Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 42 Kemarahan Aripto


__ADS_3

Aripto mendorong sebuah koran yang sebelumnya ada di depannya, menuju ke depan Andi. Andi bingung dengan apa yang dilakukan ayahnya. Pemuda itu kemudian melihat berita di halaman terdepan yang ada di koran tersebut.


Anak Calon Walikota Marcel Sanjaya Dilaporkan ke Polisi


Ini adalah berita dari pelaporan Jony kepada polisi. Apakah ayahnya marah karena ini? Bukankah tidak menjadi masalah? Andi tidak menghajar Jony, ia lebih memilih menyelesaikan masalah ini ke jalur hukum daripada menggunakan tangannya.


Ayahnya selama ini mengajarkannya untuk tidak menggunakan kekuatannya melawan mereka yang lebih lemah. Kemampuan bela diri harus digunakan sesuai dengan namanya, membela diri, bukan untuk menghajar orang lain. Bukankah Andi tidak melakukan hal itu? Jadi apa dengan melaporkan Jony ke polisi membuat ayahnya marah?


Seperti dapat membaca putranya, Aripto berbicara kepada Andi. “Bacalah berita paling bawah di halaman depan. Setelah kamu membaca itu, kamu pasti akan mengetahui kenapa kami memintamu berbicara dengan kami.” Ucap Aripto dengan masih menggunakan nada yang datar.


Andi kemudian menuruti perkataan ayahnya. Ia membaca berita lainnya yang masih berada di halaman depan. Andi cukup kaget dengan judul berita yang ada di sana.


Anak Calon Walikota Marcel Sanjaya Dirawat Di Rumah Sakit


“Kau menghajar temanmu itu?” tanya Aripto setelah melihat perubahan pada wajah Andi. Laki-laki itu menebak bahwa anak sulungnya ini sudah membaca berita tersebut.


“Tidak ayah. Aku tidak menghajar Jony, aku hanya mengahajar para preman yang akan menghajarku. Ketika melawan preman-preman itu pun aku tidak menggunakan serangan mematikan. Jadi, bukan aku yang menghajar mereka. Malam itu aku pergi meninggalkan dia dengan para preman suruhannya, mungkin mereka yang menghajar Jony.”


“Apa benar yang kau katakan?”


“Sungguh ayah aku tidak bohong kepadamu. Aku tidak melayangkan tanganku pada mereka. Jika pun aku sampai harus memberi pelajaran kepada mereka, aku tidak akan sampai berbuat kejam seperti itu. Mematahkan tulang mereka? Aku tidak akan melakukan hal itu.”


Andi membaca dengan cermat berita itu. Di sana di katakan bahwa Jony dalam keadaan setengah sadar ketika ditemukan di daerah pergudangan lama. Dia mengalami patah kaki dan tangan. Tidak hanya itu, tulang rusuk Jony juga mengalami keretakan.

__ADS_1


Rendi juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan Jony. Kedua kakinya dipatahkan, ia bisa dikatakan jauh lebih beruntung dari Jony. Ketika ditemukan pemuda itu masih dalam keadaan sadar. Rendilah yang menelfon ambulance untuk membawa mereka berdua pergi dari sana.


“Aku tidak menghajar mereka sampai seperti itu ayah. Sunguh.” Andi mencoba meyakinkan ayahnya.


“Aku tahu kamu tidak menghajar mereka. Tetapi, aku juga tahu bahwa kamu juga sudah menyuruh preman-preman itu menghajar mereka.”


Andi menyipitkan matanya mendengar perkataan Aripto. “Maksud ayah apa? Aku menyuruh preman-preman itu? Aku saja tidak mengenal preman-preman itu. Lalu, bagaimana bisa aku meyuruh preman-preman itu untuk menghajar Jony dan Rendi. Itu sangat tidak mungkin ayah.”


Andi tidak percaya ayahnya akan menuduhnya seperti itu. Ia masih menjunjung tinggi ajaran ayahnya untuk tidak menggunakan kekuatannya menghajar orang lain. Apakah selama ini ayahnya tidak bisa melihat bahwa dirinya masih menjunjung tinggi ajaran itu.


Berapa kali Andi memang terlibat perkelahian. Tetapi, selama perkelahian itu Andi tidak pernah menghajar lawannya hingga membuat mereka perlu dibawa rumah sakit. Andi bisa mengontrol tenaganya.


Paling parah, pemuda itu hanya akan meninggalkan lebam-lebam di lawan berkelahinya, tidak pernah sekalipun Andi memberikan luka yang membuat mereka masuk rumah sakit. Apakah rekam jejaknya selama ini tidak bisa dipercaya?


Brak….


Meja makan di rumah mereka langsung patah setelah menerima pukulan dari Aripto. Itu adalah meja dari kayu jati dengan ketebalan kayu setebal lima sentimeter. Bayangkan seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan hal tersebut.


Melihat ayahnya marah seperti itu, Andi bangkit dari duduknya. Anisa yang juga ada di sana juga memilih berdiri dan mengambil beberapa kebelakang, sedikit menjauh dari suaminya yang saat ini tengah marah.


“Jangan mengelak hal itu.” Aripto menunjuk ke arah Andi.


“Aku, aku tidak melaukan itu. Sungguh ayah, aku tidak melakukannya.”

__ADS_1


“Jangan membantahku. Aku tahu semua itu. Kamu menggunakan identitasmu sebagai keponakan Burhan, sebagai alasan agar preman-preman itu menghajar teman-temanmu. Salah satu dari mereka sudah menemuiku dan meminta pendapat, apakah kita puas dengan hasil perkerjaan mereka. Sekarang kamu mau mengelak apa lagi?”


Andi tidak bisa berkata-kata setelah mendengar apa yang Aripto katakan. Memang pemuda itu sama sekali tidak memberikan perintah kepada mereka untuk menghajar Jony dan Rendi. Para preman itu menghajar keduanya berdasarkan inisiatif mereka sendiri.


Dan ketika mereka melaporkan hal ini kepada Aripto, hal itu seperti sebuah pernyataan bahwa Andi sudah memberikan perintah kepada mereka, dengan menggunakan identitasnya sebagai keponakan Burhan. Padahal Andi sama sekali tidak melakukannya. Pemuda itu bahkan baru mengetahui bahwa Jony dan Rendi masuk rumah sakit.


“Ketika kamu membuat bisnis bersama dengan Brian, aku sangat senang. Apalagi ketika tahu bahwa bisnis itu memberikan keuntungan yang besar. Tetapi sepertinya kamu tidak puas dengan pendapatan bisnis itu. Kamu sekarang berharap menghasilkan uang lebih dengan bergabung bersama para preman itu?”


“Kenapa ayah berbicara seperti itu?” Tanya Andi penuh dengan rasa ketidak percayaan. “Aku sudah puas, sangat puas malahan dengan bisnisku bersama Brian. Sekarang kami toko kami sedang di renovasi. Aku sangat puas dengan apa yang aku miliki. Lalu, kenapa ayah menuduhku bergabung dengan para preman itu untuk mencari uang lebih.”


“Heh.” Aripto mendengus. “Menuduhmu? Aku tidak menuduhmu. Itu adalah fakta. Hari Minggu lalu kamu ke Surabaya bukan? Kamu pulang dengan membawa pakaian sebanyak itu. Uang dari mana itu yang kamu pakai untuk membeli semua pakaian baru itu?”


Aripto mengangkat telunjuknya ke arah Andi. Meminta anak sulungnya itu untuk diam dan membiarkan dirinya menyelesaikan perkataannya. “Jangan menngatakan padaku bahwa semua itu adalah pakaian bekas. Aku tidak akan mempercayai hal itu.” Ucap Aripto tegas.


“Pakaian bekas macam apa yang memiliki warna sebagus pakaian baru. Tidak hanya itu, pakaian-pakaian itu adalah pakaian edisi terbaru yang dijual di Matahari. Apakah Matahari sekarang menjual baju bekas? Jangan mengatakan hal bodoh seperti itu.”


Andi hanya diam menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa membantah perkataan ayahnya mengenai hal itu. Pemuda itu lupa bahwa di kotanya juga ada mall yang memiliki gerai Matahari di sana. Ayahnya yang jelas-jelas merupakan seorang pengemudi ojek online, sudah pasti sering keluar masuk mall tersebut untuk mengambil pesanan makanan. Pasti ayahnya melihat kemiripan baju yang dibawanya pulang dengan baju yang ada di sana.


“Ibumu bilang dia belum mengirimkan keuntungan bisnisnya kepadamu. Lalu darimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli pakaian?”


“Itu, aku….” Andi bingung harus mengatakan apa kepada orang tuanya. Ia tidak mengira orang tuanya akan menodongnya dengan pertanyaan asal usul uangnya. Semua alasan yang dulunya ia persiapkan seakan hilang begitu saja. Andi tidak bisa menjawab pertanyaan dari kedua orang tuanya.


Melihat anaknya yang kini tidak bisa menjawab dan hanya menundukkan kepalanya saja, Aripto tahu bahwa anak sulungnya itu telah mengaku bahwa ia sudah melakukan sebuah kesalahan.

__ADS_1


“Aku sudah menebak, bahwa kamu tidak akan bisa mengatakan kepada kami asal usul dari uang tersebut. Aku tidak menyangka kamu melakukan sesuatu yang sangat mengecewakan kami seperti ini.”


__ADS_2