Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 222 Malang


__ADS_3

“Din. Maaf ya aku telat jemput Kamu.” Ucap Andi yang kesekian kalinya.


Sejak mereka bertemu di lobby apartemen Andi, pemuda itu tidak henti-hentinya meminta maaf kepada Dinda karena sudah melupakan janjinya. Namun, sampai sekarang Dinda belum juga memberikan kata maaf kepada Andi.


Pada akhirnya Dinda risih juga mendengar kata-kata Andi itu. Ia lalu mengarahkan pandangannya kepada Andi yang saat ini sedang fokus mengemudikan mobilnya.


‘Tampan.’ Ucap Dinda dalam hati.


Andi yang sekarang fokus menyetir sekarang terlihat tampan di matanya. Hal itu membuat Dinda tidak bisa berlama-lama marah kepada Andi. Dinda mengela nafas panjang.


“Oke aku bakal maafin Kamu. Tetapi, jangan diulang lagi bikin kesalahan kayak gitu.” Jawab Dinda.


Mendengar hal itu, Andi bernafas lega. Setidaknya Dinda sudah mengatakan telah memaafkannya. Perkara itu benar-benar sudah memaafkan atau tidak itu akan Andi pikirkan nanti. Yang penting sekarang Dinda sudah mau memaafkannya.


“Makasih ya.” Ucap Andi.


“Memangnya hari ini Kamu mau ngajak aku kemana?” Tanya Dinda pada akhirnya.


Sedari tadi ia ingin menanyakan hal itu kepada Andi. Tetapi ia belum juga melakukannya. Saat ini, mobil yang Andi kendarai terlihat akan memasuki gerbang tol menujuke luar kota.


Meski Dinda bisa menebak dari pintu tol yang Andi ambil, pemuda itu mengajaknya ke Kota Malang, tetapi Dinda tidak tahu tujuan mereka saat ini.


Tempat wisata di Kota Malang cukuplah banyak. Jadi, Dinda tidak tau apakah Andi akan mengajaknya menuju ke wisata kota atau wisata alam yang ada di Kota Malang.


“Kita akan ke Bukit Paralayang. Aku pengen nyoba sensasi menaiki paralayang di sana.” Jawab Andi.


Sebenarnya banyak lokasi bagus di Malang yang bisa mereka kunjungi. Andi ingin sekali menginap di Malang dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan Dinda.


Beberapa villa bagus juga sudah tersedia Malang. Andi ingin mencoba menginap di villa estetik yang ada di Malang. Sayangnya mereka tidak bisa menginap sekarang. Besok ia masih memiliki kesibukan lainnya. Mungkin lain waktu dia akan meginap di villa yang ada di Malang.


Jadi, Andi mengajak Dinda ke Bukit Paralayang. Di sana mereka bisa menikmati panorama alam yang ada dan juga menikmati rasanya terbang dengan paralayang. Andi ingin sekali merasakan bagaimana terbang dengan paralayang.


Ketika di Bali, Andi hanya mendatangi wisata air Tanjung Benoa. Meski beberapa wahana olahraga air di sana membuat Andi seolah-olah terbang, tetapi itu bukan benar-benar terbang. Ini berbeda dengan paralayang. Ia akan benar-benar terbang melayang ketika melakukannya.

__ADS_1


“Kamu nggak keberatan bukan kalo kita ke sana?” Tanya Andi memastikan.


Ini adalah keputusan sepihaknya. Jika Dinda memiliki saran tempat lainnya, itu tidak masalah untuk Andi. Andi bisa menuruti permintaan Dinda itu. Lagipula, Malang tidaklah terlalu jauh.


Bahkan itu lebih dekat lagi dari rumah utama keluarga Prayudi. Kota tempat tinggalnya berbatasan langsung dengan Kota Batu. Hanya saja jalur menuju ke sana cukup berbahaya bagi mereka yang tidak terbiasa.


Itu karena dari kotanya menuju ke Kota Batu perlu melewati jalur pegunungan yang naik turun dengan jurang dalam. Tidak hanya itu, belokan tajam khas daerah pegunungan cukup banyak ditemukan di jalur tersebut.


Jika sekarang ia menuruti permintaan Dinda, Andi bisa mendatangi Bukit Paralayang di lain kesempatan. Itu bukanlah sebuah keharusan untuk melakukannya sekarang.


“Wah aku juga pengen mencoba paralayang. Aku nggak masalah jika kita ke sana.” Jawab Dinda.


Satu setengah jam kemudian, mobil yang Andi kendarai sampai di objek wisata Bukit Paralayang. Sampai di sana keduanya tidak langsung menikmati wahana wisata. Mereka lebih memilih beristirahat dulu sembari membeli makanan ringan yang dijual di sana.


Dua puluh menit kemudian, mereka mulai menuju lokasi paralayang. Karena Andi dan Dinda sama sekali tidak memahami paralayang, mereka tidak bisa melakukan paralayang sendirian. Ada pemandu yang menemani mereka.


Meski begitu, itu tidak mengurangi pengalaman mereka dalam melakukan paralayang. Mereka masih bisa menikmatinya dengan baik.


Ketika berada di paralayang, Andi tiba-tiba terpikirkan membuat sesuatu yang bisa membantu seseorang terbang seperti sekarang. Sebuah teknologi tinggi yang memungkinkan manusia melakukan hal itu dengan bantuan teknologi.


Mungkin kedepannya dia bisa melakukan hal itu. Atau mungkin juga galaksi di mana sistem berasal sudah memiliki teknologi seperti itu.


Jelas galaksi yang bisa membuat sesuatu seperti sistem ini, memiliki peradaban yang sangat jauh lebih maju daripada manusia Bumi. Teknologi seperti itu mungkin sudah biasa di mata mereka.


Pemikiran itu membuat Andi menongakkan kepalanya memandang ke arah langit. Bumi hanya satu dari jutaan planet yang ada di dunia ini. Ada kemungkinan kehidupan lain di luar sana yang manusia sendiri tidak mengetahuinya.


Hal itu mengingatkan Andi kepada pebisnis asal Amerika yang berencana membuat peradaban manusia di planet Mars. Pebisnis itu sudah membuat banyak percobaan dengan membuat roket yang bisa membawa manusia ke sana.


Meski roketnya beberapa kali mengalami kegagalan, tetapi orang itu tidak berhenti mencobanya. Terakhir Andi dengar, roket buatan perusahaanorang itu sudah terlihat berhasil diluncurkan dan mendarat dengan selamat di Bumi.


“Hem… Aku jadi pengen ikutin jejak dia. Berambisi membuat peradaban baru di Mars. Bukankah jika aku jadi pioneer hidup di sana, aku bisa mmebuat sendiri kota milikku, bahkan mungkin juga kerajaan baru atau negara baru di Mars.” Gumam Andi dalam hati.


Sayangnya waktu mengkhayal Andi itu terhenti ketika paralayang yang ia naiki sudah mendarat. Tidak lama kemudian, paralayang yang dinaiki oleh Dinda pun mendarat juga. Kedua pasangan kekasih itu saling pandang setelah menikmati keseruan terbang dengan paralayang.

__ADS_1


“Tadi itu meyenangkan sekali.” Ucap Andi.


“Ya sangat menyayangkan. Sayangnya kita berada di paralayang yang berbeda. Coba saja kita bisa menaiki paralayang yang sama, itu pasti jauh lebih menyenangkan lagi. Bukankah begitu Beb?” Tanya Dinda.


“Kamu benar. Tetapi, jika kita mau melakukan hal itu, kita perlu mengikuti pelatihan terlebih dahulu.”


Dinda mengibaskan sebelah tangannya setelah mendengar ucapan Andi. “Santai sajalah. Kita berdua masih cukup muda. Masih banyak waktu untuk melakukan hal itu. Suatu hari nanti kita pasti bisa melakukan hal itu.” Jawab Dinda.


“Kamu benar Beb. Kita nanti akan melakukannya bersama.”


Setelah beristirahat sebentar, Andi dan Dinda kemudian menikmati wahana lain ada di sana. Ketika jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, Andi mengajak Dinda untuk kembali ke Surabaya.


Meski jalan-jalan mereka di sini susah selesai, tetapi Andi masik memiliki rencana lain di Surabaya. Ia masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Dinda.


“Aku senang sekali seharian ini kita bisa jalan bareng.” Ucap Dinda ketika mereka dalam perjalanan pulang.


Dinda sekarang seolah melupakan kejadian tidak mengenakkan tadi pagi, di mana Andi lupa dengan janji yang mereka buat. Seharian menghabiskan waktu bersama dengan Andi sangat menyenangkan menurut Dinda.


Hal ini membuat Dinda semakintidak sabar menghabiskan waktu berdua saja dengan Andi di masa mendatang. Itu pasti akan lebih menyenangkan daripada sekarang.


“Lain kali kalo aku memiliki waktu luang, kita akan liburan bareng seperti sekarang. Masih banyak tempat wisata yang bisa kita kunjungi bersama.” Jawab Andi.


“Baiklah. Bagaimana jika bulan depan kita pergi liburan lagi bersama? Keluar negeri mungkin? Ya meskipun bulan depan perkuliahan sudah aktif dilakukan, tidak msalah bukan jika kita bolos dua hari saja.” Saran Dinda.


Andi terdiam sebentar memikirkan saran Dinda tersebut. Dalam minggu ini masalah terbesar yang menghantui keluarganya akan terselesaikan. Menurut Andi tidak masalah jika dirinya menyisihkan waktunya setelah semua masalah itu terselesaikan. Ia juga pantas mendapatkan liburan.


“Itu tidak buruk juga menurutku. Mungkin kita bisa berangkat rabu malam menghabiskan liburan tiga, empat hari di luar negeri lalu senin kita sudah kembali. Ide yang tidak terlalu buruk menurutku.”


“Baiklah jika Kamu setuju. Setelah ini aku akan membuat rencana kemana negara tujuan kita nantinya. Aku akan membuat jadwal supaya empat hari kita di sana bisa kita nikmati dengan baik.” Jelas Dinda.


Tentu saja dalam pikiran Dinda itu bukan empat hari tetapi lebih dari itu. Jelas ketika pertempuran ini selesai, ia akan membawa Andi tinggal di salah satu tempat yang sudah ia persiapkan dan tinggal berdua selamanya di sana.


“Baiklah. Kamu atur saja semuanya sesukamu. Aku akan mengikuti semuanya.” Jawab Andi.

__ADS_1


__ADS_2