Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 60 Runaya dan Gayatri


__ADS_3

“Siapa bilang kami tidak mampu membelinya? Adikku memang mengatakan harga ponsel ini mahal. Tetapi, itu bukan berarti kami tidak mampu untuk membelinya.” Ucap Andi geram.


Perempuan itu memandang Andi dan Amira dari atas hingga bawah. Pakaian mereka hanya pakaian biasa, yang bisa didapatkan di department store dengan harga seratus ribu dua, atau bahkan seratus ribu tiga. Pakaian murahan menurutnya. Perempuan itu tidak yakin kedua anak muda di depannya ini mampu membeli ponsel dengan harga dua puluh lima juta itu.


“Cih.” Perempuan itu berdecih. “Orang seperti kalian mampu membelinya? Jangan buat aku tertawa mendengarnya. Jika kalian benar-benar ingin mmebelinya, kalian perlu menjual rumah kalian. Tetapi aku tidak yakin kalian memiliki rumah. Jika kalian mau kalian bisa menjual ginjal kalian. Aku rasa dengan begitu kalian baru bisa membeli ponsel ini.”


Andi semakin geram mendengar perkataan perempuan itu. Dirinya tidak menyangka dipertemukan kembali dengan orang kaya yang selalu memandang rendah orang yang lebih miskin darinya. Beberapa hari terakhir ini tidak ada yang merendahkan Andi, hal itu membuatnya lupa bahwa orang kaya yang memandang rendah orang lain itu masih ada.


“Apa Nona ini mau taruhan denganku?” Tawar Andi tiba-tiba.


“Taruhan? Dengan orang seperti kayak situ? Cih, mana sudilah aku.” Ucap permpuan itu dengan melemparkan tatapan mencemooh kepada pasangan adik kakak itu.


“Ternyata orang kaya seperti Nona ini sangat takut akan kekalahan. Anda saja takut bertaruh denganku.” Pancing Andi.


“Heh.” Perempuan itu mendengus pelan. “Aku, takut dengan orang macam situ?” Ucapnya sembari menujuk dirinya, lalu menunjuk Andi dan Amira. “Jangan bercanda. Siapa bilang aku takut bertaruh dengan macam situ? Tentu saja aku berani bertaruh.”


‘Bagus akhirnya masuk ke perangkap.’ Gumam Andi dalam hati.


“Jika kami bisa membeli ponsel ini, Anda harus meminta maaf kepada Adikku. Tetapi, jika kami tidak mampu membeli ponsel ini, kami akan memberikan uang dua ratus ribu kepada pelayan toko ini sebagai tanda maaf karena telah menyita waktunya. Selain itu, kami akan pergi dari toko ini. Bagaimana? Apakah Nona ini ikut dengan taruhan kami?” tanya Andi.


“Tidak masalah. Aku ikut bertaruh denganmu. Biarkan pelayan toko ini menjadi saksi pertaruhan kita.” Ucap perempuan itu dengan penuh percaya diri. Ia yakin kedua kakak beradik di depannya ini tidak mampu membeli ponsel itu. Maka dari itu ia menyetujui hal ini, karena ia yakin dirinya akan memenangkan pertaruhan ini.


“Baiklah kalau begitu. Jangan menyesal dan kemudian tidak mau membayar hukuman dari kekalahanmu Nona.”


Andi kemudian memandang ke arah pelayan toko. Ia berbicara kepada pelayan tersebut dengan memberikan penekanan di setiap perkataannya. “Tolong ambilkan dua unit ponsel ini beserta semua aksesorisnya. Ambilkan yang termahal dari semua aksesoris yang ada.”


Pelayan tersebut buru-buru pergi mengambilkan pesanan Andi. Ia sedikit risih berada di tengah-tengah perdebatan mereka. Meski hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya, tetapi hal itu terjadi pada temannya. Sekarang dia merasakan apa yang temannya itu rasakan ketika terjebak di dalam pertengkaran pelanggan seperti ini.


“Ck. Ck. Ck.” Perempuan di samping Amira berdecak. “Beli satu aja situ belum tentu mampu. Eh malah sekarang sok-sokan beli dua unit.” Ejek perempuan itu.


“Nona tunggu saja. Setelah ini, Anda akan tahu sendiri, apakah aku ini hanya membual atau aku memang benar-benar bisa membelinya. Nona tinggal bersiap untuk meminta maaf kepada adikku. Jika itu tiba, jangan menelan kembali perkataanmu itu.”


Tidak lama kemudian, pelayan toko itu kembali dengan membawa beberapa barang. “Mari kita selesaikan transaksinya di kasir Kak.” Ucap pelayan toko tersebut.


Pelayan toko tersebut membawa barang-barang itu ke kasir dengan diikuti oleh Andi dan Amira. Perempuan yang sedari tadi mengejek mereka pun tidak mau ketinggalan. Ia ingin memastikan apakah kedua kakak beradik ini memang benar-benar mampu membeli atau hanya membual saja.


Sang kasir sepertinya sudah mengetahui permasalahan yang terjadi. Bagaimana tidak, perempuan itu berbicara cukup keras ketika mengejek Andi dan Amira. Dan lagi, ketika Andi dan Amira masuk ke dalam toko, tidak banyak pengunjung yang ada di dalam sana. Sudah pasti hampir semua orang di dalam sana mengetahui permasalahan mereka.


Tanpa menunggu lama, sang kasir menghitung semua barang yang akan dibeli oleh Andi. “Totalnya tujuh puluh empat juta lima ratus ribu.” Ucap sang kasir.

__ADS_1


Perempuan itu memandang wajah Andi ketika sang kasir mengatakan jumlah uang yang perlu Andi bayarkan. Ia tidak melihat perubahan ekspresi apa pun di wajah Andi setelah mendengar jumlah yangperlu dibayar, hal itu membuat perempuan itu sedikit was-was.


‘Ah kenapa aku harus takut. Pemuda ini jelas tidak memiliki apapun untuk membayar semua itu. Sudah jelas aku yang akan memenangkan taruhan ini.’ Gumam perempuan itu dalam hati.


Langsung saja Andi membayar semua itu. Melihat Andi yang bisa membayar semua barang yang ia beli dengan mudahnya, membuat tersebut benar-benar takut sekarang. Bagaimana mungkin orang seperti mereka bisa membeli barang semahal itu?


“Sekarang Nona, minta maaflah kepada adikku.” ucap Andi dengan tenang.


“Minta maaf? Cih. Untuk apa aku minta maaf ke adik situ.” Ucap perempuan itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.


“Bukankah Anda sudah setuju dengan taruhan yang aku ajukan?”


“Taruhan? Omong kosong apa itu. Aku tadi itu hanya memberikan nasihat untuk situ agar tidak membuang-buang waktu orang lain.” Perempuan itu seakan telah melupakan apa yang sebelumnya sudah ia katakan kepada kakak beradik itu.


Perempuan itu mengibaskan sebelah tangannya. “Ah sudahlah. Aku tidak mau membuang waktuku dengan orang seperti kalian. Aku masih memiliki banyak urusan yang mesti aku selesaikan.” Setelah berucap demikian, perempuan itu berniat meninggalkan toko tersebut.


Sebelum perempuan itu sempat pergi, sebuah suara menghentikan langkah kakinya. “Aku tidak menyangka Runaya dari keluarga Sasongko suka menelan kembali perkataannya. Setelah bertaruh seperti itu dan kalah, sekarang malah kabur seperti seorang pengecut. Pantas saja keluarga Sasongko mengalami kemunduran, anggota keluarganya saja pengecut seperti ini.”


Perempuan bernama Runaya kemudian membalikkan badannya menghadap ke arah perempuan yang tadi mengetainya. Perempuan itu kini memakai blazer formal berwarna marun denngan kemejanya yang berwarna putih. Dia memandang Runaya dengan tatapan mencemooh yang cukup ketara.


“Gayatri, ini bukanlah urusanmu. Jangan ikut campur.”


“Jadi kamu mau minta maaf apa tidak? Jika kamu tidak mau, apakah perlu aku mengatakan kejadian ini kepada lingkaran sosialita di kota ini?” ancam Gayatri.


Mendengar ancaman dari Gayatri, Runaya tidak bisa melakukan apa pun. Jika sampai Gayatri mengatakan kejadian ini, kepada lingkaran sosialita di kota ini, sudah pasti dirinya akan dicemooh oleh mereka. Tidak hanya itu, keluarganya juga pasti akan menjadi bahan gunjingan para sosialita. Meski tidak terang-terangan, di belakangnya pasti para sosialita itu membicarakannya.


Runaya tidak meragukan ancaman dari Gayatri. Dia adalah keturunan seorang Jayantaka, keluarga besar yang terkuat di kota ini. Sudah jelas para sosialita itu akan mempercayai Gayatri. Dan bisa saja mereka menjelek-jelekkan keluarganya di depan Gayatri agar bisa menjilat perempuan itu dan keluarganya.


Dengan sedikit berat hati Runaya menghadap ke arah Andi dan Amira. “Maafkan aku.” Ucapnya cukup pelan dan hanya dirinya yang mendengar.


“Kamu bilang apa? Aku tidak mendengarnya. Coba ulangi sekali lagi!” Ucap Gayatri.


“Aku minta maaf.” Ucap Runaya dengan sedikit berteriak. Setelah berkata demikian, perempuan itu langsung pergi meninggalkan toko tersebut. Dirinya merasa sial hari ini. Kenapa juga dirinya membuat masalah di sana ketika Gayatri berada di toko.


Ingin sekali Runaya tidak lagi menginjakkan kakinya di toko itu. Tetapi, toko milik Gayatri adalah distributor resmi dari ponsel merek buah di kota ini. Jika Runaya tidak ingin membeli di toko milik Gayatri, maka dirinya perlu ke luar kota untuk mendapatkan ponsel itu. Dan itu cukup merepotkan untuk Runaya.


Setelah kepergian Runaya, Gayatri mendekat ke arah Andi dan Amira. Perempuan itu sedikit membungkukkan badannya kepada Andi dan Amira. “Maafkan kami atas ketidak nyamanan ini.” ucap Gayatri dengan cukup serius.


Andi buru-buru melambaikan sebelah tangannya ke arah Gayatri yang masih menunduk itu. “Ah tidak masalah. Ini tidak apa-apa kok. Aku dan adikku tidak mempermasalahkan hal ini dengan pihak toko. Hanya saja Mbak yang tadi memang sedikit kurang ajar. Ini nggak ada hubungannya dengan toko, jadi Nona nggak perlu minta maaf.”

__ADS_1


“Tidak. Ini tetap menjadi tenggung jawab kami karena kejadian ini berada di toko kami. Jadi, kami akan memberikan voucer diskon untuk Anda sebagai tanda permintaan maaf kami.” Jelas perempuan tersebut.


Setelah beberapa kali di bujuk, akhirnya Andi menerima voucer diskon dari toko tersebut. Ia keluar toko tersebut dalam keadaan berat. Di luar sana masih ada orang kaya yang kurang ajar seperti perempuan bernama Runaya tadi.


Jika saja Andi tidak memiliki uang tadi, sudah pasti dirinya akan dipermalukan oleh perempuan bernama Runaya tadi. Jika itu hanya dirinya seorang Andi tidak mempermasalahkan hal itu. Tetapi ini ada adiknya. Bagaimana jika suatu hari nanti adiknya juga diperlakukan seperti tadi?


Hal ini memberikan pukulan besar untuk Andi. Dia perlu bersungguh-sungguh dan tidak berbuat setengah-setengah dalam mengumpulkan kekayaan. Jika memang misi utamanya adalah menolong sesama, maka dirinya tidak akan segan-segan menggelontorkan uang banyak untuk melakukan hal itu.


Demi mengupulkan kekayaan, demi memperbaiki keadaan keluarganya, dan demi menaikan derajat keluarganya agar tidak lagi dipandang rendah oleh orang lain.


“Panel status.”


[Ding]


[Modul Menjadi Kaya]


[Level 7 (124175200/1000000000)]


[Saldo Host : Rp 449.587.500,-]


[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 22 rupiah]


[Misi : - Selesaikan pendaftaran perusahaan milik host ]


[Target Bulanan : Capai saldo Rp 1.000.000.000,- (449517500/1000000000)]


[Penyimpanan : - Kekuatan +5, Stamina +5]


[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya


- Pengalaman Pembalap : Tingkat 1


- Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1


- Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1


- Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1]


[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]

__ADS_1


‘Baiklah. Mulai senin besok, aku akan bersungguh-sungguh mengumpulkan uang. Aku akan membeli semua saham yang bisa memberiku keuntungan besar. Sudah saatnya aku memasuki pasar modal yang sesungguhnya.’ Gumam Andi dalam hati.


__ADS_2