Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 225 Penyekapan Andi


__ADS_3

Berbagai pemberitahuan muncul di ponsel Andi ketika ia menyalakan benda tersebut. Memang selama empat hari ini ia sengaja mematikan ponselnya agar tidak banyak pemberitahuan yang mengganggunya.


Meski begitu, ia menyiapkan ponsel lain yang nomornya hanya diketahui oleh anggota keluarga Prayudi saja. Jadi jika terjadi sesuatu, dirinya masih bisa mengetahuinya.


Setelah Andi perhatikan lebih lanjut, kebanyakan pemberitahuan yang masuk berasal dari Dinda. Entah itu hanya sekedar pesan singkat atau panggilan telepon.


Sebelumnya Andi sudah memberitahu kepada Dinda bahwa dia tidak akan menghubunginya dalam beberapa hari. Namun, perempuan itu tetap saja mencoba menghubunginya.


Ketika Andi ingin membalas pesan-pesan yang ada, ponsel miliknya berdering. Di layar ponsel sudah terpampang nama Dinda.


“Hallo.” Sapa Andi.


“Kamu ke mana aja sih kenapa aku hubungin susah banget.” Cerca Dinda setelah Andi menyapanya.


“Aku kan udah bilang Din, kalau aku ada kepentingan yang ngga bisa diganggu. Jadi, aku nggak bisa jawab panggilan Kamu atau balas pesanmu.” Jelas Andi.


“Apa Kamu sesibuk itu sehinga Kamu nggak punya waktu buat sekedar ngabarin aku?” Tanya Dinda kepada Andi.


“Ya.” Jawab Andi singkat.


Sambungan telepon itu hening sesaat. Andi lalu mendengar Dinda mengela nafas panjang sebelum kembali mengucapkan sesuatu.


“Kalau begitu, apakah Kamu sibuk sekarang? Bisa tidak kita bertemu?” Tanya Dinda.


Andi sedikit bernafas lega mendengar hal itu. Ia bersyukur pacarnya itu tidak lagi mempermasalahkan kesibukan Andi. Ini berarti Dinda tidak marah padanya dan mulai bisa mengerti keadaannya.


“Tentu kita bisa bertemu hari ini. Kamu mau bertemu di mana?” Tanya Andi.


Persiapannya sudah selesai semua. Andi hanya tinggal menunggu pesta perpisahaan Burhan tiba. Sepertinya pertarungan keluarga mereka hanya bisa dilakukan di sana. Sampai sekarang mereka belum mengetahui keberadaan musuh besar mereka.


“Baguslah kalau Kamu bisa bertemu denganku. Aku sekarang menunggumu di sebuah kafe tidak jauh dari apartemen kita. Jika kamu sudah sampai, Kamu langsung saja datang ke ruang VIP nomor dua yang ada di lantai dua kafe itu.” Ucap Dinda.


“Bailah tunggu aku.” Jawab Andi.


Setelah Andi berucap demikian, Dinda memutus panggilan telepon tersebut. Tidak lama setelah itu, Andi menerima sebuah pesan dari Dinda yang memberitahukan alamat kafe tempat mereka akan bertemu. Langsung saja Andi mengemudikan mobilnya menuju ke sana.


Ketika tiba di sana, suasana kafe tersebut terlihat sepi. Hanya ada beberapa pengunjung kafe di sana. Mungkin karena ini masih pagi jadi tidak banyak pengunjung kafe di sana. Selain itu, hari ini adalah hari kerja jadi tidak ada yang datang kemari.


Andi langsung melangkah menuju ke lantai dua. Sesampainya di sana, Andi langsung mengetuk pintu VIP nomor dua.


“Masuk.” Terdengar suara Dinda yang memepersilahkan Andi masuk dari dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Ketika Andi membuka pintu tersebut, Dinda sudah berdiri di depannya. Ia langsung memeluk Andi cukup lama.


“Aku kangen Kamu.” Ucap Dinda.


“Aku juga.” Balas Andi.


Dinda pun menarik Andi masuk ke dalam ruangan itu. Setelah itu, Dinda memanggil pelayan melalui interkom yang ada di sana untuk memesankan minuman Andi.


Tidak berapa lama kemudian, pesanan minuman Andi datang. Mereka pun mengobrol cukup lama di sana. Namun, Andi yang awalnya bersikap santai tanpa menaikkan kewaspadaannya, menjadi sangat waspada ketika dirinya mendengar sebuah pemberitahuan dari sistem.


[Ding]


[Modul sistem mendeksi bahwa saat ini ada bahaya yang mengancam keselamatan Host]


[Ding]


[Misi telah dibuat]


[Misi : Selamatkan dirimu dari bahaya ini]


[Hadiah : - +2 kekuatan, +2 stamina, +2 kelincahan, +2 kecepatan]


[Ding]


Pemberitahuan dari sistem itu membuat Andi meningkatkan kewaspadaannya. Ada bahaya lagi yang kini mengancamnya. Meskipun dari pemberitahuan itu Andi tahu bahwa bahaya ini tidak mengancam nyawanya, tetap saja dirinya dalam keadaan bahaya.


Dari pemberitahuan sistem itu, Andi tahu bahwa targetnya adalah dirinya, bukan orang lainnya. Sekarang Dinda tengah bersamanya. Jadi, Andi takut Dinda ikut terkena dampaknya.


Musuhnya ini kelihatannya tidak pandang bulu. Mereka pasti akan menyerang Dinda juga jika dia ada di sini. Andi tidak akan bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu kepada Dinda. Oleh karena itu, ia perlu pergi dari sini dan menjauh sejauh-jauhnya dari Dinda.


“Aku perlu pergi sekarang.” Ucap Andi sembari membereskan beberapa barang miliknya.


“Loh kenap buru-buru seperti itu? Kita kan baru saja ngobrol bentar. Kenapa sekarang Kamu buru-buru pergi seperti ini. Kita abis lama nggak ketemu loh.” Rajuk Dinda.


“Nanti malam kalau nggak besok pagi aku akan menemuimu lagi. Tetapi aku harus benar-benar pergi sekarang.”


Setelah itu, Andi buru-buru mengecup kening Dinda. Andi cukup berhati-hati ketika akan membuka pintu ruangan VIP yangereka tempati. Mungkin saja orang yang menjadi sumber bahaya ada di balik pintu itu. Jadi Andi tidak bisa membuka pintu itu sembarangan.


Yang tidak Andi ketahui, ketika Andi menfokuskan pendengarannya ke luar ruangan, Dinda yang berada satu ruangan dengannya terlihat sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya.


Jika diperhatikan lebih lanjut, yang Dinda dikeluarkan dari dalam sana adalah sebuah suntikan yang didalamnya berisi sebuah cairan.

__ADS_1


Lalu, Dinda mendekat ke arah Andi. Dengan gerakan cepat, Dinda menusukkan suntikan itu di punggung Andi dan menyuntikkan isinya ke tubuh pacarnya.


Rasa sakit dipunggungnya membuat Andi memutar tubuhnya melihat ke arah Dinda. Sekarang Dinda tengah menunjukkan wajah yang cukup menyeramkan menurut Andi.


Bibir yang selama ini dipakai untuk memberikan senyum cantik, kini sekarang dihiasi dengan seringai jahat. Mata yang selama ini Andi lihat memancarkan aura kelembutan, sekarang memanpakkan amarah yang cukup besar yang tidak pernah Andi lihat.


Andi tidak menyangka sumber bahaya yang diperingatkan oleh sistem sebelum ini bukanlah dari orang yang ada di luar ruangannya. Tetapi orang yang seruangan dengannya. Dinda, pacarnya adalah sumber bahaya itu.


Andi tidak mengerti kenapa Dinda melakukan hal ini kepadanya. Apa alasannya? Lalu, apa yang sudah Dinda suntikkan padanya?


Sekarang ini Andi merasa kesadarannya mulai menghilang. Ia mencoba mempertahankan kesadarannya dan menanyakan semua itu kepada Dinda.


“Dinda Kamu….” Belum sempat Andi melanjutkan ucapannya, kesadarannya sudah menghilang terlebih dahulu.


Sebelum Andi benar-benar jatuh, Dinda sudah menangkapnya terlebih dahulu. Perempuan itu lalu menyeret tubuh Andi dan mendudukkannya di kursi yang ada di sana.


Setelah mendudukkan Andi di sana, Dinda memandangi wajah pacarnya dengan tatapan penuh cinta. Pandangan mengerikkan yang sebelumnya ia tunjukkan kepada Andi, sudah menghilang dan tidak pernah muncul di wajahnya.


Dinda lalu mengelus wajah Andi dengan penuh kelambutan. Ia lalu menempelkan bibirnya di bibir Andi yang sekarang tidak sadarkan diri.


“Kamu memaksaku melakukan hal ini. Kamu membuatku mempercepat semua rencanaku Andi. Kamu yang sabar saja. Setelah ini, kita akan tinggal bersama dan memulai kehidupan baru. Hanya ada kamu dan aku.” Ucap Dinda sembari sesekali mengecup bibir Andi.


Setelah cukup puas melakukan hal itu, Dinda kemudian menaruh tubuh Andi di pundaknya dan memanggulnya pergi dari sana tanpa bantuan siapa pun.


Meski tubuh Andi lebih besar darinya, itu adalah hal yang cukup mudah bagi Dinda. Latihan yang ia lakukan selama ini membuat tubuhnya lebih kuat daripada manusia normal.


Dinda lalu membawa Andi menuju ke lorong khusus yang akan membawa mereka ke parkiran yang ada di belakang Kafe. Di sana Dinda membawa tubuh Andi masuk ke dalam sebuah mobil van yang ada di sana.


Dinda tidak lupa memborgol tangan Andi. Meski suntikan yang Dinda berikan tadi akan membuat Andi tidak sadarkan diri dalam waktu beberapa jam, tetapi Dinda tetap ingin mengambil langkah aman. Jadi dia memborgol tangan Andi.


Setelahnya, Dinda mengemudikan mobil itu ke tempat tujuannya. Dinda sudah menyiapkan sebuah rumah di luar kota untuk menyekap Andi. Barulah setelah semua keluarga Prayudi ia habisi, Dinda akan membawa Andi ke luar negeri memulai hidup baru mereka.


Rumah yang Dinda pakai untuk menyekap Andi merupakan sebuah villa yang terletak di tengah hutan. Tidak banyak yang tahu bahwa Dinda memiliki villa di sini. Jadi cukup aman baginya menyembunyikan Andi di sini.


Setelah mobilnya berhenti, Dinda lalu kembali memanggul tubuh Andi dan membawanya masuk. Ia membawa Andi ke sebuah kamar yang cukup luas.


Dengan penuh kehati-hatian, Dinda memaruh Andi di ranjang yang ada di sana. Ia lalu melepas borgol yang ada ditangan Andi. Setelahnya, Dinda melucuti semua pakaian Andi tanpa terkecuali.


Dinda cukup menikmati pemandangan tubuh di depannya. Ia ingin sekali menikmatinya. Sayangnya Dinda ingin menikmatinya setelah Andi sadar.


Setelah cukup puas memandanginya, Dinda lalu mengikat tangan dan kaki Andi, agar ketika sadar nanti, pemuda itu tidak akan bisa kabur dari sini.

__ADS_1


__ADS_2