Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 143 Berinvestasi Di Perusahaan Perhiasan


__ADS_3

Jangan lupa Vote, Like, Komen dan tambahkan favorit


Andi baru bisa kembali pulang pada hari Senin atau Selasa minggu depan. Mengurus visa untuk lima puluh orang ternyata memakan waktu yang cukup lama. Apalagi Andi menyelesaikan kontrak dengan para pengawalnya pada hari Jumat.


Hal itu membuatnya menunggu hingga hari Senin tiba untuk bisa menyelesaikan segala perijinan untuk pengawalnya yang berkebangsaan asing tersebut. Maka dari itu, selama menunggu hari segala berkas tersebut selesai, Andi dan Brian terbang kembali ke Madrid.


Keduanya berniat berbelanja beberapa oleh-oleh untuk keluarga mereka. Andi berniat membeli beberapa jam untuk keluarganya. Sebenarnya Andi juga ingin membelikan beberapa tas mewah untuk ibunya, seperti yang Brian lakukan.


Tetapi, Anisa bukan perempuan pengkoleksi tas. Bisa dibilang keluarga Andi adalah orang kaya baru. Hal ini membuat mereka belum memiliki hobi seperti orang kaya pada umunya. Seorang kolektor barang mewah. Keluarganya belum memeluk gaya hidup seperti itu.


Maka dari itu, Andi hanya membelikan jam tangan untuk keluarganya. Ia memilihkan jam yang memiliki desain sederhana dan tidak terlalu mewah. Dengan jam seperti itu jelas keuarganya mau memakai jam tersebut.


Selain itu, Andi juga membelikan dompet dari mereka ternama untuk ayah dan ibunya. Untuk kedua adiknya, Andi membelikan sebuah sepatu bermerek. Untuk dirinya, Andi membeli beberapa setel jas mewah untuk menambah koleksinya.


“Belanjamu cukup banyak juga.” Ucap Brian setelah melihat jumlah barang yang Andi beli. Beberapa barang yang Andi beli sekarang ini tengah dibawa oleh para pengawal Andi. Jadi, Andi dan Brian bisa menikmati waktu belanja mereka dengan tenang.


Siapa bilang hanya perempuan yang suka berbelanja. Laki-laki juga. Hanya saja kebutuhan laki-laki biasanya yang membelikan adalah pasangannya. Jadi, yang terlihat sering berbelanja adalah laki-laki. Sayangnya Andi dan Brian tidak memiliki pasangan. Jadi, mereka memilih sendiri apa yang akan mereka beli.


“Mumpung di luar negeri sekalian aja aku belanja banyak. Oleh-oleh buat keluarga mah nggak mandang harga. Asalkan kita punya uang dan barang itu cocok dengan keluarga kita, ya dibeli aja.”


“Ya, ya, ya. Sultan baru mah bebas.” Goda Brian kepada Andi.


Tiba-tiba saja dari sudut matanya, Brian menangkap sosok seorang perempuan yang tidak asing baginya. “Eh bukannya itu cewek yang waktu itu kamu tolong ya?”


Brian kemudian menunjuk ke arah seorang perempuan yang saat ini tengah duduk di sebuah restoran. Perempuan tidak terlihat sedang menikmati makanan. Ia terlihat seperti tengah menulis sesuatu di sebuah kertas.


Andi mengikuti arah jari Brian. Di sana Andi memang melihat perempuan yang pernah ia tolong. “Iya dia perempuan yang tasnya dicuri itu.”


“Kita samperin yuk?” Ajak Brian.


“Ngapain nyamperin dia?”


“Ya buat kenalan lah. Waktu itu kan dia ngajak kita makan bareng. Nah kebetulan dia sedang di restoran sekarang. Sekalian aja kita makan siang semeja dengan dia.”


Sebelum Andi memberikan sebuah respon, Brian sudah menariknya mendekat ke arah perempuan tersebut. Jika sudah begini, Andi hanya menurut membiarkan Brian menyeretnya ke sana.


Namun, beberapa langkah sebelum mereka sampai di perempuan tersebut, beberapa orang berjas hitam menghadang mereka. Orang-orang tersebut terlihat seperti pengawal. Apakah mereka pengawal dari perempuan itu?


“Kalian tidak bisa kemari. Ini area steril. Kalian bisa mencari meja lainnya.” Ucap orang tersebut dengan cukup tegas.


Melihat Andi dan Brian dihadang, pengawal yang mengikuti mereka pun ikut maju. Tetapi, Andi memberi kode kepada mereka untuk tidak bertindak gegabah.

__ADS_1


“Kami hanya ingin bertemu dengan perempuan itu. Kenapa kalian menghalangi kami?” Tanya Brian.


Salah satu laki-laki berjas hitam itu terlihat mengerutkan keningnya mendengar ucapan Brian. “Ada urusan apa Kau dengan Nona kami? Aku rasa Kau bukan orang yang dikenal oleh Nona kami bukan? Jadi, pergi dari sini dan jangan ganggu dengan Nona kami.”


Mendengar hal itu, Andi sedikit menarik baju Brian. “Udah Bro. Kita pergi aja dari sini. Daripada ribut ama mereka.”


Tetapi, keributan kecil mereka ini menarik perhatian dari perempuan itu. Ia mengarahkan pandangannya ke arah Andi dan Brian. Langsung saja ia mengetahui siapa mereka. Perempuan itu pun memberikan perintah kepada pengawalnya untuk membiarkan Andi dan Brian mendekat.


“Jake, biarkan mereka ke sini. Aku mengenal kedua pemuda tersebut.” Ucap perempuan itu.


“Apa Anda yakin Miss Stone?” Tanya Jake memastikan.


“Ya, tenang saja.”


Setelah itu, Jake dan rekannya memberikan jalan bagi Andi dan Brian untuk menuju perempuan yang Jake panggil dengan Miss Stone tersebut.


“Aku bilang juga apa. Aku mengenal Nona kalian.” Ucap Brian dengan sedikit membusungkan dada.


Melihat tingkah Brian, Andi hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Udalah. Ayo tuh cewek yang mau kamu ajak kenalan udah nungguin.” Kini giliran Andi yang menyeret Brian menuju perempuan yang dipanggil Miss Stone tersebut.


“Selamat siang Miss Stone. Aku tidak menyangka kita bertemu lagi. Mungkin ini adalah sebuah takdir bagi kita bisa bertemu lagi.” Ucap Brian dengan sebuah senyuman lebar.


Mendengar hal itu, Andi menatap ke arah Brian dengan pandangan heran. Sejak kapan temannya ini jago menggombal dengan perempuan seperti sekarang? Apa karena sudah pernah bersama dengan perempuan membuat mulut Brian terlatih mengeluarkan kata-kata manis?


“Smith, namaku Brian Smith. Kau bisa memanggilku dengan Brian.” Ucap Brian memperkenalkan diri.


“Baiklah Tuan Smith, lalu, siapa ini yang bersamamu?”


Memang setelah menolong perempuan ini, Andi dan Brian tidak saling berkenalan. Waktu itu mereka ingin segera makan malam dan beristirahat. Jadi sampai sekarang mereka tidak saling mengenal.


“Panggil saja Andy.” Ucap Andi.


Bukannya Andi tidak mau memperkenalkan nama belakangnya, hanya saja itu pasti cukup sulit bagi orang asing menyebut namanya. Untung saja nama depannya cukup mudah disebut oleh lidah orang asing. Hanya saja pelafalannya sedikit berbeda dari orang Indonesia.


“Baiklah, namaku Mia Stone. Karena kalian sudah pernah menolongku, kalian bisa memanggilku Mia.”


“Mia nama yang cantik seperti orangnya.”


“Mia, bolehkah kami bergabung denganmu?” Tanya Andi memotong Brian yang ingin kembali mengucapkan gombalannya.


“Tentu saja. Sekarang, aku akan mentraktir kalian. Waktu itu kalian sudah membantuku mengambil tas milikku. Ta situ memang tidak terlalu penting, tapi isinya sangat berharga untukku. Aku belum sempat berterima kasih kepada kalian.”

__ADS_1


Dengan cepat Brian menggoyangkan kedua tangannya. “Oh tidak perlu. Bagaimana mungkin kami membiarkan seorang wanita membayar makanan kami. Kami akan membayar sendiri makanan yang kami makan.”


Pandangan Andi tiba-tiba saja tertuju pada beberapa kertas yang ada di meja. Di sana Andi bisa melihat beberapa sketsa dari pensil. Jika dilihat secara keseuruhan, itu adalah sketsa dari sebuah perhiasan.


“Apakah itu semua buatanmu?” Tanya Andi sembari menunjuk ke arah sketsa milik Mia.


Mendengar ucapan Andi, Mia dengan sedikit buru-buru membereskan sketsa miliknya. Ia lalu memasukkan sketsa-sketsa tersebut ke dalam tas. “Ah ya ini milikku. Maaf aku belum membereskan meja ini.”


Dari apa yang Mia lakukan saat ini, Andi bisa menebak apa profesi Mia saat ini. “Maaf Mia. Aku tidak bermaksud mengintip sketsa perhiasan milikmu.” Ucap Andi.


Bagi seorang desainer, sketsa desain mereka adalah sesuatu yang sangat berharga. Itu yang akan menentukan karir mereka kedepannya. Desain tersebut adalah karya yang dengan susah payah mereka buat.


Jadi, Andi bisa paham kenapa Mia bersikap demikian. Dia pasti takut karyanya dicuri. Oleh karena itu Andi meminta maaf kepada Mia.


Mungkin ini adalah alasan kenapa Jake tidak mengijinkan mereka mendekat ke arah Mia. Mereka tidak ingin Mia terganggu atau bahkan ada seseorang yang mencuri karyanya.


“Kau tidak perlu meminta maaf. Ini salahku karena tidak segera membereskan pekerjaanku.” Ucap Mia.


“Jadi Kau desainer perhiasan Mia?” Tanya Brian.


“Ya. Aku berencana membuat bisnis perhiasan. Tas yang kalian selamatkan kemarin adalah tas berisi sketsa perhiasan milikku. Jika itu sampai hilang, maka aku akan gagal membuka bisnis perhiasanku.”


Mendengar perkataan Mia, tiba-tiba membuat Andi ingin memulai bisnis baru bersama dengan perempuan itu. “Mia, apakah kamu masih membutuhkan modal? Jangan salah paham dulu. Aku lihat tadi desain milikmu cukup bagus. Aku berniat berinvestasi dalam bisnis milikmu ini. Itu jika kamu memang benar-benar butuh.”


Meski Andi tidak terlalu mengerti perhiasan, tetapi desain perhiasan milik Mia tadi cukup bagus menurut Andi. Ia bertanya seperti ini kepada Mia dengan harapan ia bisa menanamkan saham pada bisnis milik Mia ini.


Mungkin kemarin sistem mengarahkannya menolong Mia agar dirinya dekat dengan perempuan itu. Sistem memberinya kesempatan untuk memiliki bisnis baru.


“Apa kau yakin? Kita baru saja berkenalan bukan? Jadi, kenapa Kau seberani itu ingin menginvestasikan uangmu kepadaku? Apa Kau tidak takut aku membawa kabur uangmu?”


Mia merasa sedikit aneh dengan Andi yang ingin berinvestasi kepada bisnis miliknya. Kenapa pemuda itu dengan mudahnya mengatakan akan berinvestasi pada bisnisnya. Mereka tidak sedekat itu bukan? Dan ini adalah kali pertama mereka berkenalan.


“Ini adalah insting milikku. Aku percaya dengan insting milikku. Jadi, berapa banyak yang harus aku investasikan untuk bisa memiliki tiga puluh lima persen saham di bisnismu itu?” Tanya Andi dengan santainya.


“Apa Kau yakin?”


“Seratus persen yakin.”


“Aku juga akan ikut. Tetapi aku tidak akan berinvestasi banyak. Aku hanya akan berinvestasi sebesar tujuh ratus ribu dolar padamu.” Ucap Brian tidak mau kalah.


Jika Andi mau mengambil resiko dengan mengambil tiga puluh lima persen saham perusahaan milik Mia, itu berarti Andi yakin perusahaan milik Mia akan memberinya keuntungan. Maka dari itu Brian ikut berinvestasi.

__ADS_1


Jika dikurskan, ia akan menginvestasikan uang sebesar sembilan koma delapan milyar rupiah kepada Mia. Itu adalah uang yang ia dapatkan dari Andi setelah temannya itu membeli bangunan miliknya yang mereka pergunakan untuk kafe.


__ADS_2