
Saat ini Dinda masih berusia tiga tahun. Tetapi, gadis itu sudah merasakan rasanya kehilangan seorang ibu. Ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Tidak lama setelah Ibunya meninggal, Dinda melihat bagaimana Ayahnya pergi dengan beberapa wanita.
Dinda pernah menguping bahwa Ayahnya itu ingin memiliki keturunan laki-laki yang bisa meneruskan keluarga mereka. Jadi, ia sekarang sedang mengusahan mencari perempuan yang bisa memberinya keturunan. Kesibukan ayahnya itu membuat Dinda tidak terlalu diperhatikan di rumah.
Apalagi kakeknya juga terlalu sibuk mengurusi sesuatu yang Dinda tidak mengerti. Alhasil Dinda kurang mendapatkan perhatian di rumah. Hanya keluarga ibunya saja yang masih memberikan perhatian kepada Dinda.
Meski begitu, keluarga ibunya berada di kota yang berbeda dengan kota tempatnya tinggal. Jadi tetap saja Dinda merasa kurang mendapatkan kasih sayang di rumah. Hidupnya hanya bersama dengan para asisten rumah tangga yang lebih sering menjaga jarak dengannya.
Keluarga mendiang ibunya memang memiliki niatan membawa Dinda ke rumah mereka dan merawatnya. Sayangnya Ayah dan Kakeknya menolak dengankeras permintaan itu. Dinda adalah satu-satunya keturunan keluarga mereka, jadi Dinda tetap harus tinggal dan dibesarkan dikeluarga mereka.
Ketika berada di TK, Dinda tidak begitu banyak memiliki teman. Itu karena dirinya tidak terlalu banyak berbicara di sekolah. Selain itu, beberapa anak juga mempertanyakan keberadaan ibunya. Hal itu membuat Dinda malas bersosialisai dengan teman-temannya.
Dinda sangat malas harus membicarakan keadaan keluarganya itu. Apalagi jika dirinya terus menerus diingatkan bahwa ibunya sudah tidak ada lagi.
Tetapi itu berubah ketika seorang anak laki-laki mendekatinya. Jika Dinda tidak salah ingat, anak laki-laki itu baru saja pindah ke TK tempatnya bersekolah. Anak laki-laki itu pun menawarkan sebuah es krim kepada Dinda.
“Hai namaku Andi Rahman Prayudi. Mau kah kamu menjadi temanku?” Ucap anak laki-laki itu sembari menyerahkan sebuah es krim kepada Dinda.
Sejak saat itu hari-hari Dinda sedikit lebih ceria. Ia memiliki teman seusianya yang bisa menghiburnya dan membuatnya lupa dengan masalah di rumah. Sosok Andi seperti cahaya bagi Dinda. Pelipur laranya.
Andi sering menghabiskan waktu bersama dengan Dinda. Mereka bahkan memilih menjadi teman sebangku. Tidak jarang pula Andi membelikan makanan untuk Dinda. Ia juga bercerita banyak dengan Dinda.
Semua yang Andi lakukan seolah membelikan warna indah dan cerah dalam kehidupan Dinda yang suram. Saat itu pula Dinda, yang selama ini tidak memiliki impian apa pun, membuat satu impian baru yang ingin ia capai, hidup bersama dengan Andi selamanya.
“Andi, maukah Kamu nanti hidup bersama denganku selamanya?” Tanya Dinda tiba-tiba.
Saat ini Dinda dan Andi sedang berada di ayunan. Mereka tengah bermain bersama di jam istirahat. Mendengar perkataan Dinda, Andi yang sebelumnya memandang teman-temannya yang lain, kini memandang ke arah Dinda.
“Hidup bersama? Apakah itu seperti Ayah dan Ibuku yang hidup bersama satu rumah dan memiliki beberapa anak?” Tanya Andi dengan sedikit memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Andi cukup tertarik dengan ide Dinda itu. Jika mereka tinggal bersama, mereka bisa main sepuasnya tanpa harus melakukannya hanya di jam sekolah saja. Andi juga bisa membaca buku cerita pengantar tidur bersama dengan Dinda, seperti yang selalu ibunya lakukan. Pasti itu sangat menyenangkan.
“Ya, seperti itu. Kita hidup bersama di rumah yang indah. Nanti kita bangun rumah yang punya banyak taman.”
“Jangan lupa tambahkan ayunan di sana.” Imbuh Andi.
Dengan begitu mereka bisa bermain ayunan kapan pun mereka mau. Tidak perlu menungu giliran dan berbagi dengan yang lainnya seperti yang ada di sekolah mereka. Itulah yang ada dipemikiran Andi.
“Ya kamu bernar, kita bisa menambahkan sebuah ayunan. Kolam renang juga. Semua itu akan ada di rumah kita. Kita juga bisa memilihara kelinci seperti yang ada di sekolah. Bagaimana dengan semua itu?” Tanya Dinda dengan penuh harap.
“Kedengarannya itu cukup menyenangkan. Kita bisa bermain bebas di sana nanti. Baiklah aku mau hidup bersamamu nanti.” Jawab Andi yang saat itu belum terlalu mengerti apa yang ia katakan.
Ucapan Andi itu terngiang-ngiang di telinga Dinda. Ia sudah membayangkan bagaimana kehidupannya kelak jika dirinya hidup bersama dengan Andi. Dinda bahkan beberapa kali tertawa sendiri memikirkan hal itu.
Namun semuanya berubah ketika Dinda lulus dari TK. Ia mengira dirinya akan kembali bisa satu sekolah dengan Andi. Ternyata itu tidak terjadi. Dinda diberi pendidikan cukup keras oleh keluarganya. Ia hanya bisa mengikuti home schooling dan tidak bersekolah seperti anak pada umumnya.
Tidak hanya behenti di situ saja. Malam harinya Dinda masih harus melakukan latihan strategi yang cukup menguras otak. Ia tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan baik. Andi yang selalu menghiburnya juga tidak ada lagi di sisinya.
Latihan itu Dinda jalani tiap harinya tanpa ada istirahat. Meski badannya demam pun, Sahab tetap akan memaksa Dinda menjalankan latihannya. Hanya ketika ulang tahunnya dan hari peringatan kematian ibunya saja Dinda mendapatkan libur. Dinda menjalani enam tahun latihan yang cukup berat itu.
Hari-harinya yang ceria sudah menghilang. Ia kembali menjalani hari suram tanpa cahaya. Dinda bahkan berpikir apa yang sudah ia jalani dengan Andi hanyalah sebuah mimpi, sebuah ilusi yang dibuat oleh alam bawah sadarnya.
Kepribadian Dinda semakin lama semakin berubah. Ia didoktrin oleh Sahab untuk menjadi seorang penerus yang akan membasmi keluarga Prayudi. Meski Dinda akan menuruti perkataan Kakeknya itu, di dalam hati Dinda mengecualikan satu nama dari keluarga Prayudi.
Andi Rahman Prayudi, Andi-nya. Sosok lentera yang menerangi jalannya. Semua orang di keluarga Prayudi akan ia basmi kecuali Andi-nya.
Ketika akan memasuki SMP, Dinda sudah membujuk Sahab untuk memberinya ijin bersekolah di sekolah umum. Pada akhirnya Gilang dan Sahab memberikan ijin Dinda untuk bersekolah di sekolah umum.
Itu karena mereka bisa melihat bahwa Dinda, sudah cukup matang untuk bisa menjalankan misi yang mereka berikan. Mereka hanya perlu menunggu Dinda sedikit lebih dewasa untuk melaksanakan rencana mereka.
__ADS_1
Saat itu pun, Sahab memberikan tujuh anak buah kepada Dinda. Itu dulu adalah anak buah yang sudah dibina dan didik oleh Gilang dan Sahab.
Karena dirinya bisa bersekolah di sekolah umum, Dinda memanfaatkan hal itu untuk menemukan Andi-nya. Ia ingin mencari di mana anak itu bersekolah, dan memilih tempat itu juga sebagai sekolahnya.
“Hai Andi.” Sapa Dinda.
Hari ini orientasi sekolah mereka telah berakhir. Dinda baru memiliki kesempatan sekarang untuk mendekati Andi.
“Ehm… Apa kita saling mengenal sebelumnya?”
Sepertinya, enam tahun tidak bertemu membuat Andi melupakan Dinda. Padahal dulu mereka sangat dekat. Di mana ada Andi, di situ pasti ada Dinda. Hal itu membuat Dinda sedikit kecewa. Tetapi ia tidak lansung berputus asa. Ia akan membuat Andinya kembali mengingat kenangan mereka bersama.
“Kamu dulu pernah bersekolah di TK Dharma Wanita Kasih Ibu bukan? Aku Dinda temen satu TK-mu dulu. Kamu ingat?” Dinda mencoba mengingatkan Andi akan hubungan mereka.
“Ternyata kita pernah satu sekolah ya? Dinda? Memang nama itu nama yang tidak asing untukku. Jika tidak salah, Ibuku pernah bercerita bahwa aku memiliki teman yang sangat dekat denganku ketika TK. Apakah itu Kamu?”
“Ya.”
“Kalau begitu, senang berkenalan kembali denganmu.” Ucap Andi sembari mengulurkan tangannya.
Dinda pikir, setelah berkenalan kembali, ia bisa kembali memiliki hubungan baik dengan Andi seperti dulu. Sayangnya apa yang Dinda inginkan itu tidak pernah terjadi.
Andi sekarang mulai mengenal konsep laki-laki dan perempuan yang cukup berbeda. Jadi ia merasa tidak enak jika harus menghabiskan waktu hanya dengan Dinda. Apalagi, sekarang Andi mulai memiliki banyak teman laki-laki ia banyak mengahabiskan waktu bersama dengan mereka.
Selain itu, latihan bela diri yang dijalani Andi dan juga beragam lomba yang ia ikuti, membuat waktunya untuk bermain cukup terbatas. Jadi meskipun mereka saling mengenal sekarang, mereka tidak memiliki hubungan sedekat dulu ketika mereka masih TK.
Hal ini juga lah yang memincu Dinda untuk memiliki Andi sepenuhnya hanya untuk dirinya, membuat Andi hanya fokus kepadanya. Dinda masih ingat juga akan janji Andi padanya, ia juga akan menagih janji itu kepada Andi.
Tetapi sebelum ia melakukan hal itu, masih ada tugas yang perlu ia selesaikan. Menghancurkan keluarga Prayudi. Setelahnya, Dinda bisa bebas dari tugas dan hidup bersama selamanya dengan Andinya.
__ADS_1