mereka.”
Andi bisa mendengar gumaman dari sambungan telefon Widya. Sepertinya gadis itu tengah bersama dengan ayah atau kakeknya saat ini. Lalu, ketika berbicara dengan mereka, Widya menutup mic ponselnya.
Tidak lama kemudian, Andi kembali mendengar suara Widya. “Kamu bisa datang kemari pada selasa sore. Ayah dan Kakekku memiliki banyak waktu luang pada hari selasa.”
“Baiklah kalau begitu. Selasa sore aku akan ke rumahmu.”
“Ah iya sebelum aku kelupaan. Apakah kamu punya alergi makanan atau makanan tertentu yang ingin kamu makan? Katakan saja padaku, supaya aku bisa menginformasikan hal ini kepada juru masak di rumahku.”
Sangat pengertian sekali untuk menanyakan alergi apa yang mungkin Andi miliki. Meski Andi sendiri tidak memiliki alergi, tetapi Andi cukup tersentuh dengan Widya yang menanyakan hal ini kepadanya. Gadis itu cukup pengertian.
“Aku tidak memiliki alergi apapun, aku tidak ada masalah dengan makanan apapun. Jadi, kamu tidak perlu menyiapkan makanan khusus untukku. Makanan apapun yang kalian sajikan, aku akan memakannya. Jadi jangan khawatir aku tidak akan menyukai apa yang kalian sajikan.”
“Baiklah. Kalau begitu, sampai jumpa pada selasa sore.”
“Sampai jumpa.”
Sekarang Andi memikirkan hadiah apa yang perlu ia bawa selasa besok ke rumah Widya. Meski ini adalah undangan dari mereka sebagai ucapan terima kasih, tetap saja Andi tidak bisa datang dengan tangan kosong.
__ADS_1
“Mungkin aku akan membuatkan camilan untuk mereka. Tidak terlalu berlebihan dan sudah cukup pantas untuk dibawa ke rumah mereka.” Gumam Andi dalam hati.
Setelah puas melihat rumahnya, Andi membawa mobilnya menuju apartemennya. Bukannya ia tidak mau tinggal di rumah barunya, tetapi, rumah itu masih berdebu dan perlu dibersihkan sebelum dihuni. Jadi, lebih baik dirinya tidur di apartemen untuk saat ini.