Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 209 Pacar Baru


__ADS_3

Senin pagi, Andi sudah kembali ke Surabaya untuk bekerja. Kali ini, para pengawalnya berada cukup dekat dengan Andi. Hal ini karena untuk mengantisipasi kejadian seperti sebelumnya. Andi yang kurang siap menghadapi musuh dan tanpa membawa senjata, pada akhirnya membuat dirinya terluka.


Pada sore hari, ketika dirinya pulang dari perusahaan game miliknya, Andi cukup terkejut melihat siapa yang sudah menunggunya di lobby gedung kantornya.


“Dinda? Eh kenapa kamu ke sini?” Tanya Andi yang kini menghampiri Dinda. Andi tidak menyangka Dinda akan mengunjunginya di sini.


“Aku mau ngajak Kamu makan malam. Jadi aku datang kemari.” Jawab Dinda.


Mengajak makan malam? Tumben sekali? Jika memang Dinda ingin mengajaknya makan malam bersama, kenapa tidak menelfonnya saja? Kenapa harus mendatanginya seperti ini?


“Kenapa nggak telfon aja?”


“Karena aku mau kasih kamu kejutan.”


“Ya kamu berhasil membuatku cukup terkejut dengan kedatanganmu ke sini. Jadi, kamu ingin makan malam di mana?” Tanya Andi.


Sekarang Andi tidak bisa menolak ajakan Dinda begitu saja bukan? Sekarang perempuan itu sudah ada di sini. Jadi, mau tidak mau Andi menyetujui ajakan Dinda ini. Asalkan selama keluar nanti dirinya tetap menjaga kewaspadaannya, Andi kira tidak masalah baginya untuk keluar sekarang.


“Aku sudah memesan tempat. Kita tinggal ke sana saja.”


“Oke. Kamu tadi ke sini bawa mobil sendiri?”


“Nggak aku tadi naik taksi online.” Itu sengaja Dinda lakukan agar dia bisa satu mobil bersama dengan Andi.


“Kalau begitu kita naik mobilku saja.”


Andi pun mengendarai mobilnya mengikuti arahan yang diberikan oleh Dinda. Semakin lama, Andi merasa rute perjalanan ini tidak asing baginya. Ini adalah rute yang sama yang biasa Andi ambil jika dirinya pergi ke apartemennya.


“Eh kita akan ke apartemenmu?” Tanya Andi memastikan.


“Ya kita akan makan malam di sana. Apakah Kamu keberatan dengan hal itu?”


“Tentu saja itu tidak masalah untukku. Aku hanya mengira Kamu akan mengajakku makan malam di restoran atau kafe di dekat sini. Ternyata Kamu mengajakku makan di apartemenmu.”


Tidak lama kemudian, mereka sampai di apartemen Dinda. Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Andi dan Dinda naik menggunakan lift menuju ke lantai di mana apartemen Dinda berada.


Apartemen milik Dinda berada di lantai tertinggi gedung ini. Menurut Andi apartemen milik Dinda ini lebih luas jika dibandingkan dengan apartemennya.


Andi bisa melihat sebuah meja makan dengan dua buah kursi sudah tertata rapi di dekat jendela apartemen ini. Dari apartemen itu bisa terlihat langsung pemandangan langit Kota Surabaya yang mulai berubahs warna. Mereka juga bisa melihat lalu lalang kendaraan bermotor dari sini.

__ADS_1


Jika saja lampu di apartemen ini dimatikan, dan lilin yang ada meja makan dinyalakan, maka makan malam mereka ini akan menjadi makan malam romantis. Candle light dinner.


Andi sendiri tidak menyangka Dinda akan mengajaknya makan malam dengan konsep seperti itu. Bukannya Andi tidak suka hanya saja, makan malam dengan konsep seperti itu biasanya dilakukan oleh pasangan kekasih. Sedangkan dirinya dan Dinda? Hubungan mereka hanyalah sebatas teman.


“Apa tidak masalah kita makan malam dengan cara seperti ini?” Tanya Andi pada akhirnya.


“Kenapa memangnya? Apa Kamu tidak suka dengan hal ini?”


“Bukan begitu. Hanya saja makan malam seperti ini biasa dilakukan mereka yang merupakan pasangan kekasih. Sedangkan kita, kita ini hanyalah teman tidak lebih. Jadi apa tidak masalah dengan makan malam dengan konsep candle light dinner seperti ini?”


Dinda langsung menatap Andi tepat di matanya. Perempuan itu memandang Andi dengan penuh keseriusan. Setelah itu, apa yang perempuan itu ucapkan cukup membuat Andi kaget.


“Jika begitu, kita jadi sepasang kekasih saja biar Kamu bisa menikmati makan malam ini dengan tenang.” Jawab Dinda tiba-tiba.


Andi langsung melebarkan matanya karena kaget mendengar ucapan Dinda barusan. Apakah perempuan ini sedang memintanya menjadi kekasihnya? Andi tidak salah dengar bukan?


“Maksud Kamu?” Tanya Andi memastikan.


“Kamu dan aku pacaran. Kamu mau nggak jadi pacar aku?”


Apa yang Dinda lakukan bukanlah melemparkan sebuah pertanyaan. Bagi Andi, yang Dinda lakukan adalah melemparkan sebuah bom atom padanya. Itu membuat Andi hanya berdiri mematung smebari memandangi Dinda dengan pandangan tidak percaya.


“Gimana Andi? Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Tanya Dinda sekali lagi.


“Ya beneran. Jadi gimana?” Tanya Dinda sembari memandang Andi dengan penuh harap.


“Ya aku mau.”


Andi pikir, tidak ada salahnya mencoba memulai hubungan dengan Dinda. Dirinya menyukai Dinda dan kepribadiannya. Ia sudah mengenal Dinda sejak masih SMP. Jadi, tidak terlalu buruk berepacaran dengan Dinda.


Lagipula, sekarang ini bisnis miliknya sudah berjalan cukup baik. Anak buahnya sudah menjalankan bisnis milik Andi tanpa mengalami banyak kendala. Jadi, Andi bisa membagi konsentrasinya dengan kehidupan pribadinya sekarang.


Setelah mendengar ucapan Andi, Dinda langsung berlari dan mendekap Andi-nya, pacar barunya. Akhirnya Andi berhasil dia miliki sekarang. Dinda cukup senang sekarang mereka sudah resmi berpacaran.


“Aku senang kita akhirnya berpacaran.” Ucap Dinda. Dinda lalu melepaskan pelukannya dan menatap ke arah mata Andi. “Aku tahu Kamu selama ini menyukaiku. Tetapi, kenapa Kamu nggak segera nembak aku?”


“Itu aku….” Andi tidak bisa menjawab pertanyaan Dinda yang satu ini.


Dinda langsung menaruh telunjuknya di bibir Andi untuk meminta pacarnya itu tidak melanjutkan ucapannya. “Nggak perlu diterusin. Nggak masalah bukan Kamu yang nembak aku duluan, yang terpenting kita sudah menjadi pacaran sekarang.” Ucap Dinda.

__ADS_1


“Sekarang kita mulai makan malam pertama kita sebagai pacar. Aku akan menghangatkan dulu makanan kita.” Ucap Dinda.


“Kalau begitu, akan aku membantumu.”


Keduanya lalu menghangatkan makanan yang akan mereka makan malam ini. Sebelumnya Dinda sudah memasak semuanya, sekarang mereka tinggal menghangatkan saja. Mereka pun memulai makan malam setelah semuanya sudah siap.


Awalnya Andi sedikit canggung dengan Dinda, tetapi lama kelamaan dia menjadi cukup terbiasa dengan hubungan barunya ini. Selesai makan malam dan membereskan peralatan makan mereka, Andi dan Dinda duduk di ruang tamu untuk menonton film bersama.


Mereka menghabiskan malam bersama di depan televisi. Dinda menjadikan dada Andi sebagai sandannya sementara mereka menonton film bersama. Di balik selimut yang menutupi badan keduanya, tangan Andi dan Dinda saling bertautan.


Ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, barulah Andi pamit dari apartemen Dinda. Meskipun mereka sudah pacaran, ini adalah hari pertama mereka resmi menjadi pacar. Jadi, meski mungkin nantinya mereka akan melangkah lebih jauh, Andi ingin menjalaninya secara pelan-pelan dan tanpa terburu-buru.


“Kenapa nggak nginep aja? Lagian nggak ada siapa pun di sini. Cuma ada kita berdua.” Ucap Dinda enggan melepas kepergian Andi.


“Nggak enak ah Din. Kita masih baru banget pacarannya. Baru juga sehari. Aku mau menikmati prosesnya dulu. Semua akan ada waktunya sendiri.” Jawab Andi.


“Tapi ini kan udah malem. Nggak papa kamu nyetir jam segini?” Tanya Dinda.


“Nggak masalah bagiku. Lagian, aku tinggal di apartemen di seberang jalan. Jadi, itu nggak akan terlalu jauh.”


“Eh Kamu tinggal di apartemen di seberang jalan? Kenapa nggak bilang?”


Dinda cukup kaget mendengar ucapan Andi. Pasalnya ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Andi memiliki apartemen di sana. Anak buahnya belum ada yang melaporkan tentang hal ini padanya.


“Sungguh? Kalau begitu, bisakah besok kita dinner di apartemenmu?”


“Itu tidak masalah untukku. Sebelum pulang, aku akan mampir membeli beberapa bahan makanan. Kita bisa masak bareng nanti.” Saran Andi.


“Kita belanja bareng aja. Entar setelah urusanmu selesai, Kamu jemput aku di sini. Kita ke supermarket bareng dan masak bareng nanti. Bagaimana?”


“Ide yang bagus. Baiklah kita akan mengikuti idemu itu.” Jawab Andi.


Setelah Andi keluar dari pintu apartemen Dinda, ia menatap pacarnya itu untuk terakhir kalinya pada malam ini. Ketika Andi melakukan hal itu, tiba-tiba saja Dinda menariknya dengan tenaga yang cukup besar hingga Andi sedikit menundukkan kepalanya.


Tidak lama ssetelah itu, Andi merasakan benda kenyal mendarat di bibirnya. Meski sentuhan itu tidak lama, tetapi Andi merasakan tubuhnya seperti disengat oleh listrik. Ia tetap terdiam tidak bisa merespon apa pun. Itu adalah ciuman pertamanya.


“Kamu hati-hati di jalan ya. Jangan lupa telepon aku jika sudah sampai di rumah.” Bisik Dinda tepat di telinga Andi.


Seketika itu juga, jatung Andi berdebar cukup kencang. Nafasnya sedikit memendek. Sisi kelaki-lakian dari Andi tiba-tiba saja bangkit. Tetapi, sebelum Andi memberikan respon, Dinda sudah masuk ke dalam apartemennya dan menutup pintunya.

__ADS_1


Pada akhirnya, Andi hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali karena hal itu. Andi sendiri tidak menyangka bahwa dirinya memiliki pacar yang mau berinisiatif dalam hubungan mereka. Yang menyatakan perasaan duluan adalah Dinda, dan yang mencium duluan juga Dinda.


“Humm…. Untuk ke depannya, aku yang akan mengambil tindakan pertama. Aku tidak mau selamanya membiarkan Dinda memulai sesuatu dalam hubungan kami. Ke depannya harus aku yang melakukan hal itu.” Gumam Andi dalam hati.


__ADS_2