
Setelah menerima telfon dari Sebastian, Andi memutuskan untuk mengecek group kelasnya. Telfon Sebastian mengenai Jony mengingatkan Andi untuk membuka group kelasnya. Ia lupa untuk mengecek group kelasnya selama beberapa hari terakhir.
Andi melihat ada ratusan di group kelasnya. Pemuda itu sengaja mensenyapkan pemberitahuan dari group kelasnya sehingga dia tidak mengetahui ada pesan sebanyak ini di sana. Sering adanya pesan yang tidak terlalu penting membuat Andi mematikan pemberitahuan group kelasnya.
Pekerjaannya hari ini sudah usai, sebentar lagi juga jam kerja berakhir. Tidak ada salahnya jika dia memakai waktunya kali ini untuk membaca pesan yang ada di sana.
Pada awalnya, group kelasnya itu diisi dengan pesan-pesan tidak penting. Namun, semakin Andi membaca ke bawah pesan tersebut berganti menjadi pembicaraan mengenai kasus yang menimpa Jony. Mereka saling menebak dengan siapa Jony bermasalah sehingga dia mendapatkan panggilan polisi.
Beberapa menebaknya, namun tidak ada yang mengatakan dengan pasti siapa gerangan yang melaporkan Jony. Andi sedikit merasa aneh dengan hal itu. Pasalnya, beberapa antek Jony berasal dari kelasnya. Namun, kenapa mereka tidak mengatakan yang sebenarnya, tentang siapa yang bermasalah dnegan Jony.
Bukankah mereka tahu bahwa Jony sedang bermasalah dengan Andi? Tetapi, kenapa mereka diam saja tidak berkoar-koar seperti biasanya? Ini tidak seperti yang biasa kelompok Jony lakukan. Biasanya jika mereka membuat masalah dengan seseorang di sekolah, biasanya mereka akan membicarakan hal tersebut di group kelas. Apakah Jony yang meminta mereka diam? Bisa saja itu terjadi. Mungkin Jony tidak ingin ada yang tahu jika kesembilan antek-anteknya tidak bisa berbuat apa-apa kepada Jony.
Setelah kabar mengenai kasus Jony dengan polisi, Andi juga melihat bagaimana teman sekelasnya membicarakan mengenai Jony yang masuk rumah sakit. Dari yang Andi baca di sana, informasi yang ada tidak jauh bedanya dengan apa yang selama ini ia ketahui.
Kemudian, Andi melihat kabar terbaru dari teman-temannya. Hari minggu ini Dinda akan melakasanakan pesta ulang tahun. Semua teman sekelasnya diundang dalam acara ini. Pesta itu diadakan hari minggu besok.
“Ah untung saja aku membuka group kelas. Jika aku sampai melupakan hal ini, bisa-bisa aku melewatkan pesta ulang tahun Dinda. Selama sekelas dengannya aku tidak pernah hadir di pesta ulang tahunnya. Setidaknya kali ini aku harus hadir. Dinda sudah membantuku banyak hal.” Gumam Andi dalam hati.
“Tetapi, hadiah apa yang bisa aku berikan untuk orang seperti Dinda? Sudah jelas dia dari keluarga kaya, dia bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Jadi, kado apa yang perlu aku berikan untuknya? Hem… sepertinya setelah kerja nanti aku akan pergi ke mall untuk mencari kado Dinda. Siapa tahu nanti aku menemukan barang yang cocok.”
Ketika Andi sibuk memikirkan hal itu, seseorang mengetuk pintu ruangannya. “Masuk.” Ucap Andi mempersilahkan. Di sana berdiri Danang dengan membawa sebuah berkas.
“Silahkan duduk Pak Danang.”
“Terima kasih Mr. A.” ucap Danang yang kemudian menyodorkan sebuah berkas kepada Andi. “Ini proposal yang saya buat mengenai rencana pemasaran kita Mr.”
Andi membaca proposal pemberian Danang dengan rinci. Satu persatu saran yang diberikan oleh Danang Andi baca dengan baik. Pada bagian rincian keuangan, Andi membaca peroposal itu dengan teliti. Setelah beberapa kali membaca, Andi merasa puas dengan proposal yang diberikan oleh Danang. Sepertinya ini ada pengaruh dari kartu pengalaman karyawan yang ia berikan kepada karyawan inti perusahaannya.
“Baiklah, aku menyetujui rencana ini. Jika website kita sudah selesai, minggu depan Anda bisa langsung melaksanakan semua rencana yang anda ajukan dalam proposal ini.” Ucap Andi pada akhirnya.
Setelah membicarakan beberapa hals lainnya, Danang undur diri dari ruangan Andi. Selama tiga hari ini, bisa dibilang perushaanya masih dalam proses persiapan. Pekiraannya perusahaannya baru benar-benar beroprasi pada minggu depan. Ia berharap dengan rencana promosi yang Danang berikan, akan banyak proposal yang masuk ke perusahaannya di akhir pekan besok.
*****
__ADS_1
Andi cukup bingung memilih kado untuk Dinda. Pada akhirnya pemuda itu memutuskan memberikan action figure dari anime yang di tonton Dinda. Tetapi itu juga yang membuat Andi bingung. Anime yang ditonton Dinda cukup banyak. Jadi, dia bingung akan memberikan action figure dari tokoh anime yang mana.
Ketika Andi sudah memtuskan action figure yang mana, ia mengatakan hal tersebut kepada pelayan toko yang tidak jauh dari tempatnya.
“Mbak tolong ambilkan action figure Akashi Seijuro.” “Aku mau action figure Akashi dari Kuroko No Basuke.”
Mendengar ada yang meminta action figure yang sama, dengan waktu bersamaan membuat Andi menolehkan pandangannya. Pasalnya, action figure Akashi Seijuro tinggal satu buah. Sudah pasti ini akan menjadi konflik lagi. Kenapa akhir-akhir ini dirinya mengalami konflik terus menerus jika membeli sesuatu.
Betapa kagetnya Andi melihat siapa yang menginginkan barang yang sama dengannya. Dia adalah gadis yang beberapa hari yang lalu bersama Gayatri. Jika tidak salah, namanya adalah Widya. Ia tidak menyangka bertemu dengannya sekarang.
“Ah kamu juga menginginkan action figure ini? Kamu ambil saja aku bisa membeli yang lain.” Ucap Andi mengalah. Sebelumnya dia sudah diberi kartu diskon dan ditraktir makan oleh Gayatri. Jadi, Andi tidak mungkin berebut action figure dengan adik Gayatri bukan?
“Benaran kamu nggak mau ambil action figure ini?” Tanya Widya memastikan.
Sebelumnya pemuda ini berebut jas dengan Marcel, dan Widya tidak ingin itu terjadi juga padanya. Dia sangat malas untuk berdebat, apalagi untuk memperebutkan barang. Jika pemuda ini memang benar-benar mau mengalah, ia akan senang dengan hal itu. Tetapi, ia perlu memastikan bahwa pemuda di depannya ini benar-benar mau mengalah.
“Benaran. Kamu bisa ambil yang ini. Sebenarnya aku membeli itu untuk kado temanku, aku bisa mencarikan action figure yang lain untuknya. Kalo kamu menyukai Akashi ambil saja. Aku bisa memberikannya action figure Hinata dari Haikyuu.”
“Mbak tolong ambilkan action figure Hinata dari Haikyuu ya. Tolong sekalian bungkus kertas kado apakah bisa?” tanya Andi kepada pelayan toko.
“Aku akan mentraktirmu es krim. Sebagai tanda terimakasihku kamu mau mengalah dan memberikan action figure Akashi kepadaku.” Ucap Widya setelah mereka keluar dari toko action figure.
“Ah tidak perlu. Lagi pula, aku tidak melakukan apa pun. Kamu membayar sendiri action figure itu. Jadi kamu tidak perlu mentraktirku apapun. Aku tidak pantas menerima itu.”
“Tidak masalah. Kamu sudah mengalah dan membiarkan aku membelinya itu pantas untuk mendapatkan rasa terimakasih dariku. Aku tidaks mau berhutang budi padamu. Jadi, biarkan aku mentraktirmu es krim.”
Mendengar ucapan Widya yang seperti itu, Andi tahu bahwa gadis ini tidak mau ditolak. Jika begini Andi hanya bisa menerima ajakan dari Widya untuk membeli es krim.
“Baiklah, jika kamu bersikeras ingin mentraktirku. Sekarang kamu mau mengajakku menikmati eskrim dimana?” tanya Andi.
“Apa kamu membawa mobil ke sini?”
“Ya, memang kenapa?”
__ADS_1
“Bagus kalau begitu. Kita bisa menuju ke kedai es krim itu dengan mobilmu.”
“Memangnya, kenapa tidak di sini saja? Bukankah ada kedai es krim di mall ini?” Seingat Andi di mall mereka berada sekarang ini, ada sebuah kedai es krim di lantai dasar. Lalu, kenapa Widya repot-repot mengajaknya menikmati es krim di luar? Di sini kan lebih praktis.
Widya menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak. Aku kurang menyukai es krim yang ada di sini. Jadi, lebih baik kita makan es krim di tempat langgananku saja.” Pinta Widya.
“Baiklah, jika maumu begitu.” Bagi Andi tidak masalah mau makan di sini atau di luar. Hanya saja di sini lebih praktis. Lagi pula, tidak ada lagi yang dia inginkan di sini.
“Jadi, kalau boleh tahu bisnis apa yang dijalankan keluargamu?” Tanya Widya ketika mereka berada di dalam mobil.
“Keluargaku bisnis makanan. Ibuku memiliki sebuah katering. Namun sekarang, ibuku berhenti dengan usaha kateringnya dan membantuku mengurusi kafe.” Jelas Andi.
“Mengurus kafe? Kamu sekarang memiliki kafe?”
“Ya dan tidak.”
“Maksudmu?”
“Ya, aku memang memiki kafe, tetapi kafe itu belum beroprasi. Ini adalah bisnis yang aku jalankan bersama dengan temanku. Aku baru menjalankan bisnis ini setelah ujian. Jadi, bisa dikatakan bisnisku ini baru berjalan.” Jelas Andi.
“Ah kamu memiliki bisnis sendiri? Wah enak sekali. Aku sebenarnya juga ingin memiliki bisnis sendiri. Tetapi, keluargaku belum mengijinkannya. Mereka menyuruhku untuk belajar terlebih dahulu dari kakakku sebelum aku memulai bisnisku.”
“Padahal, lebih enak belajar sembari mencoba. Jadi, kita bisa mengetahui kekurangan kita dalam menjalankan bisnis. Jika aku hanya belajar dari kakakku, maka aku akan hanya akan melihat bagaimana kakakku mengambil keputusan tetapi aku sama sekali tidak bisa ikut mengambil keputusan.” Keluh Widya.
Widya sangat iri dengan mereka yang memiliki bisnis mereka sendiri. Biasanya, mereka yang berasal dari keluarga pebisnis, selalu didorong oleh keluarga mereka untuk memulai berbisnis. Kebanyakan malah di suruh untuk membuka bisnis mereka sendiri.
Tetapi Widya kebalikan dari semua itu. Sedari kecil dia ingin memiliki bisnisnya sendiri. Tidak besar hanya bisnis kecil-kecilan dengan modal uang tabungannya. Tetapi, keluarganya tidak menyetujui hal itu.
“Kenapa kamu nggak coba bikin bisnis kecil-kecilan secara sembunyi-sembunyi saja?” tanya Andi heran. Bukankah hal itu bisa gadis ini lakukan? Modal sepertinya tidak akan menjadi masalah untuk gadis ini. Kenapa tidak mencobanya saja?
“Ah itu tidak mungkin. Apa pun yang aku lakukan itu diawasi oleh keluargaku. Aku tidak bisa bebas dan melakukan yang aku inginkan. Mereka bilang, aku baru boleh memulai membuka bisnisku setelah aku berusia dua puluh tahun. Meski hanya dua tahun lagi, itu sangat lama. Aku sudah tidak sabar melakukannya.”
Andi bisa mendengar kekesalan pada nada bicara Widya. Rupanya menjadi anak orang kaya itu tidak selamanya menyenangkan. Akan ada batasan-batasan yang di buat oleh keluarga mereka. Lihat saja Widya, ingin membuka bisnis saja diberi batasan-batasan tertentu oleh keluarganya.
__ADS_1
“Kita sudah sampai.”