Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 49 Pembicaraan Setelah Kepergian Mr. S


__ADS_3

Brian merasakan pusing di kepalanya. Pemuda itu lalu menatap ke sekelilingnya, dirinya masih berada di apartemen Andi. Ia mencoba mengingat bahwa tadi dirinya bertemu dengan Mr. S, orang yang belakangan ini banyak memberikan hadiah kepada Andi.


Seingatnya, Mr. S memintanya untuk membantu menutupi semua hal itu dari orang lain, dengan cara mengatakan bahwa, apa yang Andi miliki adalah pemberiannya atau barang yang Andi pinjam darinya. Entah kenapa tadi Brian menyetujui hal itu, ia seolah-olah tahu jika ada orang lain yang mengetahuinya, maka temannya itu dalam bahaya. Jadi lebih baik semua orang menganggap bahwa semua milik Andi adalah pemberiannya atau hanya barang pinjaman.


Sekarang Brian melihat Andi yang tengah sibuk di dapur. Brian lalu berdiri dan menghampiri temannya itu. “Kamu sedang apa Bro?” tanya Brian.


“Membuat scramble egg. Aku lapar dan hanya ini yang aku punya di dalam kulkas. Apa kamu mau?” tanya Andi menawarkan masakannya kepada Brian.


“Boleh, buatkan aku satu.” Brian melihat Andi mengangguk pelan menyetujui permintaannya. “Jadi, kenapa aku bisa tertidur di meja makanmu?”


Andi mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu. Ketika aku kembali dari mengantarkan Mr. S, aku sudah menemukanmu tertidur di meja makan. Mungkin kamu cukup lelah setelah mengikuti ayahmu berkeliling menemui para koleganya.” Jawab Andi sekenanya.


“Ah, mungkin juga seperti itu. Kegiatan itu memang sangat melelahkan.” Ucap Brian sembari memijat pundaknya yang ia rasa terasa pegal itu. “Ah ya, mengenai perkataan Mr. S tadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan membantumu menutupi keberadaan mereka yang memberimu bantuan itu. Jika nanti ada yang menanyakan tentang barang-barangmu, kamu tinggal mengatakannya itu adalah pemberianku atau itu adalah barang yang kamu pinjam dariku.”


Seperti itu? Hanya dengan jentikan jari dari Mr. S, Brian dengan mudahnya mau membantunya menutupi semua ini? Jika demikian, bisa dikatakan biaya seratus lima puluh juta yang ia keluarkan sebanding dengan apa yang ia dapatkan. Ke depannya permasalahan tentang menyembunyikan asal usul semua hartanya tidak perlu lagi Andi lakukan.


Tetapi, kemampuan dari Mr. S yang seperti itu membuat Andi semakin penasaran dengan latar belakang sistem miliknya. Alasan apa yang membuat dirinya menerima sistem ini? Mr. S mengatakan bahwa itu hanya sebagai bentuk balas budi terhadap apa yang leluhurnya lakukan untuk negara ini. Apakah itu benar?


Lalu kenapa dirinya? Setidaknya laki-laki dengan darah Prayudi bukan hanya dirinya. Apa yang membuatnya dipilih oleh sistem? Jika Andi tidak salah ingat, tadi Mr. S mengatakan bahwa ada seleksi khusus yang mereka lakukan agar seseorang pantas mendapatkan sistem.


Berarti bisa dibilang, ada sesuatu yang ingin mereka capai dengan melakukan seleksi tersebut bukan? Apa yang ada dalam dirinya yang bisa membantu mereka mencapai hal itu? Jelas sekali tujuan mereka bukan hanya untuk membantu Andi memperkaya dirinya sendiri. Ada alasan lain yang perlu Andi temukan sendiri.


“Hey Andi, itu scramble egg-mu akan gosong. Kenapa kamu melamun seperti itu.” Suara Brian menyadarkan Andi dari lamunannya.


“Ah iya.” Andi buru-buru mengecilkan apinya dan mengaduk-aduk pelan scramble egg buatannya. Untung saja makanan itu masih bisa diselamatkan. Andi segera menaruh masakannya di atas piring. Setelahnya, Andi kembali membuatkan scramble egg untuk Brian.


“Ini masih bisa diselamatkan aku akan membuatkan scramble egg milikmu.”


Andi kemudian mengambil tiga buah telur dan menaruh isinya di dalam mangkuk. Ia menambahkan beberapa penyedap rasa lalu menuangkan susu cair ke dalam telur tersebut. Setelah mengaduknya pelan, Andi menuangkan telur yang telah dicampur susu itu ke dalam teflon. Setelahnya Andi mengaduk-aduk pelan telur tersebut agar tidak gosong.


Kali ini Andi fokus pada masakannya. Ia tidak mau scramble egg kali ini gosong. Setelah masakannya matang, Andi menaruhnya di atas piring. Andi lalu membawa kedua piring scramble egg ke meja makan.

__ADS_1


“Ini milikmu.” Andi menyodorkan scramble egg yang baru saja ia masak ke arah Brian.


“Jadi setelah ini apa keinginanmu? Sudah jelas kamu tidak akan pulang bukan?”


“Ya. Aku tidak akan pulang dalam waktu dekat. Aku sedang memulai bisnisku saat ini. Aku dibantu oleh junior dari Pak Bastian untuk mendaftarkan perusahaanku. Ah ya, karena kamu sudah mengetahui hal ini, bisakah kamu membantuku mencari pekerja? Aku bingung mencari pekerja yang handal yang bisa membantuku mengurus perusahaanku.”


“Membuat perusahaan baru? Bisnis apa yang akan dilakukan perusahaanmu?” “


“Aku ingin membuat perusahaan investasi. Fokus perusahaanku akan berinvestai kepada usaha kecil menengah. Aku juga akan berinvestasi kepada perusahaan startup nantinya jika modal perusahaanku sudah besar.” Jelas Andi.


“Jika kamu akan membuat perusahaan baru, apakah kamu akan meninggalkan bisnis yang kita rintis bersama? Bisnis dessert box itu.”


“Bicara apa kamu ini, tentu saja aku tidak akan meninggalkan bisnis itu. Bagaimana pun juga, bisnis itu adalah bisnis pertamaku, jadi sesukses apa pun aku nanti, aku tidak akan meninggalkan bisnis itu. Aku malahan akan menjadikan bisnis itu sebagai bisnis utamaku di depan publik.”


“Maksudmu?”


“Maksudku adalah kedepannya akan banyak bisnis yang akan aku buat. Aku hanya ingin menjadi orang di balik layar dari semua bisnis-bisnis itu. Jadi, aku hanya akan mempekerjakan seseorang untuk menjalankan bisnisku. Sementara aku, aku bisa bersantai dan menikmati hari-hariku dengan tenang.”


“Hemm…. Berarti kita perlu memperbesar skala bisnis Lidah Manis. Jika tidak salah seminggu lagi toko yang ada di kota kita selesai di renovasi. Lalu, kita juga bisa membuka cabang di Surabaya. Mungkin itu sedikit lebih cepat dari tetapi itu tidak masalah.”


“Ah kamu benar. Dulu aku berniat membesarkan bisnis kita itu dan membuka cabang di beberapa kota setelah aku berkuliah. Tetapi, karena sekarang aku tidak lagi di rumah, kita bisa melakukannya sekarang. Sayangnya saat ini aku tidak memiliki dana yang bisa aku kucurkan untuk kita membuka cabang baru. Danaku saat ini aku fokuskan untuk perusahaan baruku.” Jelas Andi.


Brian mengibaskan sebelah tangannya. “Tidak masalah dengan dana. Membeli toko baru dan semua peralatannya, itu hanya akan membutuhkan beberapa milyar saja. Kamu tahu aku masih memiliki beberapa milyar dana yang bisa aku pakai dari dana pemberian ibuku. Kamu ingat itu bukan? Kita bisa memakai prinsip yang sama seperti sebelumnya. Kamu menyewa banguanan itu dariku.”


Andi mengeryitkan dahinya mendengar ucapan Brian tersebut. “Sepertinya kita tidak perlu membeli bangunan lagi Bro. Aku rasa ini tidak sama seperti yang kita alami di kota kita. Aku rasa di Surabaya kita bisa menemukan bangunan yang cukup luas yang disewakan. Dengan begitu, kita bisa membuka dua atau tiga kafe di sini.”


“Ah kamu benar. Kita bisa melakukan hal itu. Baiklah besok pagi kita perlu mencari lokasi yang cocok untuk hal itu.”


“Tentu saja. Kita perlu mengecek hal itu. Mumpung besok adalah akhir pekan jadi kita bisa melakukan hal itu. Aku yakin jika akhir pekan kamu akan memiliki waktu luang bukan?”


“Akhir pekan aku meminta libur kepada ayahku. Jadi aku bisa pergi mencari toko bersamamu. Tetapi, kamu juga perlu memikirkan menu lain. Bukankah kita juga akan mebuka kafe juga selain toko dessert box. Aku rasa kamu juga perlu menentukan menu lainnya.”

__ADS_1


“Ah, aku hampir melupakan hal itu. Aku akan melakukan riset untuk hal itu. Ngomong-ngomong kamu bilang seminggu lagi kita bisa membuka kafe dan toko kita yang ada di kota asal kita. Kita belum mencari pegawai untuk kafe kita itu. Jadi kita perlu memikirkan itu juga.”


“Lalu kamu juga belum menjawab pertanyaanku sebelumnya. Apakah kamu bisa membantuku mencari pekerja untuk perusahaan baruku? Jika kamu tidak bisa melakukannya, setidaknya kamu juga bisa memberikan kontak perusahaan penyalur pekerja. Aku perlu segera mengoprasikan perusahaanku dalam setidaknya pada hari rabu atau kamis minggu depan.” Jelas Andi.


“Ah, aku melupakan pertanyaanmu itu. Tentu saja aku bisa membantumu mengenai hal itu. Nanti aku akan menanyakan kepada sekertaris ibuku tentang hal itu. Dia pasti bisa memberimu kontak perusahaan penyalur pekerja yang biasa perusahaan ibuku pakai.”


“Baiklah. Sekarang aku anggap beres mengenai pekerjaku itu. Aku hanya tinggal menunggu perusahaanku terdaftar sebelum mulai beroprasi.”


“Setelah ini, maukah kamu ikut denganku?”


“Kemana?” tanya Andi penasaran.


“Tentu saja mencari hiburan. Meski ini bukan malam minggu tetapi kamu sedang ada di kota besar sekarang. Tentu saja kamu perlu merasakan dunia hiburan di sini.” Jelas Brian.


“Tapi maaf sebelumnya, aku tidak minum.”


“Siapa juga yang akan mengajakmu mabuk. Aku tahu kamu tidak mau minuman yang seperti itu. Di tempat yang akan kita datangi tidak hanya memberikan minuman keras, masih ada minuman non alkohol di sana. Jadi tenang saja.”


“Baiklah. Tapi, bolehkah aku menyetir mobilmu malam ini? Tidak biasanya kamu menggunakan mobil sportmu. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengemudikan mobil itu.”


Memang sejak membeli pengalaman seorang pembalap Andi sama sekali belum mencoba menggunakan pengalaman itu dalam dunia nyata. Dia tidak memiliki kendaraan beroda empat, jadi Andi tidak bisa mengulang apa yang ada dalam ingatannya.


Brian terlihat mengernyitkan dahinya mendengar hal itu. “Aku tidak masalah denganmu yang membawa mobilku. Tetapi, apakah kamu bisa menyetir? Aku tidak pernah mendengar kamu belajar menyetir mobil. Kamu tahu, aku masih sayang dengan nyawaku. Jadi, aku tidak ingin mati muda gara-gara kecelakaan mobil.”


“Aku tidak akan bermain-main menggunakan nyawa orang lain bukan? Jadi, kamu tidak perlu khawatir, aku sudah bisa mengendarai mobil. Kamu tinggal melihatnya sediri nanti.”


“Tetap saja aku tidak mempercayainya.”


Andi terdiam sejenak terlihat memikirkan seseuatu. “Ah bagaimana jika begini, aku akan mengeluarkan mobilmu dari parkiran menuju pelataran apartemen. Jika aku bisa selamat membawa mobilmu keluar dari parkiran tanpa menimbulkan goresan sedikitpun, maka kamu akan memperbolehkanku mengemudikan mobilmu. Jika ada goresan sedikit saja, maka kamu yang akan menyetir.”


“Baiklah. Itu cukup adil.”

__ADS_1


__ADS_2