
“Kak, aku mau ngomong sesuatu.” Tanya Amira setelah mereka sampai di hotel di mana Andi menginap.
“Oke. Arfan kamu tunggu aja dulu di lobby. Aku sama Amira mau ngobrol dulu.” jelas Andi.
Andi pun mengikuti langkah Amira. Ia tidak menaruh kecurigaan sedikitpun kepada adiknya itu. Ketika sampai di taman hotel, Amira mengajak Andi duduk di sana. Setelahnya Amira langsung meraih sebelah tangan Andi.
“Eh apa yang kamu lakukan?” Tanya Andi ketika melihat Amira langsung membuka sarung tangannya. Andi sedikit meringis ketika Amira memberikan sedikit tekanan pada luka di tangannya.
“Sudah aku duga bahwa Kakak menyembunyikan luka di balik sarung tangan ini.” ucap Amira ketika melihat tangan Andi yang dibalut dengan perban. Andi memakai sarung tangan untuk menutupi keberadaan perban di tangannya.
Awalnya Amira kira kakaknya memakai sarung tangan untuk style, tetapi ia menaruh kecurigaan ketika di lokasi outbound tadi. Andi memilih-milih wahana outbound yang ia mainkan. Dan semua wahana yang Andi hindari memiliki satu kesamaan, wahana itu menggunakan telapak tangan untuk menikmatinya. Hal itu membuatnya menaruh kecurigaan kepada Andi mengenai tangannya
“Tangan kakak ini kenapa?” Andi bisa mendengar kekhawatiran dalam nada bicara Amira.
Andi menarik nafas panjang. “Ini adalah luka bakar yang aku dapatkan ketika menolong seseorang yang kecelakaan.”
“Kenapa kakak tidak berhati-hati. Lihatlah sekarang kamu mendapatkan luka bakar seperti ini. Menolong seseorang boleh, itu hal yang baik. Tetapi, jangan juga menolong seseorang sehingga kakak ikut terluka.”
“Jika aku tidak monolongnya, orang tersebut akan mati terpanggang di dalam mobilnya.”
Mendengar ucapan Andi, Amira pun terdiam. Dengan hati-hati gadis itu kembali memasangkan sarung tangan ke tangan kakaknya yang terbalut dengan perban.
“Jangan kasih tahu ini ke ibu, aku nggak pengen bikin dia khawatir.” Pinta Andi.
*****
Andi sampai di pesta ulang tahun Dinda. Pesta ini diadakan di sebuah hotel yang dikelola oleh keluarga gadis itu. Seingat Andi, ballroom tempat ulang tahun Dinda berada di lantai lima hotel ini. Andi perlu naik lift untuk menuju ke sana.
Ketika pintu lift yang Andi naiki akan tertutup, pemuda itu mendengar seseorang memintanya menahan pintu lift. Tidak lama kemudian seseorang memasuki lift tersebut. Andi mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang satu lift dengannya. Betapa kagetnya Andi melihat siapa yang berada satu lift dengannya.
“Kamu.” “Kamu.” Ucap Andi dan orang tersebut secara bersamaan.
__ADS_1
Orang yang baru masuk itu berniat keluar dari lift. Ia merasa enggan berada di dalam lift bersama dengan Andi. Namun, lift yang mereka naiki sudah bergerak naik.
“Cih.” Orang tersebut mendecih. “Sial sekali aku satu lift dengan orang sepertimu.”
“Heh.” Andi mendengus pelan. “Aku tidak menyangka kamu sudah keluar dari rumah sakit. Bagaimana kabarmu Jony?”
“Untuk apa kamu sok peduli denganku seperti itu. Semua luka ini juga aku dapatkan gara-gara dirimu.” Ternyata orang yang satu lift dengan Andi adalah Jony, teman sekolahnya yang sudah dihajar oleh Damar.
“Aku sama sekali tidak menyuruh mereka menghajarmu bukan? Lalu, kenapa kamu mengatakan seolah-olah aku yang sudah menyuruh para preman itu untuk menghajarmu?”
“Heh.” Jony mendengus. “Memang mereka menghajarmu bukan karena suruhanmu. Tetapi, mereka menghajarku karena mereka takut dihajar oleh pamanmu. Jadi, bagaimana pun juga, ini semua salahmu.”
Andi menggelengkan kepalanya pelan. “Bisa dibilang, semua itu salahmu sendiri. Kamu yang memulai menyuruh para preman-preman itu untuk menghajarku. Jika saja aku tidak jago dalam bela diri, sudah pasti orang yang masuk rumah sakit bukannya kamu, tetapi aku. Jangan pernah main api jika takut terbakar. Jangan pernah pakai preman jika kamu sendiri takut dihajar.”
“Jangan mentang-mentang kamu punya paman seorang preman kamu bisa melakukan sesukamu. Jangan merasa di atas angin karena sudah menang. Untuk saat ini kmau memang menang, tapi tidak untuk kedepannya. Ingat Andi semua ini belum berakhir.”
“Di provinsi kita, kelompok preman terkuat bukan hanya kelompok pimpinan Pamanmu. Masih ada beberapa kelompok preman yang memiliki kekuatan setara dengan kelompok pamanmu. Aku harap kamu siap menghadapi mereka yang ingin menjatuhkan pamanmu.” Ucap Jony sebelum keluar dari lift.
Andi mengikuti langkah pemuda itu dari belakang. Tetapi, Andi menghentikan langkahnya beberapa langkah sebelum pintu masuk ballroom. Jika saja tangannya tidak terluka, sudah pasti Andi akan menggenggam erat kali ini.
Bagi Andi, ini merupakan sebuah peringatan keras. Jony memperingatkan Andi bahwa ia akan melakukan pembalasan yang lebih besar daripada sebelumnya. Memang Andi belum tahu sebesar apa masalah yang akan diberikan oleh Jony, tetapi jelas itu adalah bahaya yang besar dan serius.
Yang membuat semua itu berbahaya adalah, Jony memiliki informasi mengenai keluarganya. Siapa saja mereka, di mana mereka tinggal, pekerjaan anggota keluarganya, semua informasi dasar itu Jony ketahui. Itu akan memberikan bahaya yang cukup besar.
Andi tahu bahwa ayahnya bisa melindungi diri. Tetapi, bagaimana dengan ibunya yang tidak bisa bela diri, Arfan yang belum begitu jago dalam bela diri, dan Amira yang meskipun bisa bela diri, tetapi gadis itu terbilang lebih lemah dari pada para pimpinan preman.
Jika Jony nanti menargetkannya, itu tidak akan menjadi masalah. Namun, jika anggota keluarganya yang menjadi target, bukankah itu adalah bahaya yang cukup besar?
Andi perlu mencari solusi tentang hal ini. Setidaknya, keluarganya perlu tahu ada bahaya yang mungkin saja sudah mengintai mereka. Dengan demikian, keluarganya bisa waspada terhadap orang-orang asing di sekitar mereka. Tetapi ini sedikit lebih sulit, karena Aripto dan Andi masih dalam kondisi tidak akur seperti ini.
“Sepertinya aku harus menemui ayah setelah ini. Aku perlu meluruskan semua kesalah pahaman ini.” Gumam Andi dalam hati.
__ADS_1
Sebelumnya Andi berniat meluruskan semuanya pada perkumpulan tahunan keluarganya, tujuh hari mendatang. Tetapi hal tersebut harus Andi urungkan. Ada masalah gawat yang harus segera dicarikan solusinya, dan ini tidak bisa ia tunda lebih lama lagi.
Untuk saat ini, Andi perlu menghadiri pesta ulang tahun Dinda. Ia sudah sampai di sini. Akan tidak etis jika dirinya tiba-tiba pergi tanpa menyapa yang punya acara. Setidaknya Andi perlu memberikan action figure dari Hinata yang sebelumnya sudah ia beli.
Pesta Dinda sekarang ini terlihat cukup ramai. Beberapa orang terlihat sudah berada di ballroom tersebut. Andi bisa melihat beberapa teman sekelasnya sudah berada di dalam ballroom. Andi mengedarkan pandangannya mencari keberadaan gadis pemilik pesta.
‘Itu dia di sana.’ Gumam Andi dalam hati ketika melihat keberadaan Dinda di dekat panggung.
Langsung saja Andi berjalan mendekat ke arah Dinda. Dalam perjalanan ke sana, Andis bisa mendengar bisik-bisik beberapa orang yang ada di sana. Andi bisa menebak bahwa dirinya adalahs yang menjadi obejek pembicaraan orang-orang itu. Tetapi Andi menghiraukannya, ia tetap berjalan dengan percaya diri menuju ke arah Dinda.
“Hai Din, selamat ulang tahun ya. Ini ada kado kecil dariku.” Ucap Andi ketika sampai di dekat Dinda. Pemuda itu pun menyerahkan sebuah paper bag berisi action figure kepada Dinda.
“Ah terima kasih Andi, sudah datang. Aku kira kamu tidak akan datang seperti sebelum-sebelumnya. Sebenarnya, kamu tidak perlu membawakan kado untukku.”
“Tidak masalah. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena tidak pernah hadir di pesta ulang tahunmu yang sebelum-sebelumnya jelas Andi.”
Mendengar perkataan Andi itu, mau tidak mau Dinda harus menerima kado dari Andi tersebut. “Baiklah, akan aku terima kado darimu ini. Terima kasih ya.” Dinda tebak kado ini tidak seberapa nilainya. Meski begitu, ketulusan dari orang yang membeli lah yang ia nilai, bukan dari harga barang yang dijadikan kado.
“Wah-wah, aku tidak menyangka kamu juga memberikan kado kepada Dinda. Kado apa itu yang kamu berikan kepada Dinda?” Tanya Jony yang tiba-tiba saja sudah mendatangi mereka.
Andi mengerutkan keningnya. Sepertinya Jony ini memang orang yang suka membuat masalah. Jika tidak, kenapa dia tiba-tiba kesini?
“Mau apa kamu kemari Jony?” Tanya Dinda masih cukup sopan.
Jony menggelengkan kepalanya pelan. “Aku hanya pengen tahu aja apa yang orang ini berikan sebagai hadiah untukmu.” Jawab Jony yang enggan menyebutkan nama Andi. “Coba bukalah apa yang diberikan orang ini padamu. Aku penasaran dengan isinya.”
“Iya Din coba buka kami pengen tahu. Secara Andi kan udah jadi orang hebat sekarang. Pamannya aja orang tersohor di Surabaya, sudah jelas apa yang diberikannya bukan hal yang biasa.” Jawab seseorang antek Jony.
Ketika Jony melihat Andi membawa sebuah paper bag, ia tahu bahwa Andi datang dengan membawa kado untuk Dinda. Jony bisa tebak bahwa apa yang diberikan oleh Andi adalah barang murah. Meski pun Paman Andi adalah seorang preman besar, tidak mungkin bukan pamannya itu memberikan Andi uang untuk membelikan kado orang lain. Maka dari itu Jony berniat untuk mempermalukan Andi di depan banyak orang.
Jony sudah meminta beberapa antek-antek setianya untuk sedikit menyudut Dinda. Dengan begitu, mau tidak mau gadis itu akan membuka kado pemberian Andi. Jika itu terjadi, sudah pasti tujuannya akan tercapai.
__ADS_1
“Tidak. Aku tidak berniat membuka kado-kado ini sekarang. Jadi, bagaimana pun kalian meminta, aku tidak akan membuka kadoku.”
Andi sedikit menyeringai melihat hal itu. Rupanya mereka ingin mempermalukannya. Jelas itu tidak akan terjadi. Apa yang Andi diberikan untuk kado Dinda memang bukan barang mewah yang harganya belasan atau puluhan juta, tetapi sebuah action figure resmi. Meski terlihat sepele, setidaknya action figure seperti itu harga jutaan hingga belasan juta. Jadi, sudah jelas Jony tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan.