
Kehebohan yang dilakukan oleh Andi tidak berlangsung cukup lama. Setelah menurunkan Andi dan kedua orang tuanya, para pengawal itu memarkirkan mobil mereka ke tempat lain. Meski begitu, kejadiaan ini masih menjadi bahan pembicaraan beberapa orang.
Andi tidak berniat mengagganggu jalannya wisuda. Jadi, dirinya berniat mengkonfrontasi Jony setelah wisuda berakhir. Setidaknya dirinya tidak mau membuat keributan untuk para gurunya. Jadi dia hanya perlu sedikit bersabar.
Toh saat ini Andi sudah menang dari Jony. Tidak ada bedanya mengumumkan kemenangannya sekarang atau nanti.
Acara wisuda itu berjalan cukup lancar. Seperti acara wisuda pada umumnya, acara itu hanya berisi sambutan, penyerahan medali dengan logo sekolah, dan beberapa hiburan. Ketika kelas mereka selesai mendapatkan medali, Andi menghampiri Jony.
Andi memberi kode kepada Jony untuk mengikuti dirinya. Untung saja Jony mau mengikutinya menuju tempat yang lumayan sepi yang ada di dekat gedung serbaguna yang sekolah mereka sewa untuk acara ini.
“Mau apa lagi kamu menyuruhku kemari?” Tanya Jony.
Andi hanya mmeberikan sebuah seringai kepada Jony. “Bagaimana kabar perusahaan keluargamu. Aku dengar sekarang perusahaanmu sudah beralih kepemilikan sekarang.”
“Dari mana kamu tahu hal itu?” Tanya Jony sembari menunjuk kepada Andi.
Kabar mengenai akuisisi perusahaan keluarganya belum tersebar. Saat ini, hanya ada beberapa orang saja yang mengetahui kabar mengenai perusahaan keluarganya yang diakuisisi beberapa hari yang lalu. Bagaimana bisa Andi bisa mengetahui hal ini?
Andi bukanlah berasal dari keluarga yang bergelud di bidang bisnis. Keluarganya hanyalah keluarga sederhana. Jadi, sangat tidak mungkin Andi mengetahui berita ini.
Ketika Andi tiba tadi, Jony sudah berada di dalam gedung. Jadi, ia tidak melihat kehebohan yang ditimbulkan karena kedatangan Andi. Jika di tahu, mungkin saja dia mulai berpikir bahwa keluarga Andi berbeda dari sebelumnya.
Sayangnya Jony tidak mengetahui hal itu. Jadi, pemuda itu masih berpikiran bahwa keluarga Andi bukanlah apa-apa dan bisa ia tindas begitu saja.
“Tentu saja aku tahu. Itu karena akulah yang mengakuisisi perusahaan milik keluargamu. Aku memiliki lebih dari sembilan puluh persen saham perusahaanmu dengan hanya mengeluarkan uang sebesar tiga ratus enam milyar.”
“Padahal, nilai dari perusahaan itu sebenarnya adalah lebih dari enam ratus milyar rupiah. Aku bisa memiliki saham sebanyak itu dengan mengeluarkan setengah dari nilai perusahaanmu. Bagaimana, aku mendapatkan untung besar bukan?” Ucap Andi sembari mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
“Tidak mungkin. Itu tidak mungkin terjadi. Itu semua pasti hanya bualanmu saja. Sangat tidak mungkin kamu bisa memiliki uang sebanyak itu.” Ucap Jony tidak percaya.
Jony tahu betul mengenai keluarga Andi. Selama tiga tahun di SMA, dirinya sama sekali tidak melihat bahwa Andi adalah anak orang kaya. Jadi dirinya tidak bisa semudah itu mempercayai ucapan Andi yang mengatakan bahwa dia memiliki uang ratusan milyar rupiah.
“Kamu pasti meminta bantuan pamanmu yang pimpinan preman itu bukan? Kamu meminta dia menghancurkan bisnis keluargaku?”
Ini adalah satu-satunya pemikiran yang muncul di otak Jony. Jika Andi benar-benar dalang di balik hancurnya bisnis keluarganya, maka pemuda itu pasti meminta bantuan kepada pamannya agar hal itu berhasil.
Andi menggelengkan kepalanya setelah mendengar ucapan Jony. “Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia. Semua ini adalah murni dari hasil kerja kerasku. Jony, kamu perlu mengetahui bahwa, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.”
“Ingatlah roda terus berputar. Jadi, tidak selamanya kamu berada di atas. Karena kamu sudah berani mengancamku dengan melibatka kedua adikku seperti itu, maka sudah saatnya kamu merasakan bagaimana hidup di bawah. Semua ini kamu sendiri yang membawa ke keluargamu Jony.”
“Aku yakin, tidak lama setelah akuisisi selesai dilakukan, saham perusahaan itu langsung naik derastis bukan? Yang awalnya seribu delapan ratusan per lembarnya, sekarang berubah menjadi sepuluh ribu lebih perlembarnya. Bukankah begitu Jony?”
Sebuah seringai tercetak jelas di bibir Andi ketika ia mengucapkan hal tersebut. Ia cukup puas melihat perubahan ekspresi di wajah Jony. Marah, kaget, dan tidak percaya. Emosi itu bercampur aduk di wajah Jony saat ini.
Dengan emosi, Jony sedikit berlari ke arah Andi dan melayangkan tinjunya. Namun, serangan yang dilakukan Jony kepada Andi itu seperti serangan seorang anak kecil kepada orang dewasa. Andi dengan mudah menghindari semua pukulan Jony.
Tidak ada satu pun pukulan Jony yang berhasil mendarat di tubuh Andi. Pada akhirnya, Jony kelelahan dengan apa yang dilakukannya. Sekarang ini nafasnya memendek karena lelah setelah melayangkan beberapa pukulan kepada Andi.
Tidak lama kemudian, ponsel di saku Jony berbunyi. Kemudian Jony mengecel pesan tersebut. Memang dirinya saat ini sedang menunggu pesan dari seseorang. Ia harap ini adalah pesan dari orang tersebut dan memberikan kabar bagus kepada Jony.
“Hahaha.” Jony tertawa keras setelah membaca pesan tersebut. Hal itu sempat membuat Andi berpikir bahwa pemuda di depannya ini berubah menjadi gila. Bagaimana bisa ia tiba-tiba tertawa keras seperti itu dalam keadan seperti ini?
“Andi, Andi. Tunggu saja, sebentar lagi ada kabar mengejutkan untukmu. Orang suruhanku akan menculik adikmu setelah ini. Kamu dan ayahmu sekarang di sini. Jadi, kalian tidak akan bisa menyelamatkan mereka. Setelah ini, kamu akan menerima adikmu yang sudah rusak itu. Hahaha.”
Meski Jony sudah memberikan cukup banyak informasi kepada Bejo, tetapi laki-laki itu tidak langsung melaksanakan tugas yang Jony berikan. Bejo lebih memilih memadukan fakta di lapangan dan informasi yang Jony berikan. Dengan begitu, rencana mereka bisa berjalan dengan lancar dan tanpa kendala.
__ADS_1
Bejo memilih waktu wisuda ini untuk menjalankan tugasnya. Itu karena tidak akan ada yang melindungi kedua adik Andi saat ini. Mereka sedang menghadiri wisuda Andi. Jadi ini adalah waktu yang tepat.
Memang ketika siswa kelas dua belas diwisuda, siswa kelas sepuluh dan sebelas di liburkan. Jika Andi tidak salah ingat, saat ini Amira sedang nongkrong bersama dengan beberapa temannya.
Jika Jony mengatakan hal ini beberapa hari yang lalu, sebelum dirinya memberikan pengawal untuk kedua adiknya, pasti Andi akan merasa sangat khawatir. Namun tidak dengan sekarang. Andi sangat tenang ketika Jony mengatakan hal ini.
Para pengawal yang ia sewa bukan hanya sekadar pajangan. Sudah pasti mereka bisa melindugi adiknya. Dan lagi, para pengawalnya sudah dipersenjatai dengan pepper spray juga taser gun. Meski itu bukan senjata yang hebat, tetapi itu bukan senjata terlarang. Jadi tidak masalah untuk pengawalnya membawanya.
“Aku kira dengan aku menghancurkan bisnis keluargamu, kamu akan fokus mengurusi masalah tersebut, dan tidak memikirkan masalah lain. Ternyata aku salah. Masalah di bisnis keluargamu itu tidak akan mengubah fokusmu dalam membalas dendam.”
“Jika seperti ini, maka kamu tidak pantas dimaafkan Jony.” Andi menggelengkan kepalanya pelan. “Aku akan buat keluargamu tidak akan pernah bisa bangkit lagi Jony.”
Sebelumnya, Andi berpikir memberikan jalan tengah untuk Jony. Dengan Andi mengakuisisi perusahaan itu, maka keluarga Jony bisa memakai uang tersebut untuk memulai bisnis baru. Tetapi sepertinya itu sulit terjadi.
Andi akan memanfaatkan kekayaannya untuk menekan bisnis apapun yang keluarga Jony lakukan. Jika perlu, Andi akan meminta bantuan keluarga ayahnya untuk menekan bisnis apapun yang keluarga Jony lakukan.
Jika menghadapi orang seperti Jony yang tidak tahu kata berhenti, kata maaf bisa Andi hilangkan dari kamus miliknya.
Beberapa saat kemudian, Andi menerima telfon dari pengawal adiknya. Mereka melaporkan bahwa ada empat orang laki-laki yang berusaha menculik Amira, tetapi bisa mereka atasi. Sekarang para pelaku percobaan penculikan itu sudah diikat oleh para pengawal Amira.
Sekarang ini mereka hanya perlu instruksi dari Andi mengenai apa yang perlu mereka lakukan kepada keempat laki-laki tersebut.
“Tell Amira to call the police.” Jawab Andi singkat.
Setelah itu, Andi memandang ke arah Jony. Andi bisa melihat bahwa saat ini wajah Jony memucat setelah mendengar pembicaraan antara Andi dan pengawal adiknya. Memang Andi sengaja menghidupkan speaker panggilannya agar Jony mendengar semua percakapan antara dirinya dan pengawal Amira.
“Tidak ada lagi maaf bagimu Jony. Sekarang, giliranku yang memanfaatkan uang dan koneksi milikku untuk menekanmu. Apapun bisnis yang keluargamu buat, aku akan menekan habis bisnis itu hingga keluargamu menyerah. Aku juga akan membuat ayahmu gagal dalam pencalonannya sebagai walikota.”
__ADS_1
Setelah berucap demikian, Andi meninggalkan Jony yang kini terduduk lemah setelah mendengar apa yang Andi ucapkan. Sekarang nasib keluarganya benar-benar terbalik. Dirinya bukan lagi Jony, anak dari pengusaha terkaya nomer sepuluh di kota mereka. Ia hanyalah anak yang menyebabkan kehancuran keluarganya.