
“Aku akan mengirimkan uangnya nanti ke rekening kalian. Setidaknya pada satu buah panti akan dibaerikan donasi seratus juta rupiah. Itu adalah nominal paling minim. Jika memang mereka membutuhkan lebih dari itu, maka kalian tinggal menghubungiku. Aku akan mengirimkan uang tambahnnya.”
“Jika sebuah panti membutuhkan pembangunan gedung baru atau sebuah renovasi, maka jangan tunggu mendiskusikannya denganku. Lakukan saja. Katakan saja berapa dana yang dibutuhkan aku akan mengirimkannya.” Jelas Andi.
‘Panel status.’ Ucap Andi dalam hati.
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 8 (576.105.200/5.000.000.000)]
[Saldo Host : Rp 442.521.958,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 29 rupiah]
[Misi : - Buatlah sebuah game. Hitung mundur : 89 hari 10 jam]
[Target Bulanan : -]
[Penyimpanan : - Kartu kemampuan karyawan (3/10)]
[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya
Pengalaman Pembalap : Tingkat 1
Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1
Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1
Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1
Pengalaman Desainer Game
__ADS_1
Pengalaman Programer]
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
Saldo miliknya tinggal empat ratus juta. Ini berarti untuk donasi pertama ia hanya bisa memberikan seratus juta rupiah untuk setiap panti. Langsung saja Andi mengirimkan uang seratus sepuluh juta rupiah kepada Ardi, Bima, Dimas, dan Wira.
Sekarang di rekeningnya hanya ada dua juta lebih. Uang tersebut adalah dana darurat yang tidak akan ia habiskan. Meskipun itu telihat sangat sedikit untuk sebuah dana darurat, tetapi setiap harinya ia masih mendapatkan uang enam ratus enam puluh ribu lebih dari bernafas.
Belum lagi bonus penjualan dari kafenya. Bonus dari sistem masih berlaku satu minggu lagi. Jadi, tidak lama lagi uangnya akan bertambah kembali.
“Aku sudah mengirimkan uang seratus sepuluh juta ke setiap rekening kalian berempat. Seratus juta untuk donasi, dan sepuluh juta untuk operasional awal kalian. Untuk Mas Ganang, karena Mas hanya akan membantu di akhir pekan, maka aku akan mengirimkan uang kepada Mas di akhir pekan nanti.” Jelas Andi.
Selesai Andi mengatakan hal ini, ia mendengar sebuah keributan dari arah rumah Kakek Buyut Adipramana. Lebih tepatnya itu adalah keributan dari halaman belakang. Andi dan para sepupunya saling pandang. Mereka seolah saling bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka mendengar beberapa teriakan di halaman belakang. Menurut Andi, ini bukanlah teriakan karena ada yang berkelahi. Jika berkelahi, tidak akan ada teriakan umpatan yang keluar. Yang ada hanyalah teriakan penyemangat. Tetapi, sekarang ini Andi mendengar beberapa kalimat umpatan diteriakkan.
“Apa yang terjadi?” Tanya Amira.
Menuruti perkataan Dimas, Andi dan para sepupunya itu turun dari rumah pohon. Mereka pun kembali berjalan menuju ke halaman belakang rumah Kakek Buyut Adipramana untuk melihat keributan apa yang tengah terjadi di sana.
“Beraninya kau menginjakkan kakimu di rumah ini. Bukannya tahun lalu sudah kami bilang bahwa kau sudah tidak lagi di terima di rumah ini. Sekarang, angkat kakimu dari rumah ini. Kehadiranmu tidak diterima di rumah ini. Aku tidak punya anak seprtimu.” Suara lantang Harmuji menyambut kedatangan Andi dan para sepupunya di halaman belakang.
“Kenapa aku tidak boleh ke sini? Bagaimana pun juga, aku adalah keturunan Prayudi. Jadi, tidak ada salahnya bukan jika aku ke sini? Kakek saja sebagai pemilik rumah tidak protes kenapa Bapak malah protes.” Ucap Burhan dengan santainya.
Seketika itu juga semua orang menatap ke arah Kakek Buyut Adipramana. Mereka menunggu keputusan dari Kakek Buyut Adipramana. Bagaimana pun juga, beliau adalah orang tertua di sini dan juga pemilik rumah ini. Jadi apa yang dikatakan Kakek Buyut Adipramana adalah keputusan final dalam keluarga ini.
Kakek Buyut Adipramana lalu memandang ke arah Burhan. Ia menatap cucunya itu dari atas ke bawah beberapa kali. Kemudian Kakek Buyut Adipramana terlihat beberapa kali menggelengkan kepalanya sembari menghembuskan nafas panjang.
“Aku kira kamu hanya bermain-main Burhan. Mengumpulkan orang membentuk kelompok preman. Aku kira kamu hanya akan sebatas itu. Tetapi….” Kakek Buyut Adipramana menjeda ucapannya. Ia terlihat kembali mengelengkan kepalanya sembari menghembuskan nafas panjang. Terlihat sekali ia menyeyangkan sesuatu yang sudah dilakukan oleh Burhan.
“Aku tidak menyangka kamu sekarang menyentuh barang haram itu. Tidak hanya itu, kamu sekarang menyebarkannya kepada para generasi muda.” Lanjut Kakek Buyut Adipramana.
“Apa kamu sekarang sudah jualan narkoba? Kurang ajar kamu Burhan.” Beberapa orang terdengar mulai mengumpat mendengar ucapan Kakek Buyut Adipramana. Mereka kaget mendengar bahwa saat ini Burhan ikut-ikutan berbisnis barang haram itu.
__ADS_1
“Apa kamu nggak tahu betapa susahnya leluhur kita membangun negeri ini. Sekarang kamu malah berniat menghancurkan para generasi mudanya. Tidakkah kamu tahu bahwa dengan menghancurkan generasi muda, kamu sama saja dengan menghancurkan negeri ini. Biadap kamu Burhan. Dasar anak tidak tahu diuntung.” Teriak Harmuji dengan keras.
Andi cukup kaget mendengar perkataan para kerabatnya itu. Ia juga tidak menyangka bahwa Burhan juga berbisnis barang haram. Sekarang Andi cukup paham kenapa ayahnya semarah itu padanya ketika mengetahui bahwa dirinya dekat dengan preman yang merupakan anak buah Burhan.
Jika Andi berada di posisi Aripto, mungkin dirinya juga melakukan hal yang sama. Orang tua mana yang tidak geram, jika anaknya yang dibesarkan dan dididik dengan nilai-nilai baik tiba-tiba mendekati orang seperti Burhan yang menjual belikan barang haram. Pasti orang tua akan berpikir anaknya juga ikutan menyentuh barang haram.
“Mereka sendiri yang membelinya, aku sama sekali tidak menyuruh mereka membeli barang itu. Jadi, itu semua bukan salahku jika mereka jadi hancur. Mereka sendiri yang memilihnya untuk memakai barang itu. Pilihan selalu ada di tangan mereka.” Ucap Burhan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Mungkin ini lah yang membuat sistem tidak jadi memilih Burhan. Itu karena Burhan menjadi orang yang melenceng. Sedikit banyak dengan Burhan menjual narkoba, dia memiliki andil dalam hancurnya generasi muda. Tetapi ia tidak merasa bersalah sedikitpun mengenai hal itu. Burhan malah menganggap itu bukan salahnya.
Meski sistem miliknya adalah sistem bernafas, tetapi misi utama dari sistem ini adalah berbagai kebaikan, membantu mereka yang membutuhkan. Dengan Burhan yang memiliki pandangan seperti itu, tentu saja dia tidak akan dipilih oleh sistem.
Bukannya menggunakan uang dari sistem untuk berbuat baik, mungkin jika Burhan memiliki sistem ia akan lebih memilih membeli senjata api dan barang haram dengan jumlah banyak.
Mendengar ucapan Burhan, Kakek Buyut Adipramana kembali menggelengkan kepalanya. “Jika menurutmu seperti itu, maka kamu tidak bisa lagi menyandang nama Prayudi sebagai nama belakangmu. Namamu juga akan dihapus dari silsilah keluarga.” Titah Kakek Buyut Adipramana.
“Hanya karena itu Kakek menghapus namaku dari silsilah keluarga?”
“Itu semua karena perbuatanmu sendiri. Jangan menyalahkanku jika aku melakukan hal itu. Kamu tahu bukan di mana pintu keluar dari rumah ini. Aku tidak perlu mengirim orang untuk menuntunmu ke pintu keluar bukan?”
Setelah mendengar ucapan Kakek Buyut Adipramana, Burhan menjatuhkan pandangannya ke arah Aripto kemudian ke arah Andi. “Jika kalian ada masalah dan keluarga ini tidak mau membantu, datang saja kepadaku.”
Mendengar hal itu, Aripto maju beberapa langkah ia berhenti satu setengah meter di depan Burhan. “Aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu. Aku bisa mengatasi semuanya sendiri. Dan bilang ke anak buahmu, jangan mendekat ke anakku lagi.”
Aripto merasa keputusannya mengijinkan anak buah Burhan mengawasi anak-anaknya adalahkesalahan besar. Seharusnya dari awal dirinya menolak permintaan orang bernama Damar itu. Seharusnya dirinya mencari cara lain untuk melindungi anak-anaknya, bukan mengandalkan anak buah Burhan.
Melihat ayahnya yang mendekat ke Burhan, Andi tidak mau tinggal diam. Ia juga mendekat ke sana. “Kami masih sanggup mengatasinya sendiri. Om nggak perlu ikut bantuin pun masih banyak yang mau bantu. Kami tidak membutuhkan bantuan Om.”
“Heh.” Burhan mendengus pelan mendengar hal itu. “Rupanya keluarga ini benar-benar sudah menolakk. Bahkan bantuanku saja ditolak. Baiklah jika itu yang kalian mau, aku tidak akan lagi berada di sini. Di kemudian hari, jangan lagi mencariku jika membutuhkan sesuatu.”
Setelah berucap demikian, Burhan membalikkan badannya dan pergi meninggalkan rumah Kakek Buyut Adipramana. Sepeninggal Burhan, Kakek Harmuji terlihat memegang dada sebelah kirinya. Sebelum dirinya benar-benar ambruk, Andi yang dekat dengannya langsung berlari untuk menahan kakak dari kakeknya itu.
“Kakek Harmuji.”
“Ayah.”
“Kakek.” Beberapa teriakanterdengar seiring dengan ambruknya Kakek Harmuji.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama lagi, mereka bergegas menyiapkan mobil dan membawa Kakek Harmuji ke rumah sakit. Sepertinya tekanan darah laki-laki berumur delapan puluh satu tahun itu naik. Hal itu mengakibatkan dia mengalami serangan jantung.
Andi tidak mengira bahwa pertemuan keluarga yang biasa diisi dengan perkelahian kecil dan canda tawa itu berubah menjadi seperti ini.