
“Panel status.”
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 7 (49675200/1000000000)]
[Saldo Host : Rp 524.017.500,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 22 rupiah]
[Misi : - Selesaikan pendaftaran perusahaan milik host ]
[Target Bulanan : Capai saldo Rp 1.000.000.000,- (524017500/1000000000)]
[Penyimpanan : - Kekuatan +5, Stamina +5
Kotak Misteri Perak]
[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya
Pengalaman Pembalap : Tingkat 1
Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1
Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1
Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1]
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
‘Sekarang aku sudah mencapai level tujuh. Aku perlu menaikkan tiga level lagi untuk bisa mendapatkan informasi lebih dalam mengenai sistem. Aku butuh menghabiskan uang satu milyar untuk mencapai level delapan.’ Gumam Andi dalam hati.
‘Oh apa itu? Mendapatkan hadiah kotak misteri tingkat perak? Apakah yang aku dapatkan dari kotak ini?’
Ini adalah pertama kalinya Andi mendapatkan kotak misteri di tingkat perak. Sudah jelas isi dari kotak misteri ini lebih besar nilainya dari kotak misteri tingkat perunggu. Andi tidak sabar mengetahuinya. Apakah dengan hadiah ini dirinya bisa mencapai target saldo satu milyar dari sistem atau tidak, Andi sendiri juga belum yakin. Tanpa menunggu lama lagi, Andi membuka kotak misteri itu.
[Ding]
[Selamat Host telah membuka kotak misteri tingkat perak]
[Ding]
[Selamat Host telah mendapatkan sebuah SUV Mercedes senilai Rp 875.000.000,-]
__ADS_1
[Host kumpulkan semua kotak misteri dan ungkap misteri dibaliknya]
‘Sebuah mobil?’ Andi tidak menyangka mendapatkan mobil seperti ini. Ketika dirinya berencana membeli mobil, ternyata ia sudah mendapatkannya dari sistem. Dengan begini, Andi tidak perlu pusing memikirkan mobilitasnya.
Dari penjelasan sistem, Andi mengetahui bahwa mobil hadiahnya kini sudah terparkir di basement apartemennya. Tidak hanya itu, kunci dan segala surat-suratnya sudah tersimpan rapi di almari kamarnya. Andi tidak sabar untuk sampai di apartemen dan mencoba mobil barunya itu.
*****
Ketika sampai di depan gedung apartemen, dengan sedikit terburu-buru Andi menarik adiknya untuk segera kembali ke apartemennya. Ia ingin mengambil kunci mobilnya dan mencari keberadaan mobilnya di parkiran. Tanpa kunci, Andi pasti akan kebingungan mencari mobilnya.
“Kenapa terburu-buru seperti itu sih Kak?” Tanya Amira ketika mereka berada di dalam lift.
“Ada sesuatu yang perlu aku ambil di apartemen. Jadi aku harus segera kembali.”
“Memangnya itu tidak bisa menunggu? Barang yang ingin Kakak ambil sudah pasti tidak akan berpindah bukan? Jadi kenapa terburu-buru?”
Mendengar ucapan Amira, Andi menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. “Ah kamu benar Amira. Maaf tadi aku sudah menarik-narikmu seperti itu.”
“Ah tidak apa-apa kak.”
…
“Kakak, bolehkah aku menyanyakan sesuatu?” tanya Amira ketika mereka sampai di dalam apartemen Andi.
“Ya, apa yang ingin kamu tanyakan.”
“Jawab jujur, dari mana kakak mendapatkan semua uang itu. Kakak dengan mudahnya menyumbangkan sebuah gedung untuk panti asuhan itu. Dari mana Kakak mendapatkannya.”
“Kakak mendapatkan uang itu dari menabung.”
“Menabung? Aku tidak percaya dengan menabung kakak bisa mendapatkan uang sebanyak itu.” Ucap Amira memotong pembicaraan Andi.
“Tentu saja. Jika kamu menabung secara konvensional tentu kamu tidak akan mendapatkan uang banyak. Sejak kakak memiliki KTP dan ATM, kakak sudah membuat akun reksadana. Ada aplikasi yang memudahkan kita membeli reksadana hanya dengan sepuluh ribu rupiah.”
“Jadi, kakak menabung di reksadana. Sudah pasti uangnya akan bertambah banyak setiap bulannya. Lalu, kakak cairkan semua reksadana yang kakak punya dan membeli saham di bursa. Kakak juga meminjam uang Brian untuk melakukan hal itu.”
“Ketika membeli saham, kakak mendapatkan keuntungan yang fantastis. Dalam beberapa hari, kakak bisa menghasilkan tiga ratus persen dari uang yang kakak investasikan. Jadi, kakak mendapatkan uang banyak dari hal itu. Setelah kakak mengembalikan uang Brian, kakak membeli saham-saham lainnya.”
Andi lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah aplikasi yang ia gunakan untuk membeli saham tempo hari. “Lihatlah, ada saldo dua ratus juta lebih di sana. Ini adalah saldo yang belum kakak cairkan. Ini nantinya yang akan kakak pakai untuk mengembangkan nominal saldo di rekening kakak.” Jelas Andi.
Amira mengambil ponsel tersebut dari tangan Andi. Gadis itu melihat satu persatu saham yang dimiliki Andi. Setelah beberapa kali mengecek, ia mengembalikan ponsel tersebut ke pemiliknya. Sekarang Amira sudah tidak lagi menaruh kecurigaan kepada Andi.
Ia melihat sendiri berapa saldo yang dimiliki kakaknya itu. “Aku tidak menyangka kakak bisa mendapatkan uang sebanyak itu.” ucap Amira penuh kekaguman.
“Jadi, ketika aku bilang aku berjudi kepada ayah, bisa dibilang aku mengatakan kebenaran. Kamu tahu sendiri bukan bahwa jual beli saham itu ada yang mengatakan seperti orang yang berjudi. Sekarang kita bisa mendapatkan untung banyak, dan nanti sore kita bisa merugi.”
Andi bersyukur bahwa aplikasi ini tidak menyimpan bukti transaksi lama. Dengan begini, Amira tidak akan tahu bahwa saldo ini adalah saldo yang dimilikinya sejak dua hari lalu, bukannya berbulan-bulan seperti pengakuannya.
“Nah kamu lihat bukan. Nanti, ketika kamu udah punya KTP, kamu bisa membuka akun reksadana. Nabungnya ga harus banyak. Lima puluh ribu sebulan tetapi rutin juga bisa membawa keuntungan banyak. Nanti kakak akan ajari kamu gimana milih portofolio reksadana yang baik.”
“Kalo kamu nyampe rumah nanti, kamu pinjem aja KTP dan rekening Ibu. Kamu harus rasain sendiri bagaimana reksadana kamu mengalami keuntungan cukup besar hari ini, dan merugi di esok hari. Nanti akan kakak kasih kamu uang buat saldo awal. Buat kamu belajar. Tapi, jangan kasih tahu ini sama orang tua kita.” Pinta Andi kepada Amira.
“Ya baiklah. Aku kan mencobanya.” Ucap Amira dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
“Sekarang, apakah kamu mau jalan-jalan atau istirahat dulu.”
Amira memberikan sebuah senyum jahil kepada Andi. “Karena sekarang aku tahu bahwa kakakku ini kaya raya, maka aku sebagai adik yang baik harus memanfaatkan hal itu. Kita jalan-jalan.” Putus Amira.
Mendengar perkataan adiknya, Andi memasuki kamarnya dan mengambil kunci mobilnya. Sudah saatnya dirinya mengendarai sendiri mobilnya. Sekarang dirinya tidak perlu repot-repot menunggu datangnya taksi online. Cukup mengambil mobilnya di parkiran, Andi bisa pergi ke mana pun ia mau.
Andi langsung saja membawa Amira menuju basement. Sebenarnya Amira cukup heran dengan Andi yang membawanya ke basement bukan ke lobby, namun gadis itu memilih diam dan menunggu melihat semuanya.
Andi menekan remote mobilnya. Sebuah mobil berwarna merah yang terparkir tidak jauh dari lift berbunyi. Langsung saja Andi membawa Amira mendekat ke arah mobil itu. Sebenarnya Andi ingin melompat-lompat dengan gembira ketika melihat mobilnya ini. Namun pemuda itu memilih bersikap biasa saja di depan adiknya.
“Ini mobil baruku. Aku baru bisa mencicil mobil ini. Mau kah Nona Amira mengambil kehormatan untuk menjadi penumpang pertama mobilku?” Tanya Andi sembari mengulurkan sebelah tangannya kea rah Amira.
“Kakak punya mobil juga?”
“Ya. Naiklah. Kita akan jalan-jalan menggunakan mobil ini.”
Setelah adiknya naik, Andi langsung saja membawa mobilnya menuju mall terdekat. Ia ingin menghabiskan waktu dengan adik perempuannya. Mungkin Andi akan membeli beberapa barang lagi bersama dengan adiknya ini.
*****
“Sekarang kita mau ke mana?” Tanya Amira ketika mereka sampai di mall.
“Bagaimana jika kita membeli ponsel baru? Aku sekarang membutuhkan ponsel baru.” Sudah saatnya ponsel kentang miliknya diganti. Memang ponsel itu masih bisa digunakan dengan baik. Tetapi, menurut Andi, ponsel tersebut memiliki penyimpanan yang kurang. saat
“Apa aku boleh minta ponsel juga?” Tanya Amira.
“Aku bisa melakukannya. Tetapi, aku takut ayah akan marah padamu dan mempertanyakan asal usul ponselmu, jika dia tahu kamu memiliki ponsel baru.”
“Tenang saja kakak. Aku tetap akan memakai ponsel lamaku. Aku hanya akan memakai ponsel baruku ketika tidak diketahui ayah atau pun ibu.” Ucap Amira menyakinkan kakaknya.
Sepertinya Amira bisa melakukannya. Adiknya itu sudah memiliki kamar sendiri. Sudah pasti Amira akan mudah menyembunyikan keberadaan ponsel barunya. “Baiklah. Mari kita membeli ponsel baru.”
Andi membawa Amira ke salah satu gerai yang menjual ponsel dengan merek buah yang ternama itu. Ketika Andi berada di sana, langsung saja Andi bertanya kepada pelayan toko mengenai ponsel keluaran terbaru dari merek buah itu. Andi menanyakan fitur-fitur apa saja yang dimiliki ponsel itu. Pelayan toko itu pun dengan ramah menjelaskan semuanya kepada Andi.
Setelah mendengar penjelasan dari pelayan toko tersebut, Andi memutuskan untuk membeli ponsel itu. Sebelum Andi meminta pelayan toko mengambilkan dua unit ponsel untukknya, di sebelahnya Amira menanyakan harga dari ponsel tersebut.
“Memangnya harganya berapa Mbak?” Tanya Amira.
“Untuk satu unit yang Masnya ini tanyakan, harga dua puluh lima juta. Itu belum termasuk aksesoris lainnya dari ponsel ini.” Jelas pelayan toko tersebut dengan memberikan senyuman ramah.
“Hah mahal banget. Ponsel aja dua puluh lima juta. Kakak, kamu tidak perlu membelikanku ponsel dengan tipe ini. Yang murah saja tidak masalah untukku.” Ucap Amira setengah berbisik kepada kakaknya.
Namun, meski Amira sudah berkata pelan, masih ada orang yang mendengar perkataan gadis tersebut. Pengunjung perempuan di sebelah Amira memandang kakak beradik itu dengan tatapan mencemooh.
“Nggak mampu beli aja pake tanya-tanya segala. Kalo emang nggak mampu beli merek ini, jangan masuk ke sini. Emangnya situ nggak bisa cari info apa berapa harga rata-rata barang di sini.” Ucap perempuan tersebut dengan nada sinis.
“Mbak usir aja mereka ini.” Ucap perempuan itu sembari memandang ke arah pelayan toko. “Orang seperti mereka ini bisanya cuma menganggu kenyamanan berbelanja aja. Jadi, lebih baik orang kayak dia ini diusir.”
Mendengar perkataan perempuan itu, Amira hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. Ini adalah pertama kalinya Amira dipermalukan hanya karena tidak mampu membeli sesuatu.
Sementara itu, Andi yang melihat adiknya dipermalukan seperti itu mengerutkan dahinya. “Memangnya kami tidak boleh mengatakan bahwa ponsel ini mahal? Ponsel tipe ini memang lebih mahal di bandingkan dengan ponsel yang ada di pasaran. Adikku sama sekali tidak salah menanyakan hal itu. Kenapa Anda malah meminta kami diusir.” Ucap Andi geram.
“Heh.” Perempuan itu mendengus pelan. “Itu tetap saja salah. Kalian bertanya banyak seperti itu sudah membuang-buang waktu pelayan toko ini. Seharusnya dia bisa memakai waktunya untuk melayani yang lain, tetapi dia malah menghabiskan waktunya dengan kalian yang belum tentu mampu membeli ponsel ini. Jadi, sudah sepantasnya kalian di usir.”
__ADS_1