
Meski keluarganya baik-baik saja, Andi masih tidak bisa merasakan tenang. Misi miliknya dianggap gagal oleh sistem. Ini berarti, ada orang yang ia kenal yang sedang dalam bahaya sebelum ini.
Tetapi siapa itu? Apa bahaya yang mengancam mereka? Apakah itu bisa menghilangkan nyawa mereka, atau hanya memberikan luka yang cukup besar? Andi tidak memiliki jawaban itu. Sistem sendiri pun tidak mau memberikan Andi jawaban.
Sebenarnya Andi ingin menelfon semua temannya saat ini. Ia ingin mengecek keadaan mereka, apakah mereka baik-baik saja atau tidak. Tetapi, saat ini sudah tengah malam waktu Indonesia. Sudah jelas kebanyakan temannya beristirahat.
Meskipun Andi menelfon mereka satu persatu pun, belum tentu ada yang menjawab. Jika begini, Andi tidak bisa memastikan siapa yang dalam bahaya sebelum ini. Kemungkinan, dirinya baru bisa menghubungi mereka besok pagi.
“Aku harap, siapa pun yang sedang dalam bahaya itu sekarang dalam keadaan baik-baik saja.” Gumam Andi.
….
Pagi harinya, Andi mengirim pesan kepada seluruh orang yang ada dalam kontaknya. Entah itu teman atau sodaranya. Ia mengirimkan pesan kepada mereka semua menanyakan keadaan mereka sekarang. Beberapa sudah menjawab, beberapa belum menjawab. Andi belum bisa memastikan siapa orangnya.
Nantinya, setelah Andi mengetahui siapa itu yang sedang kesusahan, sebisa mungkin ia akan mencoba membantu menanggulangi dampaknya. Jika saja dirinya berada di Indonesia, Andi pasti akan berusaha membantu siapa pun itu yang kesusahan. Tetapi, hanya itu yang bisa Andi lakukan. Membantu meringankan dampaknya.
“Andi, kamu belum bersiap? Kita akan ke bandara satu jam lagi.” Ucap Brian yang kini melihat Andi melamun.
Brian bisa melihat bahwa barang milik Andi belum ditata ke dalam koper seluruhnya. Sejak kemarin malam, Brian bisa melihat bahwa Andi sedang gusar dan khawatir. Ia terlihat terbebani akan sesuatu. Hal itu membuat temannya itu banyak melamun dan tidak segera membereskan barang-barang miliknya.
Suara Brian membangunkan Andi dari lamunannya. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Beberapa barangnya, terutama oleh-oleh yang ia belikan untuk keluarganya, memang belum sempat Andi kemasi. Ia terlalu sibuk memikirkan siapa yang tertimpa musibah itu.
Andi kemudian menarik nafas panjang. Dirinya tidak bisa terus-terusan berlarut dalam masalah ini. Sekeras apa pun Andi mencoba, ia tidak bisa memutar waktu. Siapa pun itu orangnya, jelas bahaya sudah menimpa mereka.
Nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik sekarang Andi berhenti memikirkan hal itu untuk saat ini. Ia perlu membereskan semua barang-barang miliknya ini.
“Ah baiklah aku akan membereskan semuanya.” Andi bangkit dari sofa yang ia duduki dan mulai membereskan barang-barang miliknya.
“Apakah Kamu butuh bantuan? Aku bisa bantuin kalo emang kamu kesusahan.” Ucap Brian menawarkan diri.
Andi mengangguk pelan. “Terima kasih Bro. Aku memang sedikit membutuhkan bantuanmu agar semua ini cepat selesai.”
__ADS_1
*****
Marcel memebaca sebuah proposal di sodorkan kepadanya. Pukul sebelas tadi sebelum jam makan siang, tiba-tiba sekertarisnya mengatakan ada seseorang yang ingin menemuinya. Orang tersebut mengatakan bahwa dirinya membawakan proposal yang bisa menyelamatkan bisnisnya agar tidak bangkrut.
Marcel kira orang tersebut akan menyuntikkan dana agar bisnisnya kembali beroprasi setelah banyaknya dana yang ditarik. Tetapi, setelah membaca semua proposal itu sampai habis, ternyata itu bukan yang seperti ia pikirkan.
Marcel kemudian meletakkan proposalnya di meja. Ia lalu menatap ke arah laki-laki di depannnya. Dia mengenalkan diri sebagai Purnomo, seorang direktur perusahaan investasi. Purnomo datang ke kantornya dengan niatan membeli seluruh saham miliknya dan saham milik Marco.
“Jadi, Anda ingin mengakuisisi perusahaan milikku?” Tanya Purnomo.
“Ya. Semuanya sudah tertuang dalam proposal itu. Aku berniat membeli semua saham milik Anda dan adik Anda. Perusahaanku ingin menjadi pemilik saham terbesar di perusahaan Anda.” Jelas Purnomo.
“Tetapi ini murah sekali. Sahamku dan saham milik Marco jika di jumlah adalah lima puluh lima persen saham. Anda hanya memberikan kami seratus dua puluh milyar untuk semua saham kami. Aku tidak bisa menerimanya.” Tolak Marcel.
“Aku juga tidak bisa menerimanya.” Imbuh Marco.
“Tetapi, saat ini nilai saham kalian sedang sangat turun. Terakhir kali aku lihat, per lembarnya saham kalian kurang dari dua ribu rupiah. Dari kabar yang aku dengar, saat ini banyak investor yang mulai menarik dananya dari perusahaan kalian.”
“Nilai saham menurun, dana yang ditarik oleh investor, aku yakin jika kalian tidak bisa menangani hal itu, maka perusahaan ini akan bangkrut. Jika saat itu tiba, saham kalian itu nilainya akan turun derastis. Lebih baik kalian terima tawaran ini.”
Itu hampir dua kali lipat dari harga dari bursa. Jadi menurut Purnomo, dengan keadaan mereka yang sekarang, yang bisa Marcel lakukan adalah menjual perusahaannya ini. Jika Marcel tidak melakukan hal itu, sudah pasti akan banyak kerugian yang perlu Marcel tanggung.
Dana investor yang ditarik, tidak banyak pendapatan, dan pengeluaran yang besar, pasti membuat Marcel merugi. Dari informasi yang Purnomo dapatkan, Marcel sudah banyak menjual aset pribadinya untuk mengembalikan semua uang investor.
Jadi, seharusnya laki-laki itu menerima tawarannya untuk menjual semua saham miliknya. Setidaknya dengan menjual saham miliknya, ia bisa menyelamatkan asetnya yang tersisa. Tidak hanya itu, uang hasil penjualan saham ini bisa ia gunakan sebagai modal membuat bisnis baru.
“Kalian jangan langsung menolaknya proposalku. Pikirkan baik-baik semua ini. Aku akan memberi kalian waktu satu hari untuk membuat keputusan. Jika lebih dari sehari, aku tidak yakin bisa memberikan harga yang sama. Semakin lama nilai saham kalian semakin menurun.” Jelas Purnomo.
“Apakah menurunnya saham perusahaan kami ada hubungannya dengan Anda Pak Purnomo?” Tanya Marcel tiba-tiba.
Pemikiran itu tiba-tiba terlintas di otak Marcel. Setelah dirinya terombang ambing seperti ini, tiba-tiba saja ada yang datang dan berniat mengakuisisi perusahaannya. Purnomo seakan sudah menunggu waktu yang tepat untuk melakukan akuisisi.
__ADS_1
Seperti kata Purnomo, Marcel mengalami kerugian. Cukup besar kerugian yang dialaminya. Aset miliknya banyak yang ia jual. Yang tersisa hanyalah rumah miliknya dan beberapa mobil mewah. Rumah milknya pun ia jadikan jaminan untuk mendapatkan hutang di bank untuk bisa mengembalikan uang investor.
Jadi, jika dirinya tidak segera mengatasi permasalahan perusahaannya, keluarganya akan mengalami kebangkrutan. Cara tercepat agar keluar dari masalah ini memang mengalihkan kepemilikan perusahaannya kepada orang lain.
Tetapi, kehadiran Purnomo membuatnya curiga bahwa laki-laki itu adalah dalang dari semua masalah ini. Atau jika dia memang bukan dalangnya, Marcel yakin Purnomo mengenal dalang dari semua masalah ini.
“Kenapa Anda berbicara seperti itu? Perusahaan investasi kami ini baru berdiri beberapa bulan. Malah kami belum tiga bulan berdiri. Jadi, mana mungkin kami bisa mengumpulkan uang sebanyak itu untuk mempermaikan harga saham perusahaan Anda.”
“Selama ini, investasi terbesar yang dilakukan oleh perusahaan kami tidak lebih dari satu milyar. Jadi, tidak mungkin kami memiliki uang besar yang bisa mengobrak abrik harga saham perusahaan Anda.” Jelas Purnomo.
“Lalu sekarang? Bukankah Anda sekarang berniat mengakuisisi perusahaan kami dengan sebesar seratus dua puluh milyar. Sekarang saja Anda memiliki uang sebesar itu. Ini berarti kemungkinan besar Anda terlibat dalam menurunkan harga saham perusahaanku.”
“Ada seseorang yang meminta kami untuk membeli perusahaan ini. Kami hanya sebagai perantara saja. Dan maaf, kami tidak akan memberitahu identitas dari klien kami.”
Ini adalah instruksi yang Andi berikan. Dalam emailnya, Andi mengatakan bahwa ada temannya yang berniat mengakuisisi perusahaan milik Marcel ini. Mereka meminta Andi untuk membelinya.
Marco yang sedari tadi diam, memandangi ekspresi dari Purnomo yang menjawab semua pertanyaan dari kakaknya. Ia ingin melihat apakah ada kebohongan dari apa yang Purnomo ucapkan atau tidak.
Entah Purnomo berkata jujur atau laki-laki itu sangat pintar menyembunyikan ekspresinya, Marco tidak tahu. Yang jelas, Marco sama sekali tidak melihat kebohongan dari wajah Purnomo.
Purnomo memang sama sekali tidak tahu bahwa Andi yang bertanggung jawab atas masalah ini. Ia hanya mengikuti instruksi Andi untuk mengakuisisi perusahaan ini. Selebihnya Purnomo tidak mengetahuinya.
“Aku setuju untuk menjual semua sahamku padamu.” Ucap Marco tiba-tiba.
Ucapan Marco tersebut cukup mengejutkan bagi Marcel. Ia tidak menyangka adiknya akan semudah itu menjual saham miliknya kepada orang lain. Perusahaan ini adalah perusahaan yang didirikan oleh mendiang ayah mereka. Marco terlihat sama sekali tidak berniat mempertahankan warisan ayah mereka.
“Marco kenapa Kamu menjual sahamnya? Kita masih bisa bertahan sedikit lagi dan mencari solusinya. Aku yakin kita akan segera menyelesaikan masalah ini.”
“Aku tidak mau lebih banyak merugi. Beberapa asetku juga ikut terjual. Kerugianku sudah banyak. Aku ingin menjual saham milikku dan memulai bisnis baru dengan uang tersebut.” Jelas Marco singkat.
Mendengar perkataan Marco, Marcel hanya bisa menarik nafas panjang. Jika Marco sudah menyerah seperti ini, tidak ada gunanya juga dirinya bertahan.
__ADS_1
“Baiklah. Kalau begitu, aku juga akan menjual saham milikku.”
Mendengar hal itu, Purnomo tersenyum lebar. Tugas dari Andi ini bisa dibilang sudah ia selesaikan sekarang. “Kalau begitu, besok aku akan kembali lagi menemui Anda untuk menandatangi pengalihan saham milik kalian berdua.”