
Jangan lupa Vote, Like, Komen dan tambahkan favorit
terima kasih selamat membaca
Pagi ini Andi tengah mengurusi kebun milik Almarhum Kakek Buyutnya, bersama dengan para sepupunya. Bersama-sama mereka menyirami, mencabuti hama, dan menanam beberapa sayuran baru di kebun tersebut.
Andi tidak menyangka kegiatan seperti ini menyenangkan. Dengan berkebun seperti ini, Andi tidak memikirkan masalah lainnya. Ia jauh lebih fokus dan tenang. Pemuda itu merasa ketika memasuki kebun, dirinya berada di dunia yang berbeda.
Pantas saja Almarhum Kakek Buyut Adipramana suka berkebun di masa tuanya. Ini memberikan hiburan tersendiri untuk beliau. Mungkin, kedepannya Andi akan membuat kebun untuk dirinya. Jika nanti Andi pusing memikirkan masalahnya, ia bisa menenangkan diri dengan berkebun seperti ini.
Andis memutuskan untuk mencari lokasi yang cocok untuk membuat kebun kecil miliknya. Mungkin dia akan membeli sebuah villa di daerah pegunungan. Jadi, selain berkebun, ketika menenangkan diri nanti, dirinya bisa menikmati keasrian daerah pegunungan. Memikirkannya saja membuat Andi senang.
Ketika Andi sibuk memanen tomat yang ada di kebun, sebuah suara dari sistem terdengar di telinganya. Hal itu membuat Andi menghentikan sementara apa yang tengah dilakukannya. Ia kemudian mengecek pemberitahuan yang sistem berikan kepadanya.
[Ding]
[Misi memiliki lima perusahaan baru telah selesai]
[Hadiah telah disimpan di penyimpanan sistem]
[Host hanya perlu menginformasikan sistem ketika sudah siap untuk menerima hadiah]
‘Eh, ternyata misi yang ini sudah selesai. Berarti, sekarang ini Pak Purnomo sudah selesai melakukan akuisisi perusahaan itu.’ Gumam Andi dalam hati.
Benar saja tidak lama setelah pemberitahuan dari sistem muncul, ponsel miliknya bergetar. Di sana Adni melihat pesan dari Purnomo yang pelaporkan keberhasilannya mengakuisisi perusahaan baru dengan nilai seratus lima puluh milyar rupiah.
Itu berarti, uang yang sebelumnya ia kirimkan ke rekening perusahaannya masih tersisa banyak. Andi yakin itu bisa dipergunakan untuk mengembangkan perusahaan yang sekarang ia miliki.
‘Sekarang mari kita lihat berapa banyak kartu kemampuan karyawan yang aku punya.’
Andi ingin memberikan kartu kemampuan karyawan yang ia dapatkan dari misi ini, kepada para sepupunya. Meski dirinya mengatakan bahwa tidak masalah jika bisnis para sepupunya mengalami kerugian, tetap saja Andi tidak bisa membiarkan mereka mengalaminya.
Oleh karena itu ia akan memberikan kartu kemampuan karyawannya ini kepada para sepupunya. Dengan begitu, kemampuan berbisnis dari sepupunya akan bertambah. Meski itu tidak seratus persen menjamin mereka akan berhasil, setidaknya itu bisa membantu mereka tidak merugi terlalu besar.
“Panel status.”
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 13 (771.796.135.200/1.400.000.000.000)]
[Saldo Host : Rp 73.146.753.158]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 34 USD (1 USD \= Rp 14.000,-)]
[Misi : - Buatlah sebuah game. Hitung mundur 68 hari 18 jam]
__ADS_1
[Misi Harian : - Habiskan uang Rp 10.000.000,-.
Hadiah : 2 pecahan tiket lucky draw
Hukuman : Pengurangan saldo Rp 100.000.000,-]
[Target Mingguan : - Capai pengeluaran Rp 250.000.000,-
Hadiah : 15 pecahan tiket lucky draw
Hukuman : Pengurangan saldo Rp 2.500.000.000,-]
[Target Bulanan : - Capai pengeluaran Rp 1.000.000.000.000,- (817.080.000.000/1.000.000.000.000)
Hadiah : 1 tiket lucky draw
Hukuman : Host tidak akan mendapatkan pemasukan dari bernafas selama 2 tahun]
[Tiket Lucy Draw : 0 Tiket 81 Pecahan]
[Penyimpanan : - Kartu kemampuan Karyawan (50)]
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
‘Eh, kartu kemampuan karyawan yang aku dapat ternyata sebanyak itu?’
Andi cukup kaget menerima hadiah sebanyak itu. Tetapi, jika Andi memikirkannya lebih jauh lagi, itu adalah angka yang normal. Ketika dirinya mendirikan perusahaan pertamanya, Andi mendapatkan sepuluh kartu kemampuan karyawan dari sistem.
Andi akan menyimpan dan menghadiahkan kartu kemampuan karyawan tersebut kepada orang yang diangapnya pantas ke depannya. Untuk sekarang, tiga dari lima perusahaan baru yang ia miliki, sudah memiliki manajemen yang tersusun rapi. Jadi, Andi tidak akan membutuhkan banyak kartu kemampuan karyawan.
‘Sistem, berikan kartu kemampuan karyawan tersebut kepada ke enam belas sepupuku.’ Pinta Andi kepada sistem.
Karena Andi sudah memberikan modal kepada mereka, sistem sudah menganggap mereka sebagai bagian dari karyawan yang Andi miliki. Oleh karena itu, Andi bisa memberikan kartu kemampuan karyawan kepada para sepupunya.
[Ding]
[Enam belas kartu kemampuan karyawan sudah di bagikan]
‘Lalu sistem, berikan satu juga untuk Kim, pengawalku.’
Dengan Andi memberikan kartu kemampuan karyawan kepada Kim, ia berharap kemampuan meretas yang dimiliki Kim akan meningkat derastis. Ke depannya, Kim akan lebih mudah dalam melindungi data perusahaannya dan juga melakukan tugas peretasan yang ia berikan.
[Ding]
[Satu kartu kemampuan karyawan telah dibagikan]
Andi tidak menyangka itu benar-benar bisa. Ia kira para pengawalnya tidak bisa memakai kartu kemampuan karyawans tersebut. Ternyata bisa. Jika begini, Andi bisa memperkuat beberapa pengawal miliknya.
__ADS_1
Mungkin dirinya bisa memilih sepuluh orang lainnya untuk ditingkatkan kemampuannya. Lima untuk mereka yang memiliki kemampuan bertarung lebih unggul dari yang lainnya. Lima lagi untuk mereka yang memiliki kemampuan khusus, seperti yang Kim miliki.
Tetapi, Andi akan melakukannya di lain waktu. Setelah masa berkabungnya selesai, Andi akan melakukan hal itu.
Tidak lama kemudian, ponsel milik Andi berbunyi. Itu adalah sebuah panggilan dari Chayan. Langsung saja Andi mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo, Chayan. Ada apa Kau menelfonku?”
“Hallo, Bos. Aku hanya ingin melaporkan sesuatu padamu. Kami sudah menangkap orang yang menjadi terduga pembakaran kafe milikmu. Sekarang, apa yang harus kami lakukan Bos?” Tanya Chayan.
“Rupanya kalian sudah berhasil menangkapnya. Kerja bagus. Untuk saat ini, sekap saja di di bangunan tua yang berada jauh dari keramaian. Aku belum memiliki waktu untuk menemuinya. Jika aku sudah memiliki kesempatan, aku akan mengintrogasi orang itu.” Jelas Andi.
“Baiklah Bos. Aku akan mengikuti instruksimu.”
Setelah itu, Andi memberikan beberapa instruksi kepada Chayan. Andi terlalu fokus dengan sambungan telepon tersebut hingga tidak sadar ada seseorang yang mendekatinya. Sekarang ini Andi sedang berada di dekat keluarganya. Jadi, ia melonggarkan kewaspadaannya. Oleh karena itu Andi tidak menyadari hal itu.
Andi terlonjak kaget melihat Dimas yang kini sudah ada di sampingnya setelah dirinya menutup panggilan dengan Chayan. Sepupunya itu tengah membawa cangkul kecil yang ia gunakan untuk memanen singkong.
“Astaga. Mas Dimas, kenapa tiba-tiba ada di situ. Bikin kaget aja.” Ucap Andi.
Dimas tidak merespon ucapan Andi barusan. Ia malah melemparkan sebuah pertanyaan kepada Andi. “Siapa tadi? Kok kamu ngomongnya pake Bahasa Inggris? Dan siapa yang sedang kamu sekap saat ini?” Tanya Dimas kepada Andi.
Memang Andi tadi tidak terlalu bersuara keras ketika menjawab panggilan telepon dari Chayan. Tetapi, Dimas yang berada tidak jauh dari tempat Andi tidak sengaja mendengar sepupunya itu berbicara dalam Bahasa Inggris.
Karena penasaran Dimas mendekati sepupunya itu. Ia tidak menyangka ternyata sepupunya itu tengah menyekap seseorang sekarang.
“Dia adalah salah satu pengawalku. Aku memberinya tugas menyelidiki kebakaran dari kafe milikku. Aku rasa ketiga kafe milikku itu sengaja dibakar. Dan sekarang, aku sudah menangkap terduga pelakunya. Aku yakin ada dalang di balik kebakaran itu.”
“Orang yang ditangkap oleh anak buahku ini kemungkinan besar hanyalah orang suruhan dari dalang tersebut. Aku masih perlu mengintrogasi orang itu untuk mengetahui dalangnya. Mangkanya sekarang aku hanya menyekap orang itu.” Jelas Andi.
Dimas sudah tahu bahwa ketiga kafe milik Andi terbakar. Tetapi ia tidak menyangka bahwa ketiga kafe tersebut sengaja dibakar oleh seseorang. Mendengar hal itu, Dimas menjadi geram. Ia sangat tidak suka jika seseorang bersaing dengan cara kotor seperti itu.
“Apakah Kamu butuh bantuanku?”
“Tidak perlu aku bisa mengatasinya untuk saat ini.” Jelas Andi.
“Kamu bilang tadi kamu akan mengintrogasi orang itu. Bisakah Kamu mengajakku ketika melakukannya?”
Dimas penasaran dengan orang yang melakukan pembakaran kafe milik Andi. Dengan dia ikut melakukan introgasi, dia juga bisa tahu siapa dalang di balik pelaku pembakaran kafe milik Andi. Meskipun Andi menolak bantuannya, tetapi dirinya bisa membantu dalam bentuk lain.
Belum lama ini Andi meminta mereka menekan bisnis dari seseorang, agar bisnis apapun yang dilakukan oleh orang itu tidak berhasil. Mungkin saja dengan dirinya ikut melihat introgasi tersebut, Dimas akan mengetahui siapa dalangnya. Ia pasti akan membantu Andi menekan bisnis milik orang tersebut.
“Tentu saja. Aku akan mengajakmu Mas ketika akan mengintrogasi orang itu. Tetapi aku tidak melakukannya sekarang. Mungkin hari Kamis atau Jumat aku akan melakukannya.”
“Kenapa tidak sekarang saja?” Tanya Dimas sedikit heran. Bukankah lebih cepat lebih baik. Kenapa Andi masih harus menundanya seperti ini?
“Sekarang ini kita masih dalam masa berkabung. Aku tidak mau melakukan kekerasan selama satu minggu masa berkabung kita. Aku yakin ketika kita mengintrogasinya, kita pasti akan memakai sedikit kekerasan.”
__ADS_1
“Ah rupanya seperti itu. Tidak masalah untukku. Nantinya, aku akan mengajak beberapa sepupu kita untuk melihat introgasi yang kamu lakukan. Tidak masalah bukan?”
“Itu tidak masalah untukku.”