Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 31 Andi VS Damar


__ADS_3

Laki-laki bernama Damar itu memandang tajam ke arah Andi. “Apa benar yang dikatakannya?” Sepertinya laki-laki bernama Damar ini tidak mempercayai begitu saja ucapan Rendi. Jika iya mempercayai ucapan Rendi maka dia tidak akan bertanya kepada Andi seperti sekarang ini.


“Aku memang mengalahkan anak buahmu. Tetapi aku tidak pernah mengatakan hal yang seperti Rendi katakana. Dia berbohong.”


“Tidak Mas Damar. Cecunguk ini yang bohong dia mengatakan semua itu tadi. Kalau kau tidak percaya tanyakan saja pada temanku Jony. Dia juga mendengarnya ketika cecunguk ini berbicara seperti itu. Benarkan?”


Rendi mengarahkan pandangannya ke arah Jony yang masih tetap berdiri di tempatnya semula. Pemuda itu tidak memberikan respon yang diharapkan oleh Rendi. Bagaimana bisa dia dengan mudahnya mengikuti keinginan Rendi setelah dia tibba-tiba ingin lepas tanggungjawab seperti tadi.


“Beneran Mas Damar aku nggak bohong.” Ucap Rendi sekali lagi setelah melihat Jony tidak memberikan respon apapun.


“Diamlah aku tidak suka orang yang berbohong. Jadi diamlah dan biarkan anak muda itu menjelaskannya.” Bentak Damar kepada Rendi.


Seketika itu juga Rendi menutup mulutnya. Tidak hanya itu, pemuda itu juga mundur satu langkah dari tempatnya sebelumnya. Ia terlihat berusaha menghindar dari kemarahan Damar. Rendi tahu jika Damar marah hal itu menjadi sangat buruk. Rendi pernah melihat hal itu. Ia tidak mau membuat laki-laki itu marah kepadanya.


“Sekarang bicaralah kembali anak muda.” Ucap Damar kepada Andi.


Andi mengangguk pelan. “Aku sama sekali tidak menghina mereka atau siapapun yang berada di belakang mereka. Urusanku hanyalah dengan anak ini.” Tunjuk Andi kepada Jony.


“Dia memiliki urusan denganku tetapi dia malah melibatkan orang lain dalam urusan mereka. Dia telah membayar kalian para preman untuk menghajarku. Apa kau berpikir aku hanya akan diam saja dan menerima pukulan dari anak buahmu? Tentu saja tidak. Aku melawan, dan akhirnya aku mengalahkan mereka semua.”


“Jadi jangan salahkan aku jika aku menghajar mereka. Mereka pantas menerima hal itu. Kalau boleh jujur anak buahmu memang lemah. Tetapi itu juga tidak membuatku bisa mengalahkan mereka dengan satu tangan. Aku belum mencapai tingkat itu.” Jelas Andi.


“Kamu bilang mereka lemah? Sekarang mari kita lihat sekuat apa kamu ini hingga bisa membuat tumbang semua anak buahku. Jangan harap kamu bisa pergi begitu saja setelah menghajar anak buahku. Sekarang urusanmu denganku. Sebagai bos yang baik, aku akan membalaskan dendam anak buahku.”

__ADS_1


Damar setengah berlari menjuru Andi. Ia kemudian melompat cukup tinggi dan melakukan pukulan kepada Andi. Tenaga pukulannya ditambah dengan bebannya ketika jatuh membuat pukulannya semakin kuat.


Damar sudah sering melakukan pukulan seperti ini. Banyak dari musuhnya yang langsung tumbang setelah menerima pukulan ini di kepala mereka. Damar yakin pemuda di depannya ini tidak akan bisa menghindar dari pukulannya ini. Ia yakin pemuda ini pasti jatuh pingsan setelah menerima pukulan ini.


Namun apa yang diharapkan oleh Damar tidak terjadi. Andi yang melihat serang dari Damar merespon dengan cepat. Ia mengerahkan seluruh tenaganya. Sudah terlihat musuhnya kali ini bukanlah orang yang biasa. Ia orang yang pandai bertarung. Mungkin saja kekuatannya sama dengan kekuatan penuh milik Andi. Hal tesebut membuat Andi tidak ingin lengah sedikpun.


Andi melakukan lompatan ke belakang menghindar dari pukulan Damar. Sekilas ada rasa tidak percaya terlihat di mata Damar. Laki-laki itu tidak menyangka pemuda di depannya ini bisa menghindari pukulannya. Berarti pemuda itu memang memiliki kemampuan. Pantas saja anak buahnya ditumbangkan olehnya. Tingkatan mereka jauh berbeda, jadi tidak mengherankan jika mereka kalah.


Sekarang Damar jauh lebih serius dari sebelumnya. Jika sebelumnya laki-laki itu melakukan serangan hanya seperti serangan tes, sekarang ia akan bersungguh-sungguh. Jika ia tidak bersungguh-sungguh, bisa jadi nasibnya tidak akan jauh berbeda dengan anak buahnya. Mau ditaruh di mana mukanya nanti jika sampai yang lain tahu seorang Damar sang tinju besi dikalahkan oleh anak kemarin sore.


Kombinasi pukulan dan tendangan Damar layangkan kepada Andi. Tetapi pemuda itu berhasil mengahalau semuanya. Tidak hanya itu, pemuda itu juga melayangkan beberapa serangan kepada Damar yang pada akhirnya juga berhasil laki-laki itu halau. Bisa dibilang mereka berdua memilik kekuatan yang seimbang.


Damar sudah menggunakan seluruh kekuatannya tetapi dia tidak bisa unggul dalam pertarungan ini. Bagaimana bisa anak SMA seperti pemuda di depannya ini memiliki kekuatan yang sama sepertinya, pimpinan cabang dari gang yang cukup besar di kota ini.


Tapi tunggu dulu, Damar sepertinya hafal dengan teknik bertarung Andi. Ia baru menyadarinya sekarang. Teknik bertarung yang dipakai Andi adalah teknik khas dari gang mereka. Hanya angota inti saja yang boleh mempelajarinya. Tidak banyak yang mengetahui teknik bertarung ini.


Sepertinya pertarungan mereka perlu dihentikan. Meskipun Damar ingin sekali mengalahkan pemuda ini, ada yang jauh lebih penting dari itu. Ia perlu mengetahui asal usul teknik bertarung yang dipakai oleh pemuda ini. Tidak sembarangan orang boleh mempelajari teknik khas dari gang mereka. Damar harus mencari tahu hal ini sampai ke akarnya.


Setelah menghindari pukulan Andi, laki-laki tersebut melompat mudur. Ia membuat jarak antara dirinya dan pemuda itu. Jika mereka masih berdekatan sudah pasti pemuda itu tidak akan mau ia ajak bicara. Mungkin dia akan mengira bahwa itu hanyalah trik yang dilakukan Damar untuk mencari cela agar bisa mengalahkannya. Maka dari itu Damar mengambil jarak di antara mereka.


Setelah jarak mereka cukup jauh, Damar mengangkat sebelah tangannya. “Tunggu dulu. Kita perlu berbicara”


Andi menghentikan gerakannya yang akan kembali melayangkan serangan kepada Damar. Pemuda itu menarik nafas panjang untuk sedikit merilekskan tubuhnya. Ia masih menatap Damar dengan penuh kecurigaan. Ia tidak mau lengah begitu saja jika menghadapi orang yang memiliki kekuatan seperti Damar.

__ADS_1


Meski dari luar Andi terlihat rileks, tetapi pemuda itu masih memusatkan konsentrasinya ke sekitarnya. Jika ada serangan mendadak, ia masih bisa menghindar atau bahkan melakukan serangan balasan.


Setelah Damar melihat bahwa Andi tidak lagi memiliki niatan untuk menyerangnya lagi, laki-laki itu menanyakan hal yang ada di pikirannya. “Dari mana kau mendapatkan teknik bertarung itu? Siapa yang mengajarimu?”


“Memangnya kenapa?” Andi sedikit mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Damar. Ia kira Damar akan membicarakan apa dengannya. Ternyata ia membicarakan tentang asal usul teknik bertarungnya. Memangnya ada masalah dengan hal itu? Andi rasa itu tidak mungkin. Ini adalah teknik turun temurun dari keluarganya.


Aripto lah yang mengajarkan teknik ini kepada Andi. Dan dari yang pemuda itu dengar, ayahnya mempelajari teknik ini dari mendiang Kakeknya. Andi rasa tidak ada masalah dengan teknik keluarganya ini.


Apakah Damar mengenali teknik bertarung milik keluarganya ini? Jika demikian, berarti Damar kemungkinan besar mengenal salah satu anggota keluarganya.


“Katakan saja anak muda. Dari mana kau mendapatkan teknik bertarung itu? Siapa yang berani mengajarimu teknik bertarung khas gang macan putih.”


Andi mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Damar. Teknik khas milik gang macan putih katanya? Hah, jangan membuat Andi menertawakan hal itu.


“Apa kamu tidak salah bicara Paman? Teknik khas gang macan putih? Heh.” Cibir Andi.


“Jangan main-main anak muda katakan semuanya padaku.” Bentak Damar dengan cukup keras.


“Ini adalah teknik bertarung milik keluarga Prayudi. Teknik ini sudah dimiliki oleh keluarga Prayudi sejak jaman penjajahan dulu. Ini adalah teknik yang diturunkan secara turun temurun kepada anak laki-laki di keluarga Prayudi.”


“Jadi Paman, katakan padaku milik siapa teknik ini sebenarnya. Milik gang macan putih milikmu, yang aku rasa belum berumur lima puluh tahun itu. Atau milik dari keluarga Prayudi yang sudah memiki teknik tersebut selama seratus tahun lebih itu.”


Damar tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Ia tidak menyangka pemuda di depannya ini berasal dari keluarga itu. Keluarga yang bahkan ditakuti oleh pemimpin gang macan putih, atau bahkan seluruh gang yang ada di provinsi ini.

__ADS_1


Sepertinya dirinya sudah mendang batu yang cukup besar hari ini. Ia salah karena tidak menyelidiki lebih lanjut target yang akan dihajarnya. Ia tidak menyangka bahwa yang menjadi targetnya adalah seorang pemuda dalam dirinya mengalir darah keluarga Prayudi.


__ADS_2